"Ceraikan aku, Arion!" Suara melengking Alessia memecah hembusan AC dingin di ruang sidang yang mewah itu. Di sekelilingnya, kilatan lampu kamera wartawan dan bisikan pengacara bagai simfoni neraka. Aku, yang semula seorang penulis naskah romansa fantasi bernama Elena, kini hanya bisa bergetar dalam wujud sehelai selendang sutra berwarna merah marun, melingkar erat di leher jenjang Alessia. Aroma parfum mawar dan vanila dari tubuhnya menyesakkan indra 'penciumanku' yang entah bagaimana masih berfungsi.
Ya, kalian tidak salah baca. Aku bukan menjadi karakter utama wanita yang kuat, mandiri, atau bahkan seorang villainess yang elegan. Aku hanya selendang. Selendang sutra yang, sialnya, diciptakan Alessia, karakter femme fatale dalam draf naskahku sendiri, untuk satu tujuan: menggoda CEO dingin dan kejam bernama Arion Valerius, suaminya. Dan seperti yang kutulis, pada akhirnya Alessia akan jatuh ke dalam jurang penyesalan mendalam. Aku harus menghentikan itu.
"Ceraikan kau?" Arion Valerius, pria dengan tatapan mata elang dan rahang kokoh yang selalu membuat pembaca menjerit-jerit di forum diskusi, menyeringai sinis. Jas hitam tanpa cela membungkus tubuh atletisnya. "Apa yang membuatmu berpikir aku akan melepaskan harta berhargaku semudah itu, Sayang?"
Kata 'sayang' itu terdengar bagai racun yang disuntikkan ke udara. Alessia mendengus, jemarinya meremas kain sutra di lehernya—tubuh baruku. Aku merasa dunia berputar. Emosi batin Alessia, yang seharusnya hanya kutuliskan di atas kertas, kini terasa nyata bagiku: campur aduk antara amarah, ketakutan, dan secercah harapan palsu yang ia sembunyikan rapat-rapat.
"Harta berharga?" Alessia tertawa hambar. "Sejak kapan kau menganggapku lebih dari sekadar pajangan yang bisa kau pamerkan? Atau mungkin, boneka yang bisa kau permainkan?"
Pengacara Arion, seorang pria paruh baya berkacamata tebal, berdeham. "Nona Alessia, sesuai perjanjian pra-nikah, perceraian hanya bisa diajukan jika..."
"Aku tahu, aku tahu!" potong Alessia tajam, matanya menatap nyalang ke arah Arion. "Aku harus membuktikan bahwa dia berselingkuh, bukan? Baiklah. Kalau begitu, aku akan mengatakannya sekarang. Arion Valerius, CEO Valerius Group, telah berselingkuh dengan sekretaris pribadinya, Nona Evelyn Chase, selama enam bulan terakhir!"
Ruang sidang hening sejenak, sebelum riuh rendah bisikan dan jepretan kamera kembali memekakkan telinga. Aku tahu detail ini. Aku yang menulisnya! Tapi melihatnya terucap langsung dari bibir Alessia, dengan tatapan Arion yang sedingin es, entah kenapa terasa berbeda. Lebih menyakitkan.
Arion tidak bergeming. Hanya senyum tipis yang semakin tipis di sudut bibirnya. "Bukti? Apa kau punya bukti, Alessia? Atau ini hanya trik murahanmu untuk menarik perhatian media?"
"Tentu saja aku punya!" Alessia merogoh tas tangannya, mengeluarkan sebuah amplop tebal. "Semua foto, screenshot chat, dan rekaman percakapan mereka ada di sini. Kau tidak bisa mengelak lagi, Arion!"
Napas Alessia memburu. Aku, sebagai selendang, merasakan setiap degup jantungnya yang berdebar kencang. Aku tahu apa yang akan terjadi selanjutnya dalam alur ceritaku. Arion akan membantah, Alessia akan histeris, dan pengadilan akan menunda sidang untuk pemeriksaan bukti. Tapi ini bukan lagi tulisan di laptopku. Ini adalah kenyataan. Dan aku harus mencegahnya berakhir tragis.
