Ditengah gelapnya malam, Seva berlari sekuat tenaga. Berusaha menjauh dari orang yang mengejarnya.
Ia berlari menuju rumah kontrakannya yang berada cukup jauh didalam gang. Kalau dipikir lagi ia menyesal membeli kontrakan itu tapi mau bagaimana lagi penyesalan selalu datang terlambat.
Dulu ia membeli kontrakan itu karena harganya yang cukup murah di tengah perkotaan ini. Tapi ya itu, letak kontrakannya memang lumayan masuk kedalam gang dan tidak ada tetangga sekitar. Di sekeliling kontrakan itu hanya ada perkebunan. Kata pemilik tanah, kebun itu nantinya akan dijadikan kontrakan juga. Tapi entah kapan hari itu tiba.
Kembali lagi pada Seva yang masih berlari. Bahkan flatshoes nya sudah tidak mau di ajak berkerja sama. Ia pun melepasnya dan meninggalkannya begitu saja lalu terus berlari.
"Argghhhh, kenapa keadaan seperti ini rumahku rasanya jauh banget sih!!"
Ia sesekali menoleh kebelakang. Sosok berjaket dengan tudung kepala yang menutupinya itu masih mengejarnya. Seva harus berjuang lari sedangkan orang itu terlihat mengejarnya dengan santai.
Seva sebenarnya berniat menanyakan baik-baik apa tujuan orang itu. Tapi Seva tak sengaja melihat adanya pistol di pinggangnya dan juga ada bekas luka di wajahnya membuatnya takut setengah mati.
Sebentar lagi!
Ia sudah melihat pintu kontrakannya. Ia menoleh lagi,
Kosong!
Orang itu sudah tidak ada!
Seva kembali bersemangat dan segera membuka kunci pintu.
"Akh! Sial!" Makinya. Karena terlalu ketakutan, kedua tangannya bergetar hebat. Ia jadi kesulitan mencari kunci rumahnya yang berada di dalam tas.
Ia pun menumpahkan semua isi tasnya di lantai. Akhirnya kunci itu jatuh bersama beberapa barangnya. Ia langsung menyambar kunci, dompet, dan hpnya.
"Akh! Double sial!" Bahkan untuk memasukkan kunci kedalam lubang kuncinya pun tangannya sudah tidak mampu.
Ia memegangi tangan kanannya supaya bisa masukkan kunci. Ia sudah hampir menangis sekarang.
KLIK
"Akhirnya!" Seva lumayan bisa bernapas lega.
"Kenapa terburu-buru?"
Mata Seva melotot dan napasnya tercekat. Ia bahkan tidak berani bergerak. Dapat dirasakannya orang itu sudah berada tepat di belakangnya. Sangat menempel sampai punggungnya pun merasakan tubuh tegap itu.
Kedua tangan orang itu memegangi pundaknya. Seva dibuat terjengkit.
"To--tolong, jangan bunuh saya," lirih nya.
"Bunuh ya? Kenapa jangan?" Bisik orang itu tepat disamping telinga Seva.
Bahkan bernapas pun Seva sangat takut.
"Lo tenang aja, terlalu cepat dan mudah kalau lo mati begitu saja." Bisik nya.
Seva di buat ketakutan bukan main oleh orang itu. Mau melakukan perlawanan pun percuma,karena Seva gak pernah yang namanya belajar beladiri.
"Ka--kamu siapa?! Kenapa ganggu saya? Saya orang miskin. Percuma kamu ganggu saya,gak ada uang tebusannya." Tanpa sadar Seva sudah menangis dibuatnya.
"Siapa yang mau culik lo?" Balasnya.
"Kalau gitu menjauh!" Dengan sekuat tenaga,Seva mendorong orang itu sampai mundur beberapa langkah lalu membuka pintu dan langsung menutupnya.
