🦋 Happy Reading 🦋
Hujan turun pelan menghantam aspal, membiarkan genangan kecil memantulkan cahaya lampu jalan.
Raider, cowok berumur 19 tahun, berdiri di halte tua. Jaketnya basah di bagian bahu. Ia ingin cepat pulang, tapi hujan terlalu deras untuk membiarkannya mengendarai motor. Demi keselamatan, ia terpaksa berteduh.
Matanya mengedar ke sana kemari untuk mengusir kebosanan. Tidak ada yang menarik. Hanya deretan pepohonan yang berdiri sunyi di pinggir jalan.
"Kapan nih hujan reda sih? Bosen gue," decak Raider, memeluk tubuhnya sendiri karena dingin.
Lalu tanpa sengaja, pandangannya tertumbuk pada seorang gadis di bawah pohon. Rambutnya panjang, berkilau terkena cahaya lampu. Terlalu cantik dan imut untuk berdiri sendirian di tengah malam seperti ini sambil tersenyum.
Dan ketika angin menggeser rambutnya, napas Raider tercekat. Sepasang telinga kecil berbulu lembut muncul di atas kepalanya.
Raider berkedip. “Gak mungkin … pasti gue salah lihat.” Ia mengucek matanya beberapa kali, untuk memastikan kalau ia benar-benar hanya berhalusinasi.
Tapi telinga itu masih ada.
Jantung Raider berdetak tidak normal. Bulu kuduknya berdiri tiba-tiba.
Saat gadis itu menoleh, mata mereka bertemu, dan mata itu … bukan mata manusia biasa. Irisnya berwarna keemasan, memantulkan cahaya seperti mata kucing.
"Gila!" Raider tercengang tak percaya. Jantungnya hampir saja jatuh ke tanah saking syoknya.
Mata gadis itu membulat lebar. Ia mundur satu langkah dengan tubuh bergetar ketakutan.
"Lu gak usah takut, gue gak jahat kok," tutur Raider cepat, berusaha tersenyum. Ia sungguh penasaran sekarang, ingin menanyakan kenapa gadis cantik ini memiliki telinga seperti kucing.
Gadis itu menggeleng ribut. “Seharusnya kamu tidak melihatku.”
Belum sempat Raider merespons, gadis itu sudah berlari cepat, hingga hilang dalam sekejap mata.
"Apa tuh cewek hantu?" cengo Raider menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
Raider bergidik ngeri. "Kok gue makin merinding? Tau ah, pulang ae udah gak hujan lagi."
Sejak malam itu, Raider tak bisa melupakan tatapan mata keemasan itu.
"Kenapa tuh cewek selalu muter di kepala gue sih?! Apa gue dipelet? Tapi mana bisa, iman gue kan kuat, pasti karena gue penasaran tingkat tinggi nih," gerutu Raider, mengacak-acak rambutnya frustrasi.
"Apa gue ke halte itu lagi kali ya?"
Raider kembali ke halte yang sama keesokan harinya. Entah mengapa ia yakin gadis itu nyata, bukan khayalan semata.
Dua hari ia datang, tetapi tidak kunjung menemukan gadis itu. "Ck! Ke mana sih tuh cewek? Apa bener gue kemarin halusinasi?" batin Raider kesel.
Akhirnya Raider menyerah mencari gadis itu, walaupun dalam lubuk hatinya penasaran masih menghimpitnya.
Kali ini, saat hendak ke supermarket, Raider tak sengaja melihat sosok yang sejak beberapa hari terakhir mengganggu pikirannya. Seorang gadis duduk di tepian atap bangunan tua, memandangi bulan.
Raider terpaku. Ia pun berlari cepat. Ia harus memastikan sekarang juga, menuntaskan rasa penasarannya, hingga akhirnya tiba di atas gedung tua itu.
"H-hey," sapa Raider kikuk apalagi melihat ekor berbulu halus menjuntai pelan di belakang gadis itu.
“Kamu manusia,” gadis itu berkata tanpa menoleh, nada suara sedikit bergetar. Ia mau kabur, tapi tidak bisa, jadi ia hanya bisa waspada sekarang.
“Iya, kalau lu?” tanya Raider cepat.
Gadis itu tersenyum kecil. “Tidak sepenuhnya.”
Namanya Livi.
Ia bukan sekadar gadis dengan telinga dan ekor kucing. Ia berasal dari kaum yang hidup tersembunyi di sela-sela dunia manusia. Mereka tinggal di sana, tidak pernah muncul di sekitar manusia, karena akan berbahaya untuk kaum mereka.
