Jakarta, 12 Juni 2024 — Griya Senyap, Menteng
Ibukota ini masih seperti biasa, lelah dengan kemacetan, terik dengan panasnya dan kesenjangan menganga antara gedung pencakar langit dan daerah kumuh nan sempitnya.
Langit Jakarta sore ini semu, seungu lebam di hatiku. Aku diberi buku catatan kulit cokelat oleh Kak Angel, perempuan berambut perak yang tatapannya sebeku es di kutub utara. Ia menyebut dirinya “mentor”, namun bagiku ia adalah penjaga gawang dari sebuah gawang yang tak pernah boleh kubobol. "Menulislah, agar kewarasanmu tidak menguap," ucapnya dingin. Dia pasti tahu aku suka sastra dan literasi dari CV yang kukirim.
Kantor ini lebih pantas disebut Rumah, karena nampak megah, dibangun dari batu alam gelap yang seolah menyedot cahaya matahari. Jendela-jendelanya besar, namun tak bisa dibuka, mengawasi Jakarta seperti mata raksasa yang lapar. Di lantai atas, sosok yang mereka panggil 'Abah' bersemayam. Aku belum diizinkan ke sana. Aku baru empat belas tahun, namun mereka bilang aku adalah "aset bangsa". Di ruang makan, kulihat Om Leo, pria hitam manis bertubuh gempal berjas klimis. Jemarinya menari lincah di atas tablet, mencatat angka-angka yang ternyata adalah harga dari senyumku. Ia tak pernah menatap mataku; baginya, aku hanyalah algoritma yang harus dioptimalisasi.
Pulau Dewata, 3 September 2025 — Studio Pesisir Nomor 7
Udara di Studio Pesisir Nomor 7 tidak membawa aroma garam laut atau kebebasan. Sebaliknya, oksigen di sini terasa berat, seolah setiap tarikan napas harus dibayar mahal. Ada bau logam yang tajam—mungkin dari kerangka lighting yang panas—beradu dengan wangi parfum oud eksklusif yang menyesakkan dada, jenis wewangian yang hanya dipakai oleh mereka yang mampu membeli kuasa dan hukum.
Di atas kepala, deretan lampu LED putih menyala serentak dengan dentum yang sunyi. Cahayanya bukan sekadar menerangi; ia membedah. Sinarnya lebih menyilaukan dari harapan mana pun yang pernah kupunya, menghapus bayangan hingga tak ada tempat bagiku untuk bersembunyi. Di sini, burnout hanyalah mitos urban bagi mereka yang lemah. Sementara anxiety? Oh, bagi mereka, kecemasan adalah komoditas. Sebuah "estetika melankolis" yang sengaja dikurasi agar aku terlihat relatable di layar ponsel jutaan remaja yang haus akan penderitaan yang indah.
"Duduklah, Sayang," suara itu mengalun.
Abah akhirnya bicara. Suaranya selembut kain sutra yang melilit leher—indah, namun mencekik. Nada bicaranya menghanyutkan, serupa janji-janji surga dalam iklan televisi yang menjanjikan kebahagiaan instan. "Aku adalah ayah bagi setiap mimpimu, Fatya. Tanpaku, mimpimu hanya akan menjadi debu di trotoar Jakarta," ucapnya sambil mengusap pundakku. Sentuhannya dingin, meski ia tersenyum.
Di belakangnya, berdiri Victor, sang algojo bayangan. Tatapannya sedingin belati yang baru diasah, tak berkedip, menjaga agar tidak ada satu pun napas yang keluar dari naskah. Di sampingnya, Amelie—atau Amel—pengacara dengan kecantikan yang misterius dan intimidatif, berdiri memegang tablet tipis. Senyum Amel adalah mahakarya kedokteran; simetris, berkilau, namun terasa seperti plastik. Sempurna, tapi mati. Tak ada nyawa di balik binar matanya, hanya ada pasal-pasal dan angka.
"Tanda tangan di sini," bisik Amel lembut, menyodorkan pena digital yang terasa seberat bongkahan timah.
Dengan tangan gemetar yang kusembunyikan di bawah meja, aku menyapukan garis di atas kaca dingin itu. Klik. Dalam satu detik yang sunyi, tumpukan kertas digital itu tersegel. Hari itu, aku bukan lagi manusia. Namaku resmi dipatenkan menjadi merek dagang. Aku baru saja menyerahkan kunci gerbang jiwaku, membiarkan diriku mati agar sebuah persona yang dicintai jutaan orang bisa lahir dan berpesta di atas nisan kepribadianku yang asli.
