Langit tidak runtuh dengan suara yang gemuruh— tetapi ia runtuh dalam kesunyian.
Retakan menjalar di udara seperti urat-urat kaca, memantulkan cahaya pucat yang menyayat mata. Abu turun seperti salju, menutupi jalanan kota terakhir umat manusia. Bangunan-bangunan tidak roboh karena gempa, melainkan karena dunia sendiri menyerah untuk tetap berdiri.
Athena berdiri di tengah reruntuhan, jubah penyembuhnya koyak dan bernoda darah. Tangannya gemetar bukan karena lelah, tetapi karena ia tahu, ini adalah hari terakhir.
Dan di hari terakhir dunia, ia bertemu orang terakhir yang ingin ia lihat.
Thaneus.
Pria yang pernah ia doakan mati.
Ia muncul dari balik kabut abu, sosok tinggi dengan mantel hitam yang penuh bekas luka bakar. Rambut peraknya terikat asal, wajahnya pucat, mata kelamnya tetap setajam ingatan Athena tentang hari ketika desanya hancur.
"Athena," katanya pelan, seperti memanggil nama yang tak pernah ia miliki hak untuk ucapkan.
Athena menahan napas. "Tak kusangka kau masih hidup," katanya dingin. "Seharusnya, tadi kau mati saja."
Sudut bibir Thaneus bergerak, hampir seperti senyum, hampir seperti luka. "Banyak hal yang seharusnya tidak terjadi," jawabnya. "Termasuk runtuhnya dunia." Ucapnya, mendongakkan kepalanya menatap langi.
Langit kembali retak di atas mereka, cahaya kehancuran menyambar seperti petir yang membakar udara. Tanah bergetar. Di kejauhan, menara terakhir kota runtuh, menimbulkan awan debu yang menelan segalanya.
"Aku tidak punya banyak waktu untuk ini," kata Athena. "Aku harus segera membawa para penyintas ke gerbang penyelamat."
"Gerbang itu hanya akan terbuka satu kali lagi," kata Thaneus. "Dan hanya cukup untuk satu orang."
Athena menatapnya tajam. "Aku tahu itu."
Mereka berdiri berhadapan, dua orang dengan masa lalu yang penuh darah dan kehilangan, dipertemukan kembali di ujung dunia...
—Athena dulu percaya pada dewa. Ia percaya pada keadilan, pada kebaikan, pada makna hidup yang lebih besar dari penderitaan. Sehingga Thaneus datang ke desanya.
Ia masih mengingat malam itu dengan sangat jelas.
Api membakar langit, teriakan memenuhi udara, dengan simbol kutukan bersinar di dada pria itu. Kutukan kuno yang membuat pemiliknya menjadi senjata hidup, pembawa kehancuran ke mana pun ia pergi.
Desanya hancur dalam satu malam. Orang tuanya mati dalam pelukannya. Dan Thaneus berdiri di tengah kobaran api, matanya kosong, tangannya gemetar, seperti seseorang yang baru menyadari bahwa ia sendiri adalah bencana.
Athena tidak pernah memaafkannya.
Dan Thaneus tidak pernah memaafkan dirinya sendiri...
---
"Jangan ikut aku," kata Athena, berbalik dan berjalan menuju reruntuhan jalan utama. "Aku tidak butuh monster."
"...Monster adalah satu-satunya yang bisa berjalan ke arah kehancuran tanpa mati seketika," jawab Thaneus sambil mengikutinya. "Dan kau membutuhkan seseorang seperti itu."
Athena berhenti. "Aku lebih memilih mati daripada berjalan bersamamu."
'B*jingan ini... Mengganggu saja!' batin Athena, dengan wajahnya yang tetap tenang.
"Terserah. Kalau kau terus bersikeras untuk pergi sendirian, kau tidak akan bisa menyelamatkan siapa pun." Ucap Thaneus dengan dingin.
Kata-kata itu menusuk lebih dalam dari pedang.
