Sabrine Lunaria adalah definisi artis "Nation's Sweetheart" versi 2026. Feed Instagram-nya adalah perpaduan prestasi, pencapaian, estetika soft girl dan kemanusiaan yang terdefinisi sempurna. Dia tidak hanya cantik dan peduli negeri semangka, namun penuh prestasi di dunia hiburan tanah air. Setidaknya, itulah yang dipercayai lima juta pengikutnya sampai hari Selasa yang tak terduga itu.
Semuanya bermula dari sebuah unggahan di akun LinkedIn. Sabrine, mengenakan kemeja putih oversized tanpa riasan tebal sebagai taktik no-makeup makeup yang mahal, berpose di depan laptop dengan raut wajah terlihat lelah namun penuh harapan.
"Ternyata cari kerja itu nggak semudah yang Sabrine bayangkan ya, Teman-Teman.Aku kan mau kerja part time untuk nambah pengalaman dan kesibukan. Mau unggah CV di akun LinkedIn, semoga ada yang nyangkut. Buat kalian yang lagi berjuang di luar sana, Sabrine ngerasain apa yang kalian rasain. Semangat, ya! Ada info loker yang cocok buat Sabrine gak?"
Dalam hitungan jam, unggahan itu meledak. Awalnya, netizen memberikan simpati. "Artis aja susah cari kerja, apalagi kita yang cuma remahan rengginang," tulis seorang pengguna. Namun, netizen di tahun 2026 ini tentu bukanlah sekumpulan orang naif. Mereka adalah detektif digital yang dibekali rasa skeptis tingkat dewa.
Hanya butuh waktu tiga jam bagi seorang pengguna Twitter (X) dengan username @AntiGimmick untuk menemukan kejanggalan. Di pojok kanan bawah foto Sabrine, terlihat pantulan di layar laptopnya. Itu bukan situs pencari kerja. Itu adalah draf desain kampanye untuk sebuah merek minuman energi terbaru, "FlowState."
Keadaan memburuk ketika sore harinya, sebuah papan iklan digital di Bundaran HI menampilkan wajah Sabrine dengan baju yang sama, memegang kaleng minuman, dengan slogan: "Gak Perlu Pusing Cari Kerja, Minum FlowState Biar Fokus Kejar Cuan!"
Internet meledak. Simpati berubah menjadi pisau belati.
"Lo pura-pura miskin buat jualan minuman ringan? Lo tahu nggak rasanya beneran nggak punya duit buat makan besok?" bunyi salah satu komentar teratas yang disukai 50 ribu orang.
Sabrine dicap sebagai "Rich-Baiting". Dia dituduh mengomodifikasi penderitaan kelas pekerja demi kontrak iklan miliaran rupiah. Hastag #CancelSabrine dan #SabrineSiPalingLoker memuncaki trending topik.
Berita yang cepat beredar itu lantas sampai di kupingnya. Malam itu, Sabrine saat di griya tawangnya Senopati, mendapat notifikasi ponselnya terdengar seperti rentetan tembakan membabi buta. Manajernya, Mbak Henny, terus menelepon, tapi Sabrine mengabaikannya. Dia merasa dunia sedang mencoba menelannya bulat-bulat.
"Gue kan cuma nyari kerja," isaknya. "Tim kreatif yang nyuruh konsepnya begitu. Kenapa gue yang diserang?" Sabrine kesal.
Dia butuh sesuatu untuk menghentikan kebisingan di kepalanya. Dia butuh "tombol jeda" dari kenyataan. Matanya tertuju pada sebuah kotak hitam di atas meja marmernya. Di dalamnya, berjejer tabung-tabung kecil berwarna merah muda metalik.
Itu adalah Whip Pink. Secara umum, itu adalah nitrous oxide (N2O) dosis tinggi yang dikemas dalam tabung estetis, tren gelap di kalangan selebriti yang ingin "terbang" instan tanpa bau alkohol atau jejak jarum. Di kalangan Gen Z Jakarta, ini adalah "oksigen pesta."
Sabrine mengambil satu tabung. Warnanya pink neon, kontras dengan kulit pucatnya. Dia memasukkannya ke dalam alat penghisap kecil, lalu menarik napas dalam-dalam.
The Pink Cloud
Sshhhhhhh.
Bunyi gas yang keluar terdengar seperti desis ular yang menenangkan. Saat gas itu memasuki paru-parunya, dunia di sekitar Sabrine mulai melambat. Suara hujatan netizen di kepalanya perlahan memudar, berubah menjadi gema yang tidak berarti.
Pandangannya mengabur. Dinding apartemennya yang minimalis seolah mencair, berubah menjadi APARTEMENNYA warna pastel yang indah. Dia merasa tubuhnya seringan kapas, melayang di atas karpet Persia-nya yang mahal.
