Di sebuah sudut mewah apartemen Jakarta bagian selatan, aroma hio dibakar seorang perempuan Tionghoa paruh baya bernama Maya. Setiap pagi hio dibakar dan bertarung dengan aroma tajam minyak pijat impor dan parfum mahal seharga jutaan rupiah. Liem Bun Pin, atau yang dunia kenal sebagai Bima, berdiri telanjang di depan cermin raksasa. Ia tidak melihat manusia di sana; ia melihat sebuah mahakarya. Badannya terpahat baik meski usianya tak muda lagi.
Bima adalah representasi dari ambisi keturunan Tionghoa yang lapar. Sejak kecil, ayahnya—seorang penjudi kelas teri di pesisir—selalu berpesan: "Liem, di dunia ini cuma ada dua jenis orang: yang menginjak dan yang diinjak. Kalau lu nggak punya duit, lu cuma debu." Bima tidak mau jadi debu. Ia membentuk tubuhnya di gym selama lima jam sehari, menyuntikkan suplemen terbaik, dan memoles kulitnya hingga berkilau.
Otot dadanya yang bidang ditumbuhi bulu-bulu halus yang sengaja ia tumbuhkan. Ia tahu, di mata klien-kliennya, bulu dada itu adalah simbol maskulinitas yang bisa dijual mahal. Bima adalah "ATM hidup" bagi dirinya sendiri. Ia gila kerja, gila uang, dan diam-diam, gila akan dipuja-puji alias veyorisme.
"Koko, sarapan dulu. Aku buatkan mienya," suara Maya alias Tan Mei Lan memecah keheningan.
Maya adalah wanita yang sabar, yang kulitnya masih menyisakan bekas luka bakar kecil dari masa-masa mereka berjualan gorengan di pinggir jalan demi membayar cicilan motor pertama Bima. Tapi bagi Bima yang sekarang, Maya adalah sisa masa lalu yang membosankan. Maya adalah pengingat akan kemiskinan, dan Bima ingin membunuh kenangan itu.
"Taruh aja di sana. Gue mau ada janji sama klien gede," jawab Bima tanpa menoleh. Ia sedang asyik merekam video TikTok, menggoyangkan pinggulnya secara nakal bahkan terkesan erotis, memamerkan otot perutnya yang keras bak roti sobek, lalu mengedipkan mata—sebuah umpan digital yang ia tahu akan segera disambar oleh predator-predator berdompet tebal agar tertarik.
Pertemuan pertama dengan Adrian alias ok Lay terjadi di sebuah restoran privat nan mahal di PIK, yang menyajikan menu babi guling dan arak Moutai kelas atas. Adrian adalah sosok "Naga" sejati. Ia tumbuh di Medan, berkelahi demi sesuap nasi, hingga kini menguasai jaringan judi online di Kamboja.
Awalnya, Bima hanya datang untuk memijat. Adrian bersikap sangat sopan. "Liem, badan lu ini investasi. Gue butuh orang yang bisa dipercaya buat jaga kebugaran gue," ujar Adrian sambil menyelipkan amplop berisi sepuluh juta rupiah sebagai tips pertemuan pertama.
Bima terpesona. Adrian adalah cermin dari apa yang Bima inginkan: Kekuatan absolut tanpa batas.
Pertemuan demi pertemuan berlalu. Bima mulai sering diajak minum arak bersama. Di bawah pengaruh alkohol, Adrian mulai menyentuh Bima, yang awalnya hanya tepukan di bahu, lalu remasan di otot lengan.
"Bim, lu tahu kenapa babi itu enak? Karena dia makan apa aja, bahkan taunya sendiri dan nggak banyak tanya," ujar Adrian suatu malam sambil tertawa parau. "Lu mau jadi babi yang kenyang, atau naga yang lapar?"
Bima memilih menjadi babi yang kenyang. Ia mulai menerima tawaran Adrian untuk melakukan "servis lebih". Ia mulai menikmati limbah kenikmatan itu. Uang mengalir deras. Bima membelikan Maya perhiasan mahal hanya untuk membungkam mulut istrinya agar tidak bertanya kenapa ia jarang pulang. Bima merasa ia telah menaklukkan sang Naga, padahal ia hanya sedang disuapi sebelum disembelih.
Malam itu,ibukota diguyur hujan lebat. Bima datang ke griya tawang Adrian dengan gaya sombongnya yang biasa ddipamerkan. Ia mengira ini hanyalah malam rutin lainnya di mana ia akan melayani Adrian dan pulang membawa tas berisi dollar yang tebal.
"Minum dulu, Bim. Ini arak spesial dari Jepang," Adrian menyodorkan gelas keramik kecil.
