Bagian 1 — Ruang Tunggu & Luka yang Belum Bernama
Ariella selalu datang terlalu pagi. Bukan karena ia disiplin, melainkan karena ruang tunggu itu—dengan kursi abu-abu yang dinginnya merayap ke tulang, majalah lama yang sampulnya mengelupas, dan pendingin ruangan yang bekerja terlalu keras—memberinya jeda sebelum harus menjadi dirinya yang lain. Dirinya yang bisa berbicara. Dirinya yang ditanya. Dirinya yang diharapkan jujur.
Di sana, ia tidak perlu menjelaskan apa pun.
Tidak perlu tersenyum. Tidak perlu berkata, aku baik-baik saja.
Ia hanya seorang gadis dengan mata lelah dan dada yang sering terasa terlalu sempit, seolah pikirannya menumpuk tanpa pintu keluar.
Jam dinding berdetak pelan, tapi bagi Ariella, setiap detik terdengar terlalu keras. Ia duduk dengan tangan saling menggenggam, kuku menekan kulit sendiri—bukan untuk menyakiti, hanya untuk memastikan ia masih ada di tubuhnya.
Depresi sedang, kata psikiater sebelumnya.
Trauma berat, tambahannya, seperti catatan kaki yang tak bisa dihapus.
Ariella menyebutnya dengan cara lain: kehancuran yang datang perlahan, diam-diam, setelah ia percaya pada seseorang yang tak pernah benar-benar ada.
Ia tidak tertipu oleh satu kebohongan besar. Ia runtuh oleh perhatian kecil yang konsisten. Pesan selamat pagi. Kalimat penguat. Cara seseorang—entah siapa—membuatnya merasa dipilih di antara banyak orang lain.
Penipuan online, kata dunia. Rasa bodoh, kata dirinya sendiri. Padahal yang sebenarnya terjadi jauh lebih sunyi: ia berharap. Dan harapan itu dimanfaatkan.
Hari itu adalah pertemuan pertamanya dengan dokter baru.
Ketika pintu ruang praktik terbuka dan seorang pria berdiri di ambang pintu, Ariella sempat ragu. Pandangannya beralih ke papan nama di dinding, memastikan ia tidak salah ruangan.
Dokter Alexander.
Ia tidak seperti yang Ariella bayangkan. Tidak tua. Tidak berwajah kaku. Tidak menatapnya seolah sedang menilai kerusakan.
Ia terlalu tenang. Terlalu rapi. Dan senyumnya—hanya sedikit—tidak membawa rasa ingin tahu yang menghakimi.
“Ariella?” panggilnya lembut, seolah nama itu tidak berat.
Ariella berdiri dengan gerakan kaku, mengangguk singkat, lalu mengikutinya masuk. Ruang praktik itu lebih hangat dari ruang tunggu. Ada rak buku. Tanaman kecil di sudut ruangan. Kursi yang tidak terasa seperti kursi interogasi.
Pertemuan pertama berjalan seperti daftar periksa.
Riwayat. Pola tidur. Obat yang pernah dicoba.
Alexander lebih banyak mendengarkan daripada berbicara. Ia menulis sesekali, tapi lebih sering menatap Ariella dengan fokus yang tidak membuatnya ingin menunduk.
Ia tidak terburu-buru mengisi jeda. Seolah diam juga bagian dari proses. Itu membuat Ariella gelisah.
Namun anehnya—untuk pertama kalinya—ia tidak ingin segera kabur.
Di luar ruang praktik, dunia tetap sama. Tapi ada sesuatu yang bergeser sedikit. Tidak membaik. Tidak sembuh. Hanya… tidak runtuh.
Pertemuan kedua datang seminggu kemudian.
Ariella hampir membatalkannya. Ia bangun dengan mata sembab dan kepala berat. Ada pesan masuk dari nomor tak dikenal di ponselnya—iklan biasa, tapi cukup untuk membuat jantungnya melonjak dan napasnya tercekat. Tubuhnya bereaksi lebih cepat daripada pikirannya.
Namun ia tetap datang.
“Kamu boleh mulai dari mana saja hari ini,” kata Alexander setelah beberapa menit hening. Kalimat itu jatuh begitu saja. Tidak dramatis. Tidak menggurui.
Namun sesuatu di dalam diri Ariella runtuh.
Ia menunduk. Tangannya gemetar sedikit. Lalu tanpa rencana, cerita itu keluar. Tentang pesan-pesan panjang yang dulu membuatnya merasa cukup. Tentang malam-malam menunggu balasan dengan ponsel di dada. Tentang uang yang ia kirim bukan karena ia bodoh—melainkan karena ia berharap.
“Aku merasa bodoh,” ucapnya lirih. “Padahal rasanya nyata.”
Alexander tidak memotong. Tidak menggeleng. Tidak berkata, kamu seharusnya tahu.
“Kamu percaya karena kamu ingin dicintai,” katanya pelan. “Itu bukan kejahatan.”
Kalimat itu tidak menyembuhkan.Namun untuk pertama kalinya, Ariella tidak merasa perlu menghukum dirinya sendiri.
Sejak hari itu, perubahan datang dalam bentuk kecil.
