Pagi ini, ada beberapa anak yang sedang sibuk menyiapkan diri untuk berangkat ke sekolah. Sarapannya yang sudah di siapkan oleh ibunya dan sekolah nya yang nanti akan di antarkan oleh ayahnya.
Tapi,di pagi yang sama, ada seorang anak kecil berusia 7 tahun yang saat ini sedang tertidur di kolong jembatan, tubuhnya di biarkan basah terkena cipratan air dari orang-orang di jalanan akibat hujan deras tadi malam. Badannya sedikit kotor, bajunya koyak di bagian ketiak.
Di bawah tubuhnya ada alas berbahan kardus yang digunakan nya sebagai kasur, tubuhnya memeluk diri sendiri karena tak ada selimut yang bisa ia gunakan untuk menghangatkan badannya di antara suhu rendah perkotaan.
Di ujung sana, seorang ibu-ibu dengan satu tangan yang berkacak di pinggangnya dan satu tangan yang membawa segayung air melangkah cepat ke arah anak itu. Air dari gayung itu di siramkan nya ke tubuh sang anak, membuat nya terlonjak kaget.
"Bangun! anak sialan" kata ibu-ibu itu sambil menendang tega tubuh kecil sang anak.
"Ibu, Aca masih ngantuk" kata anak laki-laki itu sambil memeluk tubuhnya yang semakin basah akibat sang ibu.
"Kerja sono! tidur mulu lo. Buruan udah siang" sentak nya lalu pergi meninggalkan anak kecil itu.
Tubuh Aca bangkit, ia pergi ke salah satu toilet kumuh di belakang jembatan, agaknya antrian pagi ini tak sepanjang kemaren, ia segera masuk ke dalam kamar mandi setelah orang di depannya keluar dari bilik.
Di sana, ia mulai membuka baju nya, mengalirkan ke seluruh badan air keruh yang berasal dari bak yang di penuhi lumut. Setelah selesai ia langsung menggosok giginya dengan sikat gigi yang sudah tak berbentuk.
Kaki kecilnya melangkah keluar dari kamar mandi, ia menghampiri sang ibu yang sedang duduk di atas gundukan bata, di tangannya ada Styrofoam berisi ayam geprek yang di jual 5 ribuan.
"Bu, Aca mau makan!" katanya sambil duduk di bawah sang ibu.
"Nih!" di lemparkannya nasi porsi kecil yang di jual 3 ribuan di warung yang sama dengan geprek milik sang perempuan.
Aca membukanya, nasi kepal kecil yang diatasnya terdapat tempe,tahu dan tumis sayur, dengan lahap ia mulai memakannya sesekali matanya melirik pada lauk sang ibu, tak bisa di bohongi ia sangat menginginkannya.
"Bu! Aca, boleh minta sedikit nggak ayamnya?
Perempuan itu membelalak, ia mengangkat sebelah kakinya, ujung kakinya menendang dada sang anak.
"Enak aja, lo"
"Makan buruan terus kerja, jangan lupa setoran ke gue ntar sore" ia beranjak meninggalkan sang anak yang menundukkan pandangannya.
Setelah selesai, ia pergi ke kamar mandi mencuci tangannya. Sekarang ia akan pergi memulung sampah-sampah jalanan, tangannya meraih kantung putih besar yang terletak di samping tempat tidurnya tadi.
Kaki kecil tanpa alas terus bertapak pada aspal, tangannya sesekali mengambil sampah yang bisa ia setorkan ketika ia melihatnya. Aca berhenti di depan sebuah cafe, di sana ada anak seusianya yang sedang terduduk sambil memakan chiken wings yang di lumuri saus merah, di wajahnya berjejak air mata, seragam sekolah terlihat melekat di tubuhnya.
Aca terdiam disana, ia sangat menginginkan itu, apa boleh Aca memintanya? tidak-tidak, bisa-bisa ia akan di usir dan di permalukan nanti.
Aca memutuskan kembali melangkah mendekati tong sampah di samping cafe yang menggunduk penuh, dengan bahagia ia memasukkan satu persatu ke dalam kantong plastiknya.
"Yehh, kantong nya udah penuh. Padahal ini masih siang" tuturnya sambil bersorak riang, ia melompat-lompat disana hingga orang-orang memandang aneh padanya.
