Angin musim semi berembus dari arah sungai, membawa aroma tanah basah dan daun pinus muda. Aponi berdiri di tepi padang, memandangi kawanan kuda liar yang berlari melintasi cakrawala. Di belakangnya, asap tipis mengepul dari perkampungan kecil sukunya.
Namanya Aponi. Dalam bahasa sukunya—yang termasuk rumpun Algonquian—apon berarti kupu-kupu. Ibunya pernah berkata, “Kupu-kupu tidak pernah benar-benar tersesat. Ia hanya mencari musimnya.”
Saat itu Aponi berusia tiga belas tahun. Ia belum tahu bahwa musimnya akan berubah menjadi abu.
Suku mereka telah lama tinggal di wilayah hutan dan sungai di pesisir timur Amerika Utara. Sebelum orang-orang Eropa datang, daratan itu dihuni jutaan jiwa. Para sejarawan masa kini memperkirakan antara lima sampai sepuluh juta penduduk asli tinggal di Amerika Utara sebelum gelombang besar kolonisasi. Di seluruh benua Amerika, jumlahnya mungkin mencapai lima puluh juta lebih.
Bagi Aponi, angka-angka itu tak berarti apa-apa. Ia hanya tahu suara ibunya ketika menyanyikan lagu sebelum tidur.
“Netami,” ibunya memanggilnya lembut. Itu berarti anakku.
Ayahnya, Waban, sering menunjuk langit malam. “Kchi Manitou menjaga kita,” katanya. Roh Agung mengawasi.
Kehidupan mereka sederhana. Mereka berburu rusa, menanam jagung, memancing di sungai yang jernih. Anak-anak berlari tanpa sepatu, tertawa tanpa beban. Dunia terasa luas, tapi tidak menakutkan.
Sampai kapal-kapal besar itu muncul di cakrawala bertahun-tahun lalu.
Awalnya para pendatang berdagang. Mereka membawa kain, logam, dan senjata api. Suku-suku di pesisir belajar menyebut mereka orang Inggris. Beberapa menjadi sekutu dalam perang melawan suku lain. Beberapa mencoba menjaga jarak.
Namun tanah mulai menyempit.
Perjanjian dibuat dan dilanggar. Garis-garis digambar di peta tanpa pernah bertanya pada sungai atau pohon tua yang lebih dahulu ada.
Pada musim panas tahun itu, tentara berseragam merah datang lebih jauh ke pedalaman. Mereka menyebut diri mereka wakil Raja Inggris. Mereka berkata tanah ini milik mahkota.
Ayah Aponi berdiri di depan pondok mereka ketika pasukan itu tiba.
“Kita sudah hidup di sini sebelum Raja kalian lahir,” katanya dalam bahasa Inggris patah-patah yang dipelajarinya dari pedagang.
Seorang perwira muda menjawab dingin, “Ini wilayah kekuasaan Inggris. Kalian harus pindah.”
Waban tidak bergerak.
Ledakan pertama memecah udara seperti petir yang jatuh terlalu dekat.
Aponi ingat segalanya dalam potongan-potongan gambar. Asap hitam. Jeritan. Api menjilat atap. Ibunya berlari memanggil namanya.
“Pimisi! Lari!” teriak ibunya. Pimisi berarti terbang.
Aponi berlari ke arah hutan, seperti rusa yang ketakutan. Dari balik pepohonan ia melihat ayahnya roboh. Ia melihat kakaknya mengangkat busur sebelum suara tembakan kedua menjatuhkannya.
Desa kecil itu habis dalam satu sore.
Peristiwa seperti itu bukan satu-satunya. Sejarah kolonial mencatat berbagai perang antara Inggris dan suku-suku asli sepanjang abad ke-17 dan ke-18: Perang Pequot, Perang Raja Philip, dan konflik-konflik lain yang menewaskan ribuan penduduk asli. Selain perang, penyakit seperti cacar menyebar cepat, membunuh hingga 70 sampai 90 persen populasi di beberapa wilayah karena mereka tidak memiliki kekebalan alami.
Namun bagi Aponi, semua itu bukan statistik. Itu wajah-wajah yang ia kenal.
Malam itu ia kembali ke desa yang tinggal bara. Ia duduk di samping tubuh ibunya sampai bintang-bintang muncul.
“Kenapa, Kchi Manitou?” bisiknya. Mengapa Roh Agung membiarkan ini?
Tak ada jawaban, hanya suara serangga dan kayu yang masih berderak terbakar.
Ia berjalan tanpa tujuan ke utara. Hutan menjadi rumahnya selama beberapa hari. Lapar menggigit perutnya. Ia minum dari sungai dan memakan buah liar.
Di tepi rawa, ia bertemu seorang perempuan tua dari suku lain. Namanya Nokomis.
“Kau sendirian?” tanya perempuan itu dalam bahasa mereka.
Aponi mengangguk.
Nokomis menatap matanya lama. “Aku juga.”
Desa Nokomis dibakar musim semi lalu. Penyakit datang sebelum tentara. Anak-anaknya meninggal karena demam tinggi dan ruam merah yang menyebar cepat. Para pendatang menyebutnya smallpox.
Mereka berjalan bersama. Dua jiwa yang tersisa dari keluarga yang hilang.
“Apakah kita akan punah?” tanya Aponi suatu malam ketika mereka duduk di dekat api kecil.
Nokomis menggeleng. “Selama kita masih menyebut nama mereka, mereka belum mati.”
