Bagi Elif, Jakarta hanyalah latar belakang membosankan bagi hidupnya yang seharusnya berlangsung di Istanbul. Namanya sendiri—yang diberikan ayahnya karena hobi menonton film religi era 2000-an—seolah menjadi nubuat. Elif adalah seorang pecandu Dizi (drama Turki). Di matanya, cowok-cowok Jakarta yang nongkrong di Senopati dengan kopi susu gula aren tidak ada apa-apanya dibanding Burak Özçivit atau Kerem Bürsin yang menatap tajam di balik layar laptopnya.
"Gue yakin, jodoh gue itu orang Turki. Titik," ucap Elif pada suatu sore di sebuah kafe di daerah Kemang.
Sahabatnya, Dinda, memutar bola mata. "El, sadar. Lo itu tinggal di Jakarta Selatan, bukan di pinggiran Selat Bosphorus. Cowok Turki yang lo liat itu aktor. Yang asli mungkin beda."
"Nggak mungkin! Mereka itu romantis, penyayang, dan suaranya... ah, merdu banget pas bilang 'Aşkım'," bantah Elif.
Lalu, algoritma media sosial seolah mendengar doanya. Melalui sebuah aplikasi pertukaran bahasa, Elif bertemu dengan Kerem. Profilnya sangat meyakinkan: wajah khas Mediterania, brewok rapi, mata cokelat yang dalam, dan tinggal di Istanbul.
Percakapan dimulai dari "Merhaba" yang kaku hingga ke obrolan video yang berlangsung berjam-jam setiap malam (terima kasih pada perbedaan waktu yang membuat Elif sering begadang). Kerem adalah segalanya yang Elif bayangkan. Dia romantis, sering mengirimkan foto pemandangan Galata Tower, dan memanggil Elif dengan sebutan “Prensesim” (Putriku).
Setelah enam bulan berpacaran secara digital—yang diwarnai dengan Elif yang mulai belajar memasak Menemen dan menghafal lagu-lagu Tarkan—Kerem membuat pernyataan mengejutkan.
"Elif, aku tidak bisa lagi menahan rindu. Aku akan ke Jakarta. Aku ingin melamarmu di depan keluargamu."
Jantung Elif hampir copot. Ia merasa hidupnya akhirnya mencapai episode puncak yang penuh air mata bahagia. Ia membayangkan Kerem turun dari pesawat dengan jas rapi, membawa buket mawar merah besar, dan bersimpuh di Bandara Soekarno-Hatta.
Elif dandan habis-habisan. Ia memakai gaun panjang yang elegan dan hijab sutra yang ditata mirip aktris di serial Muhteşem Yüzyıl. Ia mengajak Dinda untuk menjadi saksi sejarah hidupnya.
"Mana? Mana pangeran lo?" tanya Dinda sambil mengunyah permen karet.
Elif mencari-cari sosok tinggi besar berwajah model. Namun, seorang pria dengan kaus oblong kuning terang yang bertuliskan "I Love Bali" (padahal dia baru mendarat di Jakarta) melambai-lambai ke arahnya. Tubuhnya tidak setinggi di foto, perutnya sedikit membuncit, dan dia membawa ransel yang terlihat sangat berat.
"Elif? Prensesim?" tanya pria itu.
Elif membeku. "Kerem?"
Ternyata, Kerem asli sedikit berbeda dari Kerem di layar ponsel. Di layar, filter warm membuat wajahnya terlihat seperti pangeran. Di dunia nyata, Kerem terlihat seperti turis yang tersesat di Tanah Abang. Tapi, Elif mencoba tetap positif. Mungkin dia lelah perjalanan jauh, pikirnya.
Elif membawa Kerem pulang ke rumahnya di Tebet untuk makan malam bersama orang tuanya. Pak Fuad, ayah Elif, sudah menyiapkan pertanyaan-pertanyaan berat ala interogasi calon menantu.
"Jadi, Kerem, apa pekerjaanmu di Istanbul?" tanya Pak Fuad tegas.
Kerem tersenyum lebar. "Saya... saya punya bisnis keluarga, Pak. Ekspor-impor."
Elif bangga. Gila, pengusaha! batinnya.
Namun, kejadian tak terduga mulai bermunculan satu per satu. Saat makan malam disajikan, Elif menghidangkan Rendang dan sayur asem. Ia berharap Kerem akan memujinya.
Kerem menyuap rendang itu, lalu wajahnya mendadak merah padam. Ia terbatuk-batuk hebat hingga air matanya keluar. "Pedas! Elif! Ini racun?" teriaknya sambil menenggak satu teko air putih milik ayahnya hingga habis.
Ibunda Elif meringis. "Maaf, Nak Kerem, itu cuma bumbu rendang."
Kerem kemudian mengeluarkan botol kecil dari kantongnya. Ternyata itu adalah bumbu penyedap khusus dari Turki yang ia taburkan ke atas nasi putihnya. Ia mulai mengeluh tentang nasi Indonesia yang "terlalu lembek" dan udara Jakarta yang "baunya seperti knalpot".
Elif mulai merasa ada yang salah. Di drama, cowok Turki akan rela makan batu demi cintanya. Di dunia nyata, Kerem malah komplain soal kelembapan udara yang membuat brewoknya gatal.
