Dapur itu adalah jantung yang berdegup paling kencang di rumah mereka. Sejak kepergian Pak Rahman, bunyi desis minyak panas dan uap dari dandang nasi adalah musik latar bagi kehidupan Aline, Bila, dan Cheny. Namun, pagi itu, musiknya terdengar sumbang.
"Ini beneran, Kak? Alamatnya beneran di gedung ini?" Suara Bila gemetar. Ia memegangi tumpukan kotak nasi yang masih hangat.
Aline mengecek ponselnya. Layar retaknya menunjukkan percakapan WhatsApp dengan seseorang bernama 'Pak Hendra—Operasional Bank'. Pesanannya jelas: 200 kotak nasi ayam bakar madu untuk gathering karyawan. Total nilai pesanannya hampir setara dengan cicilan uang semester Aline dan biaya praktikum Bila.
"Iya, Bil. Lantai 12. Tapi kata resepsionis, nggak ada acara apa pun di sini hari ini," sahut Aline. Wajahnya pucat.
Aline mencoba menelepon nomor itu lagi. Tuuut... tuuut... Lalu, nomor itu tidak aktif. Foto profilnya hilang. Centang satu.
"Kita di-ghosting, Kak?" Cheny, si kecil yang sedang memegang botol-botol minuman, mulai berkaca-kaca. "Tapi modalnya kan pakai uang tabungan Cheny buat beli krayon baru..."
"Bukan cuma uang kamu, Cheny. Itu uang modal terakhir Ibu," bisik Aline.
Tiba-tiba, sebuah notifikasi masuk dari nomor tidak dikenal. Sebuah pesan singkat: “Terima kasih nasi gratisnya. Lain kali kalau mau jualan online, jangan lugu-lugu amat. Salam buat Ibu kalian.”
Itu adalah serangan mental yang telak. Si penipu bukan sekadar ingin uang, ia ingin menghancurkan mental mereka.
Di dapur, Bu Halimah sedang mengelap meja kayu yang sudah lapuk. Begitu melihat ketiga anaknya pulang dengan motor yang masih penuh muatan, ia tahu ada yang tidak beres. Tidak ada keceriaan. Hanya ada aroma ayam bakar yang kini tercium seperti aroma kekalahan.
"Bu... Aline minta maaf. Aline kurang teliti. Aline nggak minta uang muka duluan karena dia bilang ini pesanan instansi resmi," Aline tertunduk, bahunya terguncang.
Bu Halimah tidak marah. Ia justru mendekat, memeluk Aline, lalu Bila, dan menarik Cheny ke dalam lingkaran itu.
"Dengar Ibu," suara Bu Halimah tenang namun berwibawa. "Dunia ini luas. Isinya macam-macam. Ada orang baik seperti bapakmu, ada orang yang hatinya sudah mati seperti orang ini. Kehilangan uang itu kecil, Aline. Tapi kehilangan harapan? Itu baru kiamat. Kalian mau kiamat hari ini?"
"Tapi uangnya, Bu... Biaya kuliah Kak Aline gimana? Uang ujian Bila?" Bila terisak. "Aku capek, Bu. Capek jualan di sekolah, dicibir anak-anak karena tasku bau minyak, eh sekarang malah ditipu."
"Bila, kamu tahu kenapa baja itu kuat?" Bu Halimah menatap mata anak tengahnya. "Karena dia dibakar di api yang paling panas, lalu ditempa berkali-kali. Kalau kamu cuma mau jadi plastik, kamu nggak akan pernah ngerasain panasnya api, tapi kamu bakal meleleh kena sinar matahari sedikit saja. Kalian ini baja-bajanya Ibu."
Konflik tak berhenti di sana. Tekanan sebagai sandwich generation mulai menggerogoti mental mereka. Aline, di sela-sela semester tiganya yang padat, harus menghadapi kenyataan bahwa klien les privatnya mulai berkurang.