"Akhh! Sialan!" Umpat Seva saat pintu nya tidak mau tertutup karena ada sebuah sepatu yang mengganjalnya. Orang itu berusaha ikut masuk,tapi Seva langsung menahannya sekuat tenaga.
Seva dapat melihat sosok dibalik tudung jaket itu. Untuk sesaat, tatapan itu membuatnya deja vu. Karena hilang fokus untuk sesaat, pintu itu dengan mudah didorong dari luar membuat Seva terjengkang kebelakang.
Pantatnya mendarat dengan sempurna di lantai. "Akhhh!"
Akhirnya orang itu masuk kedalam rumah. Kemudian berjongkok di samping Seva. Dibukanya tudung jaketnya. Menampakkan wajah rupawan dengan sepasang mata tajamnya. Seva berusaha mundur menjauh, tapi tubuhnya terasa sakit untuk bergerak.
"Tolong jangan bunuh saya!"
"Bukankah sudah kubilang bahwa mati itu terlalu mudah buat lo." Jari-jarinya bergerak merapikan rambut Seva yang berantakan.
Seve langsung menjauhkan kepalanya. "Ja-jangan! Jangan sentuh saya!"
Orang itu diam. Tapi senyum miringnya semakin membuat Seva ketakutan.
"Gue pikir, kedatangan gue saat ini cuma ingin membalaskan dendam, Tapi gue rasa terlalu sering mengamati buat gue jadi ragu."
Seva menoleh padanya. Tatapannya berubah heran. "Dendam? Dendam apa yang kamu maksud? Sumpah demi apapun saya bukan orang yang suka cari masalah. Saya lebih suka cari uang!" Seva langsung membekap mulutnya. Malah ngelantur!
Orang itu terkekeh mendengar ucapan Seva. Seva pun semakin dibuat keheranan.
Tiba-tiba orang itu mengangkat Seva dalam gendongannya. Seva reflek memukulinya. "Turunin! Kamu mau ngapain?! Turunin!"
"Berisik!" Tubuh Seva dihempas begitu saja di atas Sifa ruang tamunya. Untung Sofanya lumayan empuk.
Orang itu duduk di samping Seva membuat Seva sedikit menjauh. "Sebenarnya maumu apa? Uang? Jelas saya gak punya. Nyawa? Saya cuma punya satu nyawa, nanti kalau kamu ambil saya gak punya lagi. Ampuni saya ya?" Seva menyatukan telapak tangannya di depan wajahnya.
"Ambilin minum!"
"Hah?" Mulut Seva menganga. Tapi ia langsung bergegas ke dapur mengabaikan rasa sakit di badannya ketika ia bergerak.
"Mau minum apa? Teh? Kopi? Apa air?" Teriak Seva dari dapurnya.
"Kopi!"
"Kopi? White coffee mau? Adanya itu!"
"Air putih aja!"
"Padahal white coffee enak loh!"
"Terserah."
Seva tidak menjawab, ia buru-buru membuatkannya kopi.
"Sebenarnya tujuan kamu apa sih?" Tanya Seva. Ia meletakkan segelas kopi di hadapan orang itu dan mengambil duduk di seberangnya. Takut juga kalau berdekatan.
"Lo gak ingat gue?"
Seva memperhatikan wajah laki-laki itu dengan teliti.
Ia menggeleng. " Gak inget. Tapi tatapan mata kamu itu kayak familiar, tapi gak inget. Emang kamu siapa sih?"
"Wira Admaja?" Laki-laki itu menyebut satu nama.
Deg! Ingatan Seva langsung terputar tragedi 10 tahun yang lalu. Saat dirinya masih kelas 1 SMP.
Saat itu hujan deras melanda kota. Seva yang baru pulang sekolah terpaksa meneduh di depan ruko kosong. Ia menghubungi orang tuanya untuk jemput. Biasanya jika tidak hujan, ia bisa berjalan kaki. Tapi kali ini baru dapat setengah perjalanan, hujan deras tiba-tiba turun.