Bima meminumnya. Rasa arak itu lebih pahit dari biasanya, dengan aroma obat yang tajam. Tak butuh waktu lama bagi Bima untuk menyadari ada yang salah. Kakinya mendadak seperti kapas. Ia mencoba berdiri, tapi otot-otot yang ia banggakan itu mengkhianatinya. Ia ambruk di atas permadani mahal.
"Hok... Lay... apa ini?" rintih Bima.
Adrian berdiri, wajahnya tidak lagi ramah. Ia menatap Bima seperti menatap sepotong daging di pasar. "Lu terlalu sombong, Liem. Lu pikir lu bisa mainin gue? Lu pikir duit yang gue kasih itu cuma buat mijat badan lu?"
Adrian memerhatikan kondisi sekitar. Aman. Malam itu, Bima dihancurkan. Segala bentuk maskulinitas yang ia agungkan dicabik-cabik. Ia diperkosa secara brutal. Penetrasi tanpa pelindung dilakukan berkali-kali, disertai penghinaan atas latar belakangnya. Bima, sang Alpha, kini hanya menjadi onggokan daging yang merintih di bawah kaki-kaki pria-pria itu.
"Selamat, Bim. Lu baru aja tanda tangan kontrak jadi budak seks di Poipet," bisik Adrian sambil mengelus-elus wajah Bima yang kelelahan.
Esok paginya, Bima terbangun dengan rasa sakit yang tak terbayangkan. Ia menemukan dirinya sendirian, tubuhnya penuh memar dan cairan yang mengering. Ia menyeret dirinya ke kamar mandi, menangis di bawah pancuran air panas sambil menggosok kulitnya hingga berdarah.
Ketakutan terbesar menggerogoti jiwanya: HIV. Sebagai orang yang memuja kesempurnaan fisik, pikiran tentang virus yang memakan tubuhnya dari dalam membuatnya gila. Ia mulai rajin ke psikolog dan dokter secara diam-diam, namun trauma itu tak bisa hilang. Ia rahasiakan semuanya. Setiap kali ia melihat Maya, ia merasa jijik pada dirinya sendiri. Ia merasa ia telah membawa maut ke dalam rumah yang dulu Maya bangun dengan doa.
Adrian terus menerornya. Video malam itu dikirimkan ke ponsel Bima. "Datang ke pelabuhan malam ini, atau video ini tayang di grup keluarga lu," bunyi pesan itu.
Bima tidak punya pilihan. Ia mengambil hasil tes HIV-nya yang baru saja keluar dari laboratorium dengan tangan gemetar. Ia tidak berani membukanya di klinik. Ia membawanya pulang, duduk di lantai kamar mandi yang dingin, tepat saat suara pintu depan didobrak paksa oleh anak buah Adrian.
Bima diseret keluar. Maya pingsan melihat suaminya diperlakukan seperti binatang. Dalam van hitam menuju Kamboja, Bima akhirnya merobek amplop hasil tes itu di bawah lampu remang-remang kabin mobil.
Ia membaca baris demi baris. Matanya melotot.
Hasilnya: NON-REAKTIF (NEGATIF).
Bima tertawa histeris. Ia merasa Tuhan masih memihaknya. Ia merasa masih punya harapan untuk selamat jika nanti ia bisa melarikan diri dari Kamboja. Ia masih bersih! Tubuhnya masih sempurna!
Namun, di tengah tawanya yang pecah, salah satu penculiknya, seorang pria Tionghoa tua yang selama ini diam, menoleh ke arahnya.
"Lu senang hasilnya negatif?" tanya pria itu dengan nada dingin yang mencekam.
Bima mengangguk cepat. "Gue nggak sakit! Gue masih berharga buat bos kalian!"
Pria itu tersenyum tipis, sebuah senyum yang lebih mengerikan daripada kematian. "Liem... lu pikir kenapa Adrian berani main tanpa pengaman sama lu? Lu pikir kenapa dia milih lu?"
Bima terdiam. Jantungnya berdegup kencang.
"Adrian yang positif, Liem. Dia sudah sakit sejak tiga tahun lalu," lanjut pria itu. "Dia nggak butuh lu sehat. Dia butuh lu jadi wadah buat penderitaannya. Dia mau lu hancur pelan-pelan sama kayak dia, di sana, di Poipet... sambil kerja buat bayar sisa hidup lu yang nggak lama lagi."
Tawa Bima mati seketika. Ia baru sadar. Tes yang ia pegang adalah hasil tes masa lalu. Masa depannya baru saja disuntikkan secara paksa malam itu. Ia sedang menuju Kamboja bukan hanya sebagai budak, tapi sebagai mayat hidup yang tinggal menunggu waktu untuk membusuk.
Van itu terus melaju, menembus kegelapan, membawa Liem Bun Pin menuju sebuah arena di mana otot tidak lagi punya harga, dan uang tidak lagi bisa membeli napas.
SELESAI