Kesedihan Riana
Penulis: Lili Aksara.
Rintik air berjatuhan, membasahi tanah di perkampungan Teratai Indah.
Ya, tahun ini memang hujan sangat sering sekali terjadi.
Tidak pagi, tidak siang, bahkan malam pun juga hujan tak segan untuk mendatangi.
Di sebuah rumah yang sangat sederhana, seorang gadis datang dengan tubuh yang basah kuyup karena ia sudah sempat terkena hujan.
Tok, tok, tok.
Diketuknya pintu rumah yang pintunya sudah tampak lapuk termakan usia itu.
"Assalamualaikum!" seru si gadis dengan sedikit kencang, karena suaranya tertutupi oleh hujan deras.
Namanya adalah Riana, seorang gadis remaja berusia 13 tahun.
Sreeeet.
Pintu itu berderit ngilu kala seseorang membukanya dengan perlahan.
"Waalaikumsalam," jawab seorang wanita tua.
Wanita itu tampak begitu renta, terlihat dari rambutnya yang telah memutih seluruhnya.
"Ya Allah, Nak, kamu habis dari mana saja? Kenapa lama sekali?" tanya Nek Mirah—nenek satu-satunya Riana.
"Riana habis jualan, Nek, tapi malah hujan," jawab Riana dengan sendu.
"Masuk, Nak, diluar pasti dingin!" perintah Nek Mirah.
Riana menurut, lalu masuk ke dalam rumah bersama sang nenek.
"Riana adalah penjual kue keliling di kampungnya.
Sebenarnya, Nek Mirah yang membuat kue-kue tersebut, namun karena usianya yang sudah tak memungkinkan lagi untuk berjualan, maka Rianalah yang menggantikan neneknya.
"Maaf ya, Nek, jualannya nggak habis," ucap Riana.
"Iya, Na, nggak apa-apa. Kan cuacanya nggak memungkinkan," jawab Nek Mirah memaklumi.
"Terus ini kuenya mau di gimanain, Nek?" tanya Riana.
"Kamu makan aja. Pasti lapar kan habis jualan?" tanya Nek Mirah.
"Iya, Nek, aku memang lapar," jawab Riana.
Tanpa ragu, Riana memakan sisa jualannya yang tidak habis.
Kue yang Nenek Mirah buat adalah misro, kelepon, onde-onde, dan ada lapis legit.
Untung saja, di rumah itu ada peralatan untuk membuat kue-kue tersebut.
"Nek, ini kan musim hujan. Gimana kalau kita jualan gorengan pas sore-sore," usul Riana.
"Tapi, bagaimana kita mau keliling, sementara cuaca saja sering hujan," Nek Mirah tampak ragu dengan usulan cucunya.
"Nanti Riana yang jual, Nek. Tidak apa-apa, kan masih ada payung yang masih bisa kepake," kata Riana.
"Payung itu sudah jelek, apa masih bisa di pake, Na?" tanya Nek Mirah.
"Bisa, Nek, yang penting masih bisa melindungi dari air hujan," jawab Riana.
"Ya udah, kalau gitu besok kita ke pasar buat beli bahan-bahannya," Nek Mirah akhirnya setuju.
Riana beranjak pergi ke dapur, ia akan membuat minuman wedang jahe.
Karena cuaca sedang dingin, jadi akan terasa segar dan hangat jika ia membuat wedang jahe.
Riana memasak air di kompor tua yang mungkin sebentar lagi akan rusak termakan usia.
Bahkan, kompor itu sudah sulit menyala.
Lalu, Riana menuangkan 2 wedang jahe ke gelas.
Wedang itu ia beli saat sedang berjualan.
Karena gadis kecil itu tahu, bahwa sang nenek sering merasa kedinginan saat hujan datang.
"Nek, ini ada wedang jahe, Nenek minum ini, ya, biar hangat," ucap Riana.
"Iya, terima kasih, Riana," jawab Nek Mirah.
Riana melihat wajah Nenek Mirah yang tampak memucat.
Ia tahu, sang nenek sedang sakit.
"Nek, muka Nenek pucat banget," ucap Riana.
"Iya, Na, badan nenek rassanya nggak enak," jawab Nek Mirah.
"Riana pijitin ya, Nek," ucap Riana.
"Iya, terima kasih, Nak," jawab Nek Mirah.
Dengan telaten, Riana memijati kaki Nek Mirah.
***Malam harinya, kondisi Nek Mirah semakin memburuk.
Ia terbatuk-batuk, badannya pun panas tinggi.