Raider sedikit paham. “Kenapa lu bisa di sini? Lu bisa dimasukkan ke laboratorium dan dijadikan bahan eksperimen, kalau ketemu sama orang jahat, lu kagak takut?” tanya Raider pelan, duduk di samping Livi.
Livi melirik Raider takut-takut. “K-kamu tidak jahat, kan?"
Raider terkekeh geli, menggeleng. "Gak."
Livi menghela napas lega. Dari tampangnya, cowok itu memang tidak terlihat jahat.
"Aku di sini hanya ingin mengetahui tentang dunia manusia. Aku penasaran, tapi mereka semua takut sekali sama manusia, apa manusia jahat sekali?" Kening Livi mengkerut penasaran sekaligus sebel.
Raider bingung menjelaskannya. "Pokoknya manusia ada yang jahat, ada yang baik, namun terlalu berisiko kalau lu berada di sini. Karena lu manusia kucing, bisa jadi dimanfaatkan oleh profesor gila."
"Tapi aku kan bosan di sana terus, mau main pun tidak boleh," decak Livi mengembung pipinya.
Raider hanya bisa menahan diri agar tak mencubit pipi tembem itu. "Terus orang tua lu gak tau kalo lu ada di sini?"
"Tidak dong, aku diam-diam ke sini, cuma sebentar tidak akan ketahuan!" celetuk Livi santai mengayun-ayunkan kakinya pelan.
Sejak itu, mereka sering bertemu di atap bangunan tua itu. Berbicara tentang hal-hal kecil. Tentang hidup manusia. Tentang hidup jadi manusia kucing. Tentang bagaimana rasanya menjadi berbeda.
Raider tidak pernah merasa sedekat itu dengan siapa pun sebelumnya. Dan Livi yang selalu waspada—mulai tertawa lebih sering saat bersamanya.
Cinta tumbuh tanpa suara, seperti daun liar yang muncul di sela retakan dinding.
🦋🦋🦋
“Kita tidak boleh seperti ini.”
Kalimat itu akhirnya keluar dari bibir Livi suatu malam.
Angin berhembus dingin. Ekor Livi bergerak gelisah.
“Kenapa?” Raider mendekat. “Apa salahnya mencintai?” bisiknya.
Livi menatap Raider, dengan mata yang bergetar, bukan karena takut, tapi karena mengingat sesuatu yang sejak lama ia acuhkan.
“Karena kita dan dunia kita berbeda, Rai. Manusia hidup singkat. Kaumku … hidup lebih lama. Dan kami tidak boleh terikat pada manusia, semua mengatakan manusia berbahaya bagi kaum manusia kucing.”
“Siapa yang melarang?”
“Semua." Livi menghela napas berat.
Kaum manusia kucing menjaga jarak dari manusia karena sejarah lama—cinta yang berakhir dengan pengkhianatan, perburuan, dan darah. Mereka hidup dalam bayang-bayang agar tetap aman.
Dan manusia pun tak akan pernah benar-benar menerima makhluk seperti Livi.
“Aku tidak peduli,” Raider berkata keras. “Aku hanya peduli padamu." Menatap Livi penuh cinta.
Livi tersenyum sedih, matanya berkaca-kaca.
“Cinta saja tidak cukup untuk menyatukan dua dunia. Kita tidak bisa bersama, Rai.”
Namun mereka tetap bertemu. Tetap berbagi tawa dan sentuhan kecil. Tetap berpura-pura bahwa waktu akan baik pada mereka, dan takdir mereka adalah bersama.
🧸🧸🧸
Sampai suatu malam, Livi tidak datang.
Raider menunggu hingga fajar dengan perasaan gelisah. "Kamu ke mana Vi? Jangan tinggalin gue..." Raider mengacak-acak rambutnya frustrasi.
Beberapa hari Raider terus datang ke gedung tua itu, tetapi Livi tak pernah muncul.
Tiga hari kemudian, Livi muncul dengan wajah pucat. Tatapannya kosong.
Raider langsung memeluk Livi erat. Terisak pelan. Ia kira tak akan bisa memandangi wajah imut itu lagi. Ia tak akan sanggup ditinggalkan.
Raider mencium kening Livi dengan jantung berdebar kencang karena senang. Akhirnya ia bisa melihat Livi lagi.
"Kamu ke mana aja selama ini?" tanya Raider, penasaran, sepertinya Livi ada masalah. "Kalau ada apa-apa kamu cerita sama aku, jangan malah hilang, oke?" Ia kembali memeluk Livi, dan pelukan itu dibalas.
“Mereka tahu tentangmu."
Bisikan Livi membuat Raider refleks melepaskan pelukan mereka. “Siapa?”