Athena menggenggam tongkat penyembuhnya erat-erat. "Kenapa kau masih hidup?" tanyanya akhirnya. "Kenapa kau tidak mati saja bersama semua yang kau hancurkan?"
Thaneus terdiam lama. Langit kembali retak, dan suara dunia yang runtuh menggema di antara mereka.
"Karena aku dikutuk untuk tetap hidup," jawabnya pelan. "Untuk menyaksikan setiap kehancuran yang kulakukan. Untuk tidak pernah diberi kelegaan bernama kematian."
Athena menelan ludah. Ada bagian dari dirinya yang ingin membenci pria itu selamanya. Tapi ada bagian lain, bagian yang lelah, yang melihat Thaneus bukan sebagai monster, melainkan seseorang yang sama hancurnya dengan dunia ini.
"Aku hanya ingin satu hal," lanjut Thaneus. "Menebus satu kesalahan. Bahkan jika itu adalah kesalahan terakhirku."
Athena tidak menjawab. Ia melanjutkan langkahnya.
Dengan Thaneus yang terus mengikutinya.
---
Mereka berjalan melalui kota yang sekarat. Jalanan dipenuhi reruntuhan, tubuh-tubuh yang tidak sempat diselamatkan, dan cahaya kehancuran yang semakin mendekat seperti matahari kedua yang akan membakar dunia.
Di sebuah bangunan runtuh, mereka menemukan sekelompok kecil penyintas. Seorang ibu, dua anak, dan seorang pria tua yang terluka parah.
Athena segera berlutut, menyalurkan sihir penyembuhan. Cahaya lembut keluar dari tangannya, menutup luka, memperlambat kematian. Tapi sihirnya terbatas. Ia tidak bisa menyembuhkan semuanya.
"Bawa mereka ke gerbang!" Kata Athena pada Thaneus. "Aku akan menyusul." Lanjutnya.
Thaneus menatap para penyintas, lalu Athena. "Aku tidak bisa masuk gerbang."
Athena menoleh tajam. "Apa? Jangan bohong."
"Kutukan ini akan menghancurkan struktur sihir gerbang jika aku mendekat. Aku tidak bisa melewati batas itu."
Athena mengepalkan tangan. "Kau selalu membawa kehancuran ke mana pun kau pergi. Dasar monster s*alan."
Thaneus menunduk. "Yah, jangan salahkan aku."
Tanpa berkata apa-apa lagi, Athena membantu para penyintas berjalan. Thaneus memanggul pria tua itu, meskipun setiap langkah membuat kutukan di tubuhnya bersinar semakin terang.
Mereka berjalan bersama dalam diam, dunia runtuh di sekitar mereka, seolah memberi mereka waktu yang sangat sedikit untuk berdamai dengan masa lalu.
---
Di tengah perjalanan, serangan datang.
Makhluk-makhluk kehancuran, bayangan hidup yang lahir dari runtuhnya dunia, muncul dari celah-celah udara. Mereka bergerak tanpa bentuk pasti, menyambar siapa pun yang masih hidup.
Athena berteriak, menciptakan penghalang sihir untuk melindungi para penyintas. Tapi jumlah makhluk itu terlalu banyak.
Thaneus melangkah maju.
"Athena, lindungi mereka," katanya. "Aku akan menangani ini."
"Tch! Kau bisa mati!" teriak Athena.
Thaneus tersenyum kecil. "Apa maksudmu? Aku sudah mati sejak lama."
Ia membuka mantel hitamnya, memperlihatkan simbol kutukan di dadanya yang bersinar terang.
Buaghh!
Thaneus terus menyerang makhluk-makhluk kehancuran itu dengan kekuatannya yang tersisa.
Terlihat seperti ada energi gelap yang perlahan menguasai tubuhnya—
'S*al!' batinnya.
DUARRRRRR!
Ledakan besar terlihat dari tempat Thaneus menyerang makhluk-makhluk itu.
Ledakan itu menghantam makhluk-makhluk kehancuran, menghancurkan mereka satu per-satu.
'Tunggu, ledakan itu...?!' pikir Athena, matanya menangkap sosok yang berdiri di tengah asap abu ledakan itu.