Saat Arion meraih amplop itu dengan tatapan tak terbaca, aku merasakan ada sesuatu yang harus kulakukan. Sebagai selendang, aku tidak punya tangan, kaki, atau suara. Aku hanya kain. Tapi, tunggu. Bukankah selendang ini selalu dipakai Alessia untuk... menggoda?
Ide gila muncul di benakku. Aku mengingat detail yang kutulis: selendang ini terbuat dari sutra khusus yang, jika disentuh dengan niat tertentu, bisa sedikit memancarkan kehangatan atau sensasi lembut. Itu adalah detail kecil yang kutambahkan agar Alessia bisa terlihat lebih 'memikat' saat berinteraksi dengan Arion.
Dengan segenap 'kekuatan' yang kumiliki, aku mencoba berkonsentrasi. Aku memfokuskan semua 'energiku' untuk memancarkan sensasi hangat dan sedikit bergesekan dengan kulit leher Alessia. Tujuanku? Membuatnya sedikit terdistraksi, atau setidaknya, memberi waktu untuk berpikir.
Alessia sedikit tersentak. Tangannya spontan menyentuh selendangku. Matanya melirik ke bawah, lalu kembali menatap Arion. Seulas keraguan melintas di wajahnya yang biasanya tegar.
Arion mengangkat sebelah alisnya. "Apa yang kau lakukan? Apakah selendangmu tiba-tiba berbicara padamu, Alessia?" sindirnya.
Alessia mendengus. "Bukan urusanmu!" Namun, saat dia menatap Arion lagi, tatapannya tidak lagi seganas sebelumnya. Ada sedikit bimbang. Aku tahu betul tatapan itu. Itu adalah tatapan seorang wanita yang sebenarnya masih mencintai, namun terlalu terluka untuk mengakuinya.
Ini dia konflik batinnya! Aku harus mempermainkan emosi ini.
"Bagaimana jika semua bukti ini hanya rekayasa?" Arion menjatuhkan amplop itu ke meja. Suaranya rendah dan mengancam, namun ada kilatan aneh di matanya yang tak luput dari perhatianku (dan mata pembaca yang kubayangkan). "Apa kau benar-benar ingin menghancurkan apa yang kita miliki, Alessia?"
"Menghancurkan?" Alessia tertawa pahit. "Kau yang menghancurkannya! Kau yang berselingkuh! Kau yang..."
Aku, si selendang, kembali beraksi. Kali ini, aku mencoba sedikit melonggar, seolah Alessia baru saja menarik napas panjang. Aku juga berusaha memancarkan sedikit sensasi dingin, kontras dengan kehangatan tadi, untuk menciptakan kebingungan sensorik. Tujuannya? Memberi jeda, memaksa Alessia untuk fokus pada sensasi di lehernya alih-alih pada amarahnya yang membara.
Alessia terdiam. Tangannya mengusap-usap lehernya, seolah ada serangga yang hinggap. Matanya menyipit, menatap Arion dengan lebih saksama. Mungkin dia merasa ada yang aneh pada dirinya sendiri.
"Apa yang kau pikirkan, Alessia?" Arion berdiri, berjalan mendekat ke arahnya. Wajahnya menunjukkan ekspresi yang jarang kulihat dalam naskah: campuran antara kemarahan, frustrasi, dan... kerinduan?
Aku tahu persis apa yang kurasakan. Inilah yang kuharapkan. Bahwa, entah bagaimana, keberadaanku sebagai selendang bisa memanipulasi situasi kecil. Bukan secara ajaib, tapi secara fisik. Sentuhan lembut atau gesekan tiba-tiba, bisa mengubah fokus emosional seseorang.