"Ini baru benar," gumamnya dengan suara sengau.
Dalam pengaruh Whip Pink, Sabrine merasa dia bukan lagi "Artis Baik" yang munafik. Dia bukan lagi target kemarahan publik. Dia hanya sebuah partikel yang menari di ruang hampa. Dia melihat bayangannya di cermin—wajahnya terlihat sangat tenang, hampir seperti manekin.
Namun, efek N2O hanya bertahan sebentar. Hitungan detik yang terasa seperti keabadian itu mulai memudar. Suara bising dari luar kembali masuk. Realitas menamparnya kembali.
Dia mengambil tabung kedua. Sshhhhhhh.
Tabung ketiga. Sshhhhhhh.
Dia terus mengejar perasaan "kosong" itu. Di bawah pengaruh gas tersebut, dia mulai berhalusinasi. Dia merasa sedang berada di panggung besar, semua orang bertepuk tangan, tidak ada yang marah. Di matanya, layar ponsel yang penuh makian itu berubah menjadi kembang api digital yang cantik.
Sabrine mulai tertawa sendiri. Tertawa yang tidak terkontrol, khas efek samping laughing gas. Dia mengambil ponselnya, dan dalam kondisi setengah sadar, dia melakukan Live Instagram.
Wajahnya tampak kuyu, matanya sayu, dan di tangannya masih menggenggam tabung Pink tersebut.
"Kalian... kalian semua lucu," igau Sabrine di depan kamera. "Cari kerja? Siapa yang butuh kerja kalau kita bisa... terbang? Pink... semuanya pink..."
Sepuluh ribu orang langsung menonton dalam hitungan detik. Komentar-komentar pedas terus mengalir, tapi Sabrine tidak bisa membacanya lagi. Dia hanya melihat warna. Dia bahkan menghisap gas itu langsung di depan kamera, sebuah tindakan yang menghancurkan sisa-sisa reputasi "anak baik" yang dia bangun selama lima tahun.
Mbak Henny mendobrak pintu apartemen sepuluh menit kemudian, tapi semuanya sudah terlambat. Sabrine sudah pingsan di atas lantai dingin, dikelilingi beberapa tabung Pink yang kosong. Ponselnya masih menyala, merekam kehancurannya secara online ke seluruh penjuru negeri.
Keesokan harinya, Sabrine terbangun dengan sakit kepala yang luar biasa. Seperti ada ribuan jarum yang menusuk otaknya. Dia tidak berada di apartemennya, melainkan di sebuah klinik rehabilitasi swasta yang sangat tertutup.
Mbak Henny sang manajer duduk di samping tempat tidurnya dengan wajah yang tampak sepuluh tahun lebih tua.
"Kontrak FlowState diputus. Mereka menuntut ganti rugi atas pencemaran nama baik merek karena kamu pakai produk mereka sambil mabuk gas," kata Henny datar. "Akunmu di-takedown. Kamu bukan lagi 'Artis Baik', Sabrine. Kamu adalah 'Aib Nasional'."
Sabrine menatap langit-langit putih ruangan itu. Tidak ada lagi warna pink yang indah. Yang ada hanyalah kenyataan yang pahit dan dingin. Dia menyadari bahwa pelariannya ke dalam tabung gas itu tidak menyelesaikan masalah, justru mengunci pintu keluar selamanya.
Dia mencoba mengingat rasa terbang itu, tapi yang tersisa hanyalah rasa mual dan kehampaan yang lebih besar dari sebelumnya. Di luar sana, netizen sudah pindah ke skandal baru, meninggalkan Sabrine Lunaria terkubur dalam sejarah digital sebagai peringatan tentang apa yang terjadi jika kemunafikan bertemu dengan keputusasaan yang salah arah.
Kasus Sabrine memicu debat nasional tentang kesehatan mental selebriti dan etika periklanan di media sosial. LinkedIn bahkan memperbarui kebijakannya tentang "penipuan konten" untuk mencegah artis-artis lain melakukan stunt serupa.
Sabrine kehilangan segalanya: karir, pengikut, dan kepercayaan diri. Namun, di balik dinding klinik rehabilitasi, dia akhirnya mulai melakukan sesuatu yang seharusnya dia lakukan sejak lama. Dia tidak lagi berpura-pura mencari kerja. Dia benar-benar mencari dirinya sendiri, tanpa filter, tanpa naskah iklan, dan yang terpenting, tanpa gas pink yang mematikan itu.
Dunia mungkin tidak akan pernah memaafkannya sepenuhnya, tapi bagi Sabrine, bernapas tanpa bantuan tabung adalah kemenangan kecil pertama yang dia miliki setelah sekian lama hidup dalam kepalsuan. "Semua pasti ada hikmahnya" Gumamnya sambil menahan tangis.