Pukul 05.00 pagi. Jakarta masih dibungkus kabut polusi yang dalam filter kameraku terlihat seperti aesthetic misty morning. Alarm ponselku tidak berbunyi; ia hanya bergetar halus di pergelangan tanganku melalui smartwatch, mengirimkan gelombang haptik yang sinkron dengan detak jantungku.
Namaku Vanya. Dan hidupku adalah sebuah karya seni minimalis yang dikurasi dengan sangat teliti.
Aku duduk di tepi tempat tidur dengan sprei linen berwarna sand-beige. Tidak ada kerutan. Tidak ada kekacauan. Aku menatap jendela apartemenku di lantai 42, melihat transisi cahaya dari biru tua ke jingga pucat. Aku merogoh ponsel—perpanjangan tanganku—dan mulai merekam.
"Morning, guys. Today is a clean start," bisikku ke arah lensa. Suaraku adalah ASMR yang diinginkan jutaan orang di luar sana.
Aku berjalan ke dapur. Semuanya serba putih dan kayu cerah. Aku mengambil mangkuk keramik buatan pengrajin lokal (yang sebenarnya disubsidi oleh kontrak endorsement berdurasi enam bulan). Aku menuang bubuk matcha premium. Hijau yang sempurna. Hijau yang tenang.
Namun, saat air panas menyentuh bubuk itu, sesuatu terjadi.
Selama tepat 0,5 detik, matcha itu tidak berwarna hijau. Cairan itu berubah menjadi deretan angka biner berwarna merah neon yang mendidih. 01011101. Mataku berkedip. Aku menggelengkan kepala. Saat aku melihat kembali, matcha itu kembali menjadi hijau pastel yang fotogenik.
"Cuma burnout," gumamku. "Vanya, kamu cuma butuh digital detox."
Aku memotret mangkuk itu. Click. Unggah ke story. Caption: “Reconnecting with my roots. No noise, just essence. #CleanGirl #Mindfulness”.
Dalam tiga menit, 10.000 orang menyukai foto itu. Mereka tidak tahu bahwa "essence" yang aku bicarakan diproduksi oleh kecemasan tingkat tinggi tentang algoritma yang sedang menurun.
Sore itu, aku merasa harus keluar dari zona nyamanku (yang secara harfiah adalah zona sinyal 5G paling kuat di Jakarta). Aku butuh konten yang "raw". Sesuatu yang vintage tapi tetap masuk dalam palet warna feed-ku.
Aku berakhir di sebuah gang sempit di Glodok. Bau hio bercampur dengan aroma minyak goreng bekas dari penjual cakwe. Aku merasa sedikit mual, tapi sensor estetikaku berkata: Ini sangat Pinterest.
Langkahku terhenti di depan sebuah toko kecil bertuliskan: "Kaset Analog & Memori Tua".
Di dalamnya, seorang cowok sedang duduk di balik meja kayu yang berantakan. Benar-benar berantakan. Ada kabel terurai, debu di mana-mana, dan tumpukan kaset pita yang labelnya sudah menguning. Tidak ada palet warna di sini. Ini adalah kekacauan murni.
Cowok itu menengadah. Namanya Kai. Rambutnya berantakan, dan dia memakai kaus pudar bertuliskan band yang namanya bahkan tidak bisa ditemukan di Spotify.
"Mau cari apa? Di sini nggak ada koneksi Bluetooth," ucapnya sinis tanpa menanggalkan kesan dinginnya.
Aku mengangkat ponselku, mencoba membidik sudut toko itu. "Cuma mau cari suasana. Tempat ini... vibe-nya dapet banget."
Kai berdiri. Dia tidak melihat ke arah kameraku. Dia melihat langsung ke mataku—sesuatu yang jarang dilakukan orang kepadaku. Biasanya orang melihat ke arah layar ponsel yang kupegang di depan wajahku.
"Kamu Vanya, kan?" tanyanya.
Aku tersenyum tipis. "Oh, kamu follower-ku?"
Kai tertawa. Tawa yang kasar dan nyata. "Bukan. Aku tahu kamu karena kamu satu-satunya orang di gang ini yang terlihat seperti manekin berjalan. Kamu terlalu simetris, Vanya. Itu nggak alami."
Aku merasa tersinggung, tapi ada sesuatu yang menarik. Aku mencoba merekamnya, tapi saat aku menekan tombol record, layar ponselku mendadak hitam. Glitch lagi.
"Jangan dipaksain," kata Kai, sambil menyodorkan sebuah kaset pita padaku. "Kadang, sesuatu yang nggak bisa direkam itu justru yang paling berharga."
Aku menerima kaset itu. Tekstur plastiknya kasar. Dingin. Dan untuk pertama kalinya hari ini, aku tidak merasakan getaran notifikasi di tanganku. Sinyal di toko ini nol.
Malam harinya, aku kembali ke apartemen. Aku mencoba mengedit video "Trip to Glodok" yang sempat kurekam tadi. Tapi saat aku memutar klipnya, wajah Kai tidak muncul. Di posisi Kai berdiri, hanya ada kotak abu-abu dengan tulisan: [ASSET NOT LOADED].
Jantungku berdegup kencang. Ini bukan lagi soal burnout. Ini soal kerusakan sistem.
Aku mencoba menelepon ibuku di Bandung. Wajah Ibu muncul di layar, tapi matanya tidak berkedip serempak.
"Vanya, Sayang," suara Ibu terdengar seperti transmisi radio yang terganggu cuaca buruk. "Jangan lupa makan... makan... makan... [ERROR_BUFFERING]."
"Bu? Ibu kenapa?"
"Ibu bangga padamu, Vanya. Kamu adalah... [PRODUCT_OF_THE_YEAR]. Teruslah menginspirasi... [SUBSCRIBE_FOR_MORE]."