"Uhuk, uhuk. Rasanya Nenek sangat lelah terus sakit seperti ini, Nak," ucap Nek Mirah.
"Nenek harus bertahan. Kalau Nenek pergi, terus aku sama siapa?" tanya Riana dengan sedih.
"Kamu kan udah besar, Nak, kamu sudah bisa mengurus dirimu sendiri," jawab Nek Mirah.
"Tapi tetap saja, sepi kalau nggak ada Nenek," ucap Riana.
Nek Mirah tersenyum lembut, tapi ia tak bicara.
"Nek, aku panggilin bidan, ya?" tawar Riana.
"Uhuk. Ah, nggak usah, lagian nanti juga sembuh," tolak Nek Mirah.
"Tidurlah, cucuku, Nenek akan baik-baik saja," pinta Nek Mirah.
"Iya, Nek, aku akan tidur," Riana menurut.
Di tengah lampu rumah yang temaram, Nek Mirah dan Riana tidur bersama, beralaskan tikar lusuh.
Riana merasakan virasatnya tidak enak, tapi ia tetap terlelap, untuk menuruti ucapan sang nenek.
***Keesokan harinya, matahari menyinari kampung Teratai Indah.
Kampung itu mulai terbangun dari tidur lelapnya, dan para warga kembali menjalankan aktifitasnya masing-masing.
Begitu pula dengan Riana, gadis itu juga membuka matanya.
Kali ini tak seperti biasanya.
Biasanya, ketika Riana bangun, ia disambut dengan suara hujan.
Namun, pagi ini tampak sedikit berbeda.
Yang ada hanya keheningan yang terasa dalam dan sunyi.
Riana menoleh ke tempat sebelahnya.
Di sampingnya, terdapat seorang wanita tua yang masih tertidur lelap.
Ya, itu adalah Nek Mirah.
Biasanya, Nek Mirah akan terbangun lebih dulu dari Riana.
Akan tetapi, hari ini tidak seperti hari-hari sebelumnya.
Justru, Riana yang lebih dulu bangun.
Namun, Riana tak memikirkan hal itu lebih lanjut.
Ia pikir, neneknya itu hanya kelelahan saja, jadi belum membuka mata.
Riana berkutat di dapur.
Kali ini, biarlah ia yang akan memasak untuk Nek Mirah.
Walaupun, ia hanya akan memasak 1 telur dadar yang akan dibagi berdua.
Riana memasak telur itu hanya dengan garam.
Tidak ada bawang, tidak ada bumbu yang istimewa.
Tetapi, masakan itu adalah masakan dari seorang cucu yang sangat menyayangi neneknya.
***Lima belas menit berlalu, Riana telah menyelesaikan masakannya.
"Bangun, Nek, ayo kita makan," ucap Riana sembari mengguncangkan tubuh Nek Mirah.
Namun, anehnya tubuh Nek Mirah begitu dingin dan kaku.
Riana terdiam sejenak.
Dengan perasaan yang tak menentu, Riana masih berusaha membangunkan Nek Mirah.
"Bangun, Nek, udah siang ini, Nenek harus makan," ucap Riana.
Usaha itu sia-sia saja.
Sebab, Nenek Mirah tak kunjung membuka matanya.
Perlahan, Riana mendekatkan diri pada tubuh sang nenek.
Lalu, dengan tangan yang mulai bergetar, Riana menyentuhkan tangannya pada jantung Nek Mirah, berharap jantung itu masih berdetak dengan baik.
Namun, hal itu nihil, karena jantung itu sudah tidak berdetak lagi.
Riana masih tak percaya.
Didekatkanlah tangannya pada hidung Nek Mirah, mencari napas kehidupan di sana.
Seketika itu, air mata gadis yang baru berusia 13 tahun itu luruh, membasahi pipinya yang mungil.
"Huhuhu, hiks, jangan tinggalin Riana, Nek," ucap Riana.
Riana memeluk tubuh sang nenek yang sudah tidak bernyawa itu.
"Katanya kita mau jualan gorengan hari ini, kan? Tapi, kenapa Nenek malah pergi?" Riana terisak pilu.
Hatinya amat sedih, saat melihat keluarga satu-satunya yang dimiliki, kini juga pergi meninggalkannya sendiri di dunia yang terasa kjam.
Dengan air mata yang masih bercucuran, Riana beranjak bangkit.
Riana akan pergi ke rumah pak RT, untuk memberitahukan tentang kabar kematian sang nenek.
