Aldebaran Fernandez, 27 tahun, blasteran Indonesia dan Spanyol, tidak pernah menyangka bahwa aroma parfum Oud seharga sepuluh juta rupiah miliknya akan berganti dengan bau apek keringat dan debu jalanan Jakarta. Di balik helm full-face murah dan jaket oranye kusam yang ia beli dari pasar loak, tersimpan rahang yang mengeras dan mata elang yang mampu meruntuhkan bursa saham.
Ia adalah CEO muda yang baru kembali dari London. Di sana, ia memimpin perusahaan investasi dengan tangan besi. Namun di sini, di gang sempit yang becek oleh air selokan, ia hanyalah seorang kurir paket bernama "Al".
Tangannya yang biasa memegang pena emas kini menggenggam sebuah paket kecil dengan label alamat: Robi – Gang Langgar No. 4 RT 5 RW 17.
“Ini orangnya,” batin Aldebaran. Jantungnya berdegup kencang. Bayangan sepuluh tahun lalu terputar otomatis seperti film thriller kualitas HD di kepalanya. Ayahnya, Jordan Fernandez, tewas bersimbah darah di sebuah jalanan sepi. Pelakunya? Seorang pemuda kalap bernama Robi yang menusukkan belati setelah terjadi pertengkaran hebat akibat kecelakaan lalu lintas.
Aldebaran turun dari motor tua yang sengaja ia sewa. Ia berjalan menyusuri gang yang lebarnya bahkan tidak cukup untuk spion mobil sport-nya.
"Paket!" teriak Aldebaran, suaranya berat dan penuh intimidasi yang coba ia sembunyikan.
Pintu kayu yang sudah rapuh itu terbuka. Seorang pria dengan jaket hijau ojek online yang sudah memudar keluar. Wajahnya tampak lebih tua dari usianya. Matanya sayu, seolah memikul beban seluruh dunia di pundaknya. Itulah Robi. Sang pembunuh yang baru saja menyelesaikan masa hukumannya dua tahun lalu.
"Oh, iya Mas. Atas nama saya?" tanya Robi sopan. Ia tersenyum tipis. Senyum yang membuat darah Aldebaran mendidih. Bagaimana bisa seorang pembunuh tersenyum seramah itu?
"Robi? Benar?" Aldebaran memastikan.
"Betul, Mas. Maaf ya, gangnya agak berantakan. Tadi habis hujan soalnya," Robi mengambil paket itu.
Tepat saat itu, seorang wanita tua dengan mata yang putih tertutup katarak meraba-raba pintu. "Robi... siapa itu, Nak? Tamu kamu?"
Robi langsung sigap memegang tangan ibunya. "Bukan Mak, ini kurir paket. Mak istirahat saja di dalam, ya. Robi baru mau buatin bubur buat Mak."
Aldebaran terdiam di posisinya. Tangannya yang tersembunyi di balik saku jaket sedang menggenggam sebuah alat penyadap kecil yang rencananya akan ia pasang di rumah itu. Namun, pemandangan di depannya benar-benar di luar script balas dendam yang ia susun di London.
Malam itu, Aldebaran duduk di apartemen penthouse-nya yang mewah, memantau rekaman suara dari alat penyadap yang berhasil ia tempelkan di balik bingkai foto tua di rumah Robi.
Melalui headphone mahal miliknya, ia mendengar suara Robi yang sedang menghibur tiga adiknya.
"Kak Robi, besok Cheny bisa bayar uang buku kan?" suara seorang anak kecil terdengar.
"Bisa, Sayang. Besok Kakak narik dari subuh. Kalau perlu sampai jam dua pagi. Yang penting kalian jangan telat sekolahnya. Jangan kayak Kakak yang harus masuk penjara karena nggak bisa kontrol emosi."
Lalu suara itu merendah, hampir seperti bisikan kepada ibunya yang sakit.
