Sore yang hangat, langit mulai berwarna keemasan, dan angin lembut berembus pelan seakan membawa pulang semua kenangan manis hari ini. Cahaya matahari yang hampir tenggelam menyorot pepohonan, membuat bayang-bayangnya memanjang di jalan setapak menuju panti asuhan.
Seorang cowok remaja duduk di bangku halaman panti asuhan. Seorang diri, sedang membaca sebuah buku cerita dalam diamnya.
Arshaka Langit namanya. Remaja tampan yang hidup dipanti asuhan, kaluarganya? entahlah kemana. Sebuah kejadian yang membuatnya terpisah oleh keluarganya, entahlah kejadian apa itu. Ia tidak bisa mengingatnya, hanya mendengar cerita itu dari bunda Risa, Seorang wanita yang sangat Langit sayang, yang mau mengurusnya dan sekarang menjadi seorang Ibu pengurus panti asuhan.
Langit Seorang remaja yang ceria namun dari itu semua sebenarnya ia adalah anak yang kesepian. dan masih mengharapkan adanya keluarga lengkapnya yang dapat menjemputnya kembali pulang. Apakah itu mungkin? Langit mengharapkannya.
“DORrr!”
"AAA-YAM!" Langit membaca buku cerita dalam tenangnya terkejut atas kejutan dari seseorang remaja cewek seusia Langit dari arah bangku belakangnya.
“Zura... ngagetinn aja deh. Kalau aku punya riwayat penyakit jantung, bisa saja aku mati. Kan ga lucu" Langit menegur seseorang yang mengejutkannya dan itu adalah sahabatnya sendiri. Arshela Azura Bimantara, namanya.
“Heh mulutnya! Maaf aku kan hanya bercanda!"
Azura, yang termuda di antara keduanya. Seorang gadis yang pendiam, tenang, kuat, dan tertutup juga bijaksana, Dia memiliki pemahaman yang mendalam tentang dunia di sekitarnya. Langit sebaliknya, adalah sosok yang penuh energi, ceria, tawanya yang menular dan antusiasmenya yang tak terbatas menerangi hidup mereka seperti mercusuar harapan.
Meskipun kepribadian mereka berbeda, mereka saling melengkapi dengan sempurna. Sikap Azura yang tenang membuat Langit tidak impulsif, sementara semangat Langit yang lincah membujuk Azura keluar dari cangkangnya. Bersama-sama, mereka adalah kekuatan yang tak terhentikan, menghadapi tantangan hidup dengan dukungan yang tak tergoyahkan dan cinta yang tak tergoyahkan.
"hahe maaf Langit. Kau tadi lagi apa? baca buku?" Azura berjalan mendekati Langit lalu duduk disebelahnya. Langit yang mendengar perkataan Azura tadi pun hanya menganguk membenarkan perkataan Azura.
“Dasar kau itu, seperti Kunti saja datang tak diundang....datang datang mengagetkan.” Langit meletakkan buku yang sedari tadi Ia baca ke bangku yang la duduki lalu menfokuskan dirinya berbicara kepada Azura.
Azura yang merasa dirinya dikatai pun tidak terima dan memukul pelan bahu Langit. Yang dipukul hanya meringis pelan.
“Heh mana ada! Lagian ya aku rasa itu jelangkung dan bukan kunti. Datang tak di undang pulang tak diantar. Kata- katanya begitu.” Langit mengerutkan keningnya bingung lalu berkata.
“Lahh emang iya yak. Ah sama aja itu. Dan hantu itu adalah Azura! Hahahaa,”
lagi-lagi Langit mengatai Azura sesekali Ia tertawa kecil, Azura yang dikatai menatap tak suka pada Langit. Mereka sedang bercanda dan Azura mengetahui itu. Langit itu Receh, Jokesnya rendah seperti bapak bapak, dikit dikit Ia tertawa apapun hal yang menurutnya lucu Ia akan tertawa, Begitu kata Azura.
“Heh! Semua hantu itu lebih mirip padamu! Aku tuh cantik dan tak pantas untuk dikatai mirip seperti hantu, yaa! Emang ada hantu secantik aku ahahaha,” sambung Azura sesekali berbicara dengan pedenya. Langit yang mendengar perkataan Azura hanya menatapnya jengah namun tak ayal di dalam hatinya yang terdalam ia membenarkannya.
“Hilih...Cantik lah sangat. Gini-gini aku juga tampan! jadi aku juga tak bisa disamakan oleh hantu-hantu jelek itu!”
Azura melipat tangan di dada, dagunya terangkat sedikit. “Ahh masaa sih?”
Langit mengangguk cepat, tapi ekspresinya justru kelihatan kayak lagi nahan sesuatu.
“Ya masa nggak percaya? Nih—liat sendiri.”
Ia menunjuk wajahnya sendiri dengan gaya sok pede.
Azura mendecak. “Iiih, pede bet ya. Mentang-mentang dibilang agak lumayan sama Bunda Risa kemarin.”
“Agak lumayan??” Langit memekik kecil. “Bunda Risa bilang aku ganteng beneran! Kamu aja yang kupingnya suka milih-milih suara.”
Azura tertawa, lalu memukul pelan lengannya lagi. “Heh! Siapa suruh ngomong tinggi-tinggi. Kupingku penat jadinya.”
“Nah, tuh kan. Kamu tuh galak-galak tapi lucu, tau nggak?”
Azura sontak berhenti tertawa. “Hah? Apa tadi?”
Langit panik sepersekian detik. “Ehh… maksudnya—lucu kayak… kucing yang lagi marah tapi tetep imut. Yaa gitu lah.”
Azura menyipitkan mata, pura-pura kecewa. “Jadi aku kucing?”
“Daripada kamu hantu kunti, mau?” Langit angkat bahu sambil senyum jahil.
“LANGIT!” Azura spontan menjitaknya lagi, tapi kali ini dia sendiri ikut ngakak. “Aku tuh cantik, tau! Masa disamain sama hantu? Nggak rela aku.”
Langit mengangkat kedua tangan seolah menyerah.
“Ya iyaaa… cantik. Cantik banget malah… tapi tetep mirip hantu kalau marah-marah gitu.”
