Angin malam di Subang terasa lebih dingin dan menusuk tulang bagi Leni, seorang karyawati pabrik asal Kebumen yang sudah enam bulan merantau. Di tanah orang, ia mencoba mengais rezeki demi masa depan bersama suaminya, Satria, yang masih berada di kampung halaman. Namun, sejak ia menempati kamar kos di rumah Bu Marni, perasaan Leni tak pernah benar-benar tenang.
Rumah Bu Marni adalah bangunan tua bergaya kolonial yang dikelilingi rimbun pohon bambu dan mangga. Bu Marni sendiri adalah janda paruh baya yang selalu terlihat ramah, namun sorot matanya menyimpan sesuatu yang kelam.
Suatu akhir pekan, Bu Marni mengetuk pintu kamar Leni. Wajahnya tampak pucat namun bersemangat. "Leni, temani Ibu ziarah ke Garut dan Tasik, ya? Ibu mau buang sial. Kamu tenang saja, semua ongkos Ibu yang tanggung."
Leni yang merasa tidak enak karena sering diberi makanan oleh Bu Marni, akhirnya mengangguk setuju. Mereka berangkat menggunakan mobil sewaan. Namun, perjalanan itu tidak seperti ziarah pada umumnya. Bu Marni membawa sebuah kotak kayu besar yang dibungkus kain kuning. Baunya sangat amis, campuran kembang melati yang busuk dan darah ayam.
"Ini apa, Bu?" tanya Leni ragu.
"Hanya sesajen biasa, Le. Syarat supaya doa kita tembus ke langit," jawab Marni datar, matanya lurus menatap jalanan yang berkelok.
Puncaknya terjadi saat mereka tiba di sebuah bukit sunyi di perbatasan Garut dan Tasik tepat tengah malam. Di sana, terdapat sebuah makam tanpa nama di bawah pohon beringin raksasa yang rindangnya seolah menutup cahaya bulan. Jam menunjukkan pukul 00.00. Suasana mendadak senyap, hanya suara jangkrik yang tiba-tiba berhenti bersuara.
Bu Marni menyuruh Leni memegang nampan sesajen itu di depan makam. Sementara Marni berkomat-kamit dalam bahasa yang tidak Leni mengerti. Tiba-tiba, Leni mendengar suara gemerisik dari dahan pohon di atasnya. Saat ia memberanikan diri mendongak, matanya menangkap belasan pasang mata merah yang menatapnya tajam. Itu adalah monyet-monyet besar, namun wajah mereka menyerupai manusia yang menderita.
Leni merinding hebat, badannya kaku tak bisa bergerak. Ia merasa sesuatu yang dingin menyentuh pundaknya, seolah ada tangan berbulu yang membelainya. Marni terus merapal mantra sampai fajar menyingsing.
Sekembalinya ke Subang, kondisi fisik Leni merosot tajam. Ia sering merasa mual, lemas, dan kepalanya berat. Yang paling aneh, perutnya membesar dengan sangat cepat. Hanya dalam waktu dua minggu, perutnya sudah terlihat seperti hamil lima bulan.
Leni gemetar saat melihat garis dua di test pack. Ia segera menelepon Satria di Kebumen.
"Mas... aku hamil. Tapi ini aneh, Mas," isak Leni di telepon. "Aku takut. Sejak kita pulang dari Garut, kosan ini jadi beda. Tiap malam aku dengar suara cakaran di atas plafon. Dan Bu Marni... dia sering berdiri di depan pintuku jam tiga pagi sambil bawa mangkuk berisi cairan merah."
Satria yang mendengar suara ketakutan istrinya langsung kalap. "Leni, kamu tenang. Besok Mas ke Subang. Kita pulang ke Kebumen. Kamu resign saja, jaga kandungan di rumah. Ada yang nggak beres di sana."
Malam itu, setelah menelepon Satria, Leni bermimpi buruk. Ia melihat Bu Marni bersujud di depan sosok monyet raksasa bermahkota emas. Monyet itu menunjuk ke arah perut Leni sambil tertawa parau. “Itu persembahanmu... benih keserakahanmu...”
Keesokan harinya, Satria tiba di Subang. Ia melihat wajah istrinya yang pucat pasi dan perutnya yang membusung tak wajar. Tanpa banyak bicara, Satria langsung mengemasi barang-barang Leni.
"Kita pamit sekarang," tegas Satria.
Namun, saat mereka hendak keluar rumah, Bu Marni sudah berdiri di ambang pintu besar. Wajahnya tidak lagi ramah. Kulitnya terlihat mengerut dan matanya merah padam.
"Mau dibawa ke mana 'aset' saya, Satria?" suara Bu Marni terdengar berat, seperti dua orang yang berbicara bersamaan.
"Leni istri saya! Dia mau pulang ke Kebumen!" gertak Satria sambil menarik tangan Leni.
Tiba-tiba, suasana kosan berubah mencekam. Pintu-pintu kamar membanting sendiri. Suara jeritan monyet terdengar bersahut-sahutan dari atap rumah. Bayangan-bayangan hitam mulai merayap di dinding, seolah hendak menahan langkah kaki mereka. Bau busuk bangkai menyeruak memenuhi ruangan.
"Dia sudah terikat kontrak!" teriak Bu Marni. "Anak di perutnya itu bukan milikmu! Itu milik 'Gusti' yang kami sembah di pohon rindang itu!"
Leni menjerit kesakitan, perutnya terasa seperti dicengkeram dari dalam. Namun, Satria yang memiliki iman kuat tidak gentar. Ia membopong Leni, menerjang Bu Marni yang mencoba mencakar wajahnya. Anehnya, saat Satria membacakan doa-doa suci, sosok-sosok hitam itu menjauh sesaat, memberikan celah bagi mereka untuk lari menuju mobil.
Mereka memacu mobil dengan kecepatan tinggi, meninggalkan rumah terkutuk itu. Sepanjang jalan menuju tol, Leni terus menangis. Satria segera mengambil ponsel Leni, menghapus kontak Bu Marni, memblokir nomornya, dan membuang kartu SIM tersebut ke pinggir jalan.
Tiga hari setelah sampai di Kebumen, Leni merasa sedikit lebih tenang. Namun, Satria menyadari sesuatu yang mengerikan. Setiap malam, pohon mangga di samping rumah mereka di Kebumen selalu dipenuhi monyet yang datang entah dari mana.
Suatu malam, Leni terbangun karena merasakan gerakan hebat di perutnya. Ia pergi ke kamar mandi. Saat ia bercermin, ia melihat di balik pantulan kaca, sosok Bu Marni sedang berdiri di belakangnya dengan wajah hancur, memegang seutas rantai yang terhubung langsung ke pusar Leni.
Leni menunduk melihat perutnya. Perutnya tidak lagi membusung, tapi kulitnya membiru. Ia meraba perutnya, dan ia merasakan sesuatu yang keras... seperti bentuk tangan kecil dengan kuku yang tajam, mencoba mencakar keluar dari dalam rahimnya.
Di kejauhan, di sebuah rumah tua di Subang, Bu Marni duduk di depan sesajen baru. Ia tersenyum sinis sambil menatap sebuah foto Leni yang mulai terbakar.
"Pulanglah sejauh mungkin, Leni..." bisik Marni. "Tapi kontrak tetaplah kontrak. Apa yang ditanam di makam itu, tidak akan pernah bisa dihapus hanya dengan memutus kontak."
Di luar rumah Kebumen, suara geraman monyet terdengar semakin kencang, menutupi suara teriakan Leni yang tiba-tiba pecah membelah keheningan malam.
(Bersambung)