Kaca jendela kereta menghantarkan alunan warna-warni kota yang lewat seperti catatan musik yang terpotong-potong. Miki duduk bersandar, headphone besar menutupi telinganya—suara jazz klasik mengalir pelan, mencoba menutupi deru mesin dan bisikan penumpang lain yang samar. Rambutnya kusut tertiup angin dari celah kaca, sementara matanya tetap terpaku pada pemandangan luar yang terus bergeser: reklame yang pudar, pepohonan yang menjulang, wajah-wajah tak dikenal yang berlalu seketika.
Dua tahun lalu, ia pergi travelling keliling dunia dengan hati tak tahu arah. Saat itu Elke masih berada di sisi Tomo—saudara baiknya yang selalu menyukai keheningan, yang lebih suka membaca buku ketimbang berbincang, yang pernah berkata bahwa suara terlalu banyak bisa membuat jiwa menjadi kabur. Tapi Miki tidak bisa menahan diri; dia jatuh cinta pada senyum Elke yang selalu muncul ketika dia memainkan gitar, pada cara dia menatap nada-nada musik seolah menemukan makna tersembunyi. Mereka berselingkuh selama sembilan bulan sebelum Tomo mengetahuinya. Pada malam itu, lampu di kamar kecil Tomo hanya menyala redup, dan dia hanya berkata satu kalimat: “Suara gitarmu dulu membuat aku tenang. Sekarang hanya membuatku sakit telinga.”
Kemarin sore, sebelum naik kereta ini, Miki melihat mereka berdua di sudut jalan yang sama tempat mereka dulu sering bertemu. Elke memegang tangan Tomo, wajahnya penuh kedamaian, sama seperti dulu ketika dia masih miliknya. Tomo mengenakan jaket yang Miki pernah berikan padanya—warna hijau tua yang katanya mirip dengan kedalaman malam yang tenang. Ketika mata mereka bersilangan, Tomo hanya mengangguk perlahan, tanpa ekspresi, sedangkan Elke hanya menunduk, jari-jarinya menggenggam lengan Tomo lebih erat. Miki merasa dada terjepit; suara musik yang biasanya menjadi pelariannya kini hanya terdengar seperti dering telepon yang tak pernah diangkat.
Kereta berhenti sebentar di stasiun kecil yang tak dikenal. Beberapa penumpang turun, yang lain naik. Miki merasakan getaran di bawah kaki, lalu kereta kembali melaju. Dia melepas headphonenya sebentar—suara mesin yang monoton, bisikan seorang ibu yang menenangkan anaknya, suara penutup pintu yang terdengar seperti jeda dalam lagu. Di cermin kaca jendela, dia melihat bayangannya berdampingan dengan bayangan kursi kosong di sebelahnya. Tapi entah mengapa, dia merasa seolah ada orang yang duduk di sana—bau parfum yang sama dengan yang pernah digunakan Elke, suara napas yang pelan seperti irama yang hilang dari lagu.
Dia melihat ke arah kursi itu. Kosong. Hanya kain merah tua yang sedikit kusut, seperti pernah ditempati seseorang baru saja pergi. Miki menutup mata sebentar, lalu membukanya kembali. Pemandangan luar masih terus bergeser, tapi kini dia merasa seolah kota itu sedang mengikuti gerakan matanya, bukan sebaliknya. Beberapa orang di kereta mulai melihatnya dengan tatapan heran—mungkin karena dia sedang berdiri perlahan, atau karena wajahnya yang semakin pucat.
Tanpa berkata apa-apa, Miki berjalan menuju pintu kereta yang akan segera terbuka di stasiun berikutnya. Ia tidak membawa barang apa-apa selain tas kecil yang berisi gitar akustiknya. Ketika pintu terbuka, dia melangkah keluar. Udara luar terasa dingin menyengat. Dia melihat ke belakang—kereta masih berdiri di sana, lampu-lampunya menyala dengan warna oranye yang hangat. Tapi ketika dia menggosok matanya sebentar, kereta itu sudah tidak ada lagi. Hanya rel-rel yang kosong merentang ke kejauhan, dan tiang lampu yang berdiri seperti not balok dalam komposisi yang tak pernah selesai.
Beberapa saat kemudian, seorang petugas stasiun lewat. Dia melihat Miki yang berdiri sendirian di atas platform, tapi ketika dia hendak menyapa, dia hanya melihat bayangan yang perlahan menghilang di antara kabut pagi yang mulai menyebar. Di tanah, hanya ada selembar kertas kecil yang tertiup angin—di atasnya tertulis beberapa baris not musik yang tak pernah ada dalam lagu manapun, dan di sudut kanan bawah, sebuah tanda tangan yang sulit dibaca: seolah huruf S, atau mungkin R, atau bahkan U.
Stasiun itu kembali sunyi. Kereta berikutnya akan tiba dalam sepuluh menit. Tak seorang pun tahu siapa pria yang baru saja ada di sana, atau kemana dia pergi. Hanya suara angin yang menghembuskan lembut, seolah sedang menyanyi lagu yang terlupakan.
...
Tomo berdiri di tepi rel kereta, angin malam menyelinap lewat celah jaket hijau tua miliknya. Udara terasa berat dengan kabut tipis yang menyelimuti stasiun kecil ini. Lima hari yang lalu, Miki pergi dengan kereta malam yang selalu melintas di lintasan ini—tanpa pesan, tanpa jejak selain selembar kertas dengan not musik yang tak dikenal.
“Lintasan itu pernah bilang kalau setiap kereta membawa orang ke tempat yang mereka cari,” kata Elke dari belakangnya, tangannya masih dingin meskipun sudah mengenakan sarung tangan. “Tapi apa kalau yang mereka cari adalah tempat di mana diri mereka bisa hilang?”
Tomo tidak menjawab. Dia masih ingat suara gitar Miki yang dulu mengisi keheningan kamar mereka, kini hanya terdengar sebagai gema di telinganya. Ketika kabut mulai menghalangi pandangan, mereka melihat segerombolan cahaya mendekat dari kejauhan—kereta malam yang seharusnya tidak ada di jadwal. Ia melaju perlahan, lalu berhenti tepat di depan mereka, meskipun tak ada sinyal untuk berhenti.
Pintu kereta terbuka perlahan. Di dalamnya, lampu oranye menyala lembut, dan mereka melihat sosok seseorang duduk di dekat jendela—rambut kusut yang tertiup angin, headphone besar di telinganya. Tapi ketika Tomo hendak melangkah masuk, kereta itu tiba-tiba melaju lagi, perlahan menghilang ke dalam kabut. Lintasan yang tadinya jelas terlihat, kini seolah lenyap bersama kereta itu.
Elke menggenggam tangan Tomo lebih erat. “Dia bilang ingin mencari lintasan yang bisa membuatnya hilang dari semua ini,” ujarnya pelan. Di tanah, selembar kertas tertiup angin—di atasnya tertulis nama “Miki” dan sebuah kalimat: “Lintasan yang hilang adalah satu-satunya jalan yang bisa membawa aku pulang.”
Mereka berdiri diam lama setelah itu. Tak seorang pun tahu kapan kereta akan kembali, atau apakah lintasan yang hilang itu benar-benar ada. Hanya kabut yang semakin tebal, seolah- olah sedang menyembunyikan semua jejak yang pernah ada.