Soweto, 1986.
Langit Afrika Selatan selalu tampak seperti kaca retak—biru yang terbelah oleh garis-garis tak terlihat, seperti negeri itu sendiri. Di satu sisi, papan bertuliskan Whites Only berdiri seperti perintah Tuhan yang tak bisa digugat. Di sisi lain, debu merah jalanan township mengendap di rambut anak-anak yang berlari tanpa alas kaki.
Naledi Mokoena berdiri di depan rumah sengnya yang berkarat, memandangi matahari yang tenggelam di balik cerobong tambang emas. Ayahnya pernah bekerja di sana. Sampai suatu pagi, kabar itu datang tanpa salam: kecelakaan kerja, ledakan gas, kelalaian prosedur. Perusahaan membayar ganti rugi yang tak cukup untuk membeli kesedihan.
Sejak hari itu, Naledi belajar bahwa hukum bukan selalu tentang keadilan.
Ia menyimpan potongan koran kematian ayahnya di antara halaman buku hukum bekas yang ia dapat dari seorang pendeta. Pada malam hari, ia mengikuti kelas hukum bawah tanah di ruang gereja yang lampunya redup. Mereka belajar tentang pasal-pasal yang menindas mereka sendiri.
“Kita harus tahu hukum mereka,” kata pengajar tua bernama Maseko, “agar bisa merobohkannya dari dalam.”
Malam itu, sirene meraung sebelum kelas selesai.
Pintu didobrak. Sepatu bot menghentak lantai. Polisi berseragam menyeret beberapa dari mereka tanpa banyak tanya. Naledi mencoba menyembunyikan bukunya, tapi tangan kasar mencengkeram lengannya.
“Tersangka penyebaran propaganda subversif,” kata seorang polisi, seperti membaca daftar belanja.
Ia ditahan.
---
Ruang sidang di Johannesburg terasa dingin, meski matahari musim panas menyengat di luar. Naledi duduk tegak, tangan terlipat, mengenakan gaun sederhana warna cokelat. Rambutnya dikepang rapi. Ia menolak terlihat kalah.
Di sisi lain ruangan berdiri Daniel van der Westhuizen.
Jasnya abu-abu muda, sepatu disemir sempurna. Ia adalah jaksa muda yang sedang naik daun, putra keluarga Afrikaans terpandang. Ayahnya anggota parlemen pendukung kebijakan apartheid. Ibunya aktif di organisasi perempuan kulit putih yang percaya Tuhan menciptakan dunia dalam hirarki yang jelas.
Daniel selalu percaya hukum adalah fondasi peradaban. Hukum adalah kebenaran yang netral.
Sampai ia membaca berkas Naledi.
“Tersangka menghadiri pertemuan ilegal, menyebarkan materi yang menghasut kebencian terhadap pemerintah,” ia membacanya berulang kali.
Materi yang dimaksud hanyalah fotokopi undang-undang hak asasi manusia dari PBB.
Ketika mata mereka bertemu untuk pertama kali, Daniel merasa sesuatu bergerak di dalam dirinya—bukan cinta, belum. Tapi pertanyaan.
Sidang pertama berlangsung singkat. Bukti-bukti diajukan, saksi polisi bersumpah bahwa Naledi adalah bagian dari jaringan pemberontak. Naledi memilih membela diri.
“Apakah membaca hukum termasuk kejahatan?” tanyanya tenang.
Ruang sidang berdesis pelan.
Daniel merasakan kata-katanya seperti batu kecil yang dilempar ke danau yang ia sebut keyakinan.
Malam itu ia tak bisa tidur.
---
Daniel mulai membaca lebih jauh. Ia mengunjungi arsip lama tentang kecelakaan tambang yang disebut dalam berkas Naledi. Ia menemukan laporan internal yang tak pernah dipublikasikan—perusahaan mengabaikan peringatan keamanan.
Nama ayah Naledi ada di sana.
Sesuatu retak.
Ia menemui Naledi di ruang tahanan sebelum sidang lanjutan. Secara resmi untuk klarifikasi. Secara pribadi, untuk mencari jawaban bagi kegelisahannya.
“Kenapa kau lakukan ini?” tanyanya pelan.
Naledi tersenyum tipis. “Karena ayah saya mati tanpa ada yang dihukum. Karena hukum hanya tajam ke bawah.”
Daniel terdiam.
Hubungan mereka tumbuh dalam percakapan-percakapan singkat, tatapan yang tertahan lebih lama dari seharusnya. Mereka berbicara tentang buku, tentang mimpi. Tentang negeri yang mungkin berbeda suatu hari nanti.
Tapi hubungan ras campuran adalah kejahatan. Immorality Act tidak mengenal diskusi filsafat.
Suatu malam, seseorang melihat Daniel keluar dari ruang tahanan lebih lama dari yang diperlukan. Desas-desus mulai beredar. Ayahnya memanggilnya pulang.
“Kau jaksa,” kata sang ayah dengan suara dingin. “Tugasmu menjaga tatanan, bukan meragukannya.”
Daniel mengangguk. Tapi di dalam dadanya, sesuatu sudah tak bisa diatur lagi.
---
Sidang terakhir dipenuhi wartawan asing. Entah bagaimana, kasus Naledi menarik perhatian organisasi internasional. Tekanan mulai terasa.
Daniel berdiri untuk menyampaikan tuntutan.
Semua orang menunggu.