Ia kembali meneruskan jalannya,ia akan ke pengepul sampah untuk menjual sampah-sampah itu. Tempatnya tak jauh dari kolong jembatan, hanya saja tempatnya masih masuk ke dalam sebuah gang kecil.
Aca berdiri, melihat sampah-sampah itu mulai ditimbang oleh seorang laki-laki, lalu dia menghampiri Aca, laki-laki itu menghitung uang lusuh di tangannya.
"Nih, Ca!" ucap lelaki itu sambil menyerahkan dua uang berwarna hijau.
"Gue lebihin. Buat lo jajan" katanya sambil tersenyum pada Aca
"Makasih, Pakdhe" ia sedikit membungkukkan badannya sebagai rasa hormatnya, lalu pergi dari sana.
Di perjalanan pulang, langkahnya kembali terhenti di sebuah gerai lalapan, di data menu ada beberapa menu berbahan ayam, lele dan bebek. Aca mendekat hendak melihat harga.
"Mahal banget ayamnya" katanya sambil melihat pada salah satu menu ayam yang di hargai 15 ribu perporsi.
"Heh! ngapain kamu!" ucap seseorang di depan pintu gerai, ia melayangkan tatapan tajam pada Aca.
"Aku mau beli, Pakdhe" katanya karena sudah terlanjur ketangkep basah melihat menu, ia merasa takut dan tak enak jika tak membelinya.
"Halah! pakaian kamu aja lusuh kayak gitu, mana ada duit."
"Ada kok, Pakdhe" katanya sambil membeber uang dua puluh ribu.
"Paling juga hasil maling? iya kan. Udah sana! pergi dari warung saya" laki-laki itu menunjuk ke arah jalanan.
Dengan lesu Aca kembali melangkah,Kali ini langkahnya terhenti lagi. Ayam goreng lagi? pikirnya.tapi kini yang ada di depan matanya berbeda. Di depan kotak-kotak nasi itu ada sebuah papan yang bertulis bahwa itu gratis, beberapa orang juga mulai berdatangan mengantri.
Dengan semangat ia menghampirinya, antriannya belum panjang, diam-diam ia bersyukur dalam hati. dua-tiga orang berlalu sekarang gilirannya.
"Makasih ya, Bu" katanya sambil mengambil satu kotak nasi.
Sekarang ia akan pulang, menyerahkan uang yang ia dapat pada ibunya dan memakan ayam goreng gratis itu.
"Bu! ini uang nya" Aca memberikan penuh dua lembar uang berwarna hijau dengan tangan kanannya.
"Eh, apaan tuh?" ucap ibunya sambil menunjuk pada kotak nasi di tangan kiri Aca.
"Ini tadi di kasih, Bu. Pas banget aca Pengen ayam goreng dari tadi pagi" penjelasan Aca di sampaikan bocah itu dengan riang, senyum manis terbit di wajah nya.
"Tsk,enak banget lo! kenapa gue nggak lo ambilin?"
"Aca nggak tau kalau Ibu mau" senyumnya luntur berganti lesuh.
"Alesan lo. Yaudah ini buat gue aja! lagian habis ini gue beliin lo makanan" kata sang ibu.
"Tapi Aca pengen ayam goreng,Bu"
"Bodoh!" ia mengambil paksa nasi kotak dari genggaman sang anak.
"Wah! ayamnya besar banget. Kayaknya enak nih!" Ucap sang ibu sambil menoel-noel kepalan nasi berbentuk bulat.
Aca pergi, dia terduduk di atas kardus, matanya berkaca-kaca, ia lelah dan capek. tubuhnya meringkuk di atas kasur dengan air mata yang membasahi pipinya yang tirus.
Aca?. Dia hanya seorang anak kecil yang seharusnya di turuti permintaannya, dia hanya seorang anak kecil yang harusnya tinggal di rumah yang layak, yang seharusnya sekarang sedang duduk mendengarkan penjelasan guru.
Dia hanya seorang anak kecil yang ingin di belikan cokelat, ice cream, Snack dan mainan. Apakah itu semuanya salahnya? apa kelahirannya di dunia ini tidak akan seberuntung anak-anak lainnya? hanya perkara ayam goreng saja ia bahkan harus seberjuang ini dan hasilnya ia tetap tak bisa memakannya, apalagi tentang hak-hak nya yang lainnya. Apakah dia bisa memperjuangkan hak nya?
— by:cokelat_mnzz