Azura mendadak terdiam. Pipinya memerah tipis—antara kesal, malu, atau… keduanya.
“Cantik banget?” tanya Azura pelan, tapi suaranya masih dibuat-buat sok santai.
“Hmm.” Langit mengangguk, kali ini serius. “Iyaa. Cantik. Tapi jangan kebanyakan gaya, nanti aku ikutan jatuh hati.”
Azura membulatkan mata. “HAH?!”
Langit cepat-cepat meralat, wajahnya memerah.
“Maksudku—jatuh… jatuh dari kursi! Iyaa kursi! Kamu bikin aku—ah sudahlah.”
Azura menahan tawa, menatapnya lama. “Ih, Langit… kamu kalo bohong tuh keliatan banget tau,” katanya sambil menepuk-nepuk bahu Langit pelan.
Langit hanya bisa meringis, menatap wajah Azura sekilas.
“Yaudah deh, jangan marah. Nanti hantunya iri karena kamu lebih cantik.”
Azura tersenyum kecil—senyum yang selalu membuat Langit kehilangan ritme.
“Hmm… bagus,” katanya sambil melipat tangan. “Minimal kamu sadar kalau aku nggak cocok jadi hantu.”
Langit membalas dengan seringai. “Iya. Kamu cocoknya jadi… yang bikin hati orang berisik.”
Azura memiringkan kepala. “Berisik gimana?”
Langit tersipu samar.
“Ya gitu… deg-degan nggak jelas.”
Azura tak bisa menahan tawanya lagi. “Receh banget sumpah! Tapi… lumayan lah.”
“Lumayan buat bikin kamu senyum?” tanya Langit.
“Lumayan buat bikin kamu malu,” jawab Azura cepat.
Dan mereka pun saling menatap—sama-sama pura-pura nggak perasaan, padahal dua-duanya udah kebawa suasana.
“Ohh ya, sudah lama kau tidak datang kesini Zura, haha kupikir Kau melupakanku." Langit kini berbicara dengan seriusnya, Azura yang mendengar ucapan Langit seketika menunduk.
“Maafkan aku, Papa melarangku untuk keluar rumah apapun itu alasannya. Aku tidak bermaksud melupakanmu," ucap Azura dengan wajah murungnya.
Azura sahabat Langit Semenjak berusia 11 tahun dan kini mereka berusia 17 tahun. Langit menemui Azura ditaman dekat panti asuhan. Seorang diri dalam keadaan Sedih. Langit tidak mengenal Azura waktu itu. Langit pun mendekati Azura mencoba menghiburnya dan mengajaknya bermain, dari sana mereka mulai berteman sampai bersahabat, pada saat itu Azura adalah orang baru yang pindah ke daerah tempat Langit tinggal.
Rumah Azura ke panti asuhan berjarak sekitar satu kilometer, jarak yang tidak terlalu jauh dan pas untuk dijadikan olahraga ringan jika ia memilih berjalan kaki. Perjalanan singkat itu biasanya ia tempuh dalam sepuluh hingga lima belas menit—cukup untuk menikmati angin, menenangkan pikiran, dan mempersiapkan diri sebelum bertemu Langit dan juga anak-anak panti. Meski sederhana, jarak pendek itu selalu terasa punya ceritanya sendiri bagi Azura.
“Ah begitu, haha maafkan aku, aku tidak tahu. Jadi apakah sekarang kau dibolehkan keluar rumah Zura? Sehingga bisa kesini?” Azura
yang mendengar ucapan Langit hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan.
“Tidak. Papa tidak mengetahuinya, ia bahkan selalu sibuk bekerja. dan mama, la pun sama. Aku bosan, aku kesepian Lang, andai Jika dia tidak menghilang... aku tidak akan sekesepian ini.” Lagi-lagi Azura berbicara dengan raut wajah yang murung dan tampak Sedih. Langit sungguh tidak suka jika Azura sudah begini. Langit harus menghiburnya agar Azura tidaklah sedih kembali.
Langit pun merangkul Azura
“Ada aku Zura, disini. Aku bisa kau anggap sebagai tempat pulangmu. Aku akan selalu ada disisimu dan ketika kau butuh....disini, aku pasti akan selalu menyambutmu juga yang lainnya. Jadi jangan pernah merasa kesepian ya?”
Azura diam sejenak dalam rangkulan Langit. Bahunya bergetar pelan, bukan menangis, tapi jelas ia sedang menahan sesuatu yang berat. “Lang… kalau aku bilang aku capek, boleh nggak?” suaranya terdengar sangat kecil, hampir tenggelam oleh angin sore.
Langit mempererat pelukannya sedikit, lembut, penuh hati-hati. “Boleh banget. Kamu boleh capek, kamu boleh sedih… asal jangan pernah ngerasa kamu sendirian.” Ia menarik napas pelan, menahan kata-kata yang nyaris meluncur tanpa filter. “Aku kan ada di sini. Selalu.”
Azura menatap Langit dari samping, matanya berair tapi bibirnya memaksa tersenyum. “Kamu tuh… kenapa sih selalu baik begitu?” katanya lirih, nada suaranya setengah menggoda, setengah beneran bingung.
Langit berpura-pura menghela napas panjang. “Ya mau gimana… aku memang diciptakan tampan, baik hati, dan tidak sombong.” Ia menepuk dadanya dengan gaya sok bangga.
Azura langsung mendorong bahu Langit pelan. “Ih! Lagi serius malah becanda. Kamu tuh yaaa… ngeselin banget!”
“Tapi kamu senyum kan?” Langit mencondongkan wajah, matanya memperhatikan Azura dengan penuh perhatian.
Azura hendak membalas ketus, tapi senyumnya keburu pecah. “Iya… iya. Senyum.”
“Nah, berarti berhasil,” kata Langit sambil tersenyum lebar, senyum yang selalu berhasil menenangkan Azura sejak mereka kecil.
Untuk beberapa detik, mereka hanya saling menatap. Ada kehangatan yang sulit dijelaskan, sesuatu yang bukan lagi sekadar persahabatan, tapi juga belum berani disebut cinta.
“Lang…” Azura memanggil pelan.