Alexander mengingat lagu yang Ariella putar saat cemas. Cara ia menggigit kuku ketika topik tertentu muncul. Cara matanya selalu mencari lantai ketika rasa bersalah datang lebih dulu daripada logika.
Dan Alexander—tanpa niat untuk melanggar apa pun—mulai menyadari ketertarikan itu sejak pertemuan kedua. Ketertarikan yang tidak ingin dimiliki. Tidak ingin didekati. Hanya disadari, lalu disimpan rapi di tempat yang aman.
Karena ia tahu batas. Dan ia memilih menjaganya.
Sore itu, Ariella pulang dengan langkah lebih lambat. Tubuhnya lelah, tapi kepalanya terasa sedikit lebih ringan.
Ia belum sembuh. Namun untuk pertama kalinya, ia tidak merasa sendirian di dalam lukanya.
Perubahan tidak datang seperti yang Ariella bayangkan.
Tidak ada pagi yang tiba-tiba terasa ringan. Tidak ada hari di mana ia bangun dan merasa “normal”. Yang ada hanyalah celah-celah kecil di antara rasa sesak—ruang sempit untuk bernapas sebelum pikirannya kembali menutup.
Ia mulai menyadari satu hal yang mengganggunya:
kesedihan ternyata tidak selalu paling menyakitkan.
Kadang yang lebih menakutkan adalah saat ia tidak merasa apa-apa.
Di sesi ketiga, Ariella datang dengan wajah datar. Alexander memperhatikannya lebih lama dari biasanya.
“Kamu terlihat… jauh hari ini,” katanya hati-hati.
Ariella mengangkat bahu. “Aku gak sedih. Tapi juga gak baik-baik saja.”
Alexander mengangguk, seolah itu jawaban yang valid. “Kosong juga perasaan,” katanya. “Dan sering kali, itu mekanisme bertahan.”
Kata bertahan menggantung di udara. Ariella menelan ludah.
Malam-malamnya mulai diisi mimpi yang berulang. Ia kembali menatap layar ponsel, membaca pesan-pesan lama yang sudah dihapus di dunia nyata, tapi entah bagaimana masih hidup di kepalanya. Bangun dengan napas terengah. Tangan dingin. Rasa bersalah yang datang lebih cepat daripada kesadaran.
“Aku benci diriku yang dulu,” katanya suatu hari. “Aku merasa… menjijikkan.”
Alexander tidak langsung menjawab. Ia mencondongkan tubuh sedikit ke depan, suaranya tetap tenang.
“Kamu membenci dirimu yang terluka,” katanya. “Bukan dirimu yang sekarang.”
Ariella menggeleng pelan. “Tapi itu aku.”
“Ya,” jawab Alexander. “Dan kamu bertahan.”
Kalimat itu menusuk lebih dalam dari yang ia duga.
Minggu-minggu berlalu. Ada hari di mana Ariella merasa cukup stabil untuk tertawa kecil—biasanya setelah menyadari hal sepele, seperti tanaman di sudut ruangan Alexander yang selalu disiram terlalu banyak. Ada pula hari di mana ia datang dengan mata kosong, duduk tanpa kata, dan hanya menangis dalam diam.
Alexander tidak pernah memaksa. Tidak pernah berkata kamu harus. Ia hanya bertanya, menunggu, dan kadang—diam bersamanya.
Namun justru di sanalah konflik mulai tumbuh.
Semakin Ariella merasa sedikit lebih utuh, semakin kuat rasa takut itu datang.
“Aku takut sembuh,” katanya pada suatu sesi, suaranya hampir tidak terdengar.
Alexander mengangkat wajahnya. “Kenapa?”
Ariella menarik napas panjang. Dadanya bergetar.
“Karena kalau aku sembuh,” katanya pelan, “aku harus mengakui bahwa semua itu benar-benar terjadi. Bahwa aku tertipu. Bahwa aku hancur. Dan… aku masih hidup setelahnya.”
Alexander terdiam cukup lama. Ini bukan jeda profesional. Ini jeda manusia.
“Sembuh bukan berarti melupakan,” katanya akhirnya. “Sembuh berarti kamu tidak lagi tinggal di dalam kejadian itu.”
Ariella menatapnya, matanya basah. “Tapi kalau aku keluar… siapa aku tanpa luka ini?”
Pertanyaan itu tidak ditujukan pada Alexander saja. Itu pertanyaan yang ia ajukan pada dirinya sendiri.
Di luar ruang praktik, Ariella mulai menjalani hidup dengan cara yang canggung. Ia mencoba bertemu teman lama. Membaca buku tanpa mengulang satu halaman berkali-kali. Menjawab pesan tanpa rasa takut berlebihan.
Namun ada bagian dari dirinya yang merasa kehilangan.
Luka itu—anehnya—sudah menjadi rumah.
Dan Alexander merasakannya juga.
Ia mulai lebih berhati-hati. Menjaga jarak emosional dengan disiplin yang melelahkan. Ketertarikan itu tidak hilang—justru semakin jelas—namun ia tahu persis garis yang tidak boleh dilewati.
Ia adalah tempat aman.
Bukan tujuan akhir.
Suatu sesi, Ariella datang dengan senyum tipis. Bukan senyum palsu. Bukan pula senyum penuh. Hanya tanda bahwa ia tidak runtuh hari itu.
