Seorang pejuang loker yang sudah sampai di tahap di mana algoritma LinkedIn-nya berubah jadi kumpulan video motivasi "Cara sukses tanpa kerja" dan iklan pinjol.
■ Bab 1: Sarapan Oksigen dan Harapan Palsu
Zidan terbangun pukul 11 siang. Bukan karena dia kaya, tapi karena kalau dia bangun pagi, dia harus menghadapi kenyataan bahwa sarapan di rumahnya tinggal sisa rempeyek teri yang sudah melempem.
"Zidan! Bangun! Itu ada paket, bayar COD! Mama nggak punya uang kecil!" teriak mamanya dari dapur, suaranya lebih nyaring daripada notifikasi tagihan PayLater.
Zidan menyambar sarung, lari ke depan pintu. "Berapa, Bang?"
"Lima puluh ribu, Mas," jawab kurir sambil menatap Zidan kasihan. Penampilan Zidan memang mengenaskan: rambut acak-acakan, mata panda, dan kaus oblong partai yang sudah bolong di bagian ketiak.
"Bisa pake doa nggak, Bang? Saya doain Abang masuk surga jalur fast track," canda Zidan sambil merogoh saku celananya yang isinya cuma struk ATM saldo lima puluh ribu (yang nggak bisa ditarik karena kena potongan admin).
Akhirnya, dengan terpaksa, Zidan merelakan uang terakhirnya yang harusnya buat beli paket data. "Selamat tinggal, kuota. Selamat datang, barang nggak guna yang gue beli pas lagi check-out sambil ngelindur."
■ Bab 2: Pejuang LinkedIn Garis Keras
Selesai mandi (yang cuma lima menit karena dia hemat sabun), Zidan membuka laptopnya yang bunyinya sudah seperti mesin jet tempur. Dia membuka portal lowongan kerja.
"Oke, mari kita lihat. Staff Admin, syarat: Pria/Wanita, minimal S1, pengalaman 5 tahun, menguasai Adobe, Python, SQL, bisa bela diri, dan punya sertifikat penjinak bom. Gaji: UMR minus dikit karena status magang," gumam Zidan sambil memijat pelipisnya.
"Gila! Ini nyari staf admin apa nyari anggota Avengers?!"
Zidan mencoba melamar ke sebuah perusahaan startup kopi kekinian.
Posisi: Customer Happiness.
Zidan: "Halo, saya Zidan. Saya sangat mahir membuat orang bahagia. Buktinya saya tetap tersenyum padahal saldo saya tinggal Rp4.500." (Dia mengetik ini di kolom 'Mengapa kami harus merekrut Anda?', lalu buru-buru dihapus karena takut di-blacklist selamanya).
Tiba-tiba, HP-nya bergetar. Ada email masuk.
"Dear Zidan, thank you for your interest. However..."
"BARU JUGA GUE SUBMIT SATU DETIK, UDAH 'HOWEVER' AJA?! Ini HRD-nya pake sistem AI apa cenayang?!" teriak Zidan frustrasi.
■ Bab 3: Apes di Coffee Shop
Sore harinya, Zidan diajak nongkrong sama temennya yang sudah jadi Manager di umur 23 tahun, namanya Raka. Raka ini tipe Gen Z sukses yang tiap pagi posting foto green juice dan jam tangan mahal.
Mereka ketemu di kafe yang harganya satu gelas kopi setara dengan makan siang Zidan selama tiga hari.
"Lo gimana, Dan? Masih nyari?" tanya Raka sambil pamer MacBook barunya.
"Masih, Ka. Gue udah kirim 500 CV. Kayaknya CV gue nyangkut di folder spam malaikat maut, makanya nggak ada panggilan," jawab Zidan sambil mengaduk es batu (karena kopinya sudah habis sepuluh menit yang lalu).
"Sabar, Dan. Lo harus personal branding. Coba deh bikin konten di TikTok tentang 'Daily Life of a Job Seeker'. Pasti rame," saran Raka enteng.
"Iya, rame dihina orang," balas Zidan ketus.
Pas mau pulang, kejadian apes dimulai. Pas Zidan berdiri, celana jins-nya yang sudah tipis itu nyangkut di ujung meja kayu.
SREEEKKKK!
Celana bagian belakang Zidan robek tepat di tengah. Satu kafe nengok. Zidan membeku. Raka cuma bisa nutup muka pake tangan.
"Ka... pinjem jaket lo, Ka. Gue ngerasa ada angin AC masuk ke tempat yang nggak seharusnya," bisik Zidan pucat pasi.
