Gendis selalu menunduk saat berjalan.
Bukan karena ia rendah hati, melainkan karena ia lelah melihat pantulan dirinya di etalase toko yang berkilau. Kulitnya kusam akibat terpapar matahari saat membantu ibunya mengumpulkan rongsokan, rambutnya kering dan kaku, serta bekas luka bakar kecil di pipi kirinya—kenangan dari kecelakaan kompor saat ia masih kecil—menjadi stempel permanen yang membuatnya merasa "cacat".
Ia bekerja sebagai petugas kebersihan di sebuah firma hukum mentereng di Jakarta. Dengan seragam biru kusamnya, Gendis adalah sosok yang tak kasat mata.
"Gendis! Itu di ruangan Pak Adrian ada kopi tumpah. Buruan bersihin!" teriak Bu Ratna, kepala supervisor yang selalu ketus.
"Iya, Bu. Segera," jawab Gendis lirih.
Gendis membawa ember dan pel. Ruangan Adrian—pengacara muda yang sedang naik daun—adalah tempat yang paling ia hindari. Bukan karena Adrian jahat, tapi karena Adrian terlalu sempurna. Adrian tampan, wangi, dan memiliki suara bariton yang menenangkan. Berada di dekatnya membuat Gendis merasa seperti noda hitam di atas kertas putih bersih.
***Pertemuan yang Mengubah Segalanya***
Di dalam ruangan, Adrian sedang sibuk dengan tumpukan berkas. Gendis masuk dengan pelan, mencoba tidak menimbulkan suara. Namun, saat ia membungkuk untuk membersihkan noda kopi di dekat kaki meja Adrian, suaranya memecah keheningan.
"Nama kamu Gendis, kan?"
Gendis tersentak. Kepalanya hampir membentur kolong meja. Ia mendongak ragu, melihat Adrian yang kini menatapnya, bukan dengan tatapan jijik atau merendahkan, tapi dengan rasa ingin tahu.
"I-iya, Pak."
"Saya sering lihat kamu kerja sampai larut. Kenapa?"
Gendis meremas gagang pelnya. "Ibu saya sakit, Pak. Saya butuh lembur buat beli obatnya."
Adrian terdiam sejenak. Ia menutup map di depannya. "Kamu tahu, Gendis? Kadang saya iri sama kamu."
Gendis spontan tertawa kecil, sebuah tawa pahit yang kering. "Bapak bercanda? Saya miskin, muka saya... ya begini, Bapak punya segalanya."
"Saya punya segalanya, tapi saya nggak punya tujuan," sahut Adrian pelan.
"Setiap hari saya cuma ngurusin sengketa orang kaya yang serakah. Sedangkan kamu, kamu kerja keras buat orang yang kamu sayang. Itu punya makna jauh lebih besar daripada uang di rekening saya."
Gendis terpaku. Itu adalah pertama kalinya dalam dua puluh empat tahun hidupnya, seseorang melihat "makna" di balik penampilannya yang berantakan.
**Rahasia di Kantong Kresek**
Minggu-minggu berikutnya, rutinitas mereka berubah. Setiap jam lima sore, saat kantor mulai sepi, Adrian akan meminta Gendis membersihkan ruangannya, bukan karena kotor, tapi karena ia ingin bicara.
Suatu hari, Gendis membawa bungkusan nasi bungkus sederhana di kantong kresek hitam.
"Bapak sudah makan?" tanya Gendis ragu.
"Belum. Apa itu? Baunya enak," Adrian mendekat.
"Cuma nasi kucing dari angkringan depan, Pak. Nggak pantas buat Bapak."
Tanpa diduga, Adrian duduk di lantai, di atas karpet mahal ruangannya. "Sini, makan bareng. Saya bosan makan salad mahal yang rasanya kayak rumput."
Mereka makan lesehan. Gendis dengan rasa rendah diri yang masih menggelayut, dan Adrian dengan senyum yang tulus.
"Gendis, kenapa kamu selalu nutupin pipi kiri kamu pakai rambut?" tanya Adrian tiba-tiba.
Gendis tersedak. Ia segera menarik rambutnya lebih rapat. "Jelek, Pak. Ada bekas lukanya. Orang-orang bilang saya kayak monster."
Adrian meletakkan nasi bungkusnya. Ia mengulurkan tangan, jemarinya yang bersih perlahan menyentuh dagu Gendis, memintanya menoleh. Gendis gemetar, air mata mulai menggenang.
