Lantai marmer seluas lapangan bola itu berkilau tertimpa cahaya lampu kristal seharga satu unit apartemen mewah. Di tengah ruangan, Surya Atmadja berdiri tegak di depan cermin besar berbingkai emas. Ia merapikan kain ihram putih yang melilit tubuhnya. Wajahnya tampak segar, hasil dari prosedur facial laser paling mutakhir di Singapura bulan lalu. Di tangannya, melingkar sebuah jam tangan mewah seharga miliaran rupiah yang segera ia lepas dan letakkan di atas meja rias—karena menurutnya, saat menghadap Tuhan nanti, ia harus terlihat "sederhana".
"Pa, tas Hermes-ku yang kulit buaya cocok nggak ya dibawa ke Mekkah? Atau pakai yang edisi terbatas warna putih aja biar senada sama mukena?" tanya istrinya, Miranda, sambil mematut diri. Wajah Miranda kencang tanpa kerut, hasil operasi plastik di Korea Selatan yang menghabiskan dana setara anggaran pembangunan sepuluh sekolah dasar di pelosok negeri.
Surya tersenyum lebar. "Pakai yang paling mahal saja, Ma. Kita harus tunjukkan kalau kita ini hamba yang diberkati. Jangan lupa, sedekah di sana yang banyak. Biar semua dosa kita luntur, biar semua urusan Papa di kantor lancar."
Di luar rumah mewah itu, tiga mobil Toyota Alphard sudah berjajar rapi untuk mengantar mereka ke bandara. Surya baru saja memenangkan tender proyek infrastruktur raksasa yang ia "akali" anggarannya. Dari nilai total sepuluh triliun, tiga triliun masuk ke kantong pribadinya lewat perusahaan-perusahaan cangkang. Baginya, umroh adalah mekanisme penghapusan dosa otomatis. Ia berpikir bahwa Tuhan bisa disuap dengan beberapa kali putaran tawaf dan air mata buatan di depan Ka’bah.
Sementara itu, di sebuah sudut kota yang kumuh, hanya berjarak lima belas kilometer dari rumah bak istana milik Surya, sebuah kerumunan pecah. Suara teriakan "Maling!" bergema membelah malam yang gerimis.
Seorang pria kurus bernama Salim tersungkur di atas aspal yang berlubang. Bajunya robek, wajahnya bersimbah darah. Di tangannya, ia masih mendekap sepasang sandal jepit kulit yang sudah agak usang—milik seorang jemaah yang baru saja selesai sholat Isya di masjid besar.
"Ampun, Pak! Ampun! Saya butuh uang buat beli obat anak saya!" rintih Salim di sela-sela tendangan yang mendarat di perutnya.
"Halah! Alasan klasik! Maling ya maling! Ngotorin masjid aja lu!" teriak seorang pria sambil melayangkan bogem mentah ke arah pelipis Salim.
Massa yang beringas tidak memberi ampun. Bagi mereka, maling sandal adalah sampah masyarakat yang paling hina. Salim dihajar habis-habisan hingga tak sadarkan diri. Matanya membiru, giginya tanggal, dan ia ditinggalkan terkapar di pinggir selokan seperti bangkai binatang. Tak ada yang tahu bahwa di rumah petak mungilnya, anak Salim sedang menggigil karena demam berdarah, dan Salim benar-benar tak punya sepeser pun untuk membeli parasetamol.
Di negeri ini, hukum memang terasa tajam ke bawah dan tumpul ke atas. Tapi, mereka tidak tahu bahwa roda nasib sedang berputar dengan kecepatan yang mematikan.
Surya Atmadja baru saja menyelesaikan putaran tawaf ketujuhnya. Ia menangis tersedu-sedu, memohon agar investigasi yang kabarnya sedang dilakukan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) segera menguap. Ia merasa lega. Ia yakin, setelah ini ia kembali suci.
Namun, Tuhan tidak sedang tidur. Dan negara ini sedang berada di ambang perubahan besar.
Baru saja Surya menginjakkan kaki di Bandara Soekarno-Hatta sekembalinya dari tanah suci, suasana berubah mencekam. Puluhan pria berbaju batik dan rompi krem bertuliskan "KPK" sudah menunggu di pintu kedatangan internasional. Kamera wartawan berkilat-kilat seperti petir di siang bolong.
"Saudara Surya Atmadja, Anda kami tahan atas dugaan tindak pidana korupsi pembangunan infrastruktur nasional dan pencucian uang," ucap seorang penyidik dengan suara dingin.
Miranda menjerit histeris. Tas mewah kulit buayanya jatuh ke lantai bandara yang dingin. Anak-anak mereka, yang selama ini hidup foya-foya di London dan New York dengan uang kiriman sang ayah, hanya bisa terpaku melihat sang kepala keluarga diborgol di depan umum.