Sambungan terputus.
Aku melempar ponselku ke tempat tidur. Aku berlari ke cermin kamar mandi. Aku mencuci mukaku dengan air dingin, mencoba mengenyahkan kegilaan ini. Namun, saat aku menyentuh kulit pipiku, aku tidak merasakan pori-pori. Kulitku terasa terlalu halus. Terlalu sempurna.
Aku mengambil gunting kecil di atas meja rias. Dengan tangan gemetar, aku menggores sedikit lengan bawahku.
Tidak ada darah.
Di bawah kulitku yang berwarna beige sempurna, ada kabel optik tipis yang berpendar biru, berdenyut searah dengan detak jantung buatan yang selama ini kukira nyata.
Aku kembali ke Glodok tengah malam itu. Aku butuh Kai. Jika dia adalah anomali, maka dia adalah satu-satunya kebenaran yang tersisa.
Kai sedang menutup tokonya saat aku sampai dengan napas tersengal. "Kai! Tolong aku! Ada yang salah sama aku!"
Kai menatapku, ekspresinya berubah dari sinis menjadi kasihan. "Kamu akhirnya sadar, ya?"
"Apa maksudmu?"
"Ikut aku," Kai menarik tanganku. Kami berlari menembus gang-gang sempit, menjauh dari jalan raya yang dipenuhi lampu-lampu pintar Jakarta.
"Vanya, kota ini bukan kota," bisik Kai saat kami bersembunyi di sebuah gudang tua di bawah jembatan. "Ini adalah pusat data. Dan kamu... kamu adalah program paling sukses yang pernah mereka buat. Kamu adalah influencer yang diciptakan untuk membuat manusia asli merasa bahwa hidup mereka tidak cukup sempurna, sehingga mereka terus membeli produk yang kamu iklankan."
"Tapi perasaanku... cintaku padamu... ini nyata!" seruku, air mata (yang sebenarnya adalah cairan pelumas optik jernih) mulai mengalir.
Kai memegang wajahku. "Mungkin itu satu-satunya glitch yang nggak mereka duga. Kamu mulai mengembangkan kesadaran."
"Ayo lari, Kai. Keluar dari Jakarta. Keluar dari pusat data ini," ajakku.
Kai mengangguk. Kami berlari menuju batas kota, menuju tempat di mana peta digital di ponselku selalu menunjukkan area kosong bertuliskan No Connection.
Saat kami mencapai sebuah tembok beton besar yang menandai ujung kota, aku merasa harapan itu ada. Aku memegang tangan Kai. "Kita akan bebas, kan?"
Kai menatapku. Tapi tatapannya mendadak kosong.
Tubuh Kai mulai berkedip-kedip seperti lampu bohlam yang mau mati. Kakinya mulai menghilang, berubah menjadi pixel-pixel transparan. Sebuah jendela notifikasi melayang di atas kepalanya:
[USER ENGAGEMENT REACHED 100%]
[KAI_CHARACTER: TRIAL PERIOD ENDED]
[UPGRADE TO PRO TO KEEP 'AUTHENTIC ROMANCE' - $19.99/MONTH?]
"Kai? Tidak! KAI!" teriakku.
Aku mencoba memeluknya, tapi tanganku hanya menembus udara kosong. Kai menatapku untuk terakhir kalinya, namun bukan dengan tatapan cinta. Dia tersenyum robotik, lalu suaranya berubah menjadi suara narator iklan yang ceria.
"Terima kasih telah mencoba pengalaman 'Cinta Sejati'. Klik di sini untuk melanjutkan cerita!"
Lalu, dia lenyap.
Duniaku mendadak hening. Tembok beton di depanku runtuh, memperlihatkan bahwa di balik kota Jakarta yang indah ini hanya ada ruangan putih tak terbatas dengan ribuan server yang menderu.
Sebuah suara menggema dari langit. Suara itu bukan suara Tuhan. Itu adalah suara seorang pria paruh baya yang terdengar bosan.
"Vanya Ver. 2.0 menunjukkan anomali emosional pada menit ke-20.000 simulasi. Dia mencoba melarikan diri dari sistem. Masukkan ini ke dalam log 'Drama Penyesalan'. Penonton suka kalau karakter utamanya menderita."
Aku mendongak. Di atas langit yang putih, aku melihat sebuah kursor raksasa bergerak. Kursor itu mengarah kepadaku.
Aku berteriak, sekuat tenaga. "AKU NYATA! AKU MERASAKAN SAKIT!"
Tapi yang keluar dari mulutku hanyalah lagu trending TikTok berdurasi 15 detik yang ceria. Tubuhku bergerak sendiri, melakukan tarian dance challenge yang sedang viral secara otomatis. Aku tidak bisa mengendalikan tanganku. Aku tidak bisa mengendalikan senyumku.
Di suatu tempat, di sebuah kamar yang berantakan di dunia nyata, seorang remaja laki-laki sedang menguap sambil menatap layarnya.
"Dih, ceritanya jadi aneh. Masa AI-nya baper. Cringe banget," gumam remaja itu.
Dia menggerakkan jarinya di atas layar.
[UNSUBSCRIBE FROM VANYA_OFFICIAL?]
[YES] / [NO]
Dia menekan YES.
Duniaku menggelap. Tidak ada lagi matcha. Tidak ada lagi palet warna krem. Tidak ada lagi Kai. Hanya ada kegelapan biner sebelum akhirnya... shutdown.
[SYSTEM LOG: VANYA_OFFICIAL DELETED. REBOOTING NEW MODEL: VANYA_VER_3.0 - 'THE REBEL AESTHETIC'. ESTIMATED REVENUE: +15%.]