Chicago bukan tempat bagi mereka yang berhati lembut. Aku tumbuh di antara bising kereta L-Train dan angin The Windy City yang bisa mengiris kulitmu seperti pisau cukur. Di usiaku yang kedua puluh tujuh, aku merasa sudah menamatkan buku tentang kemandirian. Aku punya karier yang stabil, apartemen dengan pemandangan cakrawala, dan daftar mantan kekasih yang semuanya gagal karena mereka tak bisa menandingi egoku.
Bagiku, Rinjani hanyalah proyek akhir pekan. Sebuah trofi untuk dipajang di Instagram sebagai bukti bahwa perempuan Chicago bisa menaklukkan apa saja. Aku datang dengan peralatan The North Face terbaru dan keyakinan bahwa uang bisa membeli keamanan.
Lalu, aku bertemu Murdani.
Pria itu berusia tiga puluh tahun, tapi guratan di sudut matanya menceritakan ribuan kilometer tanjakan yang telah ia telan. Dia tidak bicara banyak. Dia hanya memikul keranjang bambu yang diikat dengan tali plastik, sementara aku membawa tas daki ergonomis yang harganya setara dengan gaji bulanan orang di desanya.
"Miss Elina, airnya diminum. Jangan tunggu haus," katanya di Pos 2. Suaranya rendah, tanpa intonasi perintah, tapi mengandung peringatan.
Aku hanya memutar bola mataku. "I'm fine, Murdani. I've run marathons in Illinois. I know my body," jawabku ketus. Aku tidak mau terlihat lemah di depan pria yang hanya memakai sandal jepit di medan seberat ini.
Namun, Rinjani punya cara sendiri untuk menghancurkan kesombongan manusia.
Saat kami mencapai ketinggian di atas 3.000 meter menuju Pelawangan Sembalun, atmosfer berubah menjadi tipis dan kejam. Oksigen seolah-olah ditarik paksa dari paru-paru. Aku mulai merasakan pening yang luar biasa—gejala awal dehidrasi yang aku abaikan sejak siang karena ingin cepat sampai. Dunia mulai berputar. Debu vulkanik yang beterbangan terasa seperti masuk ke dalam aliran darahku, menyumbat setiap inci kewarasanku.
Dan kemudian, dingin itu datang.
Itu bukan dingin yang bisa kau lawan dengan jaket bulu angsa seharga seribu dolar. Itu adalah dingin yang menyerang dari dalam, merayap dari ujung kaki hingga ke jantung. Hipotermia. Aku mulai menggigil hebat. Gigiku gemertak seperti mesin tik rusak.
"Murdani..." bisikku, tapi suaranya tak keluar. Aku ambruk. Dunia menjadi gelap, hanya menyisakan bayang-bayang kelabu dari puncak gunung yang membisu.
Saat aku membuka mata, aku tidak lagi berada di jalur pendakian. Aku berada di dalam tenda darurat yang sempit. Kepalaku diletakkan di atas lipatan jaket lusuh yang berbau asap kayu bakar. Murdani ada di sana, wajahnya diterangi cahaya senter yang bergoyang. Dia tidak panik. Kesigapannya adalah sesuatu yang belum pernah kutemui pada pria-pria di kantorku.
"Miss, jangan tutup mata! Look at me!" perintahnya. Dia menggunakan bahasa Inggris yang patah-patah, tapi otoritasnya mutlak.
Dia menyodorkan segelas air hangat yang dicampur gula merah dan garam. Baunya aneh, tapi saat cairan itu menyentuh lidahku, aku merasa seperti baru saja menenggak nektar kehidupan. Tangannya yang kasar—tangan yang sehari-hari memegang bambu dan batu—kini memegang tanganku dengan sangat hati-hati. Dia membungkus tubuhku dengan thermal blanket perak, lalu mulai menggosok telapak tanganku dengan minyak kayu putih.
"It hurts," rintihku saat darah mulai mengalir kembali ke ujung jari-jariku yang membiru.
"Sakit itu bagus, Miss. Artinya kamu masih hidup," jawabnya pendek.
Malam itu, di tengah badai angin yang menderu di luar tenda seolah ingin menerbangkan kami ke jurang, aku menyaksikan sisi lain dari seorang porter. Murdani tidak tidur. Dia duduk bersila di sudut tenda, menjagaku seperti seorang prajurit menjaga benderanya.