“Hmm?”
“Kalau misalnya suatu hari aku pergi jauh… kamu bakal nyariin aku nggak?”
Langit mendadak terdiam. Senyum cerobohnya hilang, digantikan sorot serius yang jarang muncul. “Aku nggak mau kamu pergi,” jawabnya jujur, tanpa ragu sedikit pun. “Dan kalau pun kamu pergi… aku pasti nyari. Sampai ketemu.”
Azura menunduk lagi, tapi kali ini bukan karena sedih—melainkan karena wajahnya memanas. “Kamu ngomong gitu bikin aku—”
“Jatuh hati?” Langit menyelutuk cepat, nada suaranya penuh godaan.
Azura langsung memukul lengannya. “HEH! Enggak! Maksudku—eh—itu bukan—uh—ya pokoknya bukan begitu!”
“Hmm… tapi mukamu merah,” goda Langit sambil menyipitkan mata.
Azura menutupi pipinya dengan kedua tangan. “Diam, Langit!”
Langit tertawa kecil, kemudian kembali mengusap puncak kepala Azura dengan lembut. Gerakan sederhana, tapi terasa sangat tulus. “Zura… kamu boleh dateng kapan pun. Mau sedih, mau kesel, mau cuma mau nyebelin aku… dateng aja. Tempat ini, aku, dan semuanya di panti… selalu ada buat kamu.”
Azura menurunkan tangannya perlahan, lalu menatap Langit dengan mata yang lebih tenang. “Makasih, Lang.”
“Tentu,” jawab Langit sambil tersenyum. “Lagian… kalau kamu nggak datang, siapa lagi yang bakal nyubit lenganku tiap hari?”
Azura tertawa kecil. “Ih! Kamu ngadu?”
“Enggak dong.” Langit kembali menatapnya lembut. “Aku cuma… kangen.”
Azura terdiam. Di antara angin sore yang menjelang malam juga pemandangan senja yang indah, suara anak-anak panti, dan jarak satu kilometer yang tadi ia tempuh… entah bagaimana, hatinya merasa pulang.
Langit baru mau membuka mulut lagi saat suara langkah kecil terdengar dari arah pintu panti. Seorang anak laki-laki mungil, pipinya tembam, rambutnya berantakan seperti habis tidur siang, berlari kecil menghampiri mereka.
“Kak Juraa!! Kak Langitt!!” panggilnya dengan suara lucu yang belum jelas benar. Ia menyeret boneka dinosaurus hijau yang hampir sama besarnya dengan dia sendiri.
“Ayo bunda kitaaa… disuruh mamam!” lanjutnya semangat, meski kalimatnya acak-acakan.
Azura langsung menoleh, matanya berbinar. “Dek Haaan!” serunya sambil membuka kedua tangan.
Tanpa pikir panjang, Farhan—atau yang biasa mereka panggil dek Han—langsung menabrak pelukan Azura dengan tawa kecil. “Kak Juraa ilang lamaaa,” keluhnya dengan suara cempreng.
Azura terkekeh, memeluk tubuh kecil itu erat-erat. “Iyaaa, maaf ya sayang. Kakak Zura sibuk… tapi kakak kangen banget sama dek Han.”
Ia mengecup puncak kepala Farhan dengan sayang. “Aduh makin gendut aja kamu, ya? Hah? Siapa yang ngasih makan banyak?”
Farhan menatap Azura sambil memonyongkan bibir. “Heumm…Kak Langit!” katanya sambil menunjuk Langit.
Langit spontan terbatuk. “Heh! Aku cuma ngasih dia dua roti, sumpah. Dua!” protesnya.
“Dua roti?!” Azura menatapnya seperti mau menegur. “Lang, itu kebanyakan buat anak umur segini, tahu!”
“Tapi dia minta lagi!” Langit membela diri sambil menunjuk Farhan yang kini sudah tertawa cekikikan karena melihat dua orang itu bingung sendiri.
Dek Han kemudian meraih tangan Langit dan Azura sekaligus, menggandeng keduanya seperti tidak ingin lepas. “Ayo bunda… buruaaaan… mamam… nanti dimarahin Buuu Nur,” katanya dengan bibir belepotan air liur karena keburu semangat.
Azura mengelus rambut dek Han sambil tersenyum lembut. “Ya Allah, gemes banget sih kamu. Sini sini, kakak gendong.”
Ia pun mengangkat Farhan ke pangkuannya—meski dek Han sudah lumayan berat untuk ukuran anak empat tahun. Farhan langsung memeluk leher Azura seperti anak ayam yang kembali ke induknya.
“Aku kangen Kak Juraa…” bisiknya manja.
Azura melembut seketika. “Kakak juga kangen kamu, Han.”
Langit memperhatikan keduanya dari samping, senyumnya muncul tanpa bisa ditahan. Ada sesuatu yang hangat di dadanya, melihat Azura memeluk seorang anak dengan setulus itu. “Kamu cocok banget jadi mama, tau nggak?” celetuknya tiba-tiba.
Azura langsung menatap Langit tajam. “Heh! Ngomong apa sih!”
Tapi pipinya… jelas merah.
Farhan ikut menatap Langit, lalu dengan polos berkata, “Iyaa… Kak Zura kaya bunda-bunda…”
Azura menutup wajahnya dengan tangan satu sementara tangan lainnya tetap memeluk Farhan. “Kamu juga jangan ikut-ikutan, Han…”
Langit tertawa kecil, lalu mengusap kepala Farhan. “Yaudah, ayo kita makan. Dek Han keburu ngamuk nanti.”
Farhan mengangguk heboh. “Ayo ayo! Kak Langit gendong!”
“Aku lagi?! Kamu pikir aku Hulk?” protes Langit.
Namun saat Farhan mengangkat kedua tangan, minta dijemput, Langit langsung luluh. “Yaudah sini, bocil…”
Ia mengangkat Farhan dan meletakkannya di bahu seperti karung beras kecil. Farhan tertawa kegirangan, Azura ikut tertawa, dan untuk sesaat… semua kekhawatiran tadi hilang begitu saja.