Ini seperti kusebutkan dalam naskahku: selendang ini selalu hadir dalam momen-momen penting mereka. Selendang ini adalah saksi bisu. Dan sekarang, aku adalah saksi bisu yang hidup.
"Aku..." Alessia menelan ludah, suaranya sedikit tercekat. Dia mendongak, matanya bertemu langsung dengan mata Arion. Ada percikan aneh di antara mereka. Percikan yang dulu, sebagai penulis, selalu kurasakan setiap kali menulis adegan mereka.
Arion membungkuk sedikit, suaranya kini pelan, nyaris berbisik, hanya cukup terdengar oleh Alessia dan... aku, sang selendang. "Apa kau yakin semua ini adalah yang kau inginkan? Menghancurkan kita berdua?"
"Kau yang menghancurkannya!" Alessia kembali menegaskan, namun kali ini nadanya lebih lemah. "Kau yang melanggar janji!"
Tiba-tiba, Arion mengulurkan tangannya, dan tanpa terduga, dia meraih selendangku. Jemarinya yang panjang dan kuat menyentuh kain sutra, menarikku sedikit ke depan. Aku merasa seperti akan tercekik!
"Selendang ini," desis Arion, tatapannya tajam menembus kainku, seolah dia tahu ada sesuatu yang tersembunyi di dalamnya. Aku menahan 'napas.' "Kau selalu memakainya saat ingin terlihat paling memikat. Saat ingin mendapatkan sesuatu dariku. Dan sekarang, kau memakainya di sini, di pengadilan perceraian kita. Apa artinya ini, Alessia?"
Pertanyaan Arion menohok. Aku tahu itu. Alessia selalu memakai selendang ini untuk menunjukkan dominasi dan daya pikatnya. Tapi dia memakainya di hari perceraiannya? Itu adalah ironi yang kusembunyikan dalam ceritaku. Ironi yang kini Arion manfaatkan.
Alessia terdiam, wajahnya memucat. Dia tidak punya jawaban. Bahkan aku, yang menulis karakter ini, tidak menyangka bahwa Arion akan menggunakan "detail" selendang ini sebagai senjata.
"Jawab aku, Alessia!" Arion mengancam, suaranya meninggi. "Apa ini hanya permainanmu lagi? Permainan untuk membuatku cemburu? Untuk membuatku mengejarmu?"
Alessia tersentak. Matanya membelalak. Kata-kata Arion seperti membuka gembok dalam hatinya. Gembok yang menahan semua emosi terpendam. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.
Ini dia! Konflik batin yang kuat. Arion selalu tahu cara memprovokasi Alessia. Dan kali ini, di tengah pengadilan yang penuh sorotan, provokasi itu berhasil menembus pertahanannya.
Aku, sebagai selendang, merasakan setiap getaran emosi yang melanda Alessia. Rasa sakit, penyesalan, dan keraguan. Dia tidak hanya ingin cerai. Dia ingin Arion mengejarnya. Dia ingin Arion peduli.
"Aku... aku hanya..." Alessia tergagap. Dia tidak bisa melanjutkan. Tangannya gemetar.
"Hanya apa?" Arion mendekat lagi, bibirnya nyaris menyentuh telinga Alessia. "Hanya ingin aku berjuang untukmu? Apakah kau ingin aku mengatakan bahwa aku tidak berselingkuh? Bahwa Evelyn hanyalah umpan untuk melihat reaksimu?"
Deg! Jantung Alessia berdegup kencang. Dan aku, selendangnya, juga ikut merasakan sensasi kejutan itu. Umpan? Jadi perselingkuhan itu... hanya akting? Aku tidak menulis ini! Arionku tidak serumit ini!
Pandangan Alessia beralih dari Arion, lalu jatuh pada selendang di lehernya—padaku. Seolah dia mencari jawaban padaku. Aku merasa 'terpanggil.'