Suatu malam, Aline pulang jam 10 malam setelah mengajar di pinggiran kota. Ia kehujanan. Di meja makan, ia melihat Bila sedang menangis sambil mengerjakan tugas matematika yang menumpuk, sementara di sampingnya ada 50 donat yang harus dibungkus.
"Gue nggak kuat, Kak," ujar Bila, menggunakan bahasa yang lebih santai saat hanya berdua dengan kakaknya. "Teman-teman gue lagi bahas konser, bahas skincare, bahas liburan ke Bali. Gue? Gue bahas harga terigu yang naik seribu perak. My mental health is literally screaming."
Aline menghela napas, ia melepas jaketnya yang basah kuyup. "Lo pikir gue nggak? Tadi di kampus, dosen gue nanya kenapa tugas gue berantakan. Gue nggak mungkin bilang, 'Maaf Pak, saya habis goreng risoles sampai jam 2 pagi'. Mereka nggak akan peduli, Bil."
"Terus kita harus gimana? Berhenti?"
"Nggak. Kita pivot," ujar Aline mantap. "Kita nggak bisa cuma ngandelin pesanan besar yang berisiko. Kita harus masuk ke niche yang lebih aman. Besok, lo bawa donatnya dalam kemasan kecil, kasih nama yang keren. Jangan bilang 'Donat Bu Halimah'. Kasih nama 'Cloudy Donuts'. Pakai bahasa yang anak-anak sekolah lo suka. Gue yang urus branding-nya di TikTok."
Aline mulai menggunakan keahliannya. Ia membuat konten behind the scenes perjuangan mereka. Bukan konten sedih yang meminta belas kasihan, tapi konten hustle culture yang estetik. Ia memfilmkan Cheny yang dengan telaten menempel stiker, Bila yang bernegosiasi di kantin, dan tangan Bu Halimah yang penuh tepung.
Masalah baru muncul. Cheny, yang biasanya paling penurut, mulai menunjukkan pemberontakan kecilnya. Di sekolah, ia diejek karena sepatunya yang sudah jebol di bagian depan.
"Cheny nggak mau sekolah kalau nggak dibeliin sepatu baru!" teriak Cheny pagi itu. Ia melempar tasnya.
Bu Halimah terdiam. Ia baru saja membayar tagihan listrik yang tertunggak dua bulan. Sisa uang di dompetnya hanya cukup untuk bahan baku besok.
Aline yang baru mau berangkat kuliah terhenti. Ia melihat ke arah Cheny, lalu ke arah ibunya yang tampak sangat lelah. Lingkaran hitam di bawah mata ibunya tak bisa lagi disembunyikan dengan bedak murah.
"Cheny, ikut Kakak," Aline menarik tangan adiknya ke kamar.
"Ngapain? Kakak mau marahin Cheny juga?"
Aline membuka laptopnya. Ia menunjukkan saldo di akun e-wallet miliknya. Hasil dari mengajar les privat selama sebulan penuh yang rencananya mau ia pakai untuk membeli buku referensi asli yang harganya jutaan.
"Ini uang Kakak. Harusnya buat beli buku. Tapi, sore ini kita ke toko sepatu. Kita beli yang paling bagus yang cukup buat uang ini. Tapi janji sama Kakak, setelah ini, kamu nggak boleh bikin Ibu nangis lagi. Ibu itu lagi perang, Cheny. Jangan ditembak dari belakang oleh anaknya sendiri."
Cheny terdiam. Ia melihat kakaknya yang memakai sepatu yang juga sudah pudar warnanya. "Sepatu Kakak gimana?"
"Kakak bisa pakai semir hitam. Gampang. Yang penting kamu sekolahnya semangat."
Puncaknya terjadi saat Bu Halimah jatuh pingsan di depan kompor. Diagnosanya: kelelahan akut dan anemia. Dunia seolah berhenti bagi ketiga bersaudara itu.
Di ruang perawatan kelas tiga yang sesak, Aline duduk di samping ibunya yang masih pucat. Bila dan Cheny tertidur di kursi tunggu yang keras.
