Di desa Wiesfeld, penyihir selalu menjadi hal yang tabu. Desas-desus yang beredar menyebutkan bahwa mereka membawa kesialan, menyimpan kekuatan gelap, bahkan terikat kontrak dengan iblis.
Ema berjalan dengan kepala sedikit menunduk. Rambutnya kusut, pakaiannya terlalu besar untuk ukuran tubuh kecilnya. Suara orang berbisik datang lebih cepat dari langkah kakinya.
"Penyihir."
Kata-kata itu tak terucap di hadapannya, namun cukup dekat untuk dirasakan.
-
-
Suatu siang, anak-anak berkumpul di tanah lapang. Teriakan dan tawa mereka memantul ke dinding kayu. Ema berjalan pelan, menatap mereka dari kejauhan.
Salah seorang anak melihat Ema berdiri.
“Eh, lihat tuh.”
"Penyihir."
"Ayo usir dia."
Ema berhenti ketika anak-anak berlari ke arahnya. Tangan mereka menggenggam batu dan kerikil.
"Pergi. Rasakan ini."
Kerikil pertama melayang tanpa peringatan. Kerikil lain menyusul—kecil, tapi cukup menyakitkan. Ema hanya terdiam, melindungi kepalanya. Wajahnya meringis setiap kali kerikil itu mengenainya.
Di antara anak-anak itu, Dorian ikut mengangkat tangannya.
Batu di genggamannya terasa berat. Telinganya masih terngiang suara piring pecah dan bentakan keras di rumah. Ia melempar tanpa benar-benar menatap. Bahunya yang semula tegang perlahan mengendur. Tangannya berhenti mencari kerikil, sementara anak-anak lain masih tertawa.
"Anak-anak! Jangan dekat-dekat. Berbahaya!"
Suara itu terdengar dari kejauhan, seorang wanita paruh baya dengan tubuh sedikit bungkuk menatap ke arah mereka.
"Benar. Ayahku juga bilang begitu."
Anak-anak itu serempak membuang kerikilnya. Mereka pergi menjauhi Ema yang berdiri memegangi kepala. Tubuhnya bergetar sambil sesekali melirik dari celah tangan.
Dorian masih berdiri saat semua anak telah pergi. Ia menatap Ema sedikit lebih lama, sebelum akhirnya berbalik menyusul temannya.
-
-
Sore hari, rumah Dorian kembali riuh. Ia berlari ke tepian sungai.
Air sungai mengalir pelan di bawah cahaya senja yang mulai memudar. Di antara semak liar tak jauh dari tepian, Ema berjongkok. Tangannya memetik buah kecil yang tumbuh rendah di batang berduri.
Suara langkah tergesa terdengar.
Ema berhenti. Kepalanya terangkat sedikit, mengintip dari balik dedaunan.
Dorian duduk di atas bebatuan. Ia menarik lutut, mengusap wajah kasarnya. Bahunya bergetar saat menunduk lebih dalam. Suara sungai hampir menelan isak yang tertahan di tenggorokannya.
Ema memperhatikan dari jauh.
Ekspresi itu tidak asing. Sebuah ingatan singkat melintas—telapak tangan hangat menyentuh kepalanya saat ia kecil. Jemari yang mengusap rambutnya perlahan ketika ia menangis tanpa suara. Sentuhan itu tidak menghapus air mata, tapi membuatnya berhenti merasa sendirian.
Jari Ema yang memegang buah liar mengendur. Satu buah terjatuh tanpa ia sadari.
Tangan Ema terangkat sedikit, menyingkap dedaunan di depannya. Ia ragu, lalu perlahan mulai berdiri. Langkahnya pelan ketika keluar dari balik semak.
Dorian tersentak saat menyadari ada bayangan di sampingnya. Ia menoleh dengan cepat.
“Pergilah. Monster."
Ema maju selangkah lebih dekat.
Dorian meraih batu di tanah sekitar dan melemparkannya. Batu itu mengenai pelipis Ema hingga membuat tubuhnya terhuyung. Darah segar mengalir tipis, melewati alis dan menuruni pipinya.
Dorian membeku.
Kilasan rumah yang gaduh menyambar cepat.
Ia mundur selangkah. Tumitnya menginjak batuan basah yang bergeser pelan. Tubuhnya hilang keseimbangan dan terjatuh ke sungai.
Ema berdiri di tepian, mengulurkan tangannya.
“Jangan sentuh aku!” Teriak Dorian, menepis udara di depannya.
“Aku bilang pergi.”
Ema mundur selangkah, lalu berbalik menjauh.