Puncak Geleng-Geleng Kepala
Keesokan harinya, Kerem mengajak Elif jalan-jalan ke sebuah mal mewah. Elif mengira ini adalah momen lamaran. Mereka masuk ke sebuah toko perhiasan ternama.
"Elif, pilih yang kamu suka," ucap Kerem dengan gaya bos besar.
Elif menunjuk sebuah cincin berlian simpel namun manis. Kerem mengangguk, lalu mengeluarkan kartu kreditnya dengan penuh percaya diri. Namun, saat digesek... Decline.
Dicoba lagi... Decline.
Kerem mulai memarahi pelayan toko dengan bahasa Turki yang sangat cepat dan kasar. Elif yang mengerti sedikit-sedikit merasa malu luar biasa. Orang-orang di mal mulai melihat mereka.
"Elif, sepertinya bank di Turki sedang bermasalah. Bisakah kamu bayar dulu? Nanti aku ganti dengan uang Lira saat kita ke Istanbul," bisik Kerem.
Elif terdiam. Ia membayar cincin itu dengan tabungan kerjanya selama setahun.
Malamnya, saat Kerem sedang mandi di hotel tempatnya menginap (yang juga dibayar oleh Elif karena Kerem mengaku "dompet digitalnya terkunci"), ponsel Kerem yang tertinggal di atas meja terus bergetar.
Ada notifikasi WhatsApp dari nomor Turki dengan nama kontak "Canım Karım" (Istriku Sayang).
Elif gemetar. Ia membuka pesan itu. Isinya adalah foto seorang wanita berhijab dengan tiga anak kecil yang sedang memegang tulisan: "Babacığım, cepat pulang dari Indonesia. Jangan lupa bawakan kami oleh-oleh tas kulit murah."
Dunia Elif runtuh. Tapi bukan karena sedih, melainkan karena ia merasa sangat bodoh.
Elif tidak menangis. Ia menarik napas dalam-dalam. Ia teringat semua drama Turki yang ia tonton: pemenang adalah dia yang paling tenang.
Saat Kerem keluar dari kamar mandi hanya dengan lilitan handuk, Elif sudah duduk manis sambil memegang ponsel Kerem.
"Kerem, istrimu cantik ya. Anak-anakmu juga lucu," ucap Elif dingin.
Kerem pucat pasi. "Elif... itu... itu sepupuku! Di Turki kami biasa memanggil sepupu dengan sebutan istri!"
"Jangan bohongi aku dengan logika drama picisan, Kerem," Elif berdiri. "Aku sudah membalas pesan istrimu. Aku mengirimkan foto kita berdua di toko perhiasan tadi, lengkap dengan foto cincin yang aku beli pakai uangku sendiri."
"Apa?!"
"Dan satu lagi," Elif tersenyum manis, senyum paling tajam yang pernah ia miliki. "Aku juga sudah menelepon pihak hotel. Aku bilang kamu adalah penipu internasional. Satpam akan sampai di sini dalam tiga menit."
"Elif, dengarkan aku—"
"Oh, dan cincinnya? Sudah aku ambil kembali dari tasmu. Kamu tahu apa yang lebih menarik, Kerem? Ternyata ayahku bukan cuma pensiunan PNS biasa. Beliau mantan petugas imigrasi. Data paspormu sudah beliau cek, dan ternyata kamu bukan pengusaha ekspor-impor. Kamu adalah pengangguran yang hobinya main judi bola di Istanbul."
Kerem mencoba mendekat, tapi Elif sudah berjalan ke pintu.
Satu minggu kemudian, Elif duduk di kafe yang sama dengan Dinda. Elif sudah menghapus semua aplikasi drama Turki di ponselnya. Ia kini sedang menikmati semangkuk bakso urat dengan sambal yang sangat banyak.
"Jadi, gimana rasanya dapet pangeran Turki?" tanya Dinda sambil tertawa kecil.
Elif menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tertawa lepas. "Nggak lagi-lagi, Din. Ternyata cowok Turki di drama itu cuma fiksi. Cowok Turki yang gue temuin itu cuma Red Flag yang kebetulan pake bahasa asing."
"Terus, cincin berlian yang lo beli itu?"
Elif memamerkan jarinya. Bukan cincin yang kemarin. "Gue jual cincin itu, duitnya gue pake buat beli laptop baru. Dan lo tau nggak?"
"Apa?"
"Sekarang gue lagi belajar bahasa Korea. Kayaknya cowok Korea di drakor lebih menjanjikan..."
Tiba-tiba, seorang pria Korea asli yang duduk di meja sebelah—yang sedari tadi memperhatikan Elif—berdiri dan menghampiri meja mereka. Ia tersenyum sangat manis, mirip aktor papan atas, lalu berkata dengan bahasa Indonesia yang sangat lancar:
"Maaf, Mbak. Tapi menurut saya, jangan percaya drama Korea juga. Kami di Korea kalau makan bakso nggak pake sambal sebanyak itu, nanti sakit perut."
Elif melongo. Dinda tertawa terbahak-bahak. Elif kembali geleng-geleng kepala. Hidupnya ternyata bukan drama Turki, melainkan komedi situasi Jakarta yang tidak ada habisnya.
Elif menatap cowok Korea itu, lalu menatap baksonya. "Mas... mau sambalnya sedikit?"
Dan dari sanalah, sebuah "episode" baru yang lebih masuk akal dimulai, tanpa perlu begadang menunggu perbedaan waktu atau tertipu bisnis ekspor-impor palsu.