Mereka berjalan menuju ruang makan panti—Azura menggandeng lengan Langit, Farhan menggandeng hati keduanya tanpa sadar. Dan sore itu terasa lebih hangat daripada biasanya.
*****
2 tahun kemudian... Langit dan Azura tetap dalam persahabatan mereka yang baik, Namun suatu hari Langit mendapatkan Suatu hal yang mengejutkannya.
Langit kini sedang berada di pantai Seorang diri, melihat pemandangan pantai dengan air berwarna biru yang sangat indah dalam kesunyiannya.
Sekarang pantai menjadi tempat favorit seorang Langit, la akan datang ke pantai jika dirinya merasa kesepian, bosan, atau bahkan merindukan seseorang. Namun entah mengapa ia tidak mengetahui siapa seseorang itu yang ia rindukan.
Sepertinya seseorang itu adalah keluarga Langit yang ia rindukan. Namun Langit tidak mengingat semua hal yang terkait tentang keluarganya.
“Mengapa tak ada satupun wajah keluargaku yang kuingat? aku merindukan mereka. Kapan mereka akan menjemputku kembali pulang?” pertanyaan-pertanyaan yang keluar begitu saja dari mulut Langit yang ia rasa tidak mungkin ada balasannya. tidak peduli akan itu, Langit akan terus berbicara dalam kesendiriannya.
“Hufft... Azura melupakanku ya? Mengapa dia tak pernah datang menemuiku lagi? Padahal aku belum sempat mengungkapkan, ahaha... pada akhirnya semua orang akan meninggalkanku kan? Yasudahlah." Langit duduk di pinggir pantai sambil sesekali bermain dengan air pantai lalu ia kemudian berdiri dengan tegapnya, tinggi badannya sekarang sudah diatas rata-rata. Sekitaran 180 cm.
Hendak Langit berbalik ingin pergi dari sana namun tiba-tiba seorang gadis menghampiri Langit dan memeluknya, dia.... Azura. Langit tidak mengerti ada apa dergan sahabatnya ini yang tiba-tiba datang dengan memeluknya dan Langit rasa ia menangis. Tubuh Azura dalam pelukan Langit bergetar.
“Zura... ada apa denganmu?”
Langit yang bingung atas perilaku Azura pun bertanya kepadanya.
Langit menatap Azura yang masih menggenggam tubuhnya, tubuh gadis itu bergetar tak terkendali. Suara napasnya tercekat, sesekali terdengar isakan pelan yang menusuk hati. Langit tak pernah melihat sahabatnya menangis seperti ini, dan untuk pertama kalinya, rasa panik bercampur bersalah menyelimuti dadanya.
“Zura… hei, tenang… semuanya akan baik-baik saja,” bisik Langit sambil mengusap puncak kepala Azura lembut. Jari-jarinya menelusuri rambutnya yang lembut, mencoba menenangkan. “Aku di sini… selalu ada untukmu. Kamu nggak sendirian, Zura…”
Azura menekuk tubuhnya lebih erat, menempelkan wajahnya di dada Langit, menumpahkan semua rasa yang selama ini tertahan. “Maaf… aku lama datang… aku… aku kangen banget sama kamu, Lang…” suaranya pecah, sesenggukan. Air matanya mengalir deras, tapi kali ini bukan hanya karena rindu biasa—ada rasa bersalah, ketakutan, dan rahasia yang terlalu berat untuk diungkap.
Langit memeluknya lebih erat, hatinya sesak melihat gadis itu menangis di pelukannya. “Zura… aku nggak pernah marah, ngerti nggak? Aku cuma… aku cuma takut kalau kamu sedih sendiri. Tapi aku ada di sini sekarang. Jadi jangan nangis sendirian lagi, ya?”
Azura mengangkat kepalanya sedikit, menatap Langit dengan mata merah dan berkaca-kaca. “Aku… aku selalu sibuk kuliah… dan aku nggak bilang apa-apa… padahal aku ingin… ingin datang… tapi… tapi aku takut kamu marah karena aku lama nggak muncul…”
“Zura…” Langit menahan napas, hatinya tersayat. Ia mengusap air mata Azura perlahan dengan ibu jari, menatap wajah sahabatnya itu yang kini tampak lebih dewasa tapi tetap sama—yang selalu berhasil menembus hatinya sejak mereka berusia sebelas tahun. “Aku nggak marah… malah… aku senang kamu datang sekarang. Itu yang penting.”
Azura terisak lagi, kali ini lebih deras. “Aku… aku kangen… kangen banget sama kamu… sama kita… sama semua waktu yang hilang…”
Langit menatapnya lama, perasaan campur aduk menguasai dadanya. Ia ingin menghibur, ingin memeluk, tapi juga ingin berkata lebih dari sekadar kata-kata biasa. “Zura… aku… aku juga kangen sama kamu… dan… aku…”
Azura menahan napas, kedua tangannya mengepal.
“Zura… aku rindu kamu bukan cuma sebagai sahabat,” suaranya rendah, hampir bergetar.
“Aku jatuh cinta sama kamu. Maaf, aku rasa aku bodoh buat berharap… tapi tetap aja aku nunggu, aku nunggu untuk bisa ngungkapin ini ke kamu, sampai aku berpikir…mungkin aku tak akan pernah mendapatkan kesempatan itu.”
Dan saat itulah—Langit akhirnya jujur.
Azura tersentak. Air matanya kembali pecah, kali ini lebih kuat, lebih menyakitkan, lebih dalam. Ia menangis terisak-isak, seperti kata-kata Langit adalah pisau yang menembus tempat paling rapuh dalam hatinya.
“Zura?!” Langit panik. Ia memegang kedua pipi Azura, mengangkat wajah gadis itu. “Hei… kenapa? Kamu nggak perlu jawab sekarang. Kamu nggak harus—”
Azura semakin menangis.
Tangannya menutup mulut, tubuhnya membungkuk sedikit, napasnya tersendat seperti sesak oleh sesuatu yang tak tertahan.
“Zura… kamu nangis gini kenapa? Kamu… kamu nolak aku ya?” Langit mundur setengah langkah, suaranya pecah.