“Aku daftar kelas menulis,” katanya tiba-tiba.
Alexander tersenyum kecil. “Itu langkah besar.”
Ariella mengangguk. “Aku gak mau hidupku cuma tentang pulih.”
Kalimat itu membuat dada Alexander menghangat—dan sekaligus, berat.
Karena ia tahu apa artinya: waktu mereka perlahan mendekati akhir.
Di sesi-sesi terakhir, pembicaraan mereka lebih sunyi. Lebih reflektif. Ada kesadaran bersama bahwa hubungan ini akan berubah bentuk—atau berakhir sama sekali.
“Aku takut kalau nanti aku jatuh lagi,” kata Ariella.
“Kamu mungkin akan,” jawab Alexander jujur. “Tapi sekarang kamu punya alat untuk bangkit.”
Ariella terdiam. Lalu berkata, “Aku akan merindukan tempat ini.”
Alexander tidak menjawab langsung.
“Ruang ini bukan yang menyembuhkanmu,” katanya akhirnya. “Kamu yang melakukannya.”
Hari terakhir terapi datang tanpa seremoni.
Tidak ada pelukan. Tidak ada janji. Hanya jabat tangan singkat dan tatapan yang sama-sama menahan sesuatu.
Ariella keluar dari ruang praktik itu dengan langkah pelan.
Ruang tunggu masih sama. Kursi abu-abu. Majalah lama. Namun untuk pertama kalinya, ia tidak duduk terlalu lama. Ia berdiri. Dan pergi.
----
BAGIAN II — Setelah Ruang Tunggu
Hari-hari setelah terapi berakhir terasa ganjil.
Tidak ada jadwal mingguan. Tidak ada ruang praktik dengan suhu terlalu dingin. Tidak ada jam dinding yang berdetak terlalu keras. Ariella bangun setiap pagi dengan kebebasan yang lama ia kira sebagai tujuan—namun kebebasan itu terasa sunyi.
Ia tidak runtuh. Tapi juga tidak melayang.
Ada hari-hari di mana ia baik-baik saja, lalu tiba-tiba merasa kehilangan arah hanya karena melewati gedung yang pernah menjadi tempatnya belajar bertahan. Ada malam-malam di mana ia hampir mengirim pesan pada Alexander—bukan karena ia butuh nasihat, melainkan karena ia rindu ditanyai dengan sungguh-sungguh.
Namun ia tidak melakukannya.
Ia belajar membiarkan keinginan itu lewat, seperti awan.
Ariella mulai menulis lebih sering. Bukan tentang luka saja, tapi tentang hal-hal kecil: hujan sore, percakapan di bus, rasa gugup saat berbicara dengan orang baru. Ia tidak selalu merasa percaya diri, tapi ia hadir. Dan itu sudah berbeda dari dirinya yang dulu.
Beberapa bulan kemudian, pertemuan itu terjadi tanpa rencana.
Sebuah toko buku kecil, tersembunyi di antara deretan ruko yang setengah mati. Ariella masuk hanya untuk berteduh dari hujan yang turun tiba-tiba. Bau kertas tua dan kayu lembap menyambutnya.
Ia sedang membalik halaman sebuah buku ketika suara itu terdengar.
“Ariella.”
Ia menoleh. Jantungnya berdebar—bukan karena panik, melainkan karena pengenalan yang lambat.
Alexander berdiri beberapa langkah darinya. Tidak membawa map. Tidak mengenakan jas praktik. Hanya seorang pria dengan kemeja sederhana dan wajah yang terlihat lebih… ringan.
“Alexander,” ucap Ariella, ragu namun utuh.
Tidak ada jarak profesional. Tidak ada peran. Hanya dua orang dewasa yang sama-sama berhenti sejenak, seolah ingin memastikan ini benar-benar nyata.
Mereka berbincang singkat. Tentang buku yang sedang dipegang Ariella. Tentang hujan yang tidak kunjung reda. Tentang hidup yang, entah bagaimana, tetap berjalan meski pernah terasa mustahil.
“Apa kabar kamu?” tanya Alexander akhirnya.
Ariella berpikir sejenak sebelum menjawab. “Tidak selalu mudah,” katanya jujur. “Tapi… aku hidup.”
Alexander tersenyum kecil. Tidak bangga. Tidak lega berlebihan. Hanya senyum seseorang yang menghormati perjalanan orang lain.
Kedekatan mereka kali ini berbeda.
Tidak lahir dari luka yang sama-sama dipegang, melainkan dari pilihan sadar untuk saling melihat—tanpa kewajiban, tanpa peran penolong dan yang ditolong. Mereka bertukar nomor. Tidak dengan janji. Tidak dengan harapan berlebihan.
Hanya kemungkinan.
Hubungan mereka berjalan pelan. Terlalu pelan bagi cerita yang ingin sensasi. Namun cukup jujur untuk kehidupan nyata. Ada hari-hari di mana Ariella menarik diri. Ada malam-malam di mana Alexander hanya mendengarkan tanpa mencoba memperbaiki.
Ia tidak menyembuhkan Ariella.
Dan Ariella tidak ingin disembuhkan olehnya.
