Sore yang cerah di satu sudut pegunungan di wilayah kerajaan Khatan. Yanhe memacu kudanya menuruni perbukitan lebih cepat dari biasanya.
Beberapa menit lalu, Ia mendapat kabar kondisi kesehatan ayahnya La Barra, Raja Khatan tiba-tiba memburuk. Yanhe yang tengah melatih bela diri di Perguruan Wilan bergegas meninggalkan padepokan.
Gurat cemas terlihat jelas di wajahnya. Dengan terengah, ia berlari menuju kamar dimana Raja berbaring lemah.
"Ayah, " serunya sambil bersimpuh disisi ranjang menggenggam tangan keriput yang penuh luka perang itu.
"Reaksi racunnya makin kuat dengan kondisi tubuhnya yang kian renta Yanhe, " ujar Wa Maya sang ibunda.
"Yanhe, Kamu harus segera menikah, tapi..hanya dengan bangsawan."
"Tapi Bu, aku hanya---"
"Yanhe..." Barra memanggil putrinya lirih.
Yanhe mendekatkan telinganya pada bibir sang Ayah.
"Aku disini ayah, katakanlah. "
"Donge.. menikahlah.. dengannya, Nak."
"Donge? " tanya Yanhe menatap sang ibu tak percaya.
Yanhe tau, Donge selalu berambisi menguasai tahta untuk kepentingannya sendiri. Bukan tulus mencintainya atau peduli pada rakyat.
"Ja Malic rakyat jelata, Yanhe. Dia tidak bisa menikah denganmu. Ibu sudah siapkan semua, besok kamu menikah dengan Donge."
Malam itu, Yanhe diselimuti kesedihan mendalam karena patah hati. Ia mengambil secarik kertas menulis pesan untuk Ja Malic
Malicku sayang.. Maafkan aku tak mampu memenuhi janji kita sehidup semati. Aku harus menikah dengan pria pilihan ayah dan ibuku.
Malicku sayang.. carilah wanita lain yang akan menemanimu hingga hari tua. Lupakan lah aku. Aku selalu mengharapkan kebahagiaan untukmu.
Cintamu - Yanhe
Malic meremas surat yang di antar merpatinya beberapa lalu. Manik matanya bergetar, menahan kesedihan karena putus cinta.
Ia bergegas menunggang kudanya. Melaju menerobos ranting dan semak menuruni bukit menuju istana.
Derap langkah kuda jantannya beriringan dengan jubah yang berkibar. Melompati kubangan, batang pohon melintang, dan meninggalkan jejak dalam di tanah hutan.
Setelah melewati banyak rintangan alam, akhirnya Malic sampai di sisi samping benteng istana yang kokoh.
Yanhe pernah memberitahunya pintu rahasia di samping benteng melalui lorong sempit ke arah bawah tanah yang terhubung dengan taman belakang istana.
KRIEEK..
Derit pintu yang tertutup tanaman merambat terdengar halus. Dalam gelap, Malic menyusuri lorong itu hingga menemukan pintu lain di ujung lorong. Tanaman rambat yang menutupi lorong disibak, tampak berbagai macam jenis bunga tumbuh disana.
Malic mengendap, bersembunyi di balik celah dinding hingga sampai ke bawah jendela kamar Yanhe.
"Kuurr.. Kuurr.. "
"Malic??" gumam Yanhe lirih.
Yanhe membuka jendelanya perlahan, mengintip ke arah bawah. Senyum menyabit di bibirnya, melihat kepala Malic yang menyembul. Jendela terbuka lebih lebar.
Hap!!
Meski posisi jendela cukup tinggi, tapi lompatan itu nampak mudah bagi ahli bela diri seperti Malic. Mereka berpelukan.
"Malic.. maaf, aku--"
Malic melepas pelukannya menatap Yanhe--sendu.
"Cinta tak harus bersama Yanhe. Aku akan setia menjaga cintaku meski harus hidup melajang, " gumam Malic lirih.
Bulir air meluncur lembut di pipi Yanhe. Meski ia tak rela Malic mengambil keputusan itu, tapi Yanhe hanya bisa terdiam memeluk erat cinta pertama dan sejatinya.
Malam kian larut, rintik hujan di balik jendela membawa hawa dingin masuk ke kamar Yanhe. Namun, dua sejoli yang akan berpisah jasad itu berbagi kehangatan di atas ranjang mewah dalam kelambu.
KEESOKAN HARINYA
Yanhe terbangun dengan mata sembab, semalam ia menangis tersedu dipelukan Malic. Sisi ranjang sudah dingin sejak tadi, ia melihat secarik kertas di atas bantal.