“Kaumku.” Pipi Livi basah karena air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh tanpa bisa dibendung.
Ternyata pertemuan mereka tidak lagi rahasia. Para penjaga kaum Livi menganggap Raider ancaman. Jika hubungan itu berlanjut, Raider bisa disingkirkan.
“Aku akan pergi,” kata Livi dengan terbata-bata, ia membuang mukanya.
Kata itu terasa seperti pisau yang menusuk ke dalam titik hati Raider terdalam.
"Gak,” Raider menggenggam tangan Livi erat. “Kita bisa pergi bersama," tegas Raider, ia tidak sanggup berpisah sungguh, ia sudah terlalu mencintai gadis kucingnya ini.
Livi menggeleng, air matanya terus mengalir tanpa suara. “Aku tidak bisa meninggalkan duniaku, Rai. Dan kamu tidak bisa hidup di sana.”
“Aku bisa belajar," ucap Raider cepat.
Livi menggeleng kuat. “Kamu akan mati.”
Sunyi menggantung di antara mereka, seolah batu tak kasat mata menghantam hati mereka, menyesakkan.
“Rai,” suaranya pecah, “aku mencintaimu. Justru karena itu aku harus pergi..." bisik Livi lirih menggigit bibirnya sendiri kuat, agar ia tidak refleks berteriak bahwa ia tidak mau berpisah.
Raider merasa seperti sedang berdiri di tepi jurang. “Kapan?” Matanya berkaca-kaca, mengepalkan tangannya kuat.
“Malam ini." Livi memeluk laki-laki yang berhasil membuat ia jatuh cinta, untuk pertama kalinya.
Bulan purnama bersinar terang. Cahaya putih menyelimuti tubuh Livi perlahan.
“Maaf ... kalau aku tetap di sini, mereka akan menyakitimu.” Tubuh Livi bergetar dengan isakan pedih.
Raider membalas pelukan Livi erat. Air mata Raider mengalir deras, dadanya sesek. “Jangan lupakan aku,” bisiknya dengan napas tercekat.
Livi tersenyum di antara air mata. “Aku berjanji. Kalau kamu?"
"Janji Livi ... aku tidak akan melupakanmu," bisik Raider mencium kening Livi dalam, dan lama.
"Manusia lupa seiring waktu.” Mata Livi terpejam erat, meresapkan dalam-dalam rasa yang Raider berikan untuk terakhir kalinya. Ia akan merindukan hal ini suatu hari nanti.
“Aku tidak akan," tegas Raider, berusaha tersenyum walau pedih.
Cahaya semakin terang.
Ekor dan telinga Livi mulai memudar, berubah menjadi cahaya perak yang terangkat ke langit.
Livi mengecup singkat bibir Raider yang saat ini menangis tertahan. “Aku berharap … di dunia lain kita dilahirkan tanpa perbedaan.”
Bruk!
Raider jatuh berlutut. Tidak ada suara. Hanya napas yang terasa patah satu per satu. Wajahnya memerah dengan air mata membanjiri pipinya tanpa henti.
"Aku tidak akan pernah melepaskanmu dalam ingatanku..." janji Raider tegas.
Tahun-tahun berlalu.
Raider tetap datang ke atap bangunan tua itu setiap malam. Ia duduk di tempat yang sama, memandangi bulan, berharap melihat sepasang mata keemasan menatap balik padanya.
Orang-orang bilang ia aneh. Terlalu sering sendirian.
Tapi Raider tahu, ia tidak sendirian. Karena di setiap cahaya bulan yang jatuh ke wajahnya, ia merasa Livi, gadis kucingnya masih ada.
Mungkin bukan sebagai tubuh, dan mungkin juga bukan sebagai suara–tapi sebagai rasa.
Cinta yang tak pernah selesai. Cinta yang masih ada bertahun-tahun lamanya.
Suatu malam, saat usianya tak lagi muda, Raider berbisik pada bulan.
“Aku tidak pernah lupa.” Angin berembus lembut menerpa wajah yang sudah menua, ia merasa ada tangan hangat menyentuh pipinya.
Di langit, bulan bersinar lebih terang dari biasanya.
Di antara dua dunia yang tak pernah sama, cinta mereka tetap hidup, meski tak pernah bersama.
Dan mungkin, di tempat yang tak bisa dijangkau manusia maupun makhluk malam, Livi juga memandangi bulan yang sama.
Dengan rindu yang tidak pernah padam.
[🥀• END •🥀]
🌷🦋•°•GC Rumah Menulis•°•🦋🌷
Fantasi Romance——Tema 2