“Kalau kamu nggak suka aku, nggak apa-apa. Tapi jangan nangis kayak gini… kamu bikin aku—”
Azura menggeleng cepat. “Bukan… b-bukan itu… Lang… bukan…”
“Lalu kenapa?”
Azura menunduk, seluruh tubuhnya gemetar keras. Ia mencoba bernapas tapi hanya terdengar suara patah di tenggorokannya.
“Zura… aku nggak ngerti… tolong… bilang sama aku…” Langit memegang kedua bahunya, memohon, setengah takut, setengah sakit.
Azura akhirnya mengangkat wajahnya.
Air mata menetes tanpa bisa dihentikan.
Bibirnya bergetar keras.
Hatinya runtuh.
Dan dengan suara paling lemah, paling hancur, paling menyayat…
Ia memanggil nama itu.
“Arshaka… maaf…”
Degh.
Langit tersentak.
Kata itu menghantam keras di kepala, seperti lonceng besar dipukul tepat di dalam tengkoraknya.
Arshaka.
Nama itu membelah kepalanya.
Menyayat dadanya.
Mengguncang seluruh ingatannya.
Tiba-tiba kepalanya terasa sangat sakit.
Sangat.
Sampai ia kehilangan keseimbangan, memegangi pelipis.
Potongan-potongan memori muncul—cepat, acak, dan menyakitkan.
Seorang bocah lelaki kecil.
Seorang gadis kecil menangis.
Tangan mungil yang saling menggenggam.
Suara seseorang berteriak memanggil…
Arsha…
Asha…
Arshaka…
Langit terhuyung.
Napasnya memburu.
Semua itu terasa seperti dunia menjungkir.
“Zura… kenapa kamu panggil aku… begitu…?” suaranya patah, bingung, ketakutan.
Azura hanya menangis tambah keras.
Tangannya menutup wajah.
Bahunya bergetar tak berhenti.
Karena kebenarannya…
lebih kejam dari penolakan.
Lebih pahit dari cinta tak terbalas.
Dan baru saja…
Azura membuka pintu menuju rahasia yang selama ini menghancurkan mereka berdua.
“Saat kau memanggilku… ‘Arshaka’ tadi…” suara Langit pecah, perlahan tapi berat. “Rasanya… seperti ada sesuatu di dalam diriku yang ditarik paksa keluar. Bukan sakit… tapi aneh… seperti aku pernah mendengarnya. Seperti nama itu… milikku. Tapi aku nggak tahu kenapa.”
Azura menahan napas. Matanya memerah lagi. Tanpa ia sadari, ia melangkah maju dan memeluk Langit untuk kedua kalinya—erat, seakan kalau ia melepas, segalanya akan runtuh.
“Langit…” suaranya bergetar, “maaf… kalau aku bikin kamu bingung. Atau takut. Tapi aku… aku harus bilang ini.”
Langit kaku. Jantungnya berdetak lebih cepat daripada tadi saat ia mengakui perasaannya.
Perasaan takutnya tumbuh—takut ditolak, takut Azura menjauh, takut kehilangan.
Azura menggigit bibirnya, menahan sesak di dadanya sebelum akhirnya berkata pelan, nyaris berbisik:
“Arshaka… maaf… tapi kamu bukan cuma Langit bagiku. Bukan cuma sekedar teman. Bukan juga sekedar sahabat. Tapi lebih dari itu, tapi… kita juga tidak mungkin bisa bersatu, langit.” Ia menarik napas panjang, air matanya jatuh.
“Aku adik kembarmu… Arshella.”
Deg.
Langit membeku.
Sampai angin pantai pun terdengar seperti berhenti.
Azura…
adik kembar?
Selama Sembilan tahun?
Selama ini?
“Azura…” Langit menatapnya dengan mata yang bergetar. “Apa… maksudmu?”
Suara itu nyaris pecah. Ketidakpercayaan mulai menguasai pikirannya, tapi ada sesuatu yang lebih besar dari itu—takut.
Takut pada kebenaran yang mungkin keluar dari bibir Azura.
Takut bahwa semua yang ia rasa selama ini… akan runtuh dalam sekejap. Ia bahkan belum memulainya.
“Nama asliku Arshella,” katanya lirih. “Dan kamu… Arshaka. Kita kembar, Shaka… kita saudara. Mungkin kalau kamu bertanya-tanya, lantas mengapa kita tak mirip? hiks…kita kembar tak identik.”
Langit menelan ludah. Dadanya terasa sesak sendiri. Bukan marah. Bukan tidak percaya.
Lebih seperti… seluruh hidupnya yang kosong tiba-tiba diberi bentuk.
Azura mengusap wajahnya sendiri, terisak. “Maaf… aku lama banget nyari kamu. Aku juga baru tahu tidak lama ini, aku selalu ingin mencari tahu semua kebenaran masa lalu ku… tapi jejaknya hilang terus… dan aku takut kalau aku bilang tiba-tiba kamu bakal menjauh.”
Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan.
“Aku takut kamu benci aku.”
Tanpa berpikir, Langit meraih kedua tangan Azura—menurunkannya perlahan dari wajah.
“Aku nggak mungkin benci kamu,” katanya pelan.
Nadanya pecah, tulus, panas.
“Azura… atau Arshella… siapapun itu… kamu tetap orang yang paling berarti buatku.”
Azura terisak makin keras.
Langit bingung—separuh hatinya masih sakit karena mengira rasa cintanya akan ditolak… tapi ternyata lebih pedih dari itu.
Cintanya jatuh kepada seseorang yang ternyata…
darah dagingnya sendiri.
Tapi di sisi lain—ada kehangatan asing yang muncul. Hangat yang… entah kenapa… terasa sangat dia rindukan.
Azura menyandarkan kepalanya di bahu Langit, suaranya bergetar:
“Kalau kamu siap, aku… aku bakal ceritain semuanya. Dari awal. Dari kejadian yang misahin kita.”
Langit mengangguk pelan, masih terkejut, masih bingung, tapi matanya tetap menatap Azura seakan ia takut Azura menghilang kalau ia berkedip.
Dan Azura pun mulai bercerita—tentang liburan kecil 14 tahun lalu, tentang truk yang menabrak beruntun, tentang ambulans yang datang berhamburan. Tentang bagaimana Arshella dan orang tua mereka dibawa ke satu rumah sakit…
…sementara Arshaka kecil dibawa ke rumah sakit lain.