Aku pergi sayang, tapi cintaku takkan mati untukmu.
Aku dengar prajurit kerajaan shine sedang bermalam di pegunungan Mara. Aku akan mendukungmu melawan serangan mereka.
Cintamu-Malic
Yanhe tersenyum.
Ketukan pintu pelayan mengejutkannya. Buru-buru ia sembunyikan kertas itu di genggaman tangannya.
Pernikahan berlangsung megah di aula istana. Para bangsawan duduk berbaris di sisi kanan singgasana dan para menteri kerajaan di sisi kirinya.
Raja La Barre dan Ratu Wa Maya duduk di singgasana mereka. Menyaksikan pernikahan Wa Donge dan La Yanhe yang mengucap ikrar pernikahan di hadapan tokoh keyakinan.
Saat itu juga, gelar raja diturunkan. Yanhe dinobatkan menjadi ratu pengganti sang ayah.
Donge dan Yanhe berjalan menuju balkon istana. Riuh tepuk tangan dan sorakan syukur rakyat yang berbahagia di luar istana. Menyambut suka cita dengan di angkatnya penguasa Kerajaan Khatan yang baru
Donge mendongak jumawa, sedang Yanhe tersenyum dingin menatap ke arah pegunungan dimana musuh mulai bergerak.
Setelah acara pernikahan dan penobatan ratu, Yanhe mengumpulkan semua menteri di ruang pertemuan.
"Ratu, prajurit Shine sudah mulai meninggalkan pegunungan Mara. Mereka semakin dekat dengan wilayah kita. Sebaiknya kita bergerak cepat mengumpulkan prajurit dan menempatkan mereka untuk membantu prajurit di perbatasan, " ujar Menteri Pertahanan.
"Tak hanya itu Ratu, kita harus segera mengumpulkan makanan, air bersih dan obat-obatan untuk persediaan, " tambah sekretaris kerajaan.
"Kebutuhan persenjataan masih kurang ratu, kita harus meminta pemandai besi untuk menyiapkan persenjataan baru, " timpal menteri perang.
"Baik, aku setuju dengan pendapat kalian. Catat semua titahku, beritahu pada rakyat kita."
Seorang laki-laki juru bicara istana berjalan menuju titik kumpul di pasar.
TENG.. TENG.. TENG
Warga mendekat ke arah suara.
"PERHATIAAN!! "
"Aku akan bacakan titah Ratu, Kalian dengarkan baik-baik."
"Rakyat Khatan yang ku cintai. Berkenaan dengan serangan yang akan datang sebentar lagi. Maka, aku perintahkan."
"Semua rumah wajib mengumpulkan persediaan makanan dan air bersih, mendata keluarga untuk melihat ketersediaan bunker, mendaftarkan pemuda dan pemudi untuk dilatih sebagai tim pemanah dan relawan kesehatan."
"Tetap tenang, tapi juga harus bersedia dan waspada. Persatuan kita akan menjadi kekuatan musuh yang ingin merebut tambang emas leluhur kita. Aku akan berdiri paling depan menghadapi mereka, maka dukung aku agar kerajaan ini tetap tegak berdiri di tanahnya."
Semua warga yang berkumpul mengangguk mengerti dan membubarkan diri. Mereka tak terlalu cemas karena selalu ada kerajaan lain yang ingin merebut tanah mereka. Mereka sudah terbiasa dan ini akan menjadi peperangan mereka dibawah komando Ratu baru.
Donge ke ruangan kerja Yanhe dengan langkah cepat.
"Istriku, ijinkan aku menemui Panglima kerajaan shine di perbatasan. Aku akan bernegosiasi dengan mereka. "
"Kenapa? Kau takut? "
"Bukan, aku hanya merasa.. perang terlalu banyak menghabiskan uang. Kalau berhasil dengan jalur diplomasi kenapa harus berperang? "
"Donge, kau tak mengenali musuhmu. Kerajaan Shine hanya bisa dihadapi dengan peperangan, percuma cara negosiasi itu. Menghabiskan banyak waktu. Lagipula, tak pernah ada hasil negosiasi yang adil jika menyangkut tambang emas."
Donge terlihat kesal, ia pikir akan menikahi wanita penurut dan lembut.
'Aku harus memikirkan cara lain, ' batinnya.
Dua minggu kemudian, Yanhe berdiri di lapangan rumput bersiap melatih dua ratus pemuda untuk dijadikan tim pemanah. Ibunya mengumpulkan pemudi di aula kecil untuk dilatih sebagai tim medis. Beberapa prajurit tengah mengumpulkan makanan kering dari rakyat untuk disimpan dalam bunker.
