Sara adalah seorang dokter koas dari sebuah PTN ternama di Jakarta. Malam itu adalah tugas pertamanya di RSUD Bakti Mulia. Hampir seperempat jam dia mematut-matutkan diri di depan cermin dengan mengenakan jas putih, seragam kebanggan para dokter di seluruh dunia. Rambutnya dikucir ke belakang menambah manis wajahnya yang dihiasi dengan gincu dan bedak tipis.
Setelah puas mematut-matutkan wajah di depan cermin dia langsung memacu Toyota Agya putihnya ke tempatnya bertugas.
Rumah sakit itu tidak mewah, namun terlihat cukup bersih dan rapi dan antrean tidak terlalu berjubel. Dengan langkah mantap, dia berjalan ke ruang IGD tempatnya bertugas. Setelah melapor kepada dokter pimpinan yang bertugas malam itu serta mengurus beberapa urusan administrasi, dan sedikit berbasa-basi dengan dokter lain, perawat dan petugas rumah sakit itu Sara segera bersiap melaksanakan tugas pertamanya.
Pasien pertamanya adalah seorang pengendara motor yang kecelakaan. Tidak ada cedera serius, hanya banyak darah berceceran karena betis sang pengendara terseret aspal. Dalam dunia kedokteran sering disebut sebagai abrasi atau road rash. Tidak perlu dijahit hanya lukanya perlu dibersihkan dan diberi antiseptic serta diberi obat penahan sakit dan memberi beberapa usapan dan pijatan-pijatan kecil untuk menghentikan pendarahan di kaki pasien itu.
Tidak lama kemudian, datang pasien kedua, seorang pemuda tampan namun berwajah pucat dibawa masuk dengan darurat. Luka sayatan tajam melintang di dada kirinya, darah mengalir deras membasahi baju. Sara langsung sigap mendekat, tapi jantungnya berdegup kencang, ini bukan luka lecet biasa seperti pasien pertama tadi. Lalu dia melaporkan kepada seorang dokter senior yang jaga malam itu yang segera mengambil alih.
“Koas Sara, bantu tekan lukanya dulu! Pakai kain steril dan tekan kuat!” Sara menekan dada pemuda itu dengan kain kasa steril, berusaha menghentikan pendarahannya untuk sementara. Namun darah masih merembes, dan napas pasien mulai terlihat sesak, kemungkinan paru-parunya terluka.
Sara membantu Dr. Gunadi, dokter senior itu, merobek baju pemuda itu dengan hati-hati, lalu dokter Gunadi memeriksa luka: sayatan cukup dalam dan cukup panjang, sekitar 10 cm. Namun untungnya sabetan pedang itu tidak menembus rongga dada sepenuhnya.
Sara dengan agak panik terus membantu dr. Gunadi menjahit luka dari pemuda tersebut.
Tiba-tiba ruang IGD tersebut dikejutkan dengan kemunculan seorang lelaki bertopeng dan langsung menyerang pemuda yang sedang terluka itu. Namun secara refleks Sara meraih tiang infus di ruangan itu dan melakukan gerakan seperti seorang ahli pedang dengan tiang infus itu serta melindungi pemuda tersebut.
Kemudian terjadilah pertempuran yang tidak lazim antara Homus, si penjahat berpedang itu melawan Sara, dokter koas yang memakai tiang infus sebagai pedangnya.
“Tanetra, rupanya kau bersembunyi di sini,” kata Homus.
“Tanetra? Kenapa kamu memanggilku dengan nama Tanetra?” Tanya Sara keheranan.
“Karena kau adalah Tanetra yang bereinkarnasi menjadi seorang dokter di abad modern ini!” Jawab Homus.
“Tanetra?” Tanya pemuda itu dengan lemah.
“Terima pukulan pedangku!” Homus langsung menyerang Sara dengan pedangnya. Namun Sara dengan gesit meloncat ke samping dan memukulkan tiang infus itu ke punggung Homus.
“Tanetra, hati-hati,” kata pemuda itu lemah, namun cukup jelas didengar oleh Sara. Lalu Sara membalas dengan tongkat infusnya namun bukan hal yang seimbang melawan Homus yang bersenjatakan pedang betulan.
“Tanetra pakai ini,” kata pemuda itu sambil melepas ikat pinggangnya yang ternyata setelah dilepas dari sabuk kulitnya adalah sebilah pedang dari besi tipis yang sangat menyilaukan mata.
“Jangan banyak bergerak dulu, aku selesaikan jahitanmu dulu,” kata dr. Gunadi yang tetap meneruskan menjahit luka di dada Keanu, pemuda terluka itu, dibantu oleh para perawat.
Homus segera mengayunkan pedangnya menyerang Sara namun dengan indah Sara menangkis dengan pedang ikat pinggang itu dan keluar percikan bunga api dari kedua benda metal itu ketika dua benda dari besi bertemu.
Homus segera menarik pedangnya dengan kaget, karena dia rasakan ada getaran hebat saat pedangnya bertemu dengan pedang Sara yang diberikan oleh Keanu itu.
“Hah!” Lalu Homus menyerang Sara lagi, kali ini Sara meloncat tinggi sekali dan tubuhnya terasa ringan. Sara cukup kaget dengan keadaan ini.
“Keanu, jelaskan apa yang terjadi padaku?” Tanya Sara keheranan.