Setelah sebelumnya menutup tubuh Nek Mirah dengan kain, Riana pun menembus jalanan kampung yang masih tanah tanpa aspal.
Bau tanah basah dan udara dingin khas pagi hari menyambut Riana kala gadis itu keluar dari rumahnya yang sederhana.
Tapi, kali ini, Riana tak mengeluh tentang rasa dingin itu.
Yang ada di otaknya, yang penting ia mendapatkan bantuan dari warga untuk menguburkan Nenek Mirah.
***Tok, tok, tok.
Dengan tergesa-gesa, Riana mengetuk pintu rumah pak RT yang tampak sepi dari luar.
"Assalamualaikum," ucap Riana dengan suara serak karena habis menangis.
Ceklek.
"Waalaikumsalam," jawab seorang peria paruh baya.
"Eh, ada Riana. Ayo masuk, Nak," ucap pak RT.
"Maaf, Pak, tapi saya hanya sebentar saja. Nenek saya meninggal, Pak," ucap Riana sambil kembali menangis.
"Ya Allah, inna lillahi wa inna ilaihi raji'un. Ya sudah, bapak akan mengumumkan di masjid tentang meninggalnya nenekmu," ucap pak RT.
Riana mengangguk pelan.
Lalu, setelahnya ia berpamitan untuk pulang.
Pengumuman segera terdengar di masjid, mengejutkan para warga yang hendak ke sawah, atau sedang melakukan kegiatan lain.
Rumah Riana segera ramai dengan para warga yang mau melayad.
Para ibu-ibu segera membantu umtuk prosesi pemakaman Nenek Mirah.
"Yang sabar ya, Na," ucap Rina, kakak dari almarhumah ibunya Riana.
Riana hanya bisa menganggukan kepalanya, dengan air mata yang masih berjatuhan.
Sebab, ia belum sanggup untuk berbicara banyak.
"Nek, kalau Nenek nggak ada, terus Riana sama siapa di dunia ini?" tanya Riana.
Riana menangis tergugu di samping jasad sang nenek.
Rina memeluk gadis itu, berusaha menyalurkan kekuatan padanya.
"Kamu jangan khawatir soal itu, Riana. Sudah, Nak, jangan menangis," ucap Rina.
***Prosesi pemakaman Nenek Mirah segera di langsungkan, karena di takutkan cuaca akan segera hujan.
Dari proses memandikan, menyolatkan, semuanya berjalan dengan lancar.
Namun, kala Nek Mirah akan dimasukan ke dalam liang lahat, tiba-tiba saja Riana jatuh pingsan.
Rupanya, gadis itu tak kuasa melihat neneknya dikuburkan.
Ardi, yang merupakan suami Rina, segera mengangkat gadis itu.
"Riana dibawa pulang ke rumah aja, Mas, nanti aku akan menyusulmu, kasihan dia," ucap Rina.
"Iya, Rin. Setelah pemakaman langsunglah kamu pulang, takutnya nanti tidak ada yang menenangkan Riana," jawab Ardi.
***Setelah pemakaman Nenek Mirah selesai, Rina pulang ke rumah Riana.
Saat Rina pulang itu, ternyata Riana sudah sadar dari pingsannya.
"Bibi, apa Nenek udah dimakamkan?" tanya Riana.
"Sudah, Na, nenekmu sudah dimakamkan, alhamdulillah semuanya berjalan lancar," jawab Rina.
"Kamu harus kuat, ya. Kalau kamu nggak mengikhlaskan Nenek Mirah, pasti Nenek akan sedih," nasehat Rina.
"Iya, Bi, Riana akan berusaha ikhlasin Nenek," jawab Riana.
Nek Mirah adalah nenek dari pihak ayahnya Riana.
Sementara itu, nenek dari pihak ibunya Riana sudah meninggal dunia.
Nek Mirah adalah orang yang sangat baik.
Dia rela membesarkan cucunya seorang diri.
Padahal, bisa di bilang kehidupan Nenek Mirah pun jauh dari kata cukup.
Orang tua Riana sudah meninggal 1 tahun yang lalu, dalam sebuah kecelakaan bus.
Dan sejak itulah, Riana tinggal dengan Nenek Mirah.
Dan sekarang, Nek Mirah sudah tiada, dan sudah tiada juga orang yang bisa dijadikan tempat bersandar oleh Riana.
Namun, Riana tetap berusaha mengikhlaskan kepergian sang nenek.
Karena, ia teringat ucapan Nek Mirah beberapa minggu lalu.