"Mak, Robi setiap malam masih merasa berdosa sama Pak Jordan. Kalau saja malam itu Pak Jordan nggak lari setelah nabrak Bapak, mungkin Robi nggak akan sekacau itu. Robi menyesal sudah ambil nyawa orang, Mak. Padahal Robi tahu, Bapak meninggal karena takdir, bukan karena salah Pak Jordan sepenuhnya."
Aldebaran tersentak. Gelas kristal di tangannya hampir jatuh.
Pak Jordan nggak lari?
Aldebaran teringat cerita ibunya. Ibunya bilang ayahnya dirampok dan dibunuh secara keji oleh preman jalanan. Tidak pernah ada cerita soal "tabrak lari". Ia segera membuka brankas rahasia milik ayahnya yang baru ia bawa dari kantor. Di sana, terdapat sebuah laporan kepolisian yang selama ini disembunyikan ibunya.
Laporan itu menyebutkan: Jordan Fernandez, diduga melakukan tabrak lari terhadap seorang pengendara motor tua di daerah Jakarta Selatan sebelum akhirnya dihentikan oleh anak korban (Robi).
Dunia Aldebaran serasa runtuh. Selama sepuluh tahun, bahan bakar hidupnya adalah dendam pada Robi. Tapi kenyataannya? Ayahnyalah yang menyulut api itu. Ayahnya yang terhormat adalah seorang pengecut yang lari setelah menghilangkan nyawa ayah orang lain.
Dua hari kemudian, Aldebaran kembali ke gang itu. Kali ini tanpa motor sewaan. Ia berjalan kaki dengan jaket kurirnya yang kotor. Hujan turun rintik-rintik, menambah suasana gloomy ala film noir.
Robi baru saja pulang narik ojek. Ia kaget melihat kurir yang kemarin berdiri di depan rumahnya dengan tatapan kosong.
"Mas kurir? Ada paket lagi?" tanya Robi heran.
Aldebaran membuka helmnya. Wajahnya yang tampan dan terawat kini basah oleh hujan. Ia menatap Robi dengan intensitas yang mengerikan.
"Nama saya Aldebaran Fernandez. Putra dari Jordan Fernandez," ucapnya dingin.
Wajah Robi mendadak pucat pasi. Ia mundur dua langkah, hampir terjatuh menabrak motor matic-nya. "Anda..."
"Saya datang untuk membalas dendam, Robi. Saya sudah siapkan pengacara untuk menjebloskan kamu lagi ke penjara dengan bukti baru, atau sekalian menghancurkan hidup keluarga kamu sampai ke akar-akarnya," Aldebaran maju selangkah. "Tapi, saya baru tahu kalau ayah saya adalah seorang penabrak lari."
Robi menunduk dalam-dalam. Air mata mulai bercampur dengan air hujan di pipinya. "Tuan Aldebaran... saya tidak minta dimaafkan. Malam itu saya kalap. Saya melihat ayah saya hancur di jalanan, dan ayah Anda hanya tancap gas. Saya mengejarnya hanya ingin dia tanggung jawab, tapi dia malah memaki saya. Saya khilaf... belati itu untuk membela diri karena beliau mencoba memukul saya dengan kunci stir. Tapi saya salah... saya tetap pembunuh."
Robi kemudian berlutut di atas aspal becek, tepat di depan kaki Aldebaran.
"Silakan, Tuan. Hancurkan saya. Tapi saya mohon... jangan adik-adik saya. Jangan ibu saya yang buta. Mereka tidak tahu apa-apa. Saya akan lakukan apa saja. Jadi budak Anda pun saya mau, asal mereka bisa sekolah."
"Oh tidak bisa!" Aldebaran menodongkan pistol ke kepala Robi! Dan suara tembekan keras bergema : "DOR DOR DOR DOR DOR DOR"
"Mati kau terkutuk!!!" Desisnya perlahan. Al benar-benar puas bukan main! Namun ia langsung terbangun dari tidurnya! Hmmm, itu semua hanya mimpi buruk. Al benar-benar kaget dan nafasnya terengah-engah. Ia mengambil air minum di dekat tempat tidur. Apakah itu akan ia lakukan kepada Robi? Merinding sekali. Ia memandang kedua tangannya yang bergetar hebat. Pistol berharga mahal telah dibelinya secara ilegal dan disimpannya di lemari.