Dorian berdiri terhuyung di tepian, napasnya masih berat.
Beberapa saat kemudian Ema berhenti, menoleh ke arah Dorian.
Ia mengangkat kedua tangannya. Dari jemari yang ternoda darah, cahaya kecil muncul. Kunang-kunang bercahaya lembut melayang keluar, bergerak pelan di udara senja.
Cahaya itu berputar di sekitar Ema, lalu memudar.
Dorian mengangkat pandangannya.
Kilasan samar muncul—cahaya kecil di malam hari, suara tawa yang jauh, sebuah nama yang pernah dipanggil dengan lembut.
Dorian menatapnya beberapa saat, lalu duduk kembali di atas batu. Jemarinya tidak lagi mengepal. Air mata perlahan turun dengan sunyi.
Ema mendekat. Tangannya yang semula ragu kini benar-benar menyentuh kepala Dorian. Sentuhannya hangat dan ringan.
Dorian tidak menepis kali ini.
-
-
Beberapa hari kemudian, pasar desa sedang ramai.
Ema berjalan di antara lapak-lapak, menatap buah-buahan dengan mata penasaran. Lengannya tak sengaja menyenggol keranjang, beberapa buah jatuh ke tanah.
“Apa yang kau lakukan? Mau mencuri, huh?!”
Suara itu menarik perhatian. Anak-anak yang sedang bermain mendekat. Kerikil kembali dilempar oleh tangan-tangan kecil.
Dorian ada di sana, berdiri paling belakang.
Seorang anak menyodorkan kerikil kepadanya.
“Giliranmu, Dorian.”
Dorian menerimanya tanpa bicara. Ia menimbangnya sebentar, lalu menarik tangan ke belakang.
Ema berdiri beberapa langkah di depan mereka, tubuhnya masih kaku. Seseorang melempar lebih dulu. Kerikil itu mengenai bahunya.
Tangan Dorian ikut terangkat.
Untuk sesaat, cahaya memantul di batu yang ia genggam. Sebuah bayangan singkat melintas. Di tepi sungai, cahaya kecil melayang di udara, sentuhan ringan di kepalanya.
Lengannya terhenti di tengah ayunan. Jemarinya mengendur. Batu itu tetap di tangannya ketika lengannya turun kembali.
Dorian berbalik.
“Sudahlah,” katanya singkat. “Dia membosankan. Main yang lain saja.”
Ia menjauh tanpa menunggu jawaban. Batu itu terlepas dari tangannya dan jatuh ke tanah. Anak-anak saling pandang, lalu satu per satu ikut bubar.
Ema berdiri di tempatnya. Ia menatap punggung Dorian sampai sosok itu menghilang.
-
-
Hari-hari berikutnya mengalir seperti sungai yang tenang.
Mereka tak pernah sepakat untuk bertemu. Namun selalu ada momen ketika Dorian duduk di batu yang sama, membelakangi dunia. Beberapa langkah darinya, Ema menggerakkan jemarinya pelan. Cahaya kecil muncul, lalu lenyap sebelum benar-benar terang.
“Dorian!”
Suara itu datang dari kejauhan.
“Ayo latihan!”
Ema mendengarnya dari balik semak. Bibirnya bergerak tanpa suara, menirukan bentuk yang sering ia dengar. Ia meletakkan rangkaian bunga kecil di dekat tempat duduk Dorian, lalu menjauh.
“Dorian!” teriak seseorang lebih keras.
Dorian menoleh, lalu melihat bunga di sampingnya. Kakinya bergerak lebih cepat dari pikirannya—menendangnya ke sungai sebelum berbalik pergi.
Ema terdiam, lalu berbalik.
Beberapa saat setelah punggung itu menghilang, Dorian kembali. Ia turun ke tepi sungai, mengambil rangkaian bunga yang basah, dan menyelipkannya ke saku tanpa ekspresi.
-
-
Angin musim gugur membawa kabar dari akademi ksatria. Nama Dorian tertera di daftar penerimaan, kecil namun cukup untuk menggeser seluruh hidupnya dari poros lama.
Sejak hari itu, sore-sore di tepi sungai terasa seperti hitungan mundur.
Ema berjongkok di antara rerumputan, memetik bunga liar yang tumbuh rendah di tanah lembap. Beberapa kelopak sudah terselip di sela-sela jari. Ia meniup serbuk halus yang menempel di satu tangkai, lalu menyusunnya pelan.
Langkah kaki terdengar di belakangnya.
Ema berhenti tanpa menoleh.
“Hei.”
Suara itu membuat bahunya sedikit terangkat.