Lalu, setelah menghubungi orang tuanya tanpa sengaja ia melihat seorang anak laki-laki yang sedang dipukuli seorang pria dewasa. Anak laki-laki itu terlihat lemah dan hampir mati. Seva langsung berinisiatif menelepon polisi.
Tak berselang orang tuanya datang dan Seva langsung mengajak mereka menolong anak itu. Dan polisi pun segera datang. Si pria dewasa itu langsung di bawa ke kantor polisi. Dan si anak laki-laki yang dipukuli itu dibawa oleh orang tua Seva ke rumah sakit terdekat.
Setelah itu Seva tidak tau lagi apa yang terjadi karena besok paginya anak laki-laki itu kabur dari rumah sakit. Dan pria dewasa yang di tangkap polisi itu adalah 'Wira Atmaja'. Buronan polisi yang menjadi tersangka kasus pembunuhan istrinya sendiri. Waktu itu berita menjadi ramai karena seminggu setelah ditangkap, Wira melakukan bunuh diri dipenjara. Diketahui bahwa Wira mempunyai seorang anak laki-laki yang sekarang keberadaannya tidak diketahui.
"Sudah ingat?"
Seva langsung tersadar dari lamunannya
"Kamu anak laki-laki itu?"
"Benar sekali!" Orang itu menyadarkan punggungnya di sofa dan menatap lekat Seva.
"Lalu dendam apa yang kamu maksud?"
"Gue adalah anak Wira Atmaja. Riza Atmaja. Orang yang Lo penjarakan itu bokap gue. Dan secara gak langsung Lo udah buat bokap gue mati."
Seva berdiri dari duduknya. "Tu--tunggu dulu! Tapi saat itu kamu lagi di pukulin dan hampir meninggal! Ayah macam apa yang mukulin anaknya sampai segitunya!"
"Saat itu gue hampir bunuh orang dan bokap tau itu makanya gue dipukulin!"
"Lalu di berita tentang istrinya itu?"
"Wanita itu selingkuh dan hampir mati di tangan gue kalau aja bokap gak cegah gue!"
"Brarti istrinya masih hidup? Kok diberita sudah meninggal dibunuh ayah kamu?"
"Itu ulah pacarnya! Dan semua kesalahan dilempar ke bokap sampai dia bunuh diri."
"Aku benar-benar gak tau! Aku minta maaf karena tindakan ku waktu itu buat hidup kamu hancur. Aku benar-benar minta maaf!" Seva sampai bersimpuh saking syoknya. Ia menangis karena tindakannya waktu itu membuat Riza harus berakhir kehilangan ayahnya.
Riza terkejut melihat Seva yang duduk bersimpuh sembari menangis. Ia langsung menarik Seva ke dalam pelukannya.
"Awalnya gue pengen balas dendam sama Lo. Tapi hari itu saat gue udah Nemu dimana tempat tinggal Lo, gue lihat hal yang buat gue jadi mengurungkan niat buat balas dendam."
Seva mendongak. "Apa hari bundaku meninggal?"
Riza mengangguk. "Gue tahu rasanya ditinggalkan. Dan hari itu saat gue lihat Lo bersimpuh sendirian di makam, ada sesuatu di sini yang rasanya sakit banget." Riza menunjukkan dada kirinya.
"Hari itu gue pengen langsung samperin Lo. Tapi keburu bokap Lo Dateng dan--" Riza tak mampu melanjutkan kalimatnya.
"Iya, ayah dateng bareng calon istri barunya disaat bunda baru aja dimakamkan. Sejak hari itu aku memutuskan keluar dari rumah. Dan disinilah aku, hidup sederhana tapi bebas dari mereka."
Riza mengelus rambut Seva. "Sejak hari itu juga, gue merasa kalo gue harus lindungi Lo. Karena kita sama. Kita sama-sama terluka oleh orang yang kita sayangi. Dan itu jauh lebih menyakitkan."
