Cermin itu retak di hari yang salah. Aksa baru sadar setelah pulang latihan skateboard malam-malam. Keringat masih nempel di leher, napasnya belum stabil, dan adrenaline masih berisik di kepala. Begitu lampu kamar dinyalakan, pantulan wajahnya terbelah dua oleh garis tipis memanjang dari sudut kiri atas sampai ke bawah.
Retaknya halus. Tapi jelas.
“Anjir…” gumam Aksa.
Dia bukan tipe orang yang percaya mitos. Tapi sejak kecil, neneknya sering bilang: kalau cermin retak, akan ada yang pergi.
Aksa mengibaskan pikiran itu. Sok rasional. Sok dewasa.
“Cuma kaca doang,” katanya ke dirinya sendiri.
Tapi malam itu, tidur Aksa nggak pernah benar-benar nyenyak.
---
Sebelum semuanya hancur, hidup Aksa bisa dibilang ideal versi Gen Z.
Mahasiswa tingkat akhir. Aktif. Badan atletis. Hobinya nggak nanggung: skateboard downhill, wall climbing, trail run, freediving. Instagram-nya penuh video lompat, jatuh, bangkit, senyum.
Hidupnya gerak.
Dan di setiap gerak itu, selalu ada Raka.
Sahabat sejak SMA. Cowok tinggi, bahu lebar, tawa gampang pecah. Raka bukan yang paling jago, tapi paling setia. Kalau Aksa nekat, Raka yang nge-rem. Kalau Aksa jatuh, Raka yang pertama narik tangan.
“Kalau lo mati gara-gara hobi lo sendiri, nyokap lo ngamuk ke gue,” kata Raka suatu hari sambil ketawa.
Aksa jawab sambil pasang helm, “Tenang. Kalau gue mati, minimal mati stylish.”
Mereka ketawa. Hidup terasa ringan.
Sampai satu malam hujan.
---
Kecelakaan itu datang tanpa drama.
Lampu merah. Jalan basah. Motor dari arah kanan nyelonong.
Yang Aksa ingat cuma suara rem, benturan, dan langit muter.
Bangun-bangun, dunia sunyi.
Kaki kirinya nggak bisa digerakkan.
---
“Ini cedera serius,” kata dokter dengan suara netral yang terlalu dingin.
“Kita lihat nanti perkembangannya.”
Kalimat ‘kita lihat nanti’ itu kejam. Menggantung. Nggak ngasih harapan, tapi juga nggak ngebunuhnya sekalian.
Sejak hari itu, hidup Aksa berhenti berlari.
---
Rehab jadi rutinitas.
Sakit.
Malu.
Frustrasi.
Teman-teman datang di awal, lalu satu-satu hilang. Yang tersisa cuma Raka.
“Bangun, Sa,” kata Raka tiap pagi.
“Lo bukan cacat. Lo cuma lagi di-reset.”
Aksa pernah banting botol minum ke tembok.
“Lo nggak ngerti! Hidup gue isinya gerak. Sekarang gue apa?”
Raka diem lama.
“Lo tetap Aksa. Cuma versinya beda.”
---
Sejak kecelakaan, mimpi Aksa berubah.
Dia sering berdiri di depan cermin yang sama.
Retaknya makin panjang.
Di belakangnya, selalu ada bayangan.
Bukan hantu.
Bukan monster.
Cuma seseorang yang dia kenal.
---
Dan di saat yang sama, Naya datang.
Cewek kampus. Pecinta alam. Senyum terang.
Dulu Naya kagum sama Aksa yang fearless. Sekarang… dia bingung.
“Gue nggak butuh lo kuat tiap hari,” kata Naya suatu sore.
“Gue cuma butuh lo jujur sama diri sendiri.”
Aksa nggak jawab.
Malam itu, retakan di cermin makin jelas.
Dan untuk pertama kalinya, bayangan di belakangnya tersenyum.
---
Aksa mulai sadar satu hal:
sejak kecelakaan, dia bukan cuma kehilangan kaki yang patuh—tapi juga keberanian buat berharap.
Rehab berjalan lambat. Terlalu lambat untuk standar Aksa yang dulu bisa lari belasan kilometer tanpa mikir. Sekarang, berdiri sepuluh menit saja rasanya seperti lomba bertahan hidup.
Ruang rehab bau antiseptik dan keringat. Suara alat bantu geser lantai terdengar kayak desahan panjang orang-orang yang sedang belajar menerima diri.
“Fokus napas,” kata terapisnya.
Aksa mengangguk, tapi pikirannya melayang.
Ke cermin.
---
Cermin itu sekarang selalu terasa… hidup.
Bukan bergerak, bukan bicara. Tapi hadir.
Seolah menunggu Aksa menatap terlalu lama.
Suatu malam, Aksa berdiri pincang di depannya. Lampu kamar sengaja dimatikan setengah, biar nggak terlalu terang. Retakan itu kini bercabang—satu garis halus lagi muncul dari titik yang sama.