"Hakikat manusia adalah kembali kepada sang pencipta. Mau dia kaya, miskin, tua, muda, yang namanya manusia bernyawa pasti akan kembali kepada Allah. Ketika hal itu terjadi, maka kita harus ikhlas dan menerima. Tidak boleh meratap, apalagi menyalahkan Allah atas kepergian orang yang kita sayang," ujar Nenek Mirah saat itu.
Kala itu, Riana hanya mengiyakan, karena ia pun tidak menyangka kalau neneknya akan pergi secepat ini.
***Rina mengajak suaminya, Ardi, untuk mengobrol berdua di tempat yang tidak akan terdengar oleh Riana.
Tempat itu adalah gudang rumah Nek Mirah yang sepi.
"Ada apa, Rina? Kenapa kamu ngajak aku ke sini?" tanya Ardi.
"Mas, Nek Mirah sudah nggak ada. Rasanya, aku kasihan sama Riana kalau tinggal sendiri di rumah ini. Aku cuma mau minta persetujuan kamu aja, gimana kalau kita rawat Riana? Kita biarin dia tinggal sama kita," ucap Rina.
"Mas juga kasihan sama dia, Rin. Nggak apa-apa kalau kamu mau Riana tinggal sama kita, lagipula kita kan nggak punya anak perempuan," jawab Ardi.
"Iya, Mas. Semoga aja Andi mau nerima Riana sebagai adiknya," harap Rina.
"Aamiin. Riana itu kan anak yang baik, pastilah Andi pun mau menerima dia," jawab Ardi.
"Terima kasih ya, Mas, karena kamu memperbolehkan aku merawat anak kakakku," ucap Rina.
"Sama-sama. Yang penting itu hal kebaikan, pasti Mas akan mendukungmu," jawab Ardi.
Setelah mengobrol 4 mata, mereka kembali ke depan untuk membantu para ibu-ibu yang sedang mempersiapkan acara tahlilan untuk Nek Mirah.
***Jam menunjuk angka 19.00.
Tahlilan sudah selesai, para tetangga pun sudah pergi dari rumah itu.
"Riana, tinggallah bersama Bibi, tidak nyaman kalau kamu tinggal di sini sendirian," ucap Rina.
"Tidak usah, Bi, aku tidak ingin merepotkan Bibi," tolak Riana.
"Tidak, Na, kamu sama sekali tidak merepotkan kami. Ayolah, kamu tinggal saja sama Om dan Bibi," ucap Ardi berusaha meyakinkan.
Akhirnya, setelah diyakinkan seperti itu, Riana setuju untuk tinggal bersama tantenya.
***"Assalamualaikum, Andi!" seru Rina.
Andi, anak mereka, memang tidak ikut melayad.
Karena Andi merasa sedikit tak enak badan, jadi ia memilih tak ikut saja.
Tak lama, Andi keluar dengan wajah yang sedikit pucat.
"Waalaikumsalam. Loh, ini kok Riana ikut ke sini?" Andi tampak heran, saat netranya melihat Riana yang ikut pulang bersama ayah dan ibunya—apalagi karena Riana yang membawa tas besar.
"Seperti mau pindahan saja," pikirnya.
"Mulai sekarang, Riana akan ikut tinggal sama kita. Kasihan dia, Nak, sudah nggak punya siapa-siapa lagi selain kita," ucap Rina menjelaskan.
"Tapi, Bu, kan nggak harus dengan dia tinggal di rumah kita, bikin susah aja," ucap Andi.
Andi melangkah pergi, lalu membanting pintu kamarnya dengan keras.
"Maaf, Bibi, Om, kayaknya Andi nggak suka sama Riana," ucap Riana merasa tidak enak hati.
"Ngggak apa-apa, Na. Nanti, biar Bibi yang bicara sama Andi. Dia cuma lagi pusing aja, soalnya lagi sakit," jawab Rina.
Rina mengantarkan Riana ke sebuah kamar kosong yang tampak bersih dan rapi.
Sejak dari dulu, Andi memang kurang menyukai Riana.
Kadang, anak itu sering menghina Riana dengan mengatakan bahwa Riana itu anak miskin.
Apalagi sejak ayah dan ibunya tiada, Andi semakin sering menghina Riana, dan mengatai gadis kecil itu tidak punya ibu dan ayah.
***Pagi kembali menyapa seorang gadis.
Riana bangun dari kasurnya, lalu berjalan ke dapur.