Ia hanya ingin ditemani saat ia memilih hidup.
Suatu sore, Ariella duduk sendirian di bangku taman, menatap langit yang mulai menggelap. Dada itu—yang dulu terasa terlalu sempit—masih menyimpan bekas. Luka itu tidak menghilang. Ia tahu, mungkin tidak akan pernah sepenuhnya.
Namun kini luka itu bukan pusat hidupnya.
Ia menarik napas panjang. Tidak dalam-dalam untuk menenangkan diri. Tidak tergesa-gesa untuk bertahan. Hanya napas biasa—napas orang yang hadir.
Untuk pertama kalinya, Ariella tidak menunggu disembuhkan oleh siapa pun.
Ia memilih hidup.
Dan kali ini, pilihannya cukup. Cukup untuk dirinya, dan masa depannya. kali ini, ia tidak akan menyerah. Tidak lagi, tidak kali ini.
Ada masa di mana Ariella merasa bersalah karena tidak lagi terlalu sedih.
Perasaan itu datang tiba-tiba, biasanya di sela-sela hari yang tampak biasa saja. Saat ia tertawa kecil karena sesuatu yang sepele—iklan aneh di televisi, atau pesan teman yang salah ketik—lalu seketika dadanya mengencang. Seolah ada suara di dalam kepalanya yang berbisik bahwa ia tidak pantas merasa ringan.
Bagaimana mungkin kamu tertawa, suara itu berkata,
padahal dulu kamu hampir tidak bertahan?
Rasa bersalah itu tidak keras, tapi melelahkan. Ia mengikutinya seperti bayangan. Ariella mulai menyadari bahwa hidup setelah trauma bukan hanya tentang menghadapi ingatan buruk, tetapi juga tentang menerima kenyataan bahwa ia masih bisa hidup di luar luka itu.
Dan itu, anehnya, sama menakutkannya.
Ada hari-hari ketika Ariella kembali terbangun dengan dada sesak. Tidak ada mimpi buruk. Tidak ada pemicu jelas. Tubuhnya bereaksi lebih dulu, seolah ingatan traumatis tersimpan di tempat yang tidak bisa ia jangkau dengan kata-kata. Ia duduk di tepi ranjang, menekan telapak tangannya ke dada, mengatur napas seperti yang pernah ia pelajari.
Kadang berhasil.
Kadang tidak.
Pada hari-hari seperti itu, Ariella belajar satu hal yang dulu tidak ia miliki: ia tidak memarahi dirinya sendiri. Ia tidak berkata bahwa ia lemah atau gagal. Ia hanya mengakui, hari ini berat, dan itu saja.
Alexander tetap hadir di hidupnya, namun tanpa bentuk yang mengikat.
Mereka bertemu sesekali—minum kopi, berjalan sebentar, atau duduk berhadapan tanpa banyak bicara. Tidak ada tuntutan untuk selalu baik-baik saja. Tidak ada kebutuhan untuk menjelaskan setiap perasaan. Hubungan itu berjalan dengan ritme yang tenang, nyaris membosankan bagi siapa pun yang mengharapkan kisah cinta dramatis.
Namun justru di sanalah Ariella merasa aman.
Suatu sore, mereka duduk di sebuah kafe kecil. Ariella memperhatikan tangannya sendiri yang tidak lagi gemetar saat memegang cangkir.
“Aku takut suatu hari aku kembali ke titik nol,” katanya tiba-tiba, tanpa melihat Alexander.
Alexander tidak langsung menjawab. Ia menyesap kopinya, lalu berkata, “Kalau itu terjadi, kamu tidak akan sendirian seperti dulu.”
Ariella menoleh. “Itu janji?”
“Itu kenyataan,” jawabnya.
Jawaban itu tidak romantis. Tapi Ariella tidak membutuhkannya romantis. Ia membutuhkannya jujur.
Hari-hari berlalu. Ariella mulai menjalani hidup dengan keberanian kecil yang nyaris tak terlihat. Ia menyelesaikan tulisan pendek tanpa menghapusnya berkali-kali. Ia menghadiri acara kecil tanpa pulang terlalu cepat. Ia belajar berkata tidak tanpa merasa harus menjelaskan panjang lebar.
Dan yang paling sulit: ia belajar menerima hari baik tanpa rasa curiga.
Suatu pagi, Ariella menyadari bahwa ia sudah seminggu penuh tidak memeriksa ulang pesan lama atau mencari kesalahan pada dirinya sendiri. Kesadaran itu datang bersamaan dengan rasa takut—seolah ketenangan adalah sesuatu yang bisa dirampas kapan saja.
Namun kali ini, ia tidak lari.
Ia mencatat perasaannya di buku kecil yang selalu ia bawa. Tidak puitis. Tidak indah. Hanya jujur. Tentang rasa takut kehilangan kestabilan. Tentang harapan yang masih terasa asing. Tentang keinginan untuk tetap hidup meski tanpa jaminan.
Beberapa bulan kemudian, Ariella kembali melewati gedung tempat ruang tunggu itu berada.
Ia berhenti di seberang jalan, memperhatikan pintu kaca yang dulu terasa seperti satu-satunya tempat ia bisa bernapas. Ia mengingat dirinya yang datang terlalu pagi, duduk terlalu lama, dan berharap ada seseorang yang bisa mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Kini, ia tidak menyeberang.
