Hujan menderu di luar jendela-jendela tinggi Batavia, membasuh pilar-pilar putih kediaman Van den Berg dengan amarah yang dingin. Di dalam kamar tidur utama yang beraroma kayu cendana dan obat-obatan, Helen van den Berg duduk kaku di kursi goyangnya. Matanya yang cekung menatap kosong ke arah ranjang kecil di sudut ruangan. Di sana, seorang gadis kecil bernama Helenina—yang akrab dipanggil Nina—sedang berjuang melawan demam malaria yang ganas.
Ini adalah misteri yang bahkan detektif paling ulung sekalipun tidak akan bisa pecahkan dengan logika deduksi. Mengapa Nina, yang baru berusia enam tahun, terus-menerus terjaga? Dia tidak hanya sakit; dia ketakutan. Setiap kali matanya mulai meredup karena kantuk, ia akan tersentak bangun dengan jeritan tertahan, menunjuk ke arah sudut ruangan yang gelap di mana bayangan lemari jati tampak seperti raksasa yang membungkuk.
"Ibu... jangan biarkan dia masuk," bisik Nina dengan bibir pecah-pecah.
Helen, seorang wanita Belanda yang rasional, menghela napas. Dia tidak percaya pada takhayul pribumi. Baginya, ketakutan Nina hanyalah manifestasi dari racun yang dibawa nyamuk ke dalam darahnya. Namun, suaminya, Mustika, seorang pria Jawa yang diam dan penuh rahasia, memiliki pandangan lain. Mustika berdiri di kegelapan koridor, memegang sebuah keris kecil yang dibungkus kain kuning.
"Dia harus tidur, Helen," suara Mustika berat. "Jika dia tidak tidur, mereka akan menganggapnya sedang mengundang."
"Konyol," desis Helen dengan aksen Eropa yang tajam. "Dia butuh istirahat untuk memulihkan tubuhnya, bukan karena takut pada hantu."
Karena keputusasaan yang memuncak, Helen mulai bersenandung. Ia mencoba mengingat melodi yang sering dinyanyikan para pengasuh pribumi di dapur. Sebuah melodi yang sederhana, melankolis, dan entah mengapa, terasa seperti memiliki denyut nadi sendiri.
Nina bobo, oh nina bobo...
Kalau tidak bobo, digigit nyamuk...
Saat kata "digigit nyamuk" keluar dari bibirnya, lampu minyak di atas meja berkedip hebat. Suhu ruangan turun secara drastis hingga napas Helen membentuk uap putih di udara. Nina mulai tenang. Matanya perlahan menutup. Namun, ketenangan itu tidak membawa kedamaian. Wajah Nina yang semula pucat berubah menjadi abu-abu, dan kulitnya tampak mengerut seolah-olah sesuatu di bawah sana sedang menyedot cairannya.
Sesuatu yang aneh mulai terjadi di rumah Van den Berg. Setiap kali lagu itu dinyanyikan, Nina memang tertidur, tetapi ia tidak pernah bangun dengan segar. Dia justru semakin kurus, seolah-olah tidurnya adalah sebuah transaksi—sedikit istirahat ditukar dengan sedikit nyawa.
Suatu malam, Helen terbangun bukan karena suara Nina, melainkan karena keheningan yang terlalu pekat. Ia menoleh ke arah ranjang anaknya dan mendapati ranjang itu kosong. Dengan jantung yang berdegup kencang seperti ketukan palu hakim, Helen berlari ke arah beranda. Di sana, di bawah sinar bulan yang pucat, ia melihat Nina berdiri di pagar balkon yang tinggi. Namun, Nina tidak berdiri sendiri. Di sampingnya, sesosok bayangan hitam tinggi besar dengan mata merah yang menyala sedang memegang tangan mungil itu.
"Nina!" teriak Helen.
Gadis kecil itu menoleh. Wajahnya bukan lagi wajah anak-anak. Kulitnya menggantung, matanya hitam legam tanpa bagian putih. Ia tersenyum, menunjukkan deretan gigi yang runcing. "Ibu, lagu itu... lagu itu adalah sebuah perjanjian," suara Nina terdengar seperti gesekan amplas pada kayu ek.
Sebelum Helen sempat menjangkau, Nina melompat. Bukan jatuh ke bawah, melainkan menghilang ke dalam pelukan bayangan hitam itu, lenyap seperti asap yang ditiup angin.
Mustika muncul di belakang Helen, wajahnya tanpa ekspresi. "Kau sudah memulainya, Helen. Kau memanggilnya melalui nyanyian itu."
"Apa maksudmu?" tangis Helen histeris.
"Lagu itu bukan untuk menidurkan anak-anak agar sehat," bisik Mustika sambil menatap kosong ke arah kegelapan. "Lagu itu adalah mantra kuno untuk menenangkan penunggu tanah ini. 'Digigit nyamuk' hanyalah metafora. Nyamuk tidak hanya mengambil setetes darah. Mereka mengambil seluruh keberadaanmu jika kau tidak segera tidur dan menutup jiwamu dari dunia luar. Kau memanggil Gandarwa untuk menjaga tidurnya, tapi kau lupa memberi tahu kapan ia harus pergi."