---
Al berdiri tegak di ujung gang sempit itu. Di seberangnya, Robi baru saja memarkirkan motor ojolnya yang butut.
Selisih lima tahun di antara mereka terasa seperti jurang maut. Al yang matang karena pendidikan luar negeri, dan Robi yang menua karena kerasnya jeruji besi dan aspal jalanan.
"Robi!" suara Aldebaran menggelegar, memutus kesunyian sore yang gerimis.
Robi menoleh, dahinya berkerut. "Mas Kurir? Ada barang yang ketinggalan?"
Aldebaran tidak menjawab dengan kata-kata. Ia melangkah cepat, lalu dengan satu gerakan yang terlatih di sasana tinju elit London, ia mencengkeram kerah jaket hijau Robi dan membantingnya ke dinding gang yang berlumut.
BUGH!
"Lo tahu siapa gue?!" desis Aldebaran tepat di depan wajah Robi. Napasnya memburu, matanya merah karena dendam yang mendidih. "Sepuluh tahun gue nunggu momen ini. Sepuluh tahun gue ngebayangin gimana cara matiin orang yang udah nancepin belati ke perut bokap gue!"
Robi tertegun. Matanya membelalak. Tubuhnya lemas, bukan karena takut dipukul, tapi karena nama "Jordan Fernandez" baru saja melintas di otaknya seperti kilat.
"Tuan... Aldebaran?" suara Robi bergetar.
"Jangan sebut nama gue dengan mulut kotor lo!" Aldebaran melayangkan pukulan mentah ke rahang Robi. Robi tersungkur di aspal becek, tapi ia tidak melawan. Ia hanya terbatuk, mengeluarkan darah dari sudut bibirnya.
"Ayo lawan! Lo bisa bunuh bokap gue yang badannya lebih besar dari lo, masa lawan gue lo nggak berani?!" teriak Aldebaran frustrasi. Ia menarik kerah Robi lagi, hendak menghantamkan tinjunya untuk kedua kali.
"Saya nggak akan lawan, Tuan," bisik Robi pelan. Matanya mulai basah. "Kalau kematian saya bisa balikin Papa Anda, silakan. Bunuh saya sekarang. Saya sudah capek bawa rasa bersalah ini tiap hari."
Tangan Aldebaran gemetar. Ia berhenti tepat satu inci sebelum kepalannya mengenai hidung Robi. Ada sesuatu yang hancur dalam suara Robi—suatu jenis keputusasaan yang hanya dimiliki oleh orang yang sudah tidak punya apa-apa lagi untuk dipertaruhkan.
"Kenapa, Rob? Kenapa lo sejahat itu? Bokap gue cuma kecelakaan, tapi lo malah main hakim sendiri!" tanya Aldebaran, suaranya kini pecah. Ada luka seorang anak kecil yang kehilangan pelindung dalam nada bicaranya.
Robi terduduk di aspal, membiarkan hujan membasahi wajahnya yang lebam.
"Malam itu... ayah saya tewas di tempat, Tuan," Robi mulai bercerita dengan suara parau. "Ayah saya cuma penjual nasi goreng keliling. Pak Jordan nabrak dia dari belakang, kencang sekali. Saya ada di sana, dibonceng di belakang. Saya melihat kepala ayah saya pecah di depan mata saya sendiri."
Aldebaran terdiam. Jantungnya serasa berhenti.
"Saya ngejar mobil Pak Jordan dengan motor yang hancur itu. Saya cuma mau dia berhenti, mau dia lihat apa yang sudah dia lakuin. Tapi pas dia berhenti di jalan sepi, dia malah keluar dan marah-marah. Dia bilang ayah saya yang menghalangi jalan mobil mewahnya. Dia mau pukul saya pakai kunci stir... saya kalap, Tuan. Saya cuma remaja 22 tahun yang baru kehilangan dunianya dalam satu detik. Belati itu... itu belati buat potong ayam di gerobak nasi goreng. Saya nggak niat bunuh. Saya cuma mau dia menjauh..."