Tahun-tahun berikutnya berubah menjadi arus panjang penderitaan. Perang antara Inggris dan Prancis, yang oleh orang Eropa disebut Perang Tujuh Tahun, menyeret banyak suku sebagai sekutu atau musuh. Desa-desa terbakar. Tanah diambil.
Ketika koloni Inggris memberontak melawan Raja dalam Revolusi Amerika, sebagian suku mendukung Inggris, berharap jika Inggris menang, tanah mereka akan lebih dilindungi. Sebagian lagi mendukung koloni. Sebagian mencoba netral.
Namun setelah perang selesai dan Amerika Serikat berdiri, tekanan terhadap penduduk asli tidak berhenti.
Pada abad berikutnya, kebijakan seperti Indian Removal Act tahun 1830 memaksa puluhan ribu penduduk asli dipindahkan dari tanah leluhur mereka ke wilayah barat. Dalam perjalanan yang dikenal sebagai Trail of Tears, ribuan orang Cherokee dan suku lain meninggal karena kelaparan, penyakit, dan cuaca ekstrem.
Dari abad ke-16 hingga ke-19, populasi penduduk asli di banyak wilayah Amerika Utara menyusut drastis. Penyebabnya kombinasi penyakit, perang, pengusiran paksa, dan kebijakan sistematis yang menghancurkan cara hidup mereka.
Sebagian sejarawan menyebutnya salah satu bencana demografis terbesar dalam sejarah manusia.
Sebagian menyebutnya genosida.
Aponi tumbuh menjadi perempuan muda dengan mata yang menyimpan api. Ia belajar bahasa Inggris lebih fasih. Ia tahu dunia berubah dan ia tak bisa menghentikannya.
Suatu sore, ia berdiri di tepi sungai bersama seorang pemuda dari suku tetangga yang selamat dari pengusiran.
“Kita tidak bisa melawan senjata mereka,” kata pemuda itu.
“Kita bisa melawan dengan ingatan,” jawab Aponi.
Ia mulai mengumpulkan anak-anak yang tersisa dari berbagai suku di wilayah itu. Di bawah pohon ek besar, ia menceritakan kisah sebelum kapal-kapal datang.
“Dulu,” katanya, “hutan ini tanpa pagar. Sungai ini tanpa nama asing. Kita menyebutnya Nibi. Air yang memberi hidup.”
Seorang anak bertanya, “Mengapa mereka ingin tanah kita?”
Aponi terdiam sejenak. “Karena bagi mereka, tanah adalah milik. Bagi kita, tanah adalah ibu.”
Ia mengajarkan mereka kata-kata lama. “Ingat ini,” katanya. “Kita berkata woliwon untuk terima kasih. Kita berkata pemik untuk lemak yang memberi tenaga. Kita berkata netami untuk anakku. Jangan biarkan kata-kata itu hilang.”
Di kejauhan, asap dari permukiman pendatang mengepul tinggi. Dunia baru terus dibangun di atas sisa dunia lama.
Suatu hari, seorang pria kulit putih datang ke perkemahan kecil mereka. Ia bukan tentara. Ia seorang guru misionaris.
“Aku ingin membantu,” katanya hati-hati. “Anak-anak harus belajar membaca.”
Aponi menatapnya lama. “Membaca apa?”
“Kitab suci. Bahasa Inggris.”
“Dan bahasa kami?”
Pria itu tak segera menjawab.
Aponi tersenyum tipis. “Kami akan belajar membaca. Tapi kami juga akan menulis nama kami sendiri.”
Malam itu, ia duduk sendirian menatap bintang. Ia teringat ayahnya menunjuk langit dan berkata bahwa Roh Agung menjaga mereka.
“Apakah Engkau masih di sana?” bisiknya.
Angin bergerak pelan, menyentuh wajahnya seperti tangan lembut.
Ia tidak tahu bagaimana masa depan akan berjalan. Ia tidak tahu apakah anak-anak yang ia ajari akan dipaksa pindah suatu hari nanti. Ia tidak tahu apakah bahasa mereka akan bertahan atau hanya tinggal catatan dalam buku sejarah.
Namun ia tahu satu hal: cerita harus hidup.
“Kita adalah Anishinaabe,” katanya suatu malam kepada anak-anak. “Kita adalah manusia asli dari tanah ini. Jangan pernah merasa kecil.”
Seorang anak kecil memandangnya dengan mata besar. “Apakah suatu hari tanah ini akan menjadi milik kita lagi?”
Aponi memandang padang luas yang kini dipenuhi pagar dan ladang jagung milik pendatang.
“Tanah ini selalu mengingat siapa yang pertama berjalan di atasnya,” katanya pelan. “Meski dunia lupa, tanah tidak.”
Api unggun berderak lembut. Anak-anak mendekat, mendengarkan.
Di kejauhan, suara tembakan kadang masih terdengar. Dunia belum damai.
Namun di bawah langit yang sama yang pernah menyaksikan kelahiran dan kehancuran desa mereka, seorang gadis yang kehilangan segalanya memilih untuk tidak membiarkan kisahnya hilang.
Dan mungkin, bagi generasi yang datang jauh setelahnya, kisah itu akan menjadi pengingat bahwa sejarah bukan hanya tentang penaklukan dan bendera baru, tetapi tentang manusia—tentang Aponi yang berdiri di antara abu dan memilih untuk tetap hidup, tetap mengingat, dan tetap menyebut nama-nama yang hampir dilupakan.