Di sebuah rumah sederhana yang terpencil di pinggiran kota, hidup sebuah keluarga kecil yang tampak harmonis dari luar, tetapi menyimpan rahasia gelap di balik dinding-dindingnya.
Chris, seorang pria berusia 40 tahun, adalah seorang suami dan ayah yang bekerja keras sebagai karyawan kantor. Ia mencintai keluarganya dengan cara yang ekstrem, penuh posesifitas yang membelenggu.
Istrinya, Ami, seorang wanita cantik berusia 30 tahun, pernah memiliki mimpi-mimpi besar sebelum pernikahan mereka. Kini, ia menjadi ibu rumah tangga yang terkurung, mengurus putri mereka, Halmahera—atau yang akrab disapa Hera—seorang gadis kecil berusia 3 tahun yang polos dan ceria.
Suatu sore yang tenang, Hera terbangun dari tidur siangnya. Matanya yang mengantuk langsung mencari ayah dan ibunya di ruang keluarga. Mereka duduk berdua di sofa, Chris membaca koran sementara Ami menatap kosong ke jendela yang terkunci rapat. Hera berlari kecil menghampiri mereka. "Mama," Hera langsung memeluk Ami erat-erat.
"Tidurmu nyenyak, sayang?" tanya Chris dengan suara lembut, sambil mengelus rambut Hera. Gadis kecil itu hanya mengangguk pelan, bersandar di dada ibunya yang hangat.
Tiba-tiba, mata Hera tertarik pada sesuatu di leher Ami—garis biru samar yang membekas seperti memar. "Kenapa leher Mama ada garis biru?" tanya Hera dengan polosnya, jarinya menunjuk ke arah itu. Ami terdiam sejenak, matanya melirik ke arah Chris dengan ekspresi yang sulit dibaca.
Chris tersenyum manis, seolah-olah itu hal biasa. "Itu bekas kasih sayang Papa untuk membuat Mama tenang," jawabnya sambil mengedipkan mata. Ami hanya tersenyum getir, bibirnya bergetar sedikit, tapi ia tak berkata apa-apa. Hera mengangguk puas, tak mengerti apa pun di balik senyuman itu.
Padahal, garis biru itu bukanlah tanda kasih sayang. Chris memiliki sisi gelap yang tak pernah ia tunjukkan secara terbuka. Ia tak pernah marah dengan kata-kata kasar atau bentakan. Sebaliknya, ia langsung bertindak. Saat Ami berusaha melawan atau menyuarakan keinginannya untuk bebas, Chris akan menyetubuhinya dengan kasar, mencekik lehernya agar ia diam. Ia posesif ekstrem, tak memperbolehkan Ami dan Hera keluar rumah tanpa dirinya.
Setiap pagi sebelum berangkat kerja, Chris selalu mengunci pintu dan jendela dari luar, meninggalkan mereka seperti burung dalam sangkar emas. Ia mencukupi semua kebutuhan mereka—makanan, pakaian, bahkan mainan untuk Hera—tapi itu tak cukup untuk menyembunyikan rasa terkurung yang semakin menyesakkan dada Ami.
Tahun demi tahun berlalu, pola itu terus berulang. Hera tumbuh menjadi gadis remaja berusia 18 tahun, tapi ia tetap polos seperti anak kecil. Chris melarang Ami dan Hera berinteraksi dengan dunia luar. Hera tak pernah menginjak sekolah formal; ia belajar di rumah bersama Ami, hanya dasar-dasar seperti membaca, menulis, berhitung, dan sesekali menggambar. Chris rajin membelikan buku pelajaran, pensil warna, dan alat tulis lainnya, tapi itu tak menggantikan pengalaman hidup yang sebenarnya.
Dunia Hera terbatas pada empat dinding rumah itu. Ia hanya melihat ayah dan ibunya setiap hari, menyaksikan segala interaksi mereka—termasuk saat Chris "menenangkan" Ami. Bagi Hera, itu hanyalah bentuk kasih sayang biasa, karena ia tak pernah tahu yang lain.
Rumah mereka memang jauh dari tetangga, dikelilingi pepohonan lebat yang membuatnya terasa seperti pulau terpencil. Tak ada suara mobil lalu lalang, tak ada anak-anak bermain di luar. Ami sering merasa seperti tahanan, meskipun Chris selalu bilang itu demi melindungi mereka dari dunia luar yang "berbahaya". Ami pernah mencoba melarikan diri, tapi selalu gagal. Chris akan "menenangkannya" dengan cekikan yang membuat lehernya memar, dan Ami terpaksa diam, menahan napas hingga tubuhnya lemas.
Suatu hari yang mendung, Ami tak tahan lagi. Tekanan hidupnya memuncak; ia muak dengan posesifitas Chris yang seperti rantai besi. Ami menangis tersedu-sedu di ruang tamu, air matanya mengalir di pipinya. "Aku ingin pergi... aku ingin bebas!" jeritnya sambil menggedor pintu depan yang terkunci rapat. Ia berteriak sekuat tenaga, memukul jendela, berharap ada yang mendengar. Tapi sekitar rumah begitu sepi, hanya angin yang berhembus pelan. Tak ada respons. Akhirnya, Ami ambruk di sofa, tubuhnya gemetar karena isak tangis yang tak henti.