“Kau adalah reinkarnasi dari Tanetra, pendekar pedang dari masa lalu,” jawab Keanu lemah. “Sedang aku adalah reinkarnasi dari Xander, jago pedang dari masa lalu, kekasih dari Tanetra.”
“Simpan ceritamu dulu,” kata dokter Gunadi yang masih menyelesaikan di dada Keanu. “Sebentar lagi selesai.”
Lalu dengan ilmu meringankan tubuh yang ternyata dimiliki Sara dia dengan ringan meloncat keluar dan mengundang Homus untuk bertanding pedang di taman.
Homus meladeni tantangan itu dan mengejar Sara keluar. Tak menyia-nyiakan kesempatan, kali ini Sara yang menyerang Homus duluan.
“Tring!” Suara dua pedang beradu.
Kembali terasa getaran hebat di pegangan pedang Homus, maka dia buru-buru menariknya. Merasa di atas angin, Sara terus menyabetkan pedangnya secara bertubi-tubi ke arah Homus yang hanya bisa menghindar saja.
Dalam keadaan terdesak, Homus mengeluarkan beberapa belati dari balik jubahnya dan langsung melemparkan ke arah Sara.
“Tring. Tring, tring!” Ketiga belati terbang itu berhasil ditangkis Sara.
“Lalu, siapa kamu? Kenapa kamu bernafsu sekali untuk membunuhku?”
“Aku adalah Homus, seteru terbesar kalian di masa lalu,” jawab Homus dingin.
“Apa maksudmu dengan kalian?” Tanya Sara.
“Kau dan Xander, hahahaha,” jawab Homus dengan tawa yang cukup menyeramkan di tengah malam itu. “Terima ini!”
Homus lalu mengayunkan pedangnya dari segala arah ke arah Tanetra yang kini dalam keadaan terdesak dan hanya bisa mengayunkan pedangnya untuk menangkis semua serangan dari Homus yang membabi buta itu.
Sebuah hantaman pedang cukup keras berhasil dihindari Tanetra dan pedang Homus menerpa sebuah pohon palem di belakang Sara.
“Krak!” Pohon palem itu langsung terbelah jadi dua karena ayunan pedang itu.
Di dalam ruang IGD, suasana sudah lebih tenang, dan dokter Gunadi sudah menyelesaikan jahitannya.
“Jangan banyak bergerak dulu,” kata dokter Gunadi.
Namun Keanu tidak memperdulikan larangan dr. Gunadi dan segera melompat ke taman di mana Sara dan Homus tengah bertempur.
Dari sepatu botnya, Keanu mengeluarkan sebuah trisula kecil dan langsung menyerang Homus yang kini kewalahan menghadapi duo pendekar pedang itu.
“Lazuardi Abadi!” teriak Keanu. Sara dan Keanu lalu bergerak dengan sinkron dan indah yang membuat Homus segera bersiaga penuh, karena dia paham bahwa kedua pendekar kekasih itu sudah mengeluarkan jurus ilmu pedangnya yang menekankan kepada keharmonisan.
Sara dan Keanu menyerang dengan gerakan harmonis. Kalau Sara mencoba menyabetkan pedangnya ke dada Homus, Keanu berusaha menyerang bagian perut Homus. Dan begitu sebaliknya.
Homus terus mundur ke belakang dan terdesak ke sebuah pohon kamboja di taman itu. Sara tak menyia-nyiakan, dan segera menyabetkan pedangnya ke arah dada Homus. Disusul dengan tusukan trisula ke perut Homus.
“Aaargh…!” Homus berteriak kesakitan dan langsung tubuhnya tersungkur ke tanah dengan wajah pucat.
“Cinta kalian abadi, dan tak bisa dipisahkan oleh maut sekalipun,” kata Homus dengan lemah, lalu menghembuskan nafas terakhir dan langsung seketika menghilang tak berbekas.
Keanu dan Sara lalu berpandang-pandangan.
“Nah sekarang jelaskan apa yang terjadi secara lengkap,” kata Sara yang masih keheranan. “Kau hanya cerita sepotong-sepotong tadi.”
“Namaku Keanu, tadinya aku juga tidak mengerti apa-apa, dan Homus mengejarku terus,” jawab Keanu. “Dari yang aku rangkum dari cerita Homus, aku adalah reinkarnasi dari Xander, pendekar pedang dari masa lalu.”
“Yah aku sudah tahu dari ceritamu tadi,” kata Sara. “Dan kenapa kamu bisa terluka begitu?”
“Tiba-tiba Homus menyerangku saat aku sendirian dan tidak dalam posisi sepenuhnya siap,” jawab Keanu. “Dan pedang Homus berhasil melukai dadaku ini.”
“Lalu, kenapa kamu bisa sampai ke rumah sakit ini?” tanya Sara lebih lanjut.
“Karena aku terluka, aku berlari dari kejaran Homus, dan akhirnya sampailah di rumah sakit ini,” lanjut Keanu. “Ternyata kekasih Xander ada di rumah sakit itu.”
“Aku…” kata Sara lirih.
“Ya, dan kita bisa mewujudkan cinta Xander dan Tanetra agar abadi,” kata Keanu berbisik.
Sara hanya menunduk dan tak menolak ketika Keanu meraih tangannya dan digenggam erat.
(Tamat)
Tema : cinta Sepanjang Hidup
Event GC Rumah Menulis