“Lo ngapain sih,” gumam Aksa ke pantulannya sendiri.
Bayangan di belakangnya muncul lagi.
Raka.
Kali ini lebih jelas.
Pakai hoodie hitam favoritnya, rambut sedikit basah, ekspresi capek tapi familiar.
“Lo makin males hidup, Sa,” kata bayangan itu santai, seperti obrolan tongkrongan.
Aksa reflek nengok.
Kosong.
Pas balik ke cermin, bayangan itu masih ada.
“Gue lagi capek,” jawab Aksa lirih.
“Capek pura-pura kuat.”
Raka di cermin tersenyum miring.
“Dulu lo capek jatuh. Sekarang lo capek bangun. Hidup emang gitu.”
“Lo gampang ngomong,” suara Aksa meninggi.
“Lo masih bisa lari. Panjat. Loncat.”
Bayangan itu diam agak lama.
“Yakin gue masih bisa?” tanyanya pelan.
Retakan di cermin bergetar halus.
Aksa mundur satu langkah.
---
Di dunia nyata, Raka masih setia.
Dia tetap datang ke rehab. Tetap maksa Aksa keluar rumah. Tetap ngajak nongkrong walau Aksa sering cuma duduk, nonton.
Tapi ada jarak yang tumbuh pelan-pelan.
Raka makin sering latihan ekstrem. Panjat tebing level lanjut. Persiapan ekspedisi.
Sedangkan Aksa… berhenti follow banyak akun hobi di Instagram. Terlalu nyeri buat dilihat.
“Lo jealous?” tanya Raka suatu sore, setengah bercanda.
Aksa nyengir tipis.
“Enggak. Cuma lagi ngerasa… ketinggalan.”
Raka menepuk bahunya.
“Lo nggak ketinggalan. Lo cuma di jalur lain.”
Kalimat itu niatnya baik.
Tapi entah kenapa, Aksa merasa semakin jauh.
---
Naya merasakan perubahan itu lebih cepat.
Aksa jadi gampang marah. Mudah menghindar. Susah disentuh—bukan secara fisik, tapi emosional.
“Gue kangen Aksa yang lama,” kata Naya jujur suatu malam di parkiran kampus.
Aksa memegang setang motor, menunduk.
“Dia udah nggak ada.”
Naya mendekat.
“Yang lama boleh pergi. Tapi jangan bawa diri lo ikut pergi.”
Kalimat itu bikin dada Aksa sesak.
Malam itu, Aksa mimpi lagi.
Dia berdiri di ruangan kosong.
Cermin besar di depannya—retaknya penuh, kayak jaring laba-laba.
Di belakangnya, bukan cuma satu bayangan.
Banyak.
Dan semuanya punya wajah Raka.
Serempak mereka berkata:
“Kalau lo berhenti, kami juga berhenti.”
Aksa terbangun sambil teriak.
---
Keesokan harinya, Raka pamit.
“Ada latihan panjat di luar kota,” katanya sambil masang helm.
“Cuma sebentar.”
Aksa mengangguk.
“Ati-ati.”
Raka berhenti sebentar.
“Sa… apa pun yang lo lihat akhir-akhir ini, jangan percaya semuanya.”
Aksa mendongak.
“Maksud lo?”
Raka tersenyum, tapi matanya aneh—seperti orang yang tahu sesuatu tapi nggak sanggup cerita.
“Kadang otak kita nyiptain hantu sendiri,” katanya.
“Hantu dari rasa takut.”
Motor Raka menjauh.
Angin sore itu dingin.
Dan retakan di cermin di kamar Aksa…
bertambah satu lagi.
---
Tiga hari kemudian, hujan turun deras.
Aksa sedang sendirian di kamar, latihan berdiri sambil pegangan kursi. Keringat jatuh ke lantai. Ototnya gemetar.
Tiba-tiba HP-nya bergetar.
Telepon dari nomor tak dikenal.
“Halo?”
Suara di seberang terdengar berat.
“Kami dari pihak SAR…”
Kalimat selanjutnya pecah.
Latihan panjat.
Tali putus.
Jatuh.
Aksa menjatuhkan HP.
Dunia mendadak sunyi.
---
Malam itu, Aksa duduk di depan cermin. Lama. Tanpa lampu. Hanya cahaya dari luar jendela.
Bayangan muncul lagi.
Raka.
Kali ini pucat. Bajunya kotor. Ada darah tipis di pelipis.
“Maaf,” kata bayangan itu pelan.
“Gue nggak bisa nemenin lo lebih lama.”
Aksa menangis.
“Jangan pergi.”
Raka tersenyum sedih.
“Gue nggak pergi. Gue cuma… pindah peran.”
Retakan di cermin berhenti bergetar.
Dan untuk pertama kalinya, Aksa sadar:
Cermin itu bukan membawa kematian.
Cermin itu menyimpan perpisahan.
---
Pemakaman Raka berlangsung sederhana.