“Langit… kamu hilang saat itu,” bisik Azura, air matanya jatuh lagi. “Semua orang panik. Semua mencari. Mama dan Papa nyaris kehilangan akal. Dan aku…” ia terdiam, suaranya patah. “aku sakit karena terus nyariin kamu. Kami semua waktu itu… cuma pengen kamu pulang.”
Langit meremas jemarinya sendiri. Hatinya berat—sangat berat.
Azura melanjutkan, “Tapi… Risa—wanita yang kamu kenal sebagai bundamu—dia sahabat Mama. Dia yang paling dekat sama keluarga kita. Dia sayang banget sama kamu, Langit. Mungkin terlalu sayang.”
Azura menatap Langit, penuh luka.
“Dia yang bawa kamu pergi dari rumah sakit dan pergi jauh selama beberapa tahun. Dia ngaku kamu anaknya.”
Langit mengangkat wajahnya perlahan. Ada air yang menggantung di matanya, tapi ia tahan.
Bukan karena ingin terlihat kuat—tapi karena ia tidak tahu harus merasakan apa.
Azura menarik napas gemetar. “Kak… seandainya hidup nggak sekejam ini… mungkin semuanya bisa beda.”
Kata-kata itu menghantam Langit lebih keras dari apa pun.
Karena ia paham.
Semua rasa yang ia simpan rapat-rapat—kerinduan, perhatian, kenyamanan setiap kali Azura tersenyum, dan cinta yang perlahan tumbuh tanpa ia sadari—
semua itu tidak pernah boleh ia punya.
Azura menunduk, bahunya bergetar. “Kita bahkan belum mulai apa-apa… Langit. Bahkan belum sempat jujur tentang perasaan kita sendiri.”
Langit memejamkan mata.
Belum mulai.
Belum apa-apa.
Tapi sudah berakhir.
“Zura…” suaranya retak. “Aku nggak marah. Hanya… sakit. Karena untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku tahu rasanya ingin sesuatu… yang ternyata sejak awal bukan untukku.”
Azura menutup mulutnya, menahan isak.
Langit tersenyum kecil—pahit, patah, tapi lembut.
“Dan aku tahu,” bisiknya, “kita nggak akan pernah bisa jadi apa pun selain… saudara.”
Kenyataan itu turun pelan-pelan, seperti ombak.
Tidak menghantam keras, tapi menenggelamkan perlahan—lebih menyakitkan.
Mimpi yang tidak pernah dimulai… kini harus berakhir sebelum sempat bernapas.
*****
Tiga tahun setelah kebenaran itu terungkap, hubungan Langit dan Azura tumbuh menjadi sesuatu yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Mereka melewati masa adaptasi yang canggung, penuh tawa aneh, debat kecil, dan candaan yang—anehnya—selalu berakhir membuat keduanya tersenyum.
“Langit, kamu tau nggak? Tiga tahun jadi saudaramu… aku baru sadar satu hal,” kata Azura suatu sore sambil duduk di balkon, menggoyang-goyang sendalnya.
Langit melirik. “Apa? Kamu menyesal?”
“Bukan,” Azura cemberut. “Aku cuma sadar… ternyata kau lebih ribet dari skincare-ku.”
Langit menahan tawa. “Ya maaf, aku lahir duluan tiga menit. Wibawa kakak tua harus dijaga.”
“Kakak-kakak… tapi minta uang jajan ke aku.”
“Itu strategi, namanya.”
Azura mendelik tajam tapi ujung bibirnya naik.
Begitulah mereka: manis, berisik, tapi hangatnya nggak pernah bisa disembunyikan.
---
Kadang, Langit suka tiba-tiba mengacak rambut Azura sampai kusut.
Azura teriak, “UgHHH! Langit!!! Aku udah catok ini dua puluh menit!”
Langit hanya menjawab santai, “Ya udah catok lagi. Kan ada aku buat nemenin.”
Kalimat sederhana itu—“kan ada aku”—selalu membuat Azura diam beberapa detik lebih lama dari seharusnya.
---
Suatu malam, mereka nonton film horor.
Satu jumpscare tiba-tiba muncul.
BRAKK!
Azura memekik keras, memeluk bantal.
Langit?
Langit malah terlonjak dan memeluk Azura kayak anak kucing ketakutan.
“WOI!” Azura menjitak. “Harusnya kamu yang melindungi aku, bukan nyawa kita tertukar!”
“Refleks, woy! Hantu tadi mukanya kayak kamu bangun tidur!”
Azura langsung terdiam. “…Oh jadi gitu. Baik.”
Besok paginya, Langit menemukan mie instan favoritnya hilang dari rak.
Azura hanya melengos penuh kemenangan, “Tante Ayana, Langit nyuri mie Azuraaa~!”
“HEH!? Itu mie aku dari kemarin!”
Begitulah keseharian mereka.
Hangat.
Berantem kecil.
Saling jahil.
Saling mengingatkan.
Yang diam-diam Azura sadari, Langit selalu memastikan satu hal:
ia ada untuk Azura, bahkan kalau ia sendiri lelah.
---
Suatu malam, sebelum tragedi itu, mereka berbicara di atap rumah.
“Zu.”
“Hm?”
“Kalau suatu hari aku hilang… kamu bakal nyari aku, kan?”
“Gila ya? ya jelas lah. Aku bakal cari sampai ujung samudra, juga sampai ujung dunia.”
Langit tertawa pelan. “Jangan sampai begitu.”
Azura menatapnya aneh. “Kenapa sih ngomongnya kayak mau pamit hidup?”
“…Nggak kok.”
Jawaban itu pelan.
Hampir seperti ia sedang berusaha percaya pada dirinya sendiri.
Azura tidak tahu,
malam itu, Langit memandangi wajah saudara kembarnya sedikit lebih lama.
Seakan ia sedang menghafalnya.
Seakan ia sedang merelakan sesuatu.
---
Keesokan paginya, mereka sempat bertengkar kecil.
“Langit, jangan pergi! Feeling-ku jelek banget.”