Seva tersenyum. "Terima kasih. Tapi aku juga benar-benar minta maaf akan kejadian waktu itu."
Riza tersenyum. "Iya. Gue udah maafin Lo. Karena dulu emang gue nyalahin lo tapi gue rasa semuanya bukan sepenuhnya salah Lo. Gue udah nerima semuanya. Lo tenang aja."
"Makasih. Tapi kenapa kamu pake ngejar-ngejar aku sih?! Kan aku takut."
Riza tertawa. "Sebenarnya gue itu mau ngajak ngobrol pas kita ketemu di halte, tapi Lo keburu jalan masuk gang ya gue susul agak lari soalnya Lo udah lumayan jauh, eh lo juga malah ikutan lari. Gue isengin sekalian aja."
Seva reflek mencubit lengan Riza.
"Loh! Udah berani nih! Main cubit-cubit?"
"Eh bukan gitu! Kamu sih ngeselin! Tapi ngomong-ngomong, sekarang kamu tinggal dimana?"
"Gue tinggal di rumah bokap gue. Sendirian. Lo mau nggak nemenin?"
"Eh apaan! Jangan sembarangan!"
"Ya maksud gue tuh, nikah yuk!"
Seva langsung berdiri dari duduknya. "Kamu lagi mumet ya?! Gampang banget ngajak nikah? Kita belum kenal banget dan juga nikah bukan perkara tinggal satu rumah. Ini tentang tanggung jawab, cinta, dan kesetiaan."
Riza ikutan berdiri dan wajahnya berubah serius. "Aku bisa tanggung jawab ke kamu. Aku punya pekerjaan dan uang yang aku jamin bisa menghidupi kamu dan anak cucu kita. Aku cinta kamu sejak melihat kamu di pemakaman. Aku bisa setia ke kamu, karena bagiku menikah sekali, mencintai sekali dan itu sama kamu. Aku bukan ayah kamu. Kita jelas dia orang yang berbeda. Jadi gak ada alasan buat kamu takut sama aku."
Seva diam. Ia terharu. Benar-benar terharu mendengar setiap kalimat yang diucapkan Riza.
"Aku menghargai kamu. Tapi kita belum saling mengenal,"
Riza tersenyum. "Aku nggak minta jawaban sekarang. Karena aku cuma mau kamu tahu bahwa ada orang yang sedang menunggu cinta kamu dan itu aku. Kita bisa mulai jadi teman dulu. Karena ini emang salah aku juga. Harusnya aku datang lebih dulu. Tapi saat itu aku juga berpikir kalau aku harus punya segalanya dulu baru menemui kamu lagi. Karena aku gak mau sekedar bawa janji."
Seva semakin dibuat terharu. Ia semakin menangis.
"Hei hei! Kenapa jadi nangis gini?" Riza membawanya kedalam pelukan hangat.
"Ayo kita mulai dari temenan dulu. Buat aku semakin yakin kalau kamu adalah orang yang tepat buat ku. Dan aku akan mencoba memantaskan diri buat kamu."
"Kamu udah pantas kok jadi istri aku!"
Lagi-lagi Seva mencubit lengan Riza. " Aku serius!"
"Aku juga serius ini, Seva!"
"Bodo amat! Kamu pulang sana! Aku mau mandi!"
"Eh? Iya-iya, maaf. Tapi aku janji bakal buktiin bahwa aku bisa nepatin semua janji yang aku buat dan kamu bisa milikin aku seutuhnya."
"Riza!!"
"Iya-iya." Riza tertawa terbahak-bahak melihat Seva yang mau mengamuk.
"Tapi janji ya kamu bakal jadi istriku?"
"Ya lihat dulu kamu bisa buktiin nggak?"
"Siap calon istri!"
||•• TAMAT ••||
(Ya ampun, ini cerita awalnya mau dark aja, tapi keadaan hati lagi berbunga-bunga langsung banting setir jadi romance. Maaf kan aku kalau jadi gak nyambung huhuhu)