Athena menatap dengan napas tertahan, melihat pria yang ia benci mempertaruhkan segalanya untuk orang-orang yang tidak pernah mengenalnya.
"Kenapa?!" teriak Athena. "Kenapa kau melakukan ini, dasar b*jingan!!!"
Bisa dilihat dari kepulan asap-asap hitam yang terus melayang di udara, figuran seperti sosok Thaneus itu menoleh, matanya bersinar dengan cahaya yang bukan lagi gelap, melainkan hangat.
Serangan itu berakhir. Thaneus jatuh berlutut, napasnya tersengal, darah mengalir dari sudut bibirnya.
Athena berlari menghampirinya. "Kenapa kau b*doh sekali?!" Katanya dengan suara bergetar. "Kau selalu saja seperti orang bodoh!"
"Kau menangis?... Pfft... Bukankah ini yang kau inginkan? Kaulah yang b*doh," balas Thaneus pelan.
Athena menyembuhkannya sekuat tenaga, meskipun ia tahu luka akibat kutukan tidak bisa disembuhkan sepenuhnya, "Diam! Jangan banyak ngomong! Bertahanlah sebentar lagi!"
---
Gerbang penyelamat akhirnya terlihat, lingkaran cahaya raksasa di ujung kota, berdiri di tengah kehancuran seperti satu-satunya harapan yang tersisa.
Namun, cahaya kehancuran semakin dekat. Langit di belakang mereka hampir sepenuhnya runtuh, membentuk pusaran energi yang akan menelan segalanya.
"Cepat!" teriak Athena pada para penyintas. "Masuk sekarang!"
Satu per satu, mereka masuk ke dalam gerbang. Ibu itu menoleh, matanya berkaca-kaca. "Terima kasih," katanya pada Athena. "Dan padamu," katanya pada Thaneus.
Thaneus hanya mengangguk pelan.
Setelah penyintas terakhir masuk, gerbang mulai menyusut. Cahaya di sekitarnya bergetar, seperti nyala api yang hampir padam.
Athena berdiri di depan gerbang, menatap Thaneus.
"Ayo masuk," katanya.
Thaneus tersenyum. "Aku sudah bilang. Aku tidak bisa."
"Kita cari cara lain!" seru Athena. "Aku tidak mungkin akan meninggalkanmu!"
Thaneus melangkah mendekat, berhenti tepat sebelum batas cahaya. "Athena," katanya lembut. "Kau tidak bisa menyelamatkan semua orang."
"Aku tidak peduli!" teriak Athena. "Aku sudah kehilangan terlalu banyak. Aku tidak mau kehilanganmu juga, dasar br*ngsek."
Kata-kata itu keluar sebelum Athena sempat menghentikannya.
Thaneus terdiam.
Untuk pertama kalinya, Athena melihat matanya melembut sepenuhnya. tidak lagi kosong, tidak lagi dipenuhi rasa bersalah, melainkan sesuatu yang hangat… dan rapuh.
"Kau…?" bisik Thaneus.
Athena menunduk, air mata mengalir tanpa ia sadari. "Aku membencimu," katanya pelan. "Aku membencimu karena kau menghancurkan hidupku. Tapi aku juga… aku juga tidak tahu kapan aku mulai peduli. Dan aku membenci diriku sendiri karena itu."
Thaneus mengangkat tangannya, ragu-ragu, seolah takut menyentuh sesuatu yang terlalu berharga untuk dirusak. Akhirnya, ia menyentuh pipi Athena, dengan gerakan yang sangat lembut, hampir seperti permintaan maaf.
"Aku tidak pantas dicintai," katanya. "Tapi jika aku boleh memilih satu hal sebelum dunia berakhir… aku ingin kau hidup."
"Aku ingin kau hidup juga," balas Athena.
Thaneus tersenyum, senyum kecil, lelah, indah.
"Athena," katanya. "Aku mencintaimu."
Dunia di belakang mereka runtuh lebih dekat. Tanah berguncang hebat. Gerbang semakin menyusut.