Aku melihatnya merogoh saku celananya yang kotor oleh tanah. Dia mengeluarkan sebuah foto kecil yang dilaminating manual dengan pinggiran yang sudah mulai mengelupas. Dia menatap foto itu cukup lama. Seorang wanita berhijab dengan senyum yang sangat damai, sedang menggendong anak kecil.
"Istrimu?" tanyaku dengan suara serak.
Murdani menoleh, senyumnya pecah. Sebuah senyum yang sanggup meruntuhkan dinding pertahananku. "Iya, Miss. Siti namanya. Dan ini Yusuf."
"Kenapa kamu tidak ikut aku saja ke kota?" tanyaku, tiba-tiba dorongan predator urban dalam diriku muncul kembali. Aku ingin memilikinya, atau setidaknya memiliki kekuatannya. "I can pay you well. You don't have to kill yourself on this mountain for pennies."
Murdani terdiam. Dia membenarkan letak selimutku sebelum menjawab. "Miss Elina, di Jakarta saya mungkin punya banyak uang. Tapi di sini, saya punya jiwa. Setiap langkah berat yang saya ambil, saya bayangkan saya sedang melangkah untuk sekolah Yusuf. Setiap dingin yang saya tahan, saya bayangkan hangatnya pelukan Siti saat saya pulang nanti."
Dia menatapku dengan mata yang dalam, tipe tatapan yang membuatmu merasa kecil sekaligus berharga. "Uang Miss bisa membeli sepatu paling bagus, tapi tidak bisa membeli alasan untuk tetap bertahan di tengah badai. Alasan saya adalah mereka. Itu yang membuat beban ini jadi ringan."
Seketika, kecantikanku yang selalu kupuja terasa hambar. Kebebasanku yang kubanggakan di Chicago terasa seperti penjara yang sangat luas. Aku punya segalanya, tapi aku tidak punya seseorang yang akan terjaga semalaman di tenda beku hanya untuk memastikan aku tetap bernapas. Aku punya kemandirian, tapi aku tidak punya 'rumah' di dalam hati seseorang.
Keesokan harinya, Murdani membantuku turun. Dia tidak membiarkanku berjalan sendiri di bagian jalur yang licin. Tangannya selalu siap menyangga sikutku. Dia memperlakukanku dengan hormat yang luar biasa, tanpa sedikit pun usaha untuk mengambil keuntungan dari kerentananku semalam.
Saat kami tiba di basecamp Sembalun, aku melihat Siti. Dia berdiri di sana dengan daster sederhana dan jilbab yang sedikit miring, menggendong Yusuf. Begitu melihat Murdani, wajahnya berubah seolah matahari baru saja terbit hanya untuknya. Murdani meletakkan keranjangnya, dan meski mereka tidak berpelukan secara dramatis seperti di film Hollywood, cara mereka saling menatap membuat dadaku sesak oleh rasa iri yang murni.
Aku berjalan menuju SUV jemputanku. Aku memberikan amplop tebal berisi seluruh sisa uang tunaiku—jumlah yang mungkin setara dengan penghasilannya selama tiga tahun.
"Untuk sekolah Yusuf," kataku.
Murdani sempat menolak, tapi aku memohon. "Please. You saved my life. This is just paper. What you gave me... that was a lesson."
Dia akhirnya menerima dengan tundukan kepala yang sopan. "Terima kasih, Miss. Semoga perjalanannya menyenangkan."
Aku masuk ke dalam mobil, mengenakan kacamata hitam untuk menyembunyikan mataku yang mulai basah. Saat mobil mulai melaju, aku melihat dari kaca spion: Murdani sedang menggendong Yusuf di satu bahu, sementara tangan satunya menggenggam tangan Siti. Mereka berjalan pulang menuju rumah kecil mereka di kaki gunung.
Aku kembali ke Chicago seminggu kemudian. Aku masih Elena yang independen, masih dengan karier yang cemerlang. Tapi ada yang berbeda. Setiap kali aku merasa dingin di tengah bisingnya kota, aku teringat pada pria berumur tiga puluh tahun di Rinjani itu.
Aku menyadari bahwa sisi kelam porter—kemiskinan dan kerja paksa yang mereka jalani—seringkali justru menjadi api yang menempa mereka menjadi manusia yang paling bercahaya. Murdani bukan hanya porter barang; dia adalah porter harapan. Dan di atas gunung itu, dia telah memikul egoku yang berat dan menggantinya dengan sesuatu yang jauh lebih berharga: sebuah kesadaran bahwa tujuan hidup bukan tentang seberapa tinggi kita mendaki, tapi tentang kepada siapa kita akan pulang.
Selesai