Ternyata, bibinya sudah bangun dan sedang memasak.
"Selamat pagi, Bi," sapa Riana.
"Pagi, Na, sudah bangun ternyata," jawab Rina.
"Riana boleh nggak bantuin Bibi di dapur?" tanya Riana.
"Boleh, Riana, tapi cuci muka dulu gih!" perintah Rina.
Riana mengangguk, gadis itu berjalan ke kamar mandi.
***Setelah dari kamar mandi, Riana membantu bibinya untuk memasak makanan.
Riana memang sudah terbiasa untuk memasak, karena ketika Nek Mirah masih hidup, Rianalah yang selalu memasakkan makanan untuk mereka berdua, jika Nek Mirah sedang sakit.
Andi melangkahkan kakinya ke dapur.
Pemuda itu menatap Riana dengan pandangan tak suka.
"Apaan sih lo, Riana, pagi-pagi udah caper aja," sinis Andi.
"Enggak, kok, aku cuma mau bantuin Bi Rina aja," jawab Riana.
"Halah, dasar sok baik," ucap Andi.
"Andi, kamu nggak boleh kayak gitu sama Riana, dia itu adik kamu sekarang," tegur Rina.
"Udahlah terserah ibu aja, ibu itu emang selalu ngebelain si Riana ini," jawab Andi.
Hari-hari di rumah Rina, Riana tak terlalu bahagia berada di sana.
Sebab, bukan hanya Andi saja yang membenci Riana, tapi orang tua dari Ardi ikut membenci Riana.
Riana tidak tahu alasan mengapa ia dibenci, yang jelas Riana sangatlah sedih akan hal itu.
"Rianaaa, sini lo!" teriak Andi.
Riana terkejut, gadis itu menghampiri Andi yang berada di ruang tengah.
"Kenapa, Kak?" tanya Riana.
"Gue nggak nyangka, Ri, ternyata lo sejahat ini," ucap Andi.
"Andi, kamu itu jangan bicara sembarangan, Riana itu anak yang baik," ucap Ardi.
Ya, Ardi dan Rina memang ada di sana.
Mereka memang berkumpul di sana, entah apa tujuan Andi mengumpulkan mereka di sana.
Andi melemparkan map ke atas meja ruang tamu.
"Bacalah ini, di situ tertulis jelas, bahwa Riana itu bukan anak kandung Tante Sisil dan Om Bagyo," ucap Andi.
Riana mengambil map itu, dan membuka isinya.
Ternyata, isinya adalah akta kelahiran milik Riana, serta ada sepucuk surat di dalamnya.
Di situ, nama ayah dan ibunya Riana bukan Sisil dan Bagyo, melainkan adalah Alina dan Mario.
Riana tertegun kala membaca dokumen kelahirannya.
Selama ini, Nek Mirah mengatakan bahwa Riana tidak memiliki akta kelahiran, begitupun orang tuanya juga berkata seperti itu.
Sebagai anak yang masih kecil waktu itu, Riana percaya saja dengan ucapan nenek dan kedua orang tuanya, ia pikir, mungkin dahulu memang sulit untuk membuat akta kelahiran.
Rina dan Ardi membaca dokumen itu secara bergantian, mereka juga syok dengan isi dari dokumen itu.
Riana membuka sepucuk surat yang tersimpan didalam map itu.
Untuk Riana, putriku.
Kelak, saat kamu membaca surat ini, mungkin kamu sudah besar.
Maaf ya, Nak, Ibu sama ayahmu harus menitipkan dirimu pada orang lain yang menginginkan seorang anak.
Kami tak sanggup merawatmu, Nak.
Ayah dan ibumu bukanlah orang kaya, kami hidup sangat kekurangan.
Untuk itu, Ibu harap kamu bahagia bersama orang lain.
Ketahuilah, Ibu sangat sayang padamu.
Tertanda, Ibu Alina.
Riana menangis kala membaca surat itu.
"Dari mana kamu mendapatkan dokumen ini, Andi?" tanya Ardi.
"Awalnya, aku itu mau menjadikan rumah Nenek Mirah yang udah kosong buat jadi tempat nongkrong. Aku sama teman-teman aku ngeberesin rumah itu. Tapi, pas kita nggak sengaja buka lemari yang ada di ruangan sebelah kamar, itu yang aku temuin," jelas Andi.
Riana menangis tergugu.
Sungguh, ia tak menyangka dengan fakta ini.
Rina merengkuh tubuh Riana, berusaha menenangkan gadis itu yang sangat merasa terpukul.