"Aku mencintaimu," Athena membalas, suaranya pecah. "Terlalu terlambat."
"Tidak," kata Thaneus lembut. "Cinta tidak pernah datang terlambat. Ia hanya datang di waktu yang paling kejam."
...
Cahaya kehancuran hampir mencapai mereka.
Thaneus menoleh ke pusaran itu, lalu kembali menatap Athena.
"Hanya ada satu cara," katanya. "Kutukanku bisa menahan kehancuran itu untuk beberapa menit. Cukup waktu untuk gerbang menutup sepenuhnya."
Athena membeku. "Tidak...!"
"Athena—"
"Tidak!" teriak Athena. "Aku tidak akan membiarkanmu mati!"
"Kau tidak membiarkanku mati," kata Thaneus pelan. "Kau membiarkanku menebus hidupku."
Air mata Athena jatuh satu per satu, membasahi tanah yang sudah retak. "Aku tidak ingin dunia yang menuntut pengorbanan seperti ini..."
"Aku juga tidak," jawab Thaneus. "Tapi dunia ini sudah hancur. Yang tersisa… hanyalah pilihan."
Ia menggenggam tangan Athena erat, seolah ingin mengukir perasaan itu dalam ingatan mereka berdua.
"Janji satu hal padaku," katanya.
"Apa pun," Athena berbisik.
"Jika kau bertahan hidup… hiduplah dengan bahagia. Jangan biarkan kematianku menjadi bebanmu. Biarkan itu menjadi harapanku."
Athena menggeleng keras. "Aku tidak bisa."
"Kau bisa," katanya lembut. "Karena kau Athena. Kau selalu menyembuhkan. Bahkan setelah dunia runtuh."
Ia menarik Athena ke dalam pelukan untuk terakhir kalinya. Pelukan itu hangat, penuh, dan menyakitkan— seperti matahari terakhir sebelum malam abadi.
"Aku mencintaimu," bisik Thaneus di telinganya.
Athena terisak. "Aku mencintaimu."
Dengan lembut, tapi tegas, Thaneus mendorong Athena ke dalam gerbang.
Cahaya menelan Athena.
Dan dunia menelan Thaneus...
---
Athena jatuh ke tanah.
Ia terbangun di dunia yang sunyi.
Langit biru, tidak retak. Udara bersih. Tidak ada abu, tidak ada reruntuhan, tidak ada teriakan. Dunia baru telah lahir dari kehancuran.
Athena berdiri perlahan, jantungnya berdebar, matanya mencari satu sosok yang tidak ia temukan.
Thaneus tidak ada.
Ia menutup mata, membiarkan air mata jatuh tanpa suara. Dunia selamat. Umat manusia bertahan.
Tapi hatinya… tertinggal di hari ketika langit jatuh.
"Kenapa...?" Bisiknya, lirih.
---
Bertahun-tahun kemudian, Athena menjadi penyembuh terhebat di dunia baru itu. Ia membantu membangun kota, menyembuhkan yang terluka, mengajarkan bahwa harapan tidak mati bersama dunia lama.
Namun, setiap malam, ia berjalan ke bukit tertinggi di kota, tempat langit terlihat paling luas.
Ia berbicara pada bintang-bintang.
"Dunia ini indah," katanya suatu malam, angin memainkan rambutnya. "Aku harap kau bisa melihatnya."
Ia menutup mata, mengingat senyum terakhir Thaneus.
"Aku hidup," bisiknya. "Seperti yang kau minta."
Angin berhembus lembut, seolah menjawab.
Dan Athena tersenyum, meskipun air mata mengalir di pipinya.
Karena di dunia yang selamat dari kehancuran, cinta mereka tetap hidup, bukan sebagai kisah bahagia, tetapi sebagai pengorbanan yang tidak pernah sia-sia.
Di hari ketika langit jatuh, Athena kehilangan segalanya.
Dan justru di hari itu… ia menemukan cinta yang akan hidup selamanya...
.
.
.
GC Rumah Menulis
Tema 3