Dorian berdiri beberapa langkah darinya. Rambutnya lebih pendek, bahunya lebih lebar.
“Hei, bodoh.”
Ema menoleh.
“Jangan diam saja,” katanya, memalingkan wajah ke arah sungai. “Cobalah lawan mereka yang menyakitimu.”
Ema berdiri perlahan.
Dorian merogoh sakunya, mengeluarkan sebuah jepit rambut kecil sederhana.
“Rambutmu berantakan.”
Ia mendekat selangkah, menyelipkan jepit itu dengan cepat dan canggung. Ujung jarinya menyentuh pelipis Ema sepersekian detik, kulit yang dulu pernah memerah karena lemparannya.
Dorian menarik tangannya kembali.
Dadanya naik turun perlahan. Matanya menatap Ema sejenak, lalu segera berbalik.
"Lupakan aku."
Ia menjauh sebelum Ema sempat mengangkat kepala.
Ema maju setengah langkah. Tangannya terangkat, bunga liar itu terjepit di antara jemarinya yang gemetar. Bibirnya terbuka sedikit, namun tak ada suara yang keluar.
Ia tetap berdiri cukup lama. Beberapa kelopak berjatuhan dari tangannya.
-
-
Musim berganti pelan.
Sungai mengalir seperti biasa. Ema masih datang ketika sore turun, duduk di batu yang sama. Kadang ia membawa bunga, kadang tidak membawa apa-apa. Jepit kecil itu tetap terpasang di rambutnya.
Tidak ada lagi langkah kaki yang datang dari belakang.
Beberapa hari terakhir, bau hangus tercium dari arah hutan. Rumput di tepi ladang menghitam seperti disentuh bara. Orang-orang menutup jendela lebih cepat saat senja turun.
Sore itu, anak-anak bermain tak jauh dari batas hutan. Tawa mereka memantul di antara pepohonan. Ema berdiri cukup jauh, di bawah bayangan pohon tua.
Sesuatu bergerak di antara semak.
Seekor makhluk tinggi berkulit merah kusam melangkah keluar dari bayangan. Matanya menyala redup. Setiap embus napasnya mengepul tipis di udara.
Seseorang berteriak.
Anak-anak berhamburan ke arah desa. Namun satu anak tersandung akar dan jatuh. Ia mencoba bangkit, tapi tubuhnya terlalu gemetar.
Makhluk itu mendekat.
Ema bergerak lebih cepat dari pikirannya.
Ia berlari ke arah anak itu. Tangan kecilnya terangkat. Cahaya tipis menyala di ujung jarinya. Sihir itu meleset—goyah, tapi mengenai bahu makhluk itu.
Makhluk itu menggeram. Luka tipis membelah kulitnya. Ia mundur, lalu menyipitkan mata.
Tubuhnya berbalik dan menyemburkan api ke ladang kering. Api menyambar cepat, menjilat pagar kayu dan jerami. Asap hitam membumbung tinggi ke langit.
Anak itu menjerit.
Ema berbalik hendak menariknya menjauh, namun semburan kedua melintas rendah, terlalu dekat.
Teriakan orang dewasa terdengar dari arah desa.
Makhluk itu menghilang ketika warga tiba. Api masih menjalar di ladang. Anak kecil itu menangis dalam pelukan ibunya, tak mampu mengucapkan satu kata pun saat ditanya.
Beberapa pasang mata beralih pada Ema.
Cahaya di ujung jarinya belum sepenuhnya padam.
“Sudah kubilang…”
“Penyihir itu pembawa sial.”
Seseorang meraih lengannya.
“Ikat dia. Bawa ke desa.”
Tali kasar melilit pergelangan tangannya. Kerikil beterbangan saat tubuh kecilnya didorong maju. Wajah-wajah yang dulu berbisik kini tak lagi ragu.
Di tengah desa, batu datang satu per satu. Lalu lebih banyak. Tak ada yang maju untuk menghentikannya.
“Enyahlah!”
“Bawa kutukanmu!”
Ema terhuyung, namun tetap berdiri. Jepit rambutnya terlepas dan jatuh ke tanah berdebu. Tak ada yang memperhatikan.
Lalu terdengar jeritan dari arah ladang.
Makhluk itu kembali.
Api menyambar lebih liar dari sebelumnya. Seekor bayangan merah melompat di antara atap-atap kayu. Kerumunan yang tadi rapat mendadak pecah menjadi kepanikan.
Tali yang mengikat Ema terlepas setengah ketika seseorang tersandung dan menabraknya.