"Aku bukan siapa-siapa di sini, Bi," ucap Riana.
"Bagus deh kalau elo sadar. Asal lo tahu, ya, lo itu nggak pantes ada di sini, lo aja bukan sepupu kandung gue," ucap Andi tanpa perasa.
"Enggak, Na, kamu itu tetep keponakan Bibi," ucap Rina.
"Makasih udah ngebolehin Riana tinggal di sini, Bi, tapi emang sebaiknya Riana itu pergi aja," jawab Riana.
"Jangan, Na, Om sama bibimu nggak keberatan kalaupun kamu tinggal di sini," ucap Ardi.
Namun, Riana tetap teguh pada pendiriannya, gadis itu akan tetap pergi dari rumah bibinya.
Riana membereskan barang-barangnya, lalu berpamitan pada Rina dan Ardi.
Dengan berat hati, akhirnya kedua pasangan suami istri itu membiarkan Riana pergi.
"Mas, Andi harus tahu tentang dirinya, lebih baik kita kasih tahu dia sekarang," ucap Rina.
"Baiklah, mungkin ini sudah saatnya. Biar Mas yang memberitahu Andi," jawab Ardi.
"Ayah, Ibu, maksud kalian itu apa?" tanya Andi.
"Belasan tahun lalu, ibumu melahirkan seorang bayi. Tapi, sayangnya bayi itu tidak lahir dengan selamat. Dia meninggal, karena ibumu mengalami pendarahan hebat. Kami sangat sedih, Andi, karena kami sangat menginginkan seorang anak. Akhirnya, setelah sudah beberapa bulan pasca ibu kamu melahirkan, kami memutuskan untuk mengadopsi seorang bayi dari panti asuhan. Bayi itu adalah kamu, Andi. Kamu sebenarnya bukan anak aku dan Rina," Ardi akhirnya menceritakan semuanya, walau ia sangat sedih untuk bercerita.
"A... apa? Jadi, aku ini bukan anak kalian?" tanya Andi.
Andi tertegun, ia hendak menyangkal hal itu, tapi bibirnya terasa kelu.
Tanpa banyak bicara, Andi berlari keluar.
Dengan serampangan, pemuda itu mencari seseseorang.
Riana terkejut kala tiba-tiba ada yang mengejarnya.
"Riana, tunggu!" seru Andi.
Riana memelankan langkahnya, lalu ia duduk di sebuah bangku taman.
"Loh ada apa, Kak Andi?" tanya Riana.
"Maaf, Na, Kakak bener-bener minta maaf sama kamu. Ternyata... ternyata Kakak bukan anak kandung Ibu dan Ayah," ucap Andi.
"Hah, kok bisa?" Riana sangat terkejut mendengar itu.
Dengan getar suara yang tidak dapat ia sembunyikan, akhirnya Andi kembali menceritakan fakta menyakitkan yang baru saja diungkapkan oleh Ardi.
"Aku jahat banget sama kamu, Na. Aku hina kamu, padahal aku juga sama-sama anak pumut," ucap Andi.
Kali ini, pemuda itu benar-benar menangis.
"Udah, Kak. Kakak nggak jahat kok, asalkan Kak Andi mau berubah," jawab Riana.
"Tapi, aku ini banyak salah. Aku banyak tingkah, ngerasa jadi anak yang disayang orang tua. Ternyata, mereka bukan orang tuaku," kata Andi.
"Orang tua kita itu emang bukan kandung. Tapi, tanpa mereka, mungkin nasib kita nggak kayak sekarang. Menyesal itu nggak apa-apa. Tapi, ya jangan sampe ngalangin diri kamu buat berubah. Mumpung masih bisa, Kak, maka rubahlah dirimu menjadi pribadi yang lebih baik," nasihat Riana.
"Makasih ya, ternyata kamu lebih bijak dari usia kamu. Pulang, ya, Na? Kakak mau, kamu jadi adikku," pinta Andi.
"Nggak usahlah, Kak. Lagian, aku nggak enak, ayah ibunya Om Ardi aja nggak suka sama aku," jawab Riana enggan.
"Ayolah, perlahan juga Nenek sama Kakek akan suka sama kamu. Kita cari orang tua kita masing-masing sama-sama," mohon Andi.
"Ya udah, iya aku pulang," jawab Riana.
Akhirnya, ditengah teriknya matahari, 2 jiwa yang awalnya tidak berhubungan baik, kini mereka berjalan kembali ke rumah.
Tamat.