New York, 18 Februari 2026 — Hotel Aurora, Lantai 19
Di lantai sembilan belas ini, waktu adalah pengkhianat. Tidak ada jam dinding yang berdetak, tidak ada jendela yang dibiarkan menatap langit Manhattan. Waktu hanyalah hantu yang tak kasat mata, menyelinap di antara lipatan tirai beludru merah tua yang selalu tertutup rapat. Mereka menyebut pengurungan ini sebagai "proses kreatif", sebuah istilah cantik untuk depresi yang dipaksa bersolek.
"Angkat dagumu, Fatya. Dunia tidak membayar untuk melihat kesedihanmu," suara Kak Angel memecah sunyi.
Ia datang setiap pagi, wajahnya tertutup masker medis putih, hanya matanya yang berkilat dingin tampak di balik setumpuk skenario tebal. Ia mendekat, jemarinya yang panjang dan kaku memperbaiki posisiku.
"Kak, aku lelah. Kepalaku berisik," bisikku parau. Kak Angel berhenti sejenak, lalu menatapku tanpa emosi. "Itu bukan berisik, Fatya. Itu adalah suara ambisi yang sedang dibentuk. Sekarang, duduk. Anggun, seperti porselen mahal. Bicara, jangan sampai mereka tahu otakmu sedang kosong. Dan yang paling penting: diamlah jika menyangkut apa yang terjadi di ruangan ini. Rahasia adalah emas yang menjaga kepalamu tetap di atas leher."
Suatu sore, saat aku diizinkan berjalan di lorong remang menuju ruang latihan, aku berpapasan dengan seseorang. Nikita, Gadis itu adalah bintang muda dari Eropa Timur yang fotonya menghiasi papan reklame Times Square. Namun di sini, di bawah lampu remang yang berkedip, ia hanya seonggok raga tanpa jiwa. Wajahnya sepucat kertas yang diremas, dan matanya... Tuhan, matanya kosong melompong seperti sumur kering yang dalam dan gelap.
Langkah kami bersinggungan. Bibir Nikita bergetar, seolah ingin meneriakkan sebuah kata, namun Victor yang berdiri di ujung lorong berdeham keras. Kami dilarang menyapa. Kami dilarang menjadi manusia. Kami hanya dua produk yang tak sengaja berpapasan di gudang penyimpanan.
Malam itu, dingin Hotel Aurora merayap masuk ke tulang. Dari balik tembok kamarku, aku mendengar suara itu. Isak tangis yang menyayat, suara kuku yang mencakar dinding, dan rintihan pelan nama seorang ibu. Itu suara Nikita. Aku meringkuk di sudut tempat tidur, menutup telinga dengan bantal, menangis tanpa suara hingga fajar tiba.
Esok paginya, lorong itu sunyi. Terlalu sunyi. "Di mana Nikita?" tanyaku saat Kak Angel masuk membawa sarapan yang hambar. Kak Angel meletakkan nampan, lalu menjawab tanpa menoleh, "Kontraknya sudah diputus semalam. Ia tidak lagi memenuhi standar sistem."
"Diputus? Maksudnya dia pulang ke rumahnya?" desakku, jantungku berdegup kencang. Kak Angel berbalik, menatapku dengan tatapan yang membuat darahku membeku. "Di tempat ini, Fatya, 'diputus' berarti dihapuskan. Jangan tanya ke mana. Fokus saja pada skenariomu, atau namamu akan menjadi yang berikutnya yang hilang dari daftar dunia."
Aku terdiam, memandang ujung sepatuku. Di lantai itu, aku melihat selembar pita rambut berwarna biru milik Nikita yang tertinggal. Aku tahu, Nikita tidak pernah pulang. Ia hanya menjadi tumbal yang dikubur oleh kemegahan Hotel Aurora.
Jakarta, 7 Juli 2027 — Apartemen Transit, SCBD
Kaca jendela apartemen ini membentang dari lantai hingga langit-langit, menampilkan gemerlap Jakarta yang tampak seperti tumpukan berlian palsu. Namun di dalam sini, udara terasa basi oleh bau kecemasan yang akut. Aku berdiri di bawah lampu ring light yang panas, sementara seorang penata rias sibuk menutupi kantung mataku yang menghitam akibat insomnia berbulan-bulan.
Di pojok ruangan, aku melihat Rachel. Dia produser muda yang baru bergabung, satu-satunya orang di sirkel ini yang matanya masih memiliki sisa-sisa empati. Dia sering termenung, jemarinya gelisah memainkan ujung kemejanya. Aku mendekat saat jeda syuting, detak jantungku berpacu seperti genderang perang—panic attack ini mulai merayap naik ke tenggorokan.