Dadanya masih bergetar, namun kakinya tetap diam. Ariella tersenyum kecil—bukan karena nostalgia yang manis, melainkan karena ia menyadari sesuatu yang sederhana dan besar sekaligus: ia tidak harus kembali ke sana untuk membuktikan bahwa ia pernah hancur.
Ia sudah tahu.
Di bangku taman yang sama—tempat ia dulu duduk dengan napas tertahan—Ariella membuka buku catatannya. Angin sore menyentuh rambutnya pelan. Ia menulis satu kalimat, tanpa metafora, tanpa keinginan untuk terdengar kuat:
Hari ini aku masih hidup. Dan itu cukup.
Ia menutup buku itu perlahan.
Luka itu masih ada. Ia tahu. Akan selalu ada bagian dirinya yang retak, yang waspada, yang tidak sepenuhnya percaya pada dunia. Namun luka itu tidak lagi memegang kendali.
Ariella berdiri dari bangku taman dan melangkah pulang.
Ia tidak menunggu disembuhkan.
Tidak menunggu dijemput.
Tidak menunggu dunia menjadi aman.
Ia memilih hidup—dengan luka, dengan takut, dengan keberanian kecil yang ia bangun sendiri.
Dan kali ini, pilihannya benar-benar miliknya.
----
BAGIAN III — Hidup yang Tidak Lagi Menunggu
Ada masa di mana Ariella merasa bersalah karena tidak lagi terlalu sedih.
Perasaan itu datang tiba-tiba, biasanya di sela-sela hari yang tampak biasa saja. Saat ia tertawa kecil karena sesuatu yang sepele—iklan aneh di televisi, atau pesan teman yang salah ketik—lalu seketika dadanya mengencang. Seolah ada suara di dalam kepalanya yang berbisik bahwa ia tidak pantas merasa ringan.
Bagaimana mungkin kamu tertawa, suara itu berkata,
padahal dulu kamu hampir tidak bertahan?
Rasa bersalah itu tidak keras, tapi melelahkan. Ia mengikutinya seperti bayangan. Ariella mulai menyadari bahwa hidup setelah trauma bukan hanya tentang menghadapi ingatan buruk, tetapi juga tentang menerima kenyataan bahwa ia masih bisa hidup di luar luka itu.
Dan itu, anehnya, sama menakutkannya.
Ada hari-hari ketika Ariella kembali terbangun dengan dada sesak. Tidak ada mimpi buruk. Tidak ada pemicu jelas. Tubuhnya bereaksi lebih dulu, seolah ingatan traumatis tersimpan di tempat yang tidak bisa ia jangkau dengan kata-kata. Ia duduk di tepi ranjang, menekan telapak tangannya ke dada, mengatur napas seperti yang pernah ia pelajari.
Kadang berhasil.
Kadang tidak.
Pada hari-hari seperti itu, Ariella belajar satu hal yang dulu tidak ia miliki: ia tidak memarahi dirinya sendiri. Ia tidak berkata bahwa ia lemah atau gagal. Ia hanya mengakui, hari ini berat, dan itu saja.
Alexander tetap hadir di hidupnya, namun tanpa bentuk yang mengikat.
Mereka bertemu sesekali—minum kopi, berjalan sebentar, atau duduk berhadapan tanpa banyak bicara. Tidak ada tuntutan untuk selalu baik-baik saja. Tidak ada kebutuhan untuk menjelaskan setiap perasaan. Hubungan itu berjalan dengan ritme yang tenang, nyaris membosankan bagi siapa pun yang mengharapkan kisah cinta dramatis.
Namun justru di sanalah Ariella merasa aman.
Suatu sore, mereka duduk di sebuah kafe kecil. Ariella memperhatikan tangannya sendiri yang tidak lagi gemetar saat memegang cangkir.
“Aku takut suatu hari aku kembali ke titik nol,” katanya tiba-tiba, tanpa melihat Alexander.
Alexander tidak langsung menjawab. Ia menyesap kopinya, lalu berkata, “Kalau itu terjadi, kamu tidak akan sendirian seperti dulu.”
Ariella menoleh. “Itu janji?”
“Itu kenyataan,” jawabnya.
Jawaban itu tidak romantis. Tapi Ariella tidak membutuhkannya romantis. Ia membutuhkannya jujur.
Hari-hari berlalu. Ariella mulai menjalani hidup dengan keberanian kecil yang nyaris tak terlihat. Ia menyelesaikan tulisan pendek tanpa menghapusnya berkali-kali. Ia menghadiri acara kecil tanpa pulang terlalu cepat. Ia belajar berkata tidak tanpa merasa harus menjelaskan panjang lebar.
Dan yang paling sulit: ia belajar menerima hari baik tanpa rasa curiga.
Suatu pagi, Ariella menyadari bahwa ia sudah seminggu penuh tidak memeriksa ulang pesan lama atau mencari kesalahan pada dirinya sendiri. Kesadaran itu datang bersamaan dengan rasa takut—seolah ketenangan adalah sesuatu yang bisa dirampas kapan saja.
Namun kali ini, ia tidak lari.