Naledi menatapnya tanpa kedip.
“Berdasarkan bukti yang diajukan,” Daniel memulai, suaranya stabil, “pengadilan ini dihadapkan pada pertanyaan: apakah mempelajari hukum internasional merupakan tindakan subversif?”
Beberapa orang bergeser tak nyaman.
Daniel menarik napas panjang.
“Saya menemukan bahwa materi yang disita bukan propaganda kekerasan. Melainkan dokumen hak asasi manusia yang diakui secara global. Tidak ada bukti terdakwa merencanakan tindakan kriminal.”
Ayahnya di bangku belakang memucat.
“Dengan demikian, saya merekomendasikan pembebasan terdakwa karena kurangnya bukti yang sah.”
Ruang sidang meledak dalam bisik-bisik.
Naledi terdiam, tak yakin ia mendengar dengan benar.
Hakim menunda sidang singkat. Putusan akhirnya dijatuhkan: Naledi dibebaskan.
Di luar gedung pengadilan, matahari terasa lebih cerah dari biasanya.
Naledi mencari Daniel, tapi ia tak ada.
---
Dua hari kemudian, berita itu muncul di koran kecil: Jaksa Muda Diselidiki atas Dugaan Penyalahgunaan Wewenang.
Daniel dituduh membocorkan informasi internal tentang laporan tambang kepada pers asing—laporan yang akhirnya membuat kasus Naledi menjadi sorotan dunia.
Naledi menyadari sesuatu: pembebasannya bukan sekadar karena kurang bukti. Itu adalah strategi.
Daniel telah mengirim salinan laporan kecelakaan tambang ke jurnalis Inggris, memancing perhatian internasional agar pemerintah tak berani menjatuhkan hukuman keras dalam kasusnya.
Ia mengorbankan kariernya.
Naledi berusaha menemui Daniel, tapi ia sudah ditahan oleh Security Branch atas tuduhan pengkhianatan negara.
Tak ada sidang terbuka untuknya.
Hanya kabar samar bahwa ia dipindahkan ke penjara terpencil di pesisir.
---
Tahun-tahun berlalu.
Apartheid runtuh perlahan seperti tembok tua yang akhirnya tak mampu menahan tekanan waktu dan darah.
Naledi melanjutkan studinya dengan beasiswa dari organisasi internasional yang tertarik pada keberaniannya. Ia belajar hukum di London, lalu kembali ke Afrika Selatan ketika negeri itu berubah.
1996.
Mahkamah Konstitusi berdiri megah di Johannesburg, simbol negara baru. Naledi, kini pengacara hak asasi manusia, berdiri di ruang sidang yang berbeda dari dulu—tanpa papan pemisah ras.
Di mejanya ada berkas lama berwarna cokelat.
Nama Daniel van der Westhuizen tercetak di sana.
Ia tercatat sebagai salah satu tahanan politik kulit putih yang “menghilang” pada akhir 1980-an. Tak ada tanggal kematian resmi. Tak ada kubur.
Hanya catatan samar: dipindahkan, lalu hilang.
Siang itu, seorang pria tua mendekatinya setelah sidang.
“Ada sesuatu untuk Anda,” katanya, menyerahkan amplop kusam.
Tulisan tangan di depannya membuat napas Naledi tercekat.
Untuk Naledi, jika surat ini pernah sampai.
Tangannya gemetar saat membukanya.
Di dalamnya, lembaran kertas menguning.
*Naledi,*
*Jika kau membaca ini, mungkin negeri kita sudah berubah. Aku ingin kau tahu, aku tidak menyesal. Hukum yang kupelajari mengajarkanku tentang aturan. Kau mengajarkanku tentang keadilan.*
*Aku tidak tahu apakah aku akan keluar dari sini. Tapi jika suatu hari kau berdiri di ruang sidang yang bebas, berdirilah untuk mereka yang tak sempat bersuara.*
*Dan jika hatimu pernah menyimpan sedikit ruang untukku, biarlah itu menjadi bukti bahwa di negeri yang memisahkan warna kulit, cinta tetap menemukan caranya.*
*—Daniel*
Air mata jatuh tanpa suara.
Naledi menatap gedung pengadilan yang berdiri di atas bekas penjara lama. Negeri ini memang telah berubah.
Tapi beberapa luka tak pernah benar-benar sembuh.
Ia melipat surat itu dengan hati-hati dan memasukkannya kembali ke amplop. Di kejauhan, anak-anak berlari tanpa takut pada papan bertuliskan larangan.
Sebelum meninggalkan ruang sidang, ia berbalik sejenak.
Di bangku pengunjung paling belakang, sesosok pria berdiri. Rambutnya lebih pendek, wajahnya lebih tirus, tapi matanya—
Matanya seperti dulu.
Naledi membeku.
Pria itu tersenyum tipis. Lalu, sebelum ia bisa bergerak, kerumunan orang keluar memenuhi ruangan. Sosok itu menghilang di antara jas dan gaun hitam.
Apakah ia benar-benar melihatnya?
Atau hanya kenangan yang menolak mati?
Naledi berdiri lama di sana, surat di tangannya terasa hangat.
Di luar, langit Afrika Selatan tak lagi tampak terbelah.
Tapi di hatinya, satu pertanyaan menggantung seperti matahari yang tak pernah sepenuhnya tenggelam—
Apakah Daniel benar-benar hilang?
Atau ia baru saja kembali?