Langit mendung. Angin pelan. Tanah merah masih basah oleh hujan semalam.
Aksa duduk di kursi roda, agak jauh dari kerumunan. Ia datang, tapi rasanya seperti setengah hadir. Dunia di depannya terlihat buram—bukan karena air mata, tapi karena pikirannya seperti tertinggal di tempat lain.
Di depan liang lahat, ibu Raka menangis tanpa suara. Ayahnya berdiri kaku, seperti patung yang lupa cara roboh.
Aksa ingin maju.
Ingin bilang maaf.
Ingin bilang terima kasih.
Ingin bilang ribuan hal yang terlambat.
Tapi tubuhnya terasa berat.
“Sa…” Naya berlutut di sampingnya. “Kalau mau nangis, nggak apa-apa.”
Aksa menggeleng pelan.
“Kalau gue nangis sekarang,” katanya lirih, “gue takut nggak bisa berhenti.”
Dan itu lebih menakutkan daripada air mata itu sendiri.
---
Malam setelah pemakaman, rumah Aksa terasa terlalu sepi.
Kamar Raka masih sering terbayang di sudut-sudut pikirannya. Tawa Raka. Omelan Raka. Cara Raka selalu berdiri setengah langkah di belakang—siap nolong tanpa minta kredit.
Aksa masuk ke kamarnya sendiri.
Cermin itu masih ada.
Retaknya kini penuh. Seperti peta hidup yang pernah pecah berkali-kali tapi belum dibuang.
Aksa berdiri lama di depannya.
“Kalau lo masih ada,” katanya pelan ke pantulan dirinya sendiri,
“kenapa lo pergi?”
Bayangan muncul perlahan.
Raka.
Tapi kali ini berbeda.
Tidak pucat.
Tidak berdarah.
Tidak menyeramkan.
Wajahnya tenang. Seperti orang yang sudah selesai dengan urusannya.
“Karena gue percaya lo bisa lanjut,” kata Raka.
Aksa menggeleng keras.
“Enggak. Gue nggak bisa. Hidup gue rusak. Badan gue rusak. Semua yang gue banggakan hilang.”
Raka menatapnya lama.
“Sa,” katanya pelan, “lo salah paham.”
“Apa?”
“Yang bikin lo berharga itu bukan lompatan lo. Bukan kaki lo. Tapi keputusan lo buat bangkit tiap kali jatuh.”
Retakan di cermin berkilau terkena cahaya lampu jalan.
“Gue nggak pengin lo hidup di masa lalu gue,” lanjut Raka.
“Gue pengin lo hidup di masa depan lo.”
Aksa menutup mata. Air matanya jatuh, satu-satu.
Saat ia membukanya lagi—
bayangan itu hilang.
Untuk terakhir kalinya.
---
Hari-hari setelah itu berat.
Aksa jatuh lagi di rehab.
Beberapa kali ingin menyerah.
Beberapa kali pengin kembali ke versi lama yang rasanya lebih mudah.
Tapi tiap kali hampir berhenti, Aksa ingat satu hal:
Raka tidak mati supaya Aksa berhenti.
Ia mulai serius di adaptif sport.
Belajar ulang tubuhnya.
Menerima batas, tapi tidak tunduk padanya.
Pelan-pelan, Aksa menemukan iramanya sendiri.
Bukan lari.
Bukan loncat.
Tapi bertahan.
---
Naya tetap ada.
Bukan sebagai penyelamat.
Tapi sebagai saksi.
Suatu sore, mereka duduk di tribun kecil lapangan.
“Gue sempat mikir pergi,” kata Naya jujur.
“Bukan karena lo cacat. Tapi karena lo nutup diri.”
Aksa menatapnya.
“Terus kenapa lo stay?”
Naya tersenyum tipis.
“Karena lo belajar buka diri lagi. Dan itu lebih seksi dari fisik mana pun.”
Aksa tertawa kecil. Tawa yang lama hilang.
---
Beberapa bulan kemudian, Aksa memindahkan cermin itu.
Bukan dibuang.
Ditempel di sudut kamar—agak miring, retaknya masih jelas.
Sebagai pengingat.
Bahwa hidup boleh pecah.
Bahwa kehilangan itu nyata.
Bahwa perpisahan itu sakit.
Tapi juga bahwa manusia bisa utuh dengan cara yang berbeda.
Suatu malam, Aksa berdiri di depannya. Sendiri.
“Gue nggak sempurna,” katanya pelan ke pantulan dirinya.
“Tapi gue masih di sini.”
Cahaya lampu bergetar sebentar.
Dan entah kenapa, Aksa merasa… tidak sendirian.
---
Di dunia ini, banyak orang takut pada retakan.
Takut pada kehilangan.
Takut pada perubahan.
Padahal, kadang yang retak justru jadi tempat cahaya masuk.
Dan sahabat yang pergi…
tidak benar-benar pergi.
Mereka hanya berhenti berjalan di samping kita—
dan mulai hidup di dalam langkah kita sendiri.
TAMAT