Ia mencatat perasaannya di buku kecil yang selalu ia bawa. Tidak puitis. Tidak indah. Hanya jujur. Tentang rasa takut kehilangan kestabilan. Tentang harapan yang masih terasa asing. Tentang keinginan untuk tetap hidup meski tanpa jaminan.
Beberapa bulan kemudian, Ariella kembali melewati gedung tempat ruang tunggu itu berada.
Ia berhenti di seberang jalan, memperhatikan pintu kaca yang dulu terasa seperti satu-satunya tempat ia bisa bernapas. Ia mengingat dirinya yang datang terlalu pagi, duduk terlalu lama, dan berharap ada seseorang yang bisa mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Kini, ia tidak menyeberang.
Dadanya masih bergetar, namun kakinya tetap diam. Ariella tersenyum kecil—bukan karena nostalgia yang manis, melainkan karena ia menyadari sesuatu yang sederhana dan besar sekaligus: ia tidak harus kembali ke sana untuk membuktikan bahwa ia pernah hancur.
Ia sudah tahu.
Di bangku taman yang sama—tempat ia dulu duduk dengan napas tertahan—Ariella membuka buku catatannya. Angin sore menyentuh rambutnya pelan. Ia menulis satu kalimat, tanpa metafora, tanpa keinginan untuk terdengar kuat:
Hari ini aku masih hidup. Dan itu cukup.
Ia menutup buku itu perlahan.
Luka itu masih ada. Ia tahu. Akan selalu ada bagian dirinya yang retak, yang waspada, yang tidak sepenuhnya percaya pada dunia. Namun luka itu tidak lagi memegang kendali.
Ariella berdiri dari bangku taman dan melangkah pulang.
Ia tidak menunggu disembuhkan.
Tidak menunggu dijemput.
Tidak menunggu dunia menjadi aman.
Ia memilih hidup—dengan luka, dengan takut, dengan keberanian kecil yang ia bangun sendiri.
Dan kali ini, pilihannya benar-benar miliknya.
Hidup Ariella tidak berubah secara drastis setelah itu.
Tidak ada lonjakan kebahagiaan. Tidak ada garis lurus menuju hari-hari cerah. Yang ada hanyalah rangkaian hari biasa yang perlahan tidak lagi terasa mengancam. Ia bangun pagi dengan rasa malas yang wajar. Mengeluh tentang cuaca. Merasa jengkel pada hal-hal kecil—dan menyadari bahwa semua itu adalah tanda ia masih terhubung dengan dunia.
Ada masa ketika ia berpikir, mungkin inilah yang disebut hidup.
Bukan puncak emosi.
Bukan dasar kehancuran.
Hanya keberlanjutan.
Ariella masih mengalami hari buruk. Kadang lebih dari satu dalam seminggu. Ada malam ketika pikirannya kembali berisik, memutar ulang percakapan lama, mencari kesalahan yang sudah tidak relevan. Ada sore ketika ia membatalkan rencana bertemu orang lain karena tubuhnya terasa terlalu lelah untuk bersosialisasi.
Namun perbedaannya kini sederhana, tapi penting:
ia tidak lagi menafsirkan itu sebagai kegagalan.
Ia belajar berkata pada dirinya sendiri, aku sedang butuh berhenti, tanpa menyebutnya kemunduran. Ia belajar bahwa bertahan tidak selalu terlihat seperti melangkah maju. Kadang bertahan hanya berarti tidak melukai diri sendiri—secara fisik maupun mental.
Alexander pernah mengatakan padanya, dalam salah satu percakapan ringan mereka, bahwa proses pulih jarang terasa heroik dari dalam. Kalimat itu sempat mengganggu Ariella. Namun kini ia memahaminya.
Yang heroik sering kali hanya terlihat dari luar.
Dari dalam, yang terasa hanyalah usaha.
Hubungan Ariella dan Alexander tidak pernah berubah menjadi sesuatu yang besar dan menggebu. Mereka tidak menamai apa yang mereka jalani dengan label yang pasti. Tidak ada percakapan serius tentang masa depan. Tidak ada tuntutan untuk hadir setiap saat.
Namun ada konsistensi.
Alexander adalah orang yang bisa Ariella hubungi ketika ia merasa pikirannya terlalu penuh, tanpa takut akan dinilai berlebihan. Dan Ariella adalah seseorang yang bisa diam bersama Alexander tanpa harus mengisi keheningan dengan pembenaran.
Suatu malam, setelah hari yang cukup berat, Ariella berkata pelan, “Aku dulu pikir sembuh berarti aku tidak akan takut lagi.”
Alexander menatapnya, lalu menggeleng. “Takut itu bagian dari hidup,” katanya. “Yang berubah hanya caramu berjalan bersamanya.”
Kalimat itu tidak menghapus rasa takut. Tapi Ariella tidak lagi menolaknya. Ia membiarkannya ada—seperti bekas luka yang tidak perlu terus disentuh untuk diingat.
Menulis menjadi salah satu cara Ariella mengatur napas.
Ia tidak menulis untuk sembuh. Ia menulis untuk mengurai. Tentang dirinya yang dulu mudah percaya. Tentang dirinya yang sekarang lebih berhati-hati. Tentang dunia yang tidak selalu jahat, tapi juga tidak berkewajiban menjadi baik.