"Ini bukan bekas luka monster, Gendis," bisik Adrian. "Ini bukti kalau kamu adalah pejuang yang selamat. Kamu cantik dengan caramu sendiri. Jangan biarkan orang yang cuma bisa lihat kulit luar mendikte harga diri kamu."
Detik itu, benteng pertahanan Gendis runtuh. Ia menangis sesenggukan di hadapan pria yang seharusnya mustahil ia gapai.
**Badai Sebelum Pelangi**
Namun, kebahagiaan itu seperti porselen. Indah, tapi mudah pecah.
Kabar tentang kedekatan Adrian dan "si gadis pembersih" menyebar di kantor. Gosip pedas mulai beterbangan. Gendis difitnah mencoba menggoda Adrian demi uang. Puncaknya, Bu Ratna memanggil Gendis ke ruangannya.
"Kamu dipecat, Gendis. Kamu sudah bikin malu firma ini dengan skandal murahan kamu sama Pak Adrian. Sadar diri dong, kamu itu siapa? Sudah jelek, miskin, nggak tahu diri pula!" bentak Bu Ratna sambil melemparkan surat pemutusan hubungan kerja.
Gendis pulang dengan hati hancur. Di rumah gubuknya, ia melihat ibunya yang semakin lemah. Ia merasa dunia benar-benar tidak adil. Ia mematikan ponselnya, memutus kontak dengan siapa pun, termasuk Adrian. Ia merasa benar-benar kalah.
Tiga hari Gendis hanya mengurung diri, sampai sebuah mobil mewah berhenti di depan gang sempit rumahnya. Adrian datang, kemejanya berantakan, wajahnya tampak cemas. Ia harus berjalan melewati becekan dan tumpukan barang bekas untuk sampai ke pintu Gendis.
"Gendis! Keluar!" teriaknya.
Gendis membuka pintu dengan mata sembab.
"Pergi, Pak. Bapak cuma bikin hidup saya makin susah. Benar kata mereka, saya nggak pantas buat Bapak."
Adrian tidak pergi. Ia justru masuk dan berlutut di depan ibu Gendis yang terbaring.
"Ibu," kata Adrian lembut pada ibu Gendis. "Izinkan saya membawa Gendis pergi dari penderitaan ini. Bukan karena saya kasihan, tapi karena saya butuh dia untuk mengingatkan saya bagaimana caranya menjadi manusia."
Gendis terpana. "Pak, jangan konyol. Orang tua Bapak pasti nggak setuju. Dunia kita beda!"
"Dunia kita sama, Gendis. Kita sama-sama tinggal di bawah langit yang satu," Adrian berdiri dan menggenggam tangan Gendis yang kasar. "Saya sudah berhenti dari firma itu. Saya buka praktik sendiri. Saya nggak butuh pengakuan orang lain, saya cuma butuh kamu di samping saya."
**Akhir yang Indah**
Satu tahun kemudian.
Sebuah firma hukum kecil bernama "Lembaga Bantuan Hukum Adhi-Gendis" berdiri di pinggiran kota. Fokusnya adalah membantu orang-orang miskin yang tertindas secara hukum.
Gendis kini tidak lagi menunduk. Ia memakai pakaian rapi—sederhana namun bersih. Bekas luka di pipinya masih ada, tapi ia tidak lagi menutupinya dengan rambut. Ia telah belajar bahwa kecantikan bukan tentang simetri wajah, tapi tentang kedamaian di dalam hati.
Di sebuah sore yang cerah, Adrian menggandeng tangan Gendis di depan kantor mereka.
"Mas," panggil Gendis (ia tidak lagi memanggilnya Pak). "Kenapa Mas pilih aku? Padahal ada banyak pengacara cantik atau model yang mau sama Mas."
Adrian mengecup dahi Gendis tepat di bagian bekas lukanya.
"Karena saat semua orang sibuk memoles cermin mereka agar terlihat sempurna, kamu adalah satu-satunya orang yang membiarkan aku melihat ke dalam jiwamu yang murni. Gendis, kamu itu bukan hanya cantik... kamu itu rumah."
Gendis tersenyum, air mata bahagianya jatuh. Ia yang dulu merasa paling rendah di dunia, kini menyadari bahwa cinta sejati tidak pernah membutuhkan kemewahan, hanya membutuhkan keberanian untuk saling melihat dengan hati.