Di tengah kekacauan itu, Ema merangkak meraih jepit rambut dan bersembunyi. Ia menyelinap ke balik gudang kayu yang setengah runtuh.
-
-
Asap terlihat di langit sebelum pasukan Dorian sampai di gerbang desa. Sejak pagi ia menerima laporan: pergerakan monster terdeteksi di beberapa jalur, termasuk desa Wiesfeld. Ia memacu kuda lebih cepat saat kepulan asap membumbung di udara.
Ketika ia tiba, desa sudah setengah runtuh. Di tengah puing, sesosok makhluk berdiri. Tinggi hampir dua kali manusia dewasa, kulitnya gelap kemerahan, sepasang tanduk melengkung dari pelipisnya. Di tangannya tergenggam pedang besar bergerigi, hampir setinggi Dorian sendiri.
Makhluk itu menatapnya, lalu menyerang. Benturan pertama membuat lengan Dorian mati rasa. Ia memutar tubuh, menghindari tebasan berikutnya. Tanah di belakangnya terbelah dalam satu garis panjang.
Setiap langkah mendorong Dorian mundur setengah tapak. Satu tebasan berikutnya membuatnya berlutut. Pedangnya menahan beban, retak tipis terdengar dari logamnya.
Makhluk itu mengangkat pedangnya tinggi. Pedang besar itu turun perlahan, menyisakan ruang yang sempit.
Di balik sisa dinding yang runtuh, Ema menahan napas. Pergelangan tangannya masih merah oleh bekas ikatan. Cahaya tipis mulai menyala di ujung jarinya. Ia keluar dari bayangan dengan langkah tertatih, tubuh kecilnya hampir tak seimbang.
Di sisi lain, seekor orc memperhatikannya. Bahunya lebar, menggenggam gada besi penuh duri. Matanya beralih pada cahaya di tangan Ema. Tubuhnya bergerak lebih dulu.
Ema menatap tangannya sendiri, sihir sudah penuh. Jemarinya bergetar saat melihat orc itu mendekat. Tubuhnya membeku. Ia menunduk sebentar, menatap jepit rambut di tangan kirinya.
Ia mengambil napas pendek, lalu menoleh ke arah Dorian. Jemarinya menutup, menggenggam jepit itu dengan erat.
Sihir itu dilepaskan. Cahaya tipis melesat, mengenai sisi rusuk monster bertanduk. Makhluk itu meringkik keras, kehilangan keseimbangan. Pedang besar meleset beberapa inci.
Dorian memutar pergelangan. Pedangnya menembus celah di bawah ketiak tanduk itu. Tebasan berikutnya tidak tertahan. Leher makhluk itu terhunus dalam satu gerakan bersih. Tubuhnya roboh perlahan.
Tepat saat itu, gada menghantam tubuh Ema dari samping. Suara tulang membentur tanah terdengar tipis. Tubuhnya terlempar, terguling di antara abu sebelum berhenti. Jepit rambut masih tergenggam erat.
Dorian mencabut pedangnya. Ada sesuatu yang aneh—cahaya itu bukan dari pasukannya. Ia menoleh, melihat tubuh Ema terbaring di tanah yang hangus. Orc itu masih berdiri, hendak mengangkat gada lagi.
“Ema...!” Dorian bergerak cepat. Orc itu tumbang dalam satu tebasan kilat.
Debu menempel di rambut Ema. Jepit kecilnya lepas, jatuh ke tanah berdebu. Darah tipis mengalir di sudut bibirnya. Napasnya tersengal. Matanya bergerak pelan, mencari sesuatu.
Dorian berlutut, membaringkan tubuh Ema di pangkuannya. Tangannya menggenggam tangan kecil itu—hangat, tapi rapuh.
“Bertahanlah! Bantuan segera datang.”
Ema mengangkat tangan, mencoba meraih Dorian. Bibirnya bergerak, tapi udara keluar lebih dulu daripada kata itu.
“Do... ri... an...”
Tangannya jatuh perlahan. Dorian tetap menggenggamnya. Debu berputar di udara, kobaran api menyala jauh di kejauhan, suara pasukan hanyalah bisikan yang menjauh. Untuk sesaat, dunia mengecil pada tubuh kecil di pangkuannya.
Mata Ema perlahan terpejam. Cahaya yang pernah menenangkan Dorian kini lenyap tanpa suara.
-
-
Event GC Rumah Menulis
Fantasy-Romance
Tema 2 : Cinta Penuh Perbedaan
"Terkadang cinta yang tulus datang dari seseorang yang tak mengerti apa arti cinta itu sendiri."