Kehancuran itu datang seperti tsunami. Seluruh aset Surya disita. Rumah mewahnya dipasangi garis pembatas. Mobil-mobil koleksinya diangkut. Brangkas-brangkasnya yang berisi emas batangan dibongkar. Masyarakat yang selama ini menderita karena jalanan yang mereka lalui rusak (akibat anggaran yang dikorupsi Surya) kini bersorak-sorai di media sosial.
Namun, kejutan sebenarnya belum dimulai.
Pemerintah baru yang baru saja dilantik telah mengesahkan amandemen undang-undang korupsi. Tekanan publik yang sudah muak dengan para perampok uang rakyat memaksa negara menerapkan hukum yang paling ekstrim: Hukuman Mati bagi koruptor di atas satu miliar rupiah, tanpa celah remisi atau pengampunan.
Enam bulan berlalu. Sidang Surya Atmadja menjadi tontonan nasional paling hits melebihi sinetron manapun. Di kursi pesakitan, Surya tak lagi terlihat segar. Wajahnya kusam, matanya cekung, dan baju oranyenya tampak kedodoran. Tak ada lagi laser wajah atau jam tangan miliaran.
"Menjatuhkan vonis kepada terdakwa Surya Atmadja dengan hukuman mati," ketuk palu hakim bergema ke seluruh penjuru negeri.
Dunia seolah runtuh. Surya mengira dengan umroh ia bisa "bernegosiasi" dengan takdir. Ia lupa bahwa tobat bukan soal tiket pesawat ke Mekkah, tapi soal mengembalikan hak orang-orang yang ia rampas. Istrinya kini tinggal di kontrakan sempit, semua perhiasannya dijual untuk membayar pengacara yang gagal membela suaminya. Anak-anaknya dihujat, dikeluarkan dari kampus, dan kehilangan semua teman sosialitanya.
Hari eksekusi pun tiba. Surya dibawa ke sebuah lapangan luas yang sudah disiapkan tiang gantungan. Di negeri ini, cara mati koruptor dibuat serendah mungkin agar menjadi peringatan bagi yang lain.
Surya berdiri di atas papan kayu yang sewaktu-waktu bisa terbuka. Lehernya dilingkari tali tambang yang kasar. Ia menatap ke langit, teringat wajah anak-anaknya yang dulu ia manjakan dengan uang haram. Ia teringat doanya di depan Ka’bah yang ternyata hanyalah kesombongan yang dibungkus agama.
"Ada pesan terakhir?" tanya sang eksekutor.
Surya hanya bisa terisak. "Saya... saya pikir saya bisa membeli pengampunan..."
KRAK!
Papan terbuka. Tubuh Surya terjatuh dan tergantung. Napasnya terhenti di tengah sorak-sorai massa yang menonton dari kejauhan melalui layar lebar di luar area eksekusi. Ia mati sebagai pesakitan, bukan sebagai pahlawan yang ia bayangkan.
Di sisi lain kota, di sebuah rumah sakit umum daerah, Salim—si maling sandal—baru saja diizinkan pulang. Wajahnya masih menyisakan bekas luka yang permanen. Ia tidak dihukum mati. Setelah diselidiki, sang pemilik sandal memaafkannya karena melihat kondisi anaknya. Salim hanya dihukum kerja sosial membersihkan masjid selama tiga bulan.
Salim duduk di selasar rumah sakit sambil menyuapi anaknya bubur kacang ijo. Ia melihat berita di televisi ruang tunggu tentang eksekusi mati Surya Atmadja.
"Nak," bisik Salim pada anaknya yang mulai sembuh. "Jangan pernah ambil yang bukan hak kita. Bapak hampir mati dihajar orang karena sepasang sandal. Tapi orang itu..." Salim menunjuk ke layar televisi yang menampilkan foto Surya. "...dia mati dihukum Tuhan dan negara karena mencuri harapan jutaan orang."
Malam itu, Jakarta menjadi saksi dua nasib yang berbeda. Yang satu mencuri untuk bertahan hidup dan hancur oleh amuk masa, namun menemukan jalan pulang melalui pemaafan. Yang satu merampok untuk kemewahan dan foya-foya, mencoba menyuap Tuhan dengan ritual, namun berakhir di ujung tali gantungan sebagai sampah sejarah.
Sandal jepit itu mungkin harganya cuma dua puluh ribu, tapi nyawa Salim hampir melayang karenanya. Sementara triliunan rupiah itu mungkin bisa membeli umroh dan operasi plastik, tapi ternyata tidak bisa membeli satu detik pun nyawa tambahan bagi sang koruptor saat keadilan benar-benar ditegakkan.
Hukum manusia mungkin bisa keliru, tapi hukum sebab-akibat selalu menemukan jalannya. Di negeri yang kini tak lagi ramah pada pencuri dasi, matahari terbit dengan janji baru: bahwa keadilan tidak lagi bisa dibeli dengan tiket umroh kelas satu.