Robi bersujud di depan kaki Aldebaran. Isak tangisnya pecah, bersaing dengan suara guntur.
"Saya menyerahkan diri karena saya sadar, membunuh Pak Jordan nggak bikin ayah saya hidup lagi. Saya justru bikin satu anak lagi kehilangan ayahnya—yaitu Anda. Saya minta ampun, Tuan Aldebaran. Tolong... ampuni saya... saya sudah hancurkan hidup kita berdua."
Aldebaran mundur beberapa langkah. Dunianya yang selama ini hitam-putih—Robi jahat, Ayah baik—mendadak berubah menjadi abu-abu yang pekat.
Ia melihat Robi yang bersujud di genangan air, lalu ia melihat ke arah jendela rumah petak di belakang mereka. Di sana, tiga adik Robi (SD, SMA, dan yang kuliah di swasta murah) menempelkan wajah ke kaca dengan raut ketakutan. Mereka melihat "pahlawan" mereka dihajar di jalanan.
Aldebaran teringat dirinya sendiri saat kuliah di London. Ia depresi, burnout, dan hampir mengakhiri hidup karena merasa gagal melindungi ayahnya. Kini ia melihat cerminan rasa sakit yang sama pada musuhnya.
"Kita sama-sama anak yang kehilangan, Rob," gumam Aldebaran. Suaranya hampir tenggelam oleh hujan.
Aldebaran merasa mual. Psikologisnya terguncang hebat. Jika ia membunuh Robi sekarang, atau memenjarakannya lagi dengan pengaruh kekuasaannya, apa bedanya ia dengan ayahnya yang pengecut melarikan diri dari tanggung jawab? Namun, jika ia memaafkan begitu saja, bagaimana dengan rasa sakit sepuluh tahun ini?
Generasi sandwich seperti Robi sedang berjuang demi adik-adiknya. Dan Aldebaran, sang CEO, menyadari bahwa ia memegang kendali atas nasib empat nyawa di rumah itu.
Robi merayap mendekat, memegang sepatu boot mahal Aldebaran. "Hukum saya apa saja, Tuan. Tapi tolong... jangan benci adik-adik saya. Mereka nggak tahu apa-apa. Saya yang berdosa."
Aldebaran memejamkan mata. Ia mendongak ke langit, membiarkan air hujan membasuh wajahnya. Ia teringat pesan ibunya: "Dendam itu kayak minum racun, tapi berharap orang lain yang mati."
Perlahan, Aldebaran menurunkan tangannya. Ia tidak lagi mengepal. Ia menarik napas panjang, sebuah napas yang terasa paling berat dalam hidupnya.
"Pergi ke dalam, Rob," ujar Aldebaran dingin, tapi tanpa nada kemarahan. "Obatin luka lo. Jangan sampai adik-adik lo lihat kakaknya sehancur ini."
"Tuan?" Robi mendongak, bingung.
"Gue belum bisa maafin lo sepenuhnya. Mungkin nggak akan pernah bisa," Aldebaran memakai kembali helmnya. "Tapi gue sadar, bokap gue juga bukan orang suci. Kita berdua adalah korban dari satu malam yang terkutuk."
Aldebaran mengeluarkan sebuah kartu nama berwarna hitam metalik. Ia melemparkannya ke tanah.
"Senin depan, datang ke kantor gue. Bukan buat dipenjara, tapi buat kerja di bagian logistik. Lo punya utang nyawa ke gue, dan lo bakal bayar utang itu dengan cara kerja jujur buat bantu pendidikan adik-adik lo. Gue nggak mau liat ada anak yang putus sekolah cuma karena kakaknya seorang pembunuh."
Aldebaran memacu motornya pergi, meninggalkan Robi yang masih menangis tersedu-sedu di atas aspal. Di balik kaca helmnya, air mata Aldebaran akhirnya jatuh. Dendam itu tidak hilang, tapi beban di pundaknya terasa sedikit lebih ringan.
TAMAT