Semua bersiap menghadang musuh, begitu juga dengan Ja Malic. Ia mengundang semua pemimpin perguruan untuk bersatu membantu kerajaan. Menempatkan beberapa murid perguruan untuk ditugaskan sebagai mata- mata dan tim senyap di titik strategis.
"Malic, ku dengar mereka membawa alat raksasa untuk melempar batu dan bola panas. Sebaiknya beritahu ratu untuk bersiap," ujar Leon pemimpin Perguruan Wangsa.
Malic mengangguk, lalu mengambil kertas menulis pesan dan menyelipkannya di kaki merpati kesayangannya. Burung itu terbang cepat, menembus awan menuju balkon istana tepat di ruang kerja Ratu.
Yanhe yang tengah menatap para prajurit yang bekerja mengumpulkan persenjataan dari atas balkon menghampiri merpati Malic yang bertengger di pagar balkon.
Sayangku.. musuh membawa Trebuchet. Persiapkan diri untuk menghadang serangan. Malic_
"Trebuchet?? " gumamnya lirih, rahangnya mengeras.
Dua bulan berlalu, panglima kerajaan shine yang memimpin prajurit mereka sudah mulai menyerang daerah perbatasan Khatan.
TRANG!!
WUZZ!!
TRANG!!
Adu pedang, tak terelak. Tim senyap Malic bergerak lihai di tengah perang dengan senjata tak terlihat di tubuh mereka.
Pufft!!
"Aa--"
Sekali tiup, satu prajurit tumbang dengan jarum kecil di lehernya.
"Hmmmph---"
KREEK!!
Gerakan mereka cepat dan terukur, tapi prajurit musuh terlalu banyak. Mereka kewalahan.
"Ratu, perbatasan kita sudah berhasil mereka kuasai. Sebaiknya kita bersiap, " ujar mata-mata Malic.
"Ratu.. ratu.. peta kerajaan hilang. Yang mulia Donge terlihat membawa sekelompok prajurit meninggalkan istana lewat jalan rahasia."
"Brengsek, rupanya dia membelot."
"Minta Malic berjaga di pintu rahasia, " bisik Yanhe pada mata-mata itu.
Yanhe menarik nafas panjang, rahangnya mengeras hingga terdengar gemertak gigi yang bertabrakan.
Rakyat sudah di evakuasi ke bunker yang mereka bangun. Persediaan makanan dan obat-obatan juga tersimpan aman disana.
Prajurit pemanah bersiap diatas benteng yang penuh dengan karung jerami yang melapisi dinding benteng menghadang serangan trebuchet. Mereka juga akan memanfaatkan bantalan karung itu untung mengumpulkan anak panah musuh.
Tak perlu waktu lama, bermodal peta kerajaan yang di berikan Donge, pasukan musuh berhasil menembus penjagaan dan mulai menyerang luar benteng.
Panah ditembak, serangan trebuchet dimulai dari arah lain. Serangan balasan menghujam dari anak panah didalam benteng.
BOOM
Serangan tiga trebuchet menghantam benteng. Prajurit Khatan panik. Banyak yang terluka. Terinjak dan terkena panah, tapi benteng masih kokoh.
"Ratu Yanhe, pasukanmu sudah kalah!" teriak Panglima Besi dari pasukan penyerang, suaranya menggelegar di tengah gemuruh pertempuran.
"Menyerah saja! Trebuchet kami akan menghancurkan gerbangmu!"
Ratu Yanhe, dengan rambut hitam panjangnya yang berkibar tertiup angin dan baju zirah perangnya yang gagah, berdiri teguh di atas tembok benteng.
Ia melihat ke bawah, menyaksikan pasukannya yang semakin terdesak. Namun, di matanya tidak ada keputusasaan.
"Tidak akan!" balasnya, suaranya jelas dan lantang.
"Yanhe tidak akan pernah menyerah!"
Tiga trebuchet raksasa lawan sudah siap menembakkan proyektil mereka ke gerbang utama.
Detik-detik terasa begitu lambat, ketegangan mencekam di udara. Tiba-tiba, dari arah belakang formasi musuh, terdengar ledakan keras diikuti kobaran api. Salah satu trebuchet ambruk, hancur berkeping-keping.
Panglima Besi terkejut, begitu juga Ratu Yanhe.
"Siapa yang berani melakukan ini?" tanya Yanhe.