Hera, yang saat itu berada di samping ibunya, merasa bingung dan sedih. Ia tak pernah melihat Ami semarah itu. "Mama, kenapa?" tanya Hera pelan, tangannya memegang bahu Ami. Ami tak menjawab, hanya terus menangis.
Saat itu, ingatan Hera melayang ke adegan-adegan yang sering ia lihat: ayahnya menekan leher ibunya hingga memar biru, dan setelah itu Ami selalu "tenang". Bagi Hera, itu cara terbaik untuk menunjukkan kasih sayang. Dengan polosnya, ia mendekat dan langsung mencekik leher Ami dengan kedua tangannya, menekan sekuat tenaga agar cepat membiru seperti biasa. "Mama tenanglah."
"Hera... apa yang... kau lakukan..." gumam Ami dengan suara tersendat, matanya membelalak karena syok.
"Aku sayang Mama. Aku ingin membuat Mama tenang, seperti yang Papa lakukan," kata Hera sambil terus menekan leher Ami,
"Tidak... Hentikan... Hera," Ami meronta, memukul tangan Hera, mencoba melepaskan cengkeraman itu. Tapi Hera tak mengerti ibunya kesakitan. Hera panik, ia pikir ibunya marah dan ia menekan lebih kuat supaya Ami cepat tenang. "Tenanglah, Ma, aku hanya ingin Mama tenang. Aku sayang Mama!" teriaknya sambil menitikkan air mata.
Ami berjuang sekuat tenaga, tubuhnya kejang-kejang, matanya berair dan membelalak lebar. Napasnya tersengal, tapi Hera tak berhenti.
Lama-kelamaan, perlawanan Ami melemah. Tubuhnya lemas, wajahnya memucat, dan akhirnya ia tak bernapas lagi. Ami terkulai di sofa dengan mata setengah terpejam, lehernya membiru parah.
Hera menghela napas lega, mengira ibunya akhirnya "tenang" dan tertidur karena lelah. Ia tak sadar bahwa itu adalah kematian. Dengan lembut, Hera menutup mata Ami sepenuhnya, menyelimutinya dengan selimut hangat, lalu memeluk dan mencium pipi ibunya yang sudah dingin. "Akhirnya Mama tenang. Mama pasti lelah. Aku sayang Mama," bisiknya sambil tersenyum polos.
Sore itu, saat matahari mulai terbenam, Chris pulang dari kerja. Ia membuka kunci pintu seperti biasanya. Begitu masuk, ia melihat Ami terkulai di sofa, tubuhnya tak bergerak, dengan bekas cekikan yang jelas di lehernya. "Ami! Apa yang terjadi?!" jerit Chris, berlari menghampiri dan memeriksa denyut nadi istrinya. Sudah terlambat; Ami telah meninggal.
Hera menghampiri ayahnya dengan wajah polos. "Papa sudah pulang?" sapanya riang, tak menyadari tragedi yang baru saja terjadi. Chris, dengan suara bergetar, bertanya, "Hera, siapa yang melakukan ini pada Mama?"
Hera mengangguk bangga. "Aku, Pa. Tadi Mama menangis keras sekali. Papa selalu mengunci pintu saat kerja, jadi Mama teriak ingin pergi. Aku hanya ingin membuat Mama tenang dengan cara yang seperti Papa lakukan."
Chris terdiam, wajahnya memucat. "Apa? Jadi kau mencekiknya?" tanyanya, suaranya hampir hilang. Hera menggelengkan kepala. "Tidak, Pa, bukan mencekik. Aku hanya menekan leher Mama supaya dia tenang, seperti yang Papa lakukan," jawabnya dengan tulus, bahkan ia tak tahu bahwa tindakannya itu adalah mencekik.
Chris ambruk di lantai, tubuhnya lemas penuh penyesalan. Ia pikir caranya "melindungi" keluarga dengan mengurung mereka adalah bentuk cinta yang benar. Tapi kini, ia kehilangan Ami selamanya, melalui tangan putrinya sendiri yang terlalu polos karena isolasi yang ia ciptakan.
Hera sering melihatnya mencekik Ami, bahkan di luar kamar, dan mengira itu membuat ibunya tenang. Padahal, Ami diam karena menahan sesak napas, bukan karena damai.
Chris tak bisa menyalahkan Hera; gadis itu tak pernah mengenal dunia luar, tak pernah belajar tentang benar dan salah di luar rumah ini.
Kini, semuanya hanya tinggal penyesalan yang membekas seperti garis biru di leher Ami—bekas "kasih sayang" yang membunuh.
Chris memeluk Hera erat, air matanya jatuh diam-diam, sementara rumah yang terkunci itu semakin terasa seperti penjara abadi bagi mereka berdua.