“Kamu nih paranoid. Aku cuma mau ambil kamera yang jatuh di pinggir jalan tadi malam.”
“Aku ikut!”
“Nggak. Kamu nanti panik kalau terjadi apa-apa.”
“Langit…”
Azura menahan lengan kakaknya. “Tolong. Denger aku. Jangan pergi.”
Langit menepuk kepala Azura lembut.
Jarang sekali ia melakukan ini.
“Tenang. Aku nggak apa-apa. Kan aku Langit—kamu nggak bakal kehilangan aku lagi.”
Azura menggigit bibir, namun akhirnya melepaskan genggamannya.
Langit tersenyum kecil dan mengambil langkah menjauh…
…tanpa sadar itu adalah senyum terakhir yang Azura lihat.
Pagi itu, Langit pergi dengan langkah ringan—yang Azura tidak tahu, itulah langkah paling menyakitkan yang akan selalu ia ingat.
Langit sempat melambai dari gerbang.
“Azuraaa! Jangan lupa makan siang! Jangan mewek kalo aku lama!”
Azura mengangkat alis. “Aku mewek karena kamu? Please. Aku cuma nangis kalau skincare-ku habis.”
“Bagus,” jawab Langit sambil tersenyum kecil. “Tetap cerewet ya.”
Azura tidak mengerti kenapa kata itu terasa seperti pesan perpisahan.
---
Beberapa menit kemudian.
Di persimpangan besar, Langit berjalan sambil menatap kamera yang ia temukan.
Ia menyeberang dengan pikiran melayang.
Seseorang berteriak dari kejauhan,
“Mas!!! Awas!!!”
Terlambat.
BRAAAAAKKK!!!
Suara hantaman memecah seluruh kota.
Secepat cahaya, kecelakaan tidak dapat terhindarkan. Waktu seakan berhenti. Tubuh Langit yang telah berlumur darah terpantul jauh dari lokasi kejadian. Sebuah truk yang menabrak seorang pemuda itu membuat orang-orang disana pada heboh melihat kejadian tersebut.
Orang-orang menjerit.
Seseorang memanggil ambulans dengan tangan gemetar.
Langit masih membuka mata tipis-tipis—menahan kesadaran yang terus kabur.
“Az… Zu…” bisiknya.
Nama yang ia bawa di ujung napasnya.
Lalu semuanya gelap.
*****
Azura menerobos koridor rumah sakit, dadanya serasa ditusuk setiap langkah.
“Langit jangan tinggalkan aku… jangan… jangan…”
Kalimat itu berulang, seperti mantra putus asa.
Saat mencapai UGD, Azura mengarah pada kedua orang tuanya yang sudah berada disana meninggalkan pekerjaan mereka begitu saja. Bunda Langit dan Azura bernama Ayana, ia menangis tersedu seraya meneriakan nama Langit.
Seketika lutut Azura melemah.
“Dokter…”
Suara itu pecah, hampir tak terdengar.
“Dokter… Langit mana?”
Dokter Rion tidak menjawab. Ia hanya mengangguk pelan ke sebuah ruang kecil di ujung lorong.
Gerakannya lambat. Terlalu lembut. Terlalu hati-hati.
Tanda pertama bahwa sesuatu telah hancur.
Azura melangkah.
Satu langkah.
Dua langkah.
Tiga langkah.
Napasnya patah-patah.
Ia membuka pintu.
Dan di sana—di atas brankar dingin—adalah Langit.
Tubuh yang selalu hangat…
…kini tertutup kain putih.
“L–Langit…”
Suara Azura retak seperti kaca jatuh ke lantai.
Ia mendekat dengan tangan bergetar, menarik kain putih itu sedikit.
Wajah Langit pucat.
Mata tertutup.
Darah masih membekas di pelipis.
Azura terdiam.
Hening.
Dunia membeku.
Lalu ia jatuh berlutut.
“Arshaka… bangun… bangun, ini bukan lucu. Ini bukan prank, kan? Kamu tuh paling nggak bisa bohong, tau?!”
Tangannya mencubit lengan Langit yang sudah dingin.
Tak ada reaksi.
“Kak… jangan tinggalin aku. Aku baru ketemu kamu. Aku baru ngerasain punya saudara… hiks… tolong…”
Dokter Rion menyentuh bahunya dengan lembut.
“Azura… kami sudah berusaha. Langit kehilangan terlalu banyak darah…”
Azura menggeleng cepat, kepalanya seakan menyangkal kenyataan itu.
“TIDAK! Langit harus hidup! Dia tuh suka janji—dia janji mau traktir aku! Dia janji mau ganti catok yang dia patahin! Dia janji mau nemenin aku nonton! DIA JANJI!!”
Jeritannya pecah di ruangan dingin itu.
“Langit… bangun… aku masih butuh kamu… aku… aku sendirian kalau nggak ada kamu…”
Air matanya jatuh mengenai pergelangan tangan Langit.
Namun Langit tak lagi menghapusnya.
“Kau kejam…” bisik Azura dalam tangis, suaranya patah-patah.
“Kau pergi setelah bilang ‘tetap cerewet ya’… bagaimana aku bisa cerewet kalau orang yang ingin ku-usili sudah nggak ada…?”
Tubuh Azura akhirnya limbung, jatuh ke lantai.
Dokter dan perawat berusaha mengangkatnya, namun Azura justru meraih tangan Langit erat—seakan jika ia melepaskan, Langit akan hilang selamanya.
“Jangan bawa dia… tolong… biarkan aku di sini… biarkan aku tetap sama Langit… tolong…”
Ayana memeluk Azura dari belakang, menangis bersamanya.
Azura menatap wajah kakaknya.
"Jadi.. a-aku sendiri mulai sekarang?"
Pertanyaan itu begitu pelan, tapi menghancurkan.
Tak ada yang bisa menjawab.
Kecelakaan tragis, takdir yang kejam, merenggut Langit dari Azura, meninggalkan kekosongan menganga dalam hidup mereka.
Azura hancur, dunia di sekelilingnya runtuh. Gelak tawa yang dulu memenuhi harinya digantikan oleh keheningan yang mencekam, sebuah pengingat akan kehilangan yang dialaminya.
