Langit Australia selalu terasa terlalu luas bagi seorang anak kecil bernama Jandamarra. Biru yang membentang tanpa ujung itu dulu membuatnya merasa bebas. Kini, ketika ia berdiri di antara padang tanah merah yang sunyi, langit itu terasa seperti saksi bisu yang tak pernah ikut campur.
Ia lahir di wilayah utara, di tanah leluhur suku yang telah hidup puluhan ribu tahun sebelum kapal-kapal asing menembus cakrawala selatan. Orang-orangnya menyebut tanah itu sebagai ibu. Mereka berjalan tanpa pagar, tanpa batas buatan manusia. Mereka membaca jejak kanguru seperti membaca doa. Mereka menyanyi untuk hujan. Mereka menyebut jalur leluhur sebagai songlines—nyanyian yang menghubungkan manusia dengan tanah dan langit.
Sebelum orang Eropa datang pada tahun 1788 dengan armada kapal dan narapidana dari Inggris, diperkirakan ada ratusan kelompok bahasa Aborigin di seluruh Australia, dengan populasi total antara 300.000 hingga lebih dari 750.000 jiwa. Mereka bukan bangsa tanpa sejarah. Mereka adalah penjaga salah satu kebudayaan tertua yang masih hidup di dunia.
Namun ketika koloni didirikan di Sydney Cove, tanah yang mereka anggap terra nullius—tanah tak bertuan—mulai dipetakan, dipagari, dan direbut.
Jandamarra masih kecil ketika pertama kali melihat pria berkulit putih menunggang kuda dengan senapan di bahu. Ayahnya menggenggam tangannya erat.
“Jangan tatap terlalu lama,” bisik ayahnya. “Angin membawa bau yang tidak baik.”
Di awal, beberapa kelompok mencoba berdamai. Mereka berdagang, saling mengamati. Namun konflik segera meledak ketika ternak pendatang memakan tanaman liar, ketika sumber air dikuasai, ketika hukum leluhur dianggap tidak berlaku.
Sejarah Australia mencatat apa yang kini dikenal sebagai Frontier Wars—serangkaian konflik sepanjang akhir abad ke-18 hingga awal abad ke-20 antara penjajah Inggris dan berbagai kelompok Aborigin. Di banyak wilayah terjadi pembantaian. Sebagian tercatat. Banyak yang tidak.
Beberapa peneliti memperkirakan bahwa dalam konflik dan kekerasan langsung, sedikitnya 20.000 penduduk Aborigin tewas. Jika ditambah dampak penyakit, pengusiran, kelaparan, dan kehancuran sosial, jumlah korban jauh lebih besar. Di Tasmania, populasi Aborigin hampir musnah pada abad ke-19.
Namun bagi Jandamarra, angka-angka itu bukan perdebatan akademis. Itu wajah ibunya yang memucat ketika kabar datang tentang desa tetangga yang diserang. Itu tubuh pamannya yang tak kembali dari perburuan setelah patroli bersenjata melintas.
Suatu malam, ketika Jandamarra berusia lima belas tahun, suara tembakan memecah keheningan.
Ia terbangun oleh jeritan.
“Lari!” teriak ibunya dalam bahasa mereka.
Api menyala di tepi perkampungan. Sekelompok pria bersenjata—beberapa berseragam, beberapa mantan narapidana yang kini menjadi penggembala dan penjaga tanah milik tuan besar—menyerbu. Mereka mengklaim ternak hilang. Mereka menuduh suku Jandamarra mencuri.
Tidak ada pengadilan. Tidak ada pembuktian.
Hanya tembakan.
Jandamarra melihat ayahnya berdiri dengan tombak, tubuh tegap menantang senapan. Ia melihat kilatan api dari ujung laras. Ia melihat ayahnya jatuh seperti pohon tua yang ditebang.
Jeritan ibunya menyayat malam.
Ia ingin berlari kembali, ingin mengangkat ayahnya, tapi tangan seorang sepupu menariknya ke arah semak-semak.
“Jika kau mati, siapa yang akan mengingat?” bisik sepupunya, kata-kata yang kelak menghantui hidupnya.
Saat fajar datang, perkampungan mereka hanya menyisakan asap dan tubuh yang terbaring.
Tanah merah berubah lebih gelap oleh darah.
Beberapa tahun setelah itu, Jandamarra tumbuh menjadi pemuda tinggi dengan mata yang menyimpan api dan air sekaligus. Ia belajar bergerak diam-diam di antara batu dan semak, mengenal setiap lekuk jurang dan setiap gua tersembunyi.
Namun yang membuatnya berbeda adalah kisah yang diwariskan neneknya.
“Darahmu bukan hanya dari tanah ini,” kata neneknya suatu sore ketika mereka duduk di bawah pohon eucalyptus tua. “Leluhurmu pernah datang dari laut.”
“Dari laut?” Jandamarra mengernyit.
Neneknya mengangguk. “Orang-orang berkulit cokelat dari utara. Mereka datang dengan perahu panjang. Mereka berdagang teripang. Mereka menyebut diri mereka orang Makassar.”
Sejarah mencatat bahwa jauh sebelum kolonisasi Inggris, pelaut Bugis-Makassar dari Sulawesi telah berlayar ke pesisir utara Australia sejak abad ke-18, bahkan mungkin lebih awal, untuk mencari teripang. Mereka berdagang dengan masyarakat Aborigin, meninggalkan jejak bahasa dan budaya.