"Bu, istirahat ya," bisik Aline.
"Pesanan donat besok gimana, Line?" suara Bu Halimah parau. "Ada pesanan dari kantor kecamatan..."
"Biar kami yang urus. Ibu cukup bernapas saja. Itu sudah bantuan terbesar buat kami."
Malam itu, untuk pertama kalinya, dapur dikendalikan sepenuhnya oleh ketiga bersaudara. Aline memimpin operasional, Bila menangani penggorengan, dan Cheny—dengan sepatu barunya—menjadi kurir kecil yang membantu mengemas barang.
Mereka bekerja dalam diam, hanya suara sutil yang beradu dengan wajan. Ada rasa lelah yang menghujam tulang, ada kantuk yang luar biasa, namun ada juga kekuatan baru yang muncul. Mereka menyadari satu hal: mereka adalah ekosistem. Jika satu goyah, semua runtuh. Maka, pilihannya hanya satu: saling menguatkan.
Saat fajar menyingsing, 500 paket makanan siap di atas meja. Aline memandang adik-adiknya yang tertidur lelap di meja makan, bersandar pada lengan mereka yang belepotan tepung. Ia memotret momen itu, lalu mengunggahnya dengan caption singkat:
"We don't have a rich dad, but we have a warrior mom. Dan itu lebih dari cukup untuk membuat dapur ini tetap mengepul."
Postingan itu viral. Bukan karena mereka menjual kesedihan, tapi karena mereka menjual ketangguhan yang jujur. Pesanan mulai membanjiri DM mereka. Meski hidup tetap tak mudah dijalani.
---
Siang itu, koridor SMA Bina Bangsa terasa lebih panas dari biasanya. Bila baru saja selesai meletakkan dua boks donat terakhir di kantin saat segerombolan siswi dengan seragam yang sengaja dikecilkan menghadangnya. Di tengah mereka adalah Sarah, anak seorang pengusaha properti yang koleksi tasnya seharga biaya kuliah Aline satu semester.
"Duh, kecium nggak sih? Bau minyak goreng," sindir Sarah sambil mengibaskan tangan di depan hidungnya. Teman-temannya tertawa renyah, tipe tawa yang membuat telinga Bila berdenging.
"Bila, lo itu ke sekolah mau belajar apa mau jadi supplier gorengan sih?" timpal mika, tangan kanannya sibuk memainkan ponsel high-end keluaran terbaru. "Kasihan tahu, lo merusak pemandangan sekolah swasta kita. Di sini tuh tempatnya orang menuntut ilmu, bukan tempat pasar kaget."
Bila mencoba tetap tenang. Ia merapikan boks kosongnya. "Gue nggak ngerugiin siapa-siapa, Sar. Gue juga tetap masuk peringkat lima besar."
"Ya tapi kan vibes-nya beda, Bil," Sarah melangkah maju, menatap sepatu Bila yang sudah mulai menipis solnya. "Fokus lo udah terbagi. Lo sekolah cuma buat jualan. Kalau emang nggak mampu bayar SPP swasta, mending pindah ke sekolah negeri yang murah atau sekalian aja kursus masak. Sayang banget kursi sekolah ini ditempatin sama orang yang otaknya cuma isinya 'untung seribu perak'."
Kalimat itu menusuk tepat di ulu hati. Bila ingin membalas, ingin rasanya ia berteriak bahwa donat-donat itulah yang menjaga martabat keluarganya. Tapi suaranya tertahan di tenggorokan. Ia hanya bisa menunduk, berjalan cepat melewati mereka dengan mata yang mulai memanas.
Hal serupa terjadi pada Aline di kampus. Sebagai mahasiswi semester tiga yang selalu terlihat membawa tas besar berisi laptop dan tumpukan modul les, Aline sering dianggap sebagai "mahasiswa aneh".
Sore itu, di ruang himpunan, beberapa teman seangkatannya sedang mendiskusikan rencana healing setelah ujian tengah semester.
