Di bawah langit Ubud yang sering kali diagung-agungkan para turis sebagai "surga terakhir", Ni Putu Gayatri merasa dirinya tak lebih dari seekor burung dalam sangkar emas yang berkarat. Sebagai perempuan dari kasta bawah (Sudra), hidupnya adalah sirkuit tanpa henti antara pengabdian, kerja keras, dan kemiskinan yang dipoles dengan dupa.
Pagi baru menunjukkan pukul empat. Saat kabut masih memeluk sawah, Gayatri sudah sibuk di dapur. Ia harus menyiapkan banten (sesajen), memasak untuk keluarga besar, dan memastikan semua ritual harian terpenuhi. Ibunya, seorang wanita dengan punggung yang mulai membungkuk, sedang sibuk menganyam janur. Di balai-balai, ayahnya dan saudara laki-lakinya masih mendengkur, hanya terbangun jika kopi pagi belum tersaji di meja.
---
"Putu, bulan depan ada Odalan besar di Pura Desa. Kita harus menyumbang lagi," ucap ibunya dengan suara lemah, matanya fokus pada sematan lidi.
Gayatri menghentikan gerakan tangannya yang sedang mengiris bawang. "Mek, uang kuliahku saja belum lunas. Kita baru saja habis jutaan untuk upacara pengabenan paman kemarin. Darimana lagi uangnya?"
"Gadai saja kalungmu yang tersisa. Adat itu harga diri, Putu. Kalau kita tidak ikut, apa kata warga banjar? Kita akan dikucilkan," balas ibunya pasrah.
Gayatri ingin berteriak. Ia muak dengan siklus ini. Mereka miskin, namun dipaksa tampil kaya dalam ritual. Sistem patriarki di sekelilingnya membuat perempuan Bali seperti mesin: mereka bekerja di sawah, berdagang di pasar, mengurus rumah, dan menyiapkan upacara. Sementara para lelaki? Di mata Gayatri, banyak dari mereka yang menghabiskan waktu dengan melatih ayam aduan atau sekadar megibung (makan bersama) sambil berdiskusi soal adat yang ujung-ujungnya hanya menambah beban kerja perempuan.
Sebagai mahasiswi sastra Inggris di Denpasar, pikiran Gayatri sudah melanglang buana melampaui batas pulau. Ia mempelajari tentang kesetaraan, tentang hak-hak individu yang selama ini tertelan oleh kata "bakti".
---
Gayatri bekerja paruh waktu di sebuah galeri seni di Seminyak untuk menyambung hidup. Di sanalah ia bertemu Oliver, seorang arsitek lanskap asal Melbourne. Oliver bukan turis biasa yang hanya mencari alkohol dan pantai; ia tertarik pada filosofi ruang dan keberlanjutan.
"Kau tahu, cara kalian menata sesajen itu indah sekali," puji Oliver suatu sore.
Gayatri tersenyum tipis, matanya tidak bisa menyembunyikan kelelahan. "Indah bagi penonton, Oliver. Tapi bagi kami yang membuatnya, itu adalah rantai yang mengikat leher. Kami menghabiskan uang yang tidak kami miliki untuk ritual yang tidak memberi kami makan."
Oliver tertegun. Kehadiran Oliver membawa warna baru. Mereka menghabiskan malam dengan berdiskusi di sebuah kafe kecil. Oliver bercerita tentang kebebasan di Australia, di mana setiap orang dihargai berdasarkan usahanya, bukan kastanya. Sebaliknya, Gayatri bercerita tentang derita menjadi perempuan Bali yang "baik"—yang harus patuh, tak boleh mengeluh, dan selamanya menjadi warga kelas dua di tanah kelahirannya sendiri.
"Di tempatku, kita memasak bersama, membersihkan rumah bersama. Tidak ada kasta yang menentukan siapa yang berhak duduk di kursi lebih tinggi," kata Oliver lembut, sembari menggenggam tangan Gayatri yang kasar karena kerja fisik.
---
Malam itu, bau dupa sisa upacara sore tadi masih menggantung berat di udara yang lembap. Gayatri menemukan ibunya, Ni Wayan, sedang duduk sendirian di teras dapur yang gelap, memijat kakinya yang bengkak karena seharian berdiri menyiapkan sesaji di pura.
Gayatri mendekat, duduk di lantai semen yang dingin di samping ibunya. Ia membawa sebuah tas kecil di pundaknya.
"Mek," bisik Gayatri.
Ibunya menoleh, matanya yang layu menatap tas itu, lalu beralih ke mata putrinya. Dia sudah tahu. Seorang ibu selalu tahu kapan burungnya akan terbang.
"Kau benar-benar akan pergi, Putu? Meninggalkan banjar? Meninggalkan kasta dan leluhurmu demi pria asing itu?" suara ibunya parau, bukan karena marah, tapi karena ketakutan yang mendalam.