Aku harus melakukan sesuatu. Jika perselingkuhan itu hanya umpan, maka dia tidak akan berakhir tragis seperti yang kutulis. Tapi... apa buktinya? Apa yang bisa kulakukan sebagai selendang?
Aku memutar 'otakku.' Selendang ini adalah bagian dari gaya Alessia. Gaya yang menggoda. Gaya yang... menunjukkan sesuatu.
Aku mengumpulkan 'kekuatan' terakhirku. Aku mencoba memancarkan sensasi sedikit tarikan, seolah-olah Alessia harus mendekat, harus mendengarkan. Aku juga membuat diriku sedikit bergeser, memperlihatkan sedikit kerah kemeja Arion yang putih bersih di balik jasnya.
Ini ide gila. Tapi apa salahnya mencoba?
Alessia melihatku bergeser. Dia melihat kerah kemeja Arion. Dan entah kenapa, tatapannya terpaku pada sebuah bercak kecil berwarna merah samar di sana. Sebuah bercak yang, jika dilihat sepintas, bisa disalahartikan sebagai lipstik.
"Itu..." gumam Alessia, menunjuk ke arah kerah Arion.
Arion mengikuti arah pandang Alessia. Senyumnya menghilang. Wajahnya mengeras. "Apa?"
"Apa itu?" Alessia mengulangi, suaranya penuh tuduhan. Air mata yang sempat tertahan kembali menetes. "Kau bilang itu umpan! Tapi apa ini?! Bukankah ini bukti lain dari pengkhianatanmu?!"
Aku terkesiap. Tidak! Bukan ini yang kumaksud! Bercak itu... itu adalah noda dari kopi yang tumpah saat aku, sebagai Elena, terburu-buru menulis adegan Arion di kafe kemarin malam! Aku tidak menyadari bahwa detail kecil itu akan ikut terbawa ke dalam duniaku!
Arion menunduk, melihat bercak merah samar di kerah kemejanya. Ia menatap Alessia, lalu kembali ke bercak itu, dan kemudian ke arah selendangku. Di matanya, aku melihat sebuah pemahaman yang dingin dan menusuk. Pemahaman bahwa "selendang" ini adalah saksi bisu dari semua kebohongan dan rahasia.
"Alessia, dengarkan aku," Arion mencoba meraih tangannya, tapi Alessia menepis.
"Tidak ada lagi yang perlu kudengar!" teriak Alessia, suaranya pecah. "Aku tahu kau bohong! Selalu bohong! Kau bilang Evelyn hanya umpan, tapi ini... ini adalah bukti nyata!"
Arion menghela napas berat, menatapku, sang selendang, dengan pandangan penuh penyesalan. Aku bisa merasakan emosinya. Kekesalan. Kekecewaan. Bukan pada Alessia, tapi pada dirinya sendiri. Dan mungkin... padaku?
Aku, Elena, yang kini terperangkap dalam selendang, merasakan kepanikan yang luar biasa. Rencanaku untuk menyelamatkan Alessia justru memperburuk keadaan! Bercak kopi yang tidak sengaja kubuat kini menjadi bukti "perselingkuhan" Arion yang memperparah situasi. Aku telah membuat segalanya lebih buruk.
Pandangan Arion tertuju padaku, seolah dia tahu segalanya. Seolah dia melihat diriku yang asli di balik kain sutra ini.
"Sidang ditunda," kata hakim, membanting palu.
Alessia berlari keluar ruang sidang, menangis tersedu-sedu, dan aku ikut terseret bersamanya. Arion hanya berdiri di sana, menatap nanar ke arahku. Penyesalan? Ya. Tapi bukan hanya penyesalan Alessia. Penyesalanku juga. Aku telah membuat karakter utamaku menderita karena kesalahan konyolku sendiri.
Bagaimana aku bisa memperbaiki ini? Bagaimana aku bisa menyelamatkan Alessia dari takdir tragis yang kini semakin dekat, karena kesalahanku sendiri?