Aku tidak berani bersuara. Di ruangan ini, dinding punya telinga dan lampu punya mata. Aku hanya menatapnya, melemparkan seluruh jeritan batin lewat tatapan yang memohon: Tolong aku, kepalaku berisik sekali. Aku lelah memalsukan tawa di depan kamera sementara di bawah meja, tanganku bergetar hebat hingga kukuku melukai telapak tanganku sendiri.
Rachel sempat menatapku balik. Sedetik saja. Ada kilat kengerian di matanya, seolah ia baru saja melihat hantu di dalam ragaku. Ia ingin bicara, bibirnya sudah terbuka, namun bayangan Victor yang berdiri di pintu seperti malaikat pencabut nyawa digital membuat Rachel menunduk dalam. Ia memilih untuk tetap menjadi bisu.
Dua hari kemudian, pintu kamarku didobrak sebelum fajar menyentuh ufuk.
"Fatya, kemasi barangmu. Sekarang," perintah Kak Angel. Suaranya datar, tanpa intonasi, lebih dingin dari AC sentral ruangan ini.
"Kenapa? Aku salah apa?" tanyaku dengan suara pecah.
"Kamu terlalu 'berisik' secara emosional. Rachel sudah dilaporkan karena dianggap terlalu dekat denganmu. Ini demi keamanan reputasi, Fatya. Kamu butuh 'penyesuaian' dosis," jawabnya sambil melemparkan tas kanvasku ke lantai.
Aku dipindahkan secara paksa. Bukan ke rumah, bukan ke tempat yang lebih baik, melainkan ke sebuah unit tanpa nama yang aromanya seperti antiseptik dan keputusasaan. Di sini, setiap malam, aku menulis dengan sisa tenaga yang nyaris habis. Jemariku kaku karena pengaruh obat penenang yang mereka paksa aku telan setiap jam delapan malam.
Obat itu pelan-pelan menggerus ingatan. Aku mulai sering lupa apa makanan kesukaanku, bagaimana wangi kamarku yang dulu, bahkan aku hampir lupa bahwa namaku adalah Fatya, bukan 'Fantasia'—nama panggung yang mereka sematkan padaku seperti label harga pada barang dagangan.
Malam itu, saat aku mencoba menulis nama aslinya di balik bantal, aku menemukan sebuah memo kecil yang terselip di jahitan kasur. Tulisan tangannya berantakan, persis seperti tulisanku saat ini. Isinya singkat namun membuat darahku berhenti mengalir: "Namaku bukan Fatya. Aku tidak tahu siapa aku lagi. Jika kau membaca ini, berarti aku sudah digantikan olehmu. Lari, sebelum kamu menjadi 'Fatya' selanjutnya."
Aku jatuh terduduk. Cermin di depanku memantulkan wajah yang asing. Ternyata, selama ini aku hanyalah pengganti untuk 'Fatya' sebelumnya yang juga sudah "dihapuskan".
Entah dimana, 1 Agustus 2028 — Kamar Tanpa Jam
Aku tak tahu lagi di mana aku berada. Apakah ini klinik, atau penjara bawah tanah yang dilapisi sutra? Aku hanya tahu nadiku masih berdenyut. Dr. Nicholas bilang ingatanku adalah penyakit yang harus disembuhkan melalui "penyesuaian". Obat-obatan berwarna merah jambu itu membuat waktu melunak, mengubah kenyataan menjadi mimpi buruk yang indah.
Aku menulis ini diam-diam, menyelipkannya di balik lubang udara. Kemarin, kulihat Kak Angel menangis di koridor, sebuah pemandangan yang tak masuk akal. Namun, saat mata kami bertemu, ia tetap menutup pintu kamarku dan menguncinya dari luar.
Aku baru menyadari sesuatu saat melihat pantulan diriku di layar tablet yang mati. Dokter itu, Kak Angel, Victor... mereka semua tidak pernah ada. Mereka adalah proyeksi dari trauma masa kecilku yang pecah. Dan Abah? Dia adalah ayah kandungku yang telah merudapaksa dan menjualku ke industri ini sejak aku balita. Diari ini bukan tentang mereka yang jahat, tapi tentang aku yang perlahan-lahan menghilang menjadi ribuan kepingan kepribadian demi memuaskan dunia yang haus akan tontonan.
Jika diari ini ditemukan, jangan cari aku di panggung. Cari aku di antara pola-pola kesedihan yang kalian sebut sebagai "hiburan".