■ Bab 4: Interview dari Neraka
Dua hari kemudian, sebuah mukjizat terjadi. Zidan dapet panggilan interview di sebuah perusahaan distribusi sabun colek. Dia dandan maksimal. Pakai kemeja lungsuran bapaknya yang kegedean di bahu.
User Interviewer-nya adalah seorang ibu-ibu galak bernama Bu Ratna.
Bu Ratna: "Zidan, kenapa Anda menganggur selama 6 bulan terakhir?"
Zidan: "Saya sebenarnya nggak menganggur, Bu. Saya sedang melakukan riset pasar secara independen tentang daya beli masyarakat terhadap produk... emm... indomie."
Bu Ratna: "Riset pasar? Maksud kamu, kamu cuma makan mi instan di kamar?"
Zidan: "Kurang lebih begitu, Bu. Tapi dengan analisis mendalam terhadap bumbunya."
Bu Ratna menghela napas. "Apa kelebihan Anda?"
Zidan: "Saya sangat tahan banting, Bu. Dihina tetangga tiap pagi karena belum kerja aja saya masih kuat, apalagi cuma dihina klien Ibu nanti."
Suasana jadi hening. Zidan merasa ajalnya sebagai calon karyawan sudah dekat.
■ Bab 5: Puncak Keapesan (Malam Minggu Kelabu)
Malam Minggunya, Zidan dapet orderan dari temennya buat jadi "pacar sewaan" karena temennya itu males ditanya "kapan nikah" di acara kondangan. Upahnya: Nasi kotak dan uang bensin.
Zidan setuju. Namanya juga butuh.
Di kondangan, Zidan harus akting jadi "Pengusaha Muda Sukses". Dia pakai jas pinjaman yang baunya kayak kamper lemari tahun 80-an.
"Oh, ini pacarnya Amel? Kerjanya apa, Nak Zidan?" tanya tante-tante dengan perhiasan emas yang kalau dijual bisa buat bangun puskesmas.
"Saya... saya bergerak di bidang Global Logistics, Tante," jawab Zidan keren (maksudnya dia suka pesen barang di e-commerce luar negeri).
Sialnya, tiba-tiba Bu Ratna, si pewawancara sabun colek tadi, lewat di depan mereka.
"Lho, Zidan? Kamu yang kemarin ngaku riset pasar bumbu mi instan kan? Kok sekarang jadi pengusaha logistik?" tanya Bu Ratna keras-keras.
Muka Zidan langsung kayak bunglon, berubah warna dari putih jadi ungu. Amel cuma bisa melotot. Malam itu berakhir dengan Zidan pulang jalan kaki karena ban motornya bocor dan dia nggak punya uang buat tambal ban.
■ Bab 6: Plot Twist yang (Semoga) Berkah
Setelah seminggu meratapi nasib di bawah kipas angin yang bunyinya kreeek-kreeek, Zidan dapet telepon dari nomor tidak dikenal.
"Halo, dengan Zidan? Kami dari perusahaan distribusi sabun colek kemarin. Bu Ratna bilang, meskipun jawaban kamu aneh, dia suka kejujuran kamu soal dihina tetangga. Kamu diterima sebagai Sales Lapangan."
Zidan sujud syukur di atas sajadah yang sudah tipis.
"Makasih, Pak! Makasih! Kapan saya mulai?"
"Besok. Dan satu lagi, jangan pake jas kamper pas kerja ya."
Zidan tertawa getir. Dia sadar, jadi pengangguran Gen Z itu berat, tapi jadi budak korporat jalur "kejujuran menyakitkan" adalah awal dari petualangan baru.
Dia langsung buka grup WhatsApp keluarga. "Alhamdulillah, Zidan udah nggak jadi beban keluarga lagi. Besok Zidan mulai kerja jadi Menteri Distribusi Sabun."
Meskipun cuma sales, bagi Zidan, ini adalah kemenangan terbesar mengalahkan algoritma nasibnya yang selama ini error.
TAMAT
.......
hai semua yang baca jika kalian suka silahkan tinggalkan jejak ^^
Maaf bila ada salah kata pada penulisan saya. Saya minta maaf. Karena saya hanya manusia biasa yang tak luput dari masalah.
Terimakasih semua. Lopeyou ^*^
Oke lagi! Silahkan follow jika kalian ingin membaca karya saya!
Bye bye
Sehat selalu semua!!
Arigatou!!
..