Helen jatuh pingsan. Ketika ia terbangun keesokan harinya, seluruh rumah itu terasa berbeda. Nina dinyatakan meninggal karena komplikasi malaria, namun Helen tahu itu bohong. Tidak ada mayat yang ditemukan di bawah balkon. Yang ada hanyalah sebuah boneka porselen milik Nina yang pecah menjadi seribu keping.
Berbulan-bulan berlalu, Helen mulai kehilangan akal sehatnya. Ia terus-menerus mendengar suara Nina dari balik dinding, memohon untuk dinyanyikan lagu itu lagi. "Ibu, aku kedinginan... nyanyikan untukku..."
Mustika akhirnya membawa Helen kembali ke Belanda, berharap udara Eropa akan menghapus kutukan tersebut. Namun, kengerian itu justru ikut menyeberangi samudera. Di kapal uap yang membawa mereka, setiap malam para penumpang akan mendengar melodi nina bobo bergema dari dek bawah, padahal tidak ada seorang pun yang menyanyi. Penumpang satu per satu mulai menghilang, hanya menyisakan pakaian mereka yang rapi di atas tempat tidur, seolah-olah tubuh mereka baru saja menguap.
Sesampainya di sebuah rumah tua di Amsterdam, Helen mengunci diri di kamar. Ia mulai menuliskan lirik lagu itu di setiap jengkal dinding dengan arang. Ia merasa jika ia bisa menyempurnakan liriknya, ia bisa memanggil Nina kembali. Namun, ia tidak menyadari bahwa struktur lagu itu telah berubah.
Kini, setiap kali ia menyanyi, bayangan-bayangan di sudut kamar mulai bergerak. Sosok hitam itu tidak lagi tinggal di Batavia. Ia telah menemukan inang baru dalam melodi yang terus bergema.
Plot twist yang sesungguhnya terungkap saat seorang dokter jiwa datang berkunjung untuk memeriksa Helen. Dokter itu menemukan Helen sedang menggendong sesuatu yang dibungkus selimut bayi.
"Nyonya Van den Berg, tolong letakkan itu," ucap dokter dengan lembut.
Helen menoleh dengan senyum gila. "Dia sudah tidur, Dokter. Berkat lagunya."
Dokter itu mendekat dan nyaris muntah. Yang digendong Helen bukanlah bayi, bukan pula Nina. Itu adalah tumpukan ribuan nyamuk mati yang membentuk gumpalan hitam besar yang berdenyut seolah-olah memiliki jantung. Gumpalan itu mulai bergerak, merayap ke arah leher Helen.
"Kau tahu, Dokter," bisik Helen saat nyamuk-nyamuk itu mulai menutupi mulutnya. "Nama Nina sebenarnya bukan nama anakku. 'Nina' dalam bahasa kuno yang diajarkan Mustika berarti 'Kematian Kecil'. Dan 'Bobo' berarti 'Gerbang'. Aku tidak sedang menidurkan anakku. Aku sedang membukakan gerbang untuk kematian agar masuk ke dunia ini melalui setiap bibir yang menyanyikannya."
Tiba-tiba, suara Mustika terdengar dari balik pintu yang terkunci, meskipun Mustika sudah meninggal karena "kecelakaan" di kapal. "Lagu ini akan menjadi fenomenal, Helen. Semua ibu di dunia akan menyanyikannya. Dan setiap kali mereka menyanyi, mereka akan memberikan tumbal kecil bagi kami."
Kamera pikiran kita seolah mundur, menjauh dari kamar itu, keluar melintasi benua dan waktu, hingga ke masa sekarang. Di setiap rumah, di setiap kamar bayi yang tenang, seorang ibu yang lelah mulai bersenandung tanpa tahu sejarah berdarah di baliknya.
Nina bobo, oh nina bobo...
Apakah kau mendengar suara kepakan sayap kecil di dekat telingamu? Apakah kau merasa suhu ruangan sedikit menurun? Di sudut kamarmu, sesuatu yang hitam dan tinggi sedang menunggu. Ia tidak peduli padamu, ia hanya peduli pada lagu itu. Dan saat kau mencapai lirik terakhir, ia akan memastikan kau "tidur" selamanya.
Sebab, lagu itu bukanlah pengantar tidur. Itu adalah undangan jamuan makan, di mana kau—atau anakmu—adalah hidangan utamanya. Dan bagi mereka yang masih terjaga setelah lagu berakhir, bersiaplah. Karena nyamuk yang disebutkan dalam lagu itu tidak akan menggigit kulitmu, ia akan menggigit jiwamu hingga kau tak lagi memiliki jalan untuk bangun.
Kini, cobalah untuk tidur. Jika kau bisa. Tapi ingat satu hal: jangan pernah menyanyikannya sendirian di kegelapan, karena "Nina" selalu mendengarkan, dan dia sangat, sangat lapar.
Apakah kau merasa ada yang menyentuh kakimu di bawah selimut sekarang? Jangan menoleh. Cukup nyanyikan lagu itu... dan biarkan gerbangnya terbuka. Selamat tidur, jika ini memang sebuah tidur yang bisa kauakhiri besok pagi.