Lonceng kematian di Gunung Rinjani tidak berbunyi dengan dentang besi, melainkan melalui deru angin yang menghantam tebing-tebing kaldera. Bagi Aris, suara itu adalah melodi yang telah menghantuinya selama tiga tahun terakhir.
"Ris, pakai gaiter-mu. Pasirnya makin dalam," suara Gani memecah lamunan Aris.
Aris menunduk, menatap sepatu botnya yang sudah kusam. Ia sedang duduk di Pos 3 Sembalun, menatap jalur terjal yang dikenal dengan nama 'Bukit Penyesalan'.
Nama yang sangat sarkastik bagi Aris. Karena baginya, penyesalan bukan lagi sebuah bukit, melainkan sebuah gunung yang harus ia daki setiap hari dalam pikirannya.
"Aku nggak butuh gaiter, Gan. Aku cuma butuh sampai ke atas," jawab Aris datar. Suaranya serak, matanya merah bukan karena kurang tidur, tapi karena duka yang telah mengerak.
Gani menghela napas panjang, kepulan uap air keluar dari mulutnya. "Kita ke sini untuk closing, Ris. Bukan untuk bunuh diri secara perlahan. Tiga tahun itu waktu yang lama. Maya sudah... dia sudah menjadi bagian dari gunung ini."
Aris mendongak, menatap puncak Rinjani yang tertutup awan lentikular. "Dia nggak cuma jadi bagian dari gunung ini, Gan. Dia ditahan di sini. Dan aku datang untuk menjemputnya pulang."
**Luka yang Membeku**
Tiga tahun lalu, pendakian itu seharusnya menjadi momen paling bahagia.
Aris berencana melamar Maya di puncak tertinggi Pulau Lombok tersebut. Namun, Rinjani punya rencana lain. Badai datang tanpa peringatan di jalur Summit Attack. Dalam kegelapan dan debu vulkanik yang membutakan, tangan Maya terlepas dari genggaman Aris.
Hanya satu jeritan pendek yang terdengar sebelum semuanya lenyap ditelan kabut.
Tim SAR mencari selama dua minggu, namun hanya menemukan satu buah sarung tangan sebelah kiri milik Maya yang tersangkut di dahan pohon cantigi yang patah.
Sejak saat itu, Aris menjadi bayang-bayang dari dirinya yang dulu.
"Ayo jalan. Kita harus sampai Plawangan sebelum gelap," ajak Gani sambil memanggul carrier-nya yang berat.
Mereka mulai menanjak. Bukit demi bukit dilewati. Napas Aris tersengal, namun kakinya seolah digerakkan oleh sesuatu yang bukan berasal dari ototnya sendiri.
Setiap kali ia merasa lelah, sebuah bisikan lembut mampir ke telinganya: "Sedikit lagi, Sayang... aku dingin di sini..."
**Malam di Plawangan Sembalun**
Malam itu, Plawangan Sembalun terasa seperti dimensi lain. Tenda-tenda pendaki lain tampak seperti kunang-kunang di kejauhan, namun di sekitar tenda Aris dan Gani, kesunyian terasa sangat menekan.
"Gue denger sesuatu di luar," bisik Aris saat mereka sedang memasak air di dalam tenda.
"Angin, Ris. Cuma angin," jawab Gani cepat, meski tangannya sedikit gemetar saat memegang nesting.
"Bukan. Itu suara langkah kaki. Kayak orang yang nyeret kaki di atas pasir,"
Aris bangkit, membuka ritsleting tenda meskipun Gani mencoba melarangnya.
Aris menyalakan headlamp-nya. Cahaya putih membelah kegelapan. Di luar, hanya ada hamparan batu dan debu. Namun, saat cahaya itu menyapu ke arah tebing yang menghadap ke Segara Anak, Aris melihatnya.
Sesosok wanita berdiri membelakangi mereka. Ia memakai jaket kuning—jaket yang sama dengan yang dipakai Maya saat hilang.
"Maya?" panggil Aris lirih.
Wanita itu tidak menoleh. Ia hanya menunjuk ke arah bawah, ke arah danau yang tertutup kabut hitam.
"Ris, tutup tendanya! Jangan gila!" Gani menarik baju Aris. "Enggak ada siapa-siapa di luar! Lu kena hallucination karena ketinggian!"
"Gue liat dia, Gan! Dia nunjuk ke danau! Dia di bawah sana!" Aris berontak.
"Dengerin gue!" Gani memegang kedua bahu Aris, menatap matanya dalam-dalam. "Maya sudah meninggal. Jasadnya mungkin sudah hancur di dasar kaldera. Yang lu liat itu bukan dia. Itu jin, itu penunggu gunung! Jangan biarkan duka lu bikin lu kehilangan nyawa juga!"
Aris terdiam, namun matanya tetap terpaku pada titik di mana sosok itu berdiri. Sosok itu perlahan memudar, meninggalkan bau amis belerang yang sangat tajam.
**Pukul 01.00: Perjalanan Menuju Akhir**
Ritual summit attack dimulai. Aris berjalan paling depan, kecepatannya tidak masuk akal untuk seorang pendaki yang sudah kelelahan. Gani tertatih-tatih mengejarnya dari belakang.
Jalur menuju puncak Rinjani adalah jalur pasir yang sangat frustrasi. Satu langkah naik, dua langkah merosot. Di kiri dan kanan adalah jurang yang tak berdasar.
"Aris! Tunggu!" teriak Gani. Suaranya hilang ditelan angin kencang.
Aris tidak mendengar. Di matanya, jalur itu tidak lagi gelap. Ia melihat cahaya obor di sepanjang jalan, dan ia melihat Maya berjalan beberapa meter di depannya, melambai lembut.