Tulisan-tulisan itu tidak selalu dibaca orang lain. Banyak yang hanya tersimpan di laptop dan buku catatannya. Namun setiap kata membuat pikirannya sedikit lebih teratur, seperti merapikan ruangan yang terlalu lama dibiarkan berantakan.
Suatu hari, tanpa perayaan apa pun, Ariella menyadari bahwa ia sudah lama tidak menyebut dirinya rusak.
Kata itu—rusak—pernah menjadi cara termudah untuk menjelaskan segalanya. Sekarang, kata itu terasa tidak akurat. Ia tidak sempurna. Ia masih mudah lelah. Masih sensitif terhadap penolakan. Masih cemas pada hal-hal tertentu.
Namun rusak berarti tidak bisa diperbaiki.
Dan Ariella tahu, itu tidak benar.
Ia kembali ke taman tempat ia sering duduk beberapa bulan terakhir. Bangku yang sama. Pohon yang sama. Namun suasananya berbeda—bukan karena tempat itu berubah, melainkan karena dirinya yang berubah cara memandang.
Ia memperhatikan orang-orang yang lewat. Pasangan yang bertengkar pelan. Anak kecil yang berlari tanpa arah. Seorang perempuan tua yang duduk sendirian sambil memegang tas belanja. Semua tampak rapuh dengan cara mereka masing-masing.
Dan untuk pertama kalinya, Ariella tidak merasa terpisah dari mereka.
Ia adalah bagian dari dunia ini. Tidak lebih kuat. Tidak lebih lemah. Hanya ada.
Angin sore bertiup pelan. Ariella memejamkan mata sejenak, mengatur napas. Ia tidak sedang menenangkan diri dari serangan panik. Ia hanya bernapas—hal sederhana yang dulu sering terasa seperti tugas berat.
Dalam keheningan itu, Ariella menyadari sesuatu yang tidak pernah ia ucapkan keras-keras:
ia tidak lagi hidup untuk membuktikan bahwa ia layak.
Ia hidup karena ia masih ada.
Dan itu sudah cukup.
Ketika matahari mulai tenggelam, Ariella berdiri dan melangkah pergi. Tidak dengan keyakinan mutlak. Tidak dengan janji pada dirinya sendiri bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Ia berjalan dengan ketidakpastian yang kini terasa lebih jujur daripada harapan palsu.
Dan mungkin—pikirnya—itulah bentuk kesembuhan yang paling manusiawi.
----
BAGIAN IV — Hari-Hari yang Tidak Lagi Ditunda
Ariella mulai memahami bahwa hidup tidak menunggu siapa pun siap.
Kesadaran itu datang bukan dalam bentuk pencerahan besar, melainkan melalui kejadian-kejadian kecil yang tidak bisa ia tunda lagi. Tagihan yang harus dibayar. Email yang menunggu balasan. Tubuh yang tetap menuntut makan meski pikirannya sedang lelah.
Dulu, hal-hal semacam itu sering membuatnya panik. Sekarang, ia mengerjakannya satu per satu—perlahan, dengan kesalahan kecil yang tidak lagi ia jadikan bukti bahwa ia gagal menjalani hidup.
Ia bangun pagi bukan karena penuh semangat, melainkan karena tubuhnya sudah cukup beristirahat. Kadang ia masih berbaring terlalu lama, menatap langit-langit, merasakan denyut kecil kecemasan yang belum sepenuhnya hilang. Namun ia tidak memaksa dirinya bangkit dengan rasa bersalah.
Ia bangun ketika siap.
Dan itu sudah kemajuan.
Rutinitas menjadi jangkar.
Ariella mulai berjalan kaki setiap sore, menyusuri jalan yang sama, melewati warung yang sama, menyapa orang-orang yang tidak ia kenal tapi perlahan terasa akrab. Ada sesuatu yang menenangkan dari pengulangan. Dari mengetahui bahwa meski pikirannya berantakan, dunia tetap berjalan dengan ritme yang bisa ia ikuti.
Suatu hari, seorang tetangga menyapanya lebih dulu.
“Sering lewat sini, ya?”
Ariella tersenyum kikuk, tapi tidak canggung seperti dulu. “Iya,” jawabnya. Tidak ada penjelasan. Tidak ada dorongan untuk membuat dirinya terdengar menarik.
Percakapan singkat itu tidak penting. Namun bagi Ariella, itu tanda bahwa ia kembali menjadi bagian dari ruang publik—bukan sekadar pengamat dari kejauhan.
Menulis tetap menjadi tempat ia pulang.
Namun kini, tulisannya tidak selalu tentang luka. Ia menulis tentang hal-hal yang dulu terasa terlalu remeh untuk dicatat: rasa kopi yang terlalu pahit, suara hujan di atap seng, kelelahan setelah seharian beraktivitas.
Ia belajar bahwa hidup bukan hanya layak ditulis ketika menyakitkan.
Ada malam-malam ketika Ariella kembali merasa goyah. Biasanya datang setelah hari yang terlalu ramai, atau setelah percakapan yang memaksanya membuka bagian diri yang belum sepenuhnya siap. Tubuhnya bereaksi dengan cara lama—napas pendek, tangan dingin, pikiran yang meloncat-loncat.