"Itu Malic!" seru seorang prajurit dari samping Ratu Yanhe, suaranya penuh kekaguman.
"Dia dan timnya berhasil menyusup!"
Malic, bersama rekan seperguruannya, telah memanfaatkan informasi rahasia tentang titik lemah trebuchet yang mereka dapatkan dari mata-mata.
Dengan gerakan cepat dan terkoordinasi, mereka berhasil melumpuhkan satu per satu senjata pengepungan musuh.
Dua trebuchet lainnya menyusul ambruk dalam waktu singkat. Pasukan Panglima Besi panik, moral mereka runtuh. Ratu Yanhe melihat kesempatan itu.
"Kita balikkan keadaan! SERAANG!!" perintahnya, menghunus pedang.
Pasukan Yanhe yang tadinya bertahan kini menyerbu keluar gerbang, semangat mereka membara setelah melihat keberhasilan Malic. Pertempuran berkecamuk kembali, namun kali ini dengan Yanhe yang memegang kendali.
Panglima Besi, yang terkejut dan marah, tidak bisa berbuat apa-apa selain menyaksikan pasukannya kocar-kacir. Kemenangan yang tadinya sudah di depan mata, kini direbut kembali.
Malic ingin kembali ke dalam benteng, naas seorang pemanah bertopeng menembakkan anak panah. Tubuhnya terhuyung, panah beracun menancap di punggungnya. Ia merintih kesakitan, namun matanya masih tertuju pada Yanhe.
Sebuah panah kedua melesat, mengarah tepat ke jantung sang Ratu.
"Yanhe, awas!"
Malic berseru, sekuat tenaga ia melompat, menjadikan tubuhnya tameng.
Ctakk!
Panah menembus jantungnya. Malic ambruk, matanya menatap Yanhe dengan cinta terakhir.
Yanhe terkejut, berteriak histeris melihat kekasihnya tewas. Kemarahan membakar jiwanya. Ia melihat si pemanah bertopeng yang kini mencoba melarikan diri. Dengan kecepatan kilat, Yanhe mengejar.
Pedangnya berkelebat.
Sring!
Bysshh!
Leher si pemanah tertebas. Darah menyembur deras. Topeng itu jatuh, memperlihatkan wajah Donge, suaminya yang telah membelot. Yanhe terkesiap, dunianya runtuh.
"Kau benar-benar pengkhianat Donge, bahkan aku istrimu menjadi sasaranmu."
Asap hitam sisa peperangan masih membumbung saat para prajurit yang kelelahan mulai menarik jasad-jasad dari lumpur darah. Di hadapan sebuah liang lahat raksasa yang menampung kawan maupun lawan, Yanhe berdiri dengan jubah yang koyak.
"Lihatlah!
Suara Yanhe bergetar namun tegas.
"Tanah ini meminum darah anak-anak bangsa hanya karena ambisi penguasa. Kerajaan bisa sejahtera dengan perdagangan dan ilmu, bukan dengan pedang. Biarlah ini menjadi pengorbanan terakhir."
Namun, saat ia melangkah ke pusara Malic yang tertutup bunga liar, pertahanannya runtuh.
"Malic... kau berjanji untuk tetap hidup," bisiknya sebelum dunianya gelap dan ia jatuh pingsan di pelukan pengawal.
Tiga hari kemudian, Yanhe terbangun di peraduannya. Tabib tua membungkuk dalam.
"Yang Mulia... ada nyawa kecil yang tumbuh di rahimmu. Anda sedang mengandung."
Kabar itu menyulut api di ruang sidang. Para menteri berteriak gaduh.
"Kita tidak bisa membiarkan darah pengkhianat Donge memimpin Khatan!" seru Menteri Pertahanan dengan wajah merah padam.
Yanhe masuk ke ruang sidang dengan langkah anggun namun mematikan.
"Hentikan ocehan kalian! Janin ini bukan darah daging Donge. Aku tak pernah membiarkan laki-laki itu menyentuhku. Ini adalah putra Malic, pahlawan yang menyelamatkan benteng kita!"
Keheningan mencekam menyelimuti ruangan. Setelah perdebatan panjang, para menteri akhirnya berlutut.
"Jika itu darah sang penyelamat, maka kami tunduk."
Hari itu, sebuah dekret dikeluarkan.
Malic secara resmi dinobatkan sebagai Pahlawan Agung dan diakui sebagai Suami Ratu secara anumerta. Janin yang dikandung Yanhe resmi menjadi pewaris takhta, simbol kemenangan cinta atas pengkhianatan.
Event menulis cerpen GC Rumah Menulis