"Iya, May... aku datang," gumam Aris dengan bibir yang sudah membiru karena hypothermia ringan.
Saat mencapai area yang disebut 'Letter E', jalur yang paling curam dan berbahaya, kabut mendadak turun dengan sangat pekat. Jarak pandang hanya satu meter. Gani kehilangan jejak Aris.
"ARIS! DIMANA LU?!" Gani berteriak histeris. Ia menyalakan senter ke segala arah, namun hanya ada tembok putih kabut.
**Dialog di Tepi Kawah**
Aris kini berdiri di titik di mana Maya hilang tiga tahun lalu. Di depannya, Maya berdiri. Kali ini, Maya menoleh.
Wajahnya cantik, persis seperti dalam ingatan Aris. Namun, ada yang salah.
Kulit Maya sangat putih, hampir transparan, dan dari matanya yang bening, mengalir cairan hitam yang kental.
"Kamu datang menjemputku?" tanya Maya. Suaranya bukan terdengar dari mulut, melainkan bergema langsung di dalam tengkorak kepala Aris.
"Aku mau bawa kamu pulang, May. Aku udah bawa plakat, aku udah doa... tolong, jangan hantui aku lagi," Aris jatuh berlutut di atas pasir yang dingin.
Maya mendekat. Sentuhannya di pipi Aris terasa seperti es yang membakar kulit. "Aku nggak bisa pulang, Aris. Gunung ini nggak mengizinkan apa pun yang sudah masuk ke perutnya untuk keluar. Kecuali..."
"Kecuali apa?"
"Kecuali ada penggantinya."
Aris tertegun. Ia melihat ke belakang, ke arah suara Gani yang masih memanggil namanya di kejauhan. Lalu ia melihat kembali ke arah Maya. Maya kini mulai berubah. Wajahnya perlahan luruh, menampakkan daging yang membusuk dan tulang rahang yang miring. Bau busuk bangkai menyeruak, mengalahkan bau belerang.
"Jadilah penggantiku, Aris... Biar aku bisa tenang di dasar danau, dan kamu yang menjagaku di sini..."
"May... ini bukan kamu..." Aris mencoba mundur, tapi kakinya terasa berat seolah tertanam di semen.
"INI AKU! INI CINTAMU!" teriak sosok itu, suaranya berubah menjadi geraman binatang buas.
**Tragedi di Puncak Anjani**
Gani akhirnya berhasil menembus kabut dan menemukan Aris. Ia melihat Aris berdiri di bibir jurang, tubuhnya condong ke depan seolah hendak memeluk angin.
"ARIS, JANGAN!" Gani melompat, menerjang tubuh Aris tepat saat Aris hendak melangkah ke kekosongan.
Keduanya berguling di atas pasir vulkanik. Gani memeluk Aris erat-erat. Aris meronta, berteriak, dan menangis seperti anak kecil.
"Dia di sana, Gan! Dia narik gue! Dia mau gue nemenin dia!"
"Nggak ada siapa-siapa, Ris! Liat!" Gani menunjuk ke arah jurang. Kabut mendadak tersingkap oleh angin kencang.
Di bawah sana, di lereng yang sangat curam, mereka melihat sesuatu yang membuat darah mereka membeku. Di antara celah bebatuan, ada sebuah kerangka manusia yang masih mengenakan sisa-sisa jaket kuning yang sudah hancur. Kerangka itu terjepit dengan posisi mendongak ke atas, seolah sedang menatap ke puncak selama tiga tahun lamanya.
Aris terdiam seketika. Kesedihan yang luar biasa menghantamnya lebih keras dari badai mana pun. Itu Maya. Benar-benar Maya. Bukan hantu, bukan halusinasi, tapi sisa-sisa fisik dari wanita yang ia cintai, terjebak dalam kesendirian yang abadi.
"Dia... dia nunggu aku di sana selama ini..." Aris berbisik dengan suara hancur.
**Kesunyian yang Sesungguhnya**
Mereka tidak melanjutkan ke puncak. Dengan bantuan tim SAR yang dipanggil melalui radio pendaki lain, evakuasi dilakukan. Prosesnya memakan waktu dua hari karena medan yang sangat sulit.
Saat tulang-belulang Maya diangkat ke dalam kantong jenazah, Aris hanya berdiri diam. Ia tidak menangis lagi. Matanya kosong.
Gani mendekatinya saat mereka sudah berada di bawah, di desa Sembalun. "Kita sudah bawa dia pulang, Ris. Tugas lu selesai."
Aris menatap Gani dengan senyum yang sangat tipis dan menyedihkan. "Kamu tahu, Gan? Saat aku liat kerangka itu tadi... dia nggak bilang 'jadilah penggantiku'. Itu cuma ketakutanku."
"Terus dia bilang apa?" tanya Gani ragu.
Aris menatap ke arah gunung yang kini terlihat tenang di bawah sinar matahari sore. "Dia bilang... 'Pergilah, Aris. Di sini terlalu dingin untuk hati yang masih berdetak'."
Aris berjalan pergi meninggalkan area registrasi, namun Gani menyadari sesuatu yang aneh. Di pasir tempat Aris tadi berdiri, ada jejak kaki yang tidak biasa. Ada jejak sepatu bot Aris, dan di sampingnya, ada jejak kaki telanjang yang kecil, seolah-olah ada seseorang yang berjalan beriringan dengannya, meninggalkan gunung menuju kehidupan yang baru.
Aris membawa Maya pulang, bukan dalam peti mati, tapi sebagai bagian dari kesunyian yang kini ia bawa di dalam dadanya selamanya.