⚠️⚠️🔞
Kisah ini bukan tentang seorang gadis yang menunggu pangeran berkuda putih. Ini tentang Aruna, perempuan yang oleh lingkungan sekitarnya dilabeli sebagai "bajingan"—seorang manipulator, perusak hubungan orang, dan pencinta harta yang dingin. Namun, di balik lipstik merah menyala dan tawa sinisnya, ada luka yang sudah lama membusuk.
■ Bagian 1: Asap Rokok dan Janji Palsu
Lampu neon bar "The Abyss" berkedip-kedip, memantul di gelas martini Aruna. Di sampingnya, seorang pria berjas mahal bernama Damar sedang meraba jemarinya.
Aruna tahu Damar punya istri yang sedang hamil di rumah. Aruna juga tahu Damar adalah tiketnya untuk membayar cicilan apartemen bulan ini.
"Kamu dingin banget malam ini, Na," bisik Damar, napasnya bau alkohol dan keserakahan.
Aruna tersenyum tipis, jenis senyum yang tidak sampai ke mata. "Dingin itu mahal, Mas. Kalau mau yang hangat, beli skoteng di pinggir jalan."
Damar tertawa, merasa tertantang. "Berapa? Sebut aja angkanya."
"Dua puluh juta. Untuk 'temu kangen' malam ini saja," ucap Aruna santai sambil mengembuskan asap rokoknya tepat ke wajah Damar.
Pria itu tertegun, lalu menyeringai. "Sesuai reputasi. Kamu memang brengsek yang cantik."
■ Bagian 2: Permainan di Balik Selimut.
Mereka sampai di kamar hotel mewah. Aruna tidak membuang waktu. Ia butuh uangnya, bukan orangnya. Baginya, tubuh hanyalah alat tukar.
"Jangan pakai perasaan ya, Mas. Aku nggak punya stok buat dibuang-buang," ujar Aruna sambil melepas blusnya.
Damar mendekat, tangannya mulai liar. Terjadilah "pergumulan panas" di atas ranjang yang luas itu. Aruna melayani dengan profesional, membiarkan Damar melakukan "adu mekanik" yang intens.
Dalam kegelapan kamar, Aruna memejamkan mata rapat-rapat. Setiap kali Damar mencoba mencium bibirnya, Aruna memalingkan wajah. Bibir ini hanya untuk orang yang tidak akan pernah kembali, pikirnya.
Saat Damar mencapai "puncak asmara" dan mengerang puas, Aruna hanya menatap langit-langit plafon yang putih polos. Kosong. Seperti jiwanya yang sudah lama mati suri.
Setelah semuanya selesai, Damar melempar amplop cokelat. "Kamu memang luar biasa, Na. Tapi jujur, kamu itu perempuan paling nggak punya hati yang pernah aku kenal."
Aruna memakai kembali pakaiannya dengan tenang. "Hati itu beban, Mas. Bikin langkah jadi berat. Makasih ya, salam buat istrinya."
■ Bagian 3: Kilas Balik yang Berdarah
Mengapa Aruna menjadi "bajingan"?
Sepuluh tahun lalu, Aruna adalah gadis lugu yang percaya pada cinta sejati.
Namanya bukan Aruna yang sekarang, tapi Runa. Ia mencintai seorang pria bernama Gilang. Mereka miskin, tapi bahagia.
Sampai suatu hari, ibunya didiagnosis kanker rahim stadium lanjut.
Runa butuh uang. Ia memohon pada keluarga Gilang yang kaya tapi membencinya. Ibu Gilang meludah ke arahnya. "Kamu cuma sampah yang mau numpang hidup!"
Runa menjual segalanya, termasuk kehormatannya pada seorang rentenir demi biaya operasi. Namun, Gilang justru pergi meninggalkannya karena malu memiliki kekasih yang "kotor". Ibunya pun meninggal di meja operasi karena keterlambatan penanganan.
Di hari pemakaman ibunya, Runa bersumpah: Jika dunia memperlakukanku seperti sampah, maka aku akan menjadi sampah yang paling beracun.
■ Bagian 4: Titik Hancur
Aruna pulang ke apartemennya pukul tiga pagi. Di lobi, ia melihat seorang wanita paruh baya duduk menangis. Itu istri Damar. Dia tahu Aruna adalah selingkuhan suaminya.
Wanita itu berdiri, wajahnya sembap. "Kenapa? Kamu cantik, kamu pintar. Kenapa harus suami saya?"
Aruna menatapnya datar. "Karena suami Ibu punya uang yang saya mau. Simpel."
Plak! Sebuah tamparan mendarat di pipi Aruna.
"Kamu perempuan bajingan! Kamu nggak punya rasa kasihan sedikit pun?" teriak wanita itu.
Aruna memegang pipinya yang panas. Ia ingin menangis, tapi kelenjar air matanya seolah sudah mengering bertahun-tahun lalu. "Kasihan nggak bisa buat makan, Bu. Pulanglah, urus anak Ibu. Jangan buang waktu di sini."
Wanita itu pergi sambil mengutuk Aruna agar tidak pernah menemukan kebahagiaan.
Aruna masuk ke lift, menekan tombol lantai 12. Di dalam pantulan cermin lift, ia melihat dirinya sendiri. Sosok yang ia benci, tapi ia butuhkan untuk bertahan hidup.
■ Bagian 5: Akhir yang Sunyi
Sampai di kamar, Aruna membuka botol wine. Ia meminumnya langsung dari botol. Di meja riasnya, ada foto kecil yang sudah usang. Foto ibunya.
"Bu, Runa udah punya apartemen bagus sekarang. Runa punya banyak uang," bisiknya parau. "Tapi kok... rasanya makin lapar ya, Bu?"
Ia berjalan ke balkon, melihat lampu-lampu kota yang seolah mengejek kesepiannya. Dunia menyebutnya bajingan, perempuan simpanan, perusak rumah tangga. Dan mereka benar. Ia telah menjual jiwanya sepotong demi sepotong sampai tidak ada yang tersisa untuk dicintai.
Aruna menelan beberapa butir obat tidur. Bukan untuk mengakhiri hidup—ia terlalu pengecut untuk itu—tapi untuk membunuh pikiran yang berisik.
Sebelum matanya terpejam, ia bergumam pada kegelapan malam, "Besok... aku harus cari target baru lagi."
Pagi akan datang, dan Aruna akan memakai topeng "bajingan" itu lagi. Karena di dunia yang kejam ini, menjadi jahat adalah satu-satunya cara agar ia tidak perlu lagi merasa tersakiti.
Analisis Singkat:
"bajingan" sering kali merupakan mekanisme pertahanan diri dari trauma masa lalu. Aruna memilih untuk menyakiti sebelum disakiti, meskipun harga yang harus dibayar adalah kekosongan jiwa yang abadi.
...
hai semua yang baca jika kalian suka silahkan tinggalkan jejak ^^
Maaf bila ada salah kata pada penulisan saya. Saya minta maaf. Karena saya hanya manusia biasa yang tak luput dari masalah.
Terimakasih semua. Lopeyou ^*^
Oke lagi! Silahkan follow jika kalian ingin membaca karya saya!
Bye bye
Sehat selalu semua!!
Arigatou!!