"Aku bukan meninggalkan leluhur, Mek. Aku meninggalkan beban yang kalian sebut 'adat' tapi sebenarnya adalah penjara," jawab Gayatri tegas namun lembut. "Coba lihat tangan Meme. Pecah-pecah, kasar. Lihat punggung Meme yang sudah membungkuk. Untuk apa? Supaya Bapak bisa duduk tenang di balai-balai membahas sabung ayam? Supaya kita dianggap 'keluarga suci' oleh orang-orang desa sementara kita kelaparan di balik tembok rumah?"
"Itu adalah pengabdian, Putu. Itu dharma kita sebagai wanita Bali," sanggah ibunya, meski suaranya bergetar.
"Dharma tidak seharusnya mencekik, Mek. Dharma tidak seharusnya membuat satu orang bekerja sampai mati sementara yang lain hanya rebahan menunggu disuapi. Aku melihat Oliver. Dia mencuci piringnya sendiri. Dia bertanya padaku apa mimpiku, bukan kapan aku akan membuatkan dia kopi. Dia melihatku sebagai manusia, bukan sebagai mesin pembuat sajen atau pelayan kasta."
Ibunya terdiam. Air mata jatuh di pipinya yang keriput. "Nanti siapa yang menyembah di pura keluarga jika kau pergi jauh? Siapa yang akan mengurus upacara kematianku nanti?"
Gayatri memegang tangan ibunya yang kasar. "Tuhan tidak hanya ada di pura desa kita, Mek. Tuhan ada di mana pun hati yang jujur berada. Dan soal kematian... aku lebih takut melihat Meme mati perlahan setiap hari karena kelelahan di sini daripada memikirkan upacara megah yang hanya akan membuat kita makin berutang."
Gayatri berdiri, ia mencium kening ibunya lama. "Aku ingin hidup, Mek. Bukan sekadar bertahan hidup dalam tradisi yang hanya memihak lelaki. Aku ingin berdiri sejajar, bukan bersimpuh di kaki seseorang hanya karena garis keturunan."
Ibunya tidak menahan tangan Gayatri saat gadis itu melangkah menuju gerbang angkul-angkul. Dalam kegelapan, Ni Wayan hanya bisa melihat bayangan putrinya menghilang, membawa pergi beban kasta yang selama berabad-abad telah mematahkan semangat wanita-wanita di keluarga mereka.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Ni Wayan merasa iri pada putrinya sendiri.
---
Konflik memuncak ketika ayah Gayatri mencoba menjodohkannya dengan seorang pemuda kaya dari banjar tetangga demi melunasi hutang keluarga. Pemuda itu tipikal lelaki yang dibenci Gayatri: arogan, merasa memiliki hak penuh atas perempuan karena kasta dan hartanya.
"Aku bukan barang dagangan!" teriak Gayatri malam itu.
"Kau itu perempuan! Tugasmu adalah menikah, melayani suami, dan memastikan keturunan kita punya tempat di Pura keluarga!" bentak ayahnya.
Gayatri tahu, jika ia bertahan, ia akan menjadi seperti ibunya—tua sebelum waktunya, bekerja sampai tulang retak, sementara suaminya bersantai di bawah pohon kamboja.
Malam itu, dengan tas punggung berisi buku-buku dan sedikit pakaian, Gayatri pergi. Ia memilih jalan yang dianggap tabu oleh desanya: keluar dari lingkaran adat.
---
Enam bulan kemudian, di sebuah bandara di Melbourne, Gayatri menghirup udara musim dingin yang tajam namun terasa sangat membebaskan. Ia menikah dengan Oliver dalam sebuah upacara sederhana di pinggir pantai Great Ocean Road—tanpa ritual yang menghabiskan seluruh tabungan, tanpa kasta yang menghakimi.
Di Australia, Gayatri melanjutkan studinya. Ia bekerja di sebuah firma desain bersama Oliver. Suatu sore, Oliver pulang kerja lebih awal, ia sedang mencuci piring saat Gayatri masuk ke rumah.
"Kenapa kau yang mencuci, Oliver? Aku bisa melakukannya," ujar Gayatri, sisa-sisa trauma domestik Bali-nya masih membekas.
Oliver tertawa, mengecup kening istrinya. "Gayatri, kita adalah tim. Di sini, cinta bukan soal siapa yang melayani siapa, tapi soal bagaimana kita saling menjaga agar tidak ada yang kelelahan sendirian."
Gayatri menatap ke luar jendela, ke arah langit Australia yang luas. Ia tidak melupakan Bali, ia tetap mencintai budayanya, namun ia menolak menjadi korban dari interpretasi adat yang menindas. Di negeri baru ini, ia bukan lagi Ni Putu Gayatri si pelayan kasta dan tradisi, melainkan seorang wanita merdeka yang akhirnya menemukan rumah bagi jiwanya.
---