“Leluhurmu,” lanjut neneknya, “jatuh cinta pada perempuan dari tanah ini. Darahnya mengalir dalam dirimu.”
Jandamarra terdiam. Laut yang belum pernah ia lihat terasa tiba-tiba dekat.
Beberapa tahun kemudian, ia bertemu seorang pengelana Maori dari Selandia Baru yang bekerja di kapal penangkap paus dan sesekali singgah di utara Australia. Namanya Hemi.
Hemi memiliki tato wajah yang rumit dan mata yang sama-sama menyimpan duka.
“Kami juga kehilangan tanah,” kata Hemi suatu malam di tepi api unggun. “Kami juga melihat perjanjian yang dilanggar.”
Ia bercerita tentang Perjanjian Waitangi tahun 1840 antara Inggris dan suku Maori—dokumen yang dalam praktiknya sering diabaikan atau ditafsirkan sepihak.
“Kita seperti saudara yang dipisahkan lautan,” kata Hemi.
Jandamarra merasakan sesuatu yang aneh—bahwa penderitaan mereka terhubung, bahwa penjajahan tidak hanya merobek satu tanah, tetapi banyak.
Namun hubungan lintas lautan itu tidak menghentikan kekerasan yang terus berlangsung di pedalaman.
Pada akhir abad ke-19, di berbagai wilayah Australia, patroli bersenjata dan polisi perbatasan memburu kelompok-kelompok Aborigin yang dianggap melawan atau sekadar mengganggu kepentingan peternakan. Beberapa pembantaian, seperti yang terjadi di Myall Creek tahun 1838, akhirnya diadili—namun banyak yang tidak pernah tercatat resmi.
Suatu hari, kabar datang bahwa kelompok suku lain di lembah sebelah diserang. Perempuan dan anak-anak tak luput.
Jandamarra tidak lagi bisa hanya bersembunyi.
“Aku tidak ingin mati,” katanya kepada ibunya yang tersisa, suaranya gemetar, “tapi aku juga tidak ingin hidup seperti bayangan.”
Ibunya memegang wajahnya. “Keberanian bukan berarti kau kebal peluru. Keberanian berarti kau tetap manusia ketika dunia ingin menjadikanmu binatang.”
Ia dan beberapa pemuda lain memutuskan untuk melawan—bukan dengan kebencian buta, tetapi dengan strategi. Mereka menyerang pos-pos kecil, membebaskan tawanan, menghilang ke jurang dan gua yang hanya mereka kenal.
Bagi sebagian orang kulit putih, mereka disebut pemberontak. Bagi orangnya sendiri, mereka penjaga tanah.
Namun kekuatan tidak seimbang. Senapan lebih jauh jangkauannya daripada tombak. Pemerintah kolonial mengirim lebih banyak pasukan.
Pada suatu sore yang kelabu, pengkhianatan datang dari seseorang yang dijanjikan uang dan keselamatan.
Lokasi persembunyian Jandamarra bocor.
Tembakan menggema di antara tebing.
Ia berlari, melompat di antara batu-batu tajam. Peluru menyambar dekat telinganya. Ia melihat satu per satu kawan-kawannya jatuh.
Ketika akhirnya peluru menembus bahunya dan menjatuhkannya ke tanah, ia menatap langit yang sama yang dulu membuatnya merasa kecil dan bebas.
Ia teringat ayahnya. Ia teringat neneknya yang berbicara tentang laut dan darah Makassar. Ia teringat Hemi dan kisah tanah yang dirampas di seberang samudra.
Seorang perwira berdiri di atasnya, senapan terarah.
“Kau bisa saja hidup tenang,” kata perwira itu dingin. “Mengapa memilih melawan?”
Jandamarra tersenyum tipis meski darah mengalir.
“Karena tanah ini bukan barang,” bisiknya. “Ia ibu.”
Tembakan terakhir terdengar seperti pintu yang ditutup.
Namun kisahnya tidak berhenti di situ.
Bertahun-tahun kemudian, ketika kebijakan asimilasi paksa dan apa yang kini dikenal sebagai Stolen Generations memisahkan ribuan anak Aborigin dari keluarga mereka pada abad ke-20, cerita tentang pemuda pemberani itu masih dibisikkan.
Seorang anak kecil bertanya kepada neneknya, “Apakah kita akan hilang?”
Nenek itu menggeleng. “Selama kita menyebut namanya, selama kita menyebut nama tanah ini, kita belum hilang.”
Hari ini, banyak warga Australia mengakui bahwa masa lalu itu menyimpan luka dalam. Penelitian sejarah terus membuka fakta tentang pembantaian dan kebijakan yang menghancurkan komunitas Aborigin. Proses rekonsiliasi masih berjalan, penuh perdebatan dan refleksi.
Namun di padang tanah merah yang luas, angin masih membawa nyanyian lama.
Nyanyian tentang pemuda yang darahnya menghubungkan tiga dunia—Aborigin, Bugis-Makassar, dan Maori. Nyanyian tentang tanah yang tak pernah benar-benar lupa siapa yang pertama menyebut namanya dengan cinta.
Dan jika suatu malam kau berdiri di bawah langit Australia yang terlalu luas itu, mungkin kau akan merasakan sesuatu di dadamu—seperti tangis yang tertahan, seperti jeritan yang pernah memecah sunyi.
Itu bukan hanya kesedihan.
Itu ingatan.