Diserap oleh kesedihan, Azura mundur ke dalam kesendiriannya, dunia di luar memudar menjadi kabur. Dia menemukan pelipur lara dalam kesunyian ditemani, membenamkan dirinya dalam buku dan seni, mencari perlindungan dari rasa sakit yang menggerogoti hatinya. Teman dan keluarga berusaha menghubungi, memberikan kenyamanan dan ketenangan, namun Azura tetap tidak bisa ditembus, terjebak dalam keputusasaannya.
*****
Azura berlari kencang menyusuri koridor rumah sakit dengan air mata yang telah setia menemaninya berlari.
"Ku mohon jangan...." harap gadis cantik itu dengan lirih.
Azura sampai di depan UGD dengan napas terengah. Obsidiannya yang telah basah mengedar, mengarah pada beberapa orang yang tertunduk.
"Dokter?" panggil Azura pelan.
Seorang Dokter yang menangani Langit bernama Rion yang merasa terpanggil pun menoleh, kesedihan Dokter Rion tidak dapat ia sembunyikan.
Setalah memanggil Dokter Rion,
Firasat Azura buruk.
"Dokter Rion...Langit mana?" tanya Azura pada akhirnya. Dokter Rion hanya mengarahkan Azura oleh telunjuknya.
Azura melangkah dengan pelan seraya merapal doa dalam hati, "Langit kau harus kuat."
Pintu itu Azura dorong dengan perlahan. Pedih menghunus hati begitu dalamnya, harap menguap bersama sosok yang kini tubuhnya tertutupi kain putih di atas brankar.
Tubuh Azura bergetar, "La-langit..," lirihan itu terdengar menyakitkan.
Azura membuka kain putih itu dengan perlahan, tampak pemuda tangguh yang amat ia kenal.
Azura bisa melihat darah Langit tidak berhenti mengalir.
"Langit kehilangan banyak darah, dokter tidak bisa menyelamatkannya." ucap Dokter Rion yang entah sejak kapan berdiri di samping Azura.
Azura menggeleng, "Arshaka, kau tidak boleh pergi hiks tolong..," gadis cantik itu terus menggeleng dan meracau menangis. Dokter memegangi bahu Azura. Lalu Ia berkata "Biarkan Langit pergi dengan tenang, Azura. Jangan bebani dia. Ikhlaskan ya?"
"Tidak! Langit harus hidup! Langit tidak boleh pergi!" Azura berteriak lantang dengan tangis yang sedari tadi pecah. "Langit.. bangunlah. Ku mohon..." Azura mengguncang tubuh Langit yang sudah tidak bernyawa.
"A-aku kehilangan lagi hiks"
Tubuh Azura meluruh membentur lantai begitu saja. Tangisnya menggema di samping Langit yang tak lagi ingin membuka mata indahnya kembali.
Tugas Langit di dunia telah selesai, Ia sudah bertemu dengan keluarga lengkapnya Ia sudah bahagia lebih dari cukup.
*****
Tahun-tahun berlalu, dan kota yang dulunya ramai dan menjadi latar belakang pengalaman mereka bersama kini tampak seperti gurun terpencil bagi Azura. Gedung pencakar langit yang menjulang tinggi, yang dahulu merupakan simbol kemajuan dan prestasi, kini menjadi pengingat akan kekosongan yang telah melanda hidupnya.
Suatu hari, Azura mendapati dirinya ditarik kembali ke tempat di mana saudaranya menemui ajalnya. Dia berdiri di sana, memandangi tempat di mana kehidupan Langit berakhir secara tragis, dan gelombang kenangan menyapu dirinya. Dia mengenang kenangan masa kecil mereka, impian mereka bersama, dan ikatan tak terpatahkan yang pernah menyatukan mereka walau pada saat itu hanya sebagai sahabat.
Saat matahari mulai terbenam, menimbulkan bayangan panjang melintasi pemandangan kota, Azura akhirnya memecah kesunyiannya.
"Langit," bisiknya, suaranya nyaris tak terdengar,
"Aku merindukanmu." Kata-kata itu menggantung berat di udara, ekspresi pedih dari kesedihan mendalam yang telah menguasai dirinya begitu lama.
“Kau bilang akan selalu berada disisiku....haha aku kehilangan lagi, ya.”
Azura berpaling dari lokasi kecelakaan saudara kembarnya, beban kesedihan menimpanya. Namun di tengah kesedihan yang berkepanjangan, ada secercah harapan, secercah cinta yang pernah berkobar begitu terang di antara kedua bersaudara itu. Bahkan dalam kematian, roh Langit tetap hidup dalam diri Azura, mengingatkannya akan kegembiraan, tawa, dan ikatan tak terpatahkan yang telah mereka bagi bersama.
Dan pada saat itu, Azura menemukan sedikit penghiburan, mengetahui bahwa hubungan mereka akan selamanya melampaui batas hidup dan mati. Lampu-lampu kota berkelap-kelip bagaikan bintang di kejauhan, membimbingnya kembali melewati labirin kesedihannya, menuju masa depan. meski selamanya berubah karena kehilangan saudara tercintanya, menjanjikan kesembuhan dan warisan abadi dari kasih sayang mereka bersama.
Pada tahun-tahun berikutnya, Azura membawa kenangan dengan kakaknya bersamanya, hatinya selamanya tersentuh oleh cinta yang mereka bagi bersama. Dia terus menjalani hidupnya dengan tenang dan bermartabat, semangatnya dilunakkan oleh rasa kehilangan, namun selamanya diperkaya oleh kenangan dengan Langit yang dicintainya.
Dan meskipun kota terus bersenandung dan berdengung di sekelilingnya, Azura menemukan penghiburan di saat-saat tenang, ketika gema tawa Langit memenuhi hari-harinya, sebuah pengingat bahwa ikatan mereka akan tetap ada selamanya, sebuah mercusuar cinta di tengah lanskap yang terus berubah kehidupan.
“Aku akan terus berjuang untukmu, Langit. Berbahagialah disana. Tunggu aku dan Sampai jumpa di kehidupan selanjutnya......Aku merindukanmu.”
END