"Aline, lo ikut kan? Kita mau ke villa di Puncak, staycation tipis-tipis buat mental health," ajak Reno, salah satu teman kelasnya.
Aline tersenyum tipis sambil membereskan bukunya. "Maaf, Ren. Gue ada jadwal ngajar privat sore ini, terus malamnya harus bantu Ibu di dapur."
Tio, yang sejak tadi duduk di pojok, mendengus. "Line, lo itu ambis atau pelit sih? Hidup lo cuma isinya cari duit, cari duit, dan cari duit. Lo sadar nggak sih, masa kuliah itu cuma sekali? Lo ke sini buat cari gelar dan relasi, bukan buat jadi budak rupiah. Jangan-jangan nanti pas wisuda, lo malah jualan risol di depan rektorat."
"Gue nggak punya pilihan, Tio," jawab Aline pendek.
"Semua orang punya pilihan, Line. Lo tinggal minta orang tua lo. Masa iya buat liburan doang nggak ada? Jangan-jangan lo emang sengaja jualan biar dapet simpati?" Tio tertawa, diikuti beberapa orang lainnya. "Sekolah itu buat investasi otak, bukan tempat nyambi jadi pedagang kaki lima."
Aline terdiam. Ia ingin menjelaskan tentang ayahnya yang sudah tiada, tentang ibunya yang berjuang sendiri, tentang adik-adiknya. Tapi ia tersadar, mereka yang lahir dengan sendok perak di mulutnya tidak akan pernah mengerti bahasa "survival". Bagi mereka, kesulitan adalah pilihan, sementara bagi Aline, kesulitan adalah kenyataan yang harus ditaklukkan setiap pagi.
Malamnya, rumah mereka terasa sunyi. Bila duduk di pojok dapur tanpa menyentuh tepung donatnya. Sementara itu, Cheny juga tampak murung karena teman sekelasnya mengejeknya "si tukang tempel stiker".
"Kak, apa bener kata mereka?" tanya Bila tiba-tiba. "Apa kita salah karena jualan di sekolah? Apa kita emang 'merusak pemandangan'?"
Aline berhenti mengemas pesanan online. Ia menatap kedua adiknya bergantian. "Dengerin Kakak. Orang-orang itu bicara begitu karena mereka nggak tahu rasanya punya tanggung jawab. Mereka pikir menuntut ilmu itu cuma duduk diam dengerin guru. Padahal, apa yang kita lakuin sekarang—belajar manajemen waktu, belajar sabar saat dihina, belajar jujur saat ditipu—itu adalah ilmu kehidupan yang nggak akan mereka dapetin di buku teks manapun."
Bu Halimah yang baru saja selesai shalat mendengar percakapan itu. Ia duduk di antara mereka.
"Anak-anakku," suara Bu Halimah lembut namun menggetarkan. "Bapak kalian dulu seorang guru. Beliau selalu bilang, ilmu yang paling tinggi adalah ilmu tentang 'tahu diri' dan 'tahu cara berterima kasih'. Kalian tidak sedang mencuri. Kalian tidak sedang meminta-minta. Kalian sedang memuliakan diri kalian sendiri agar tidak menjadi beban bagi orang lain."
Bu Halimah memegang tangan Bila. "Besok, bawa donatmu lagi. Kalau mereka bilang sekolah bukan tempat jualan, katakan pada mereka: sekolah adalah tempat belajar menjadi manusia. Dan manusia yang paling baik adalah yang tangannya di atas, bukan yang mulutnya sibuk mencela."
Malam itu, mereka kembali bekerja. Bukan dengan rasa malu, tapi dengan kepala yang tegak. Aline kembali membalas pesan pelanggan, Bila kembali menguleni adonan, dan Cheny kembali menempel stiker. Mereka sadar, ejekan teman-teman mereka hanyalah angin lalu yang berusaha memadamkan api kompor mereka. Tapi selama mereka bersatu, api itu akan tetap menyala, memastikan dapur tetap ngebul, dan masa depan tetap dalam genggaman.
---