Namun kali ini, ia tidak panik karena kepanikan itu sendiri.
Ia duduk. Mengatur napas. Mengingatkan dirinya bahwa sensasi ini akan berlalu. Kadang ia mengirim pesan singkat pada Alexander. Kadang ia tidak. Ia tidak lagi merasa harus selalu diselamatkan dari perasaan tidak nyaman.
Alexander memahami perubahan itu.
Ia tidak lagi menjadi pusat. Ia menjadi salah satu titik dukung—dan itu justru membuat hubungan mereka lebih ringan. Mereka berbincang tentang banyak hal yang tidak berkaitan dengan terapi: film yang membosankan, berita yang absurd, kelelahan menjalani minggu yang panjang.
Suatu kali, Alexander bertanya, “Apa yang paling berubah dari dirimu sekarang?”
Ariella berpikir lama.
“Aku tidak lagi menunda hidup sambil menunggu diriku sembuh sepenuhnya,” jawabnya akhirnya.
Jawaban itu mengejutkannya sendiri.
Karena memang benar. Dulu, hampir semua keputusannya ditunda dengan alasan yang sama: nanti kalau aku sudah lebih baik. Sekarang, ia mengizinkan dirinya hidup meski belum sepenuhnya siap.
Ia mengambil kesempatan kecil. Menghadiri acara menulis meski cemas. Mengirimkan karyanya ke tempat-tempat yang dulu terasa terlalu jauh. Menjawab panggilan telepon tanpa latihan panjang di kepala.
Tidak semua berjalan mulus. Ada penolakan. Ada hari ketika ia pulang dengan perasaan terlalu penuh dan ingin kembali ke tempat aman yang sempit.
Namun ia tidak kembali ke sana.
Ia memilih bertahan di dunia yang nyata—dengan segala ketidakpastiannya.
Ariella mulai menyadari bahwa luka lama itu tidak lagi mendikte seluruh reaksinya. Ia masih sensitif pada kebohongan. Masih waspada pada perhatian yang terasa terlalu cepat dan terlalu manis. Namun kewaspadaan itu kini menjadi alat, bukan penjara.
Ia bisa berkata tidak.
Ia bisa menarik diri tanpa menghilang.
Ia bisa mempercayai perlahan—dan itu cukup.
Suatu malam, Ariella duduk sendirian di kamar, menatap layar laptop yang terbuka. Ia membaca ulang tulisan-tulisannya sendiri, bukan untuk mengkritik, melainkan untuk mengingat.
Ia melihat seseorang yang dulu terlalu keras pada dirinya sendiri.
Dan seseorang yang sekarang belajar memberi ruang.
Air matanya jatuh, tapi tidak dalam bentuk kehancuran. Itu air mata pengakuan—bahwa ia telah melalui sesuatu yang berat, dan tetap berdiri.
Ia menutup laptop dan mematikan lampu.
Dalam gelap, Ariella menyadari bahwa ia tidak lagi takut pada hari esok dengan cara yang sama. Takut itu masih ada, tapi tidak lagi membekap.
Ia menarik selimut, mengatur napas, dan membiarkan tubuhnya beristirahat.
Besok akan datang.
Dan untuk pertama kalinya, Ariella tidak merasa harus melawannya sendirian.
Ada satu hal yang baru Ariella sadari belakangan ini:
ia tidak lagi memandang dunia sebagai tempat yang harus selalu ia waspadai.
Bukan berarti dunia menjadi sepenuhnya aman. Ia tahu itu tidak pernah benar-benar terjadi. Namun rasa siaga yang dulu menegang di tubuhnya setiap saat kini melonggar. Ia masih berhati-hati, masih membaca tanda-tanda, tapi tidak lagi hidup dalam posisi bertahan terus-menerus.
Perubahan itu terlihat paling jelas dalam cara ia berinteraksi dengan orang lain.
Ariella mulai berani hadir di ruang bersama tanpa merasa harus menyusutkan diri. Ia tidak selalu berbicara banyak, tapi ia tidak lagi menghilang di sudut ruangan dengan perasaan bersalah karena keberadaannya. Ia duduk, mendengarkan, sesekali menyela dengan komentar pendek—dan itu cukup.
Di sebuah acara menulis kecil yang akhirnya ia datangi, Ariella duduk di barisan belakang, membawa buku catatan yang sama yang selalu ia bawa ke mana-mana. Tangannya sempat dingin, napasnya sempat pendek. Namun ia tidak pergi.
Ia bertahan.
Ketika sesi diskusi dibuka, seseorang membacakan cerpen dengan tema kehilangan. Ariella merasakan dadanya mengencang, tapi tidak sampai melumpuhkannya. Ia menunduk, mengatur napas, lalu mendongak lagi.
Ia bisa mendengar cerita orang lain tanpa harus tenggelam di ceritanya sendiri.
Seseorang di sampingnya—perempuan dengan rambut sebahu—berbisik, “Bagus, ya?”
Ariella mengangguk. “Iya.”
Percakapan itu berlanjut pelan, canggung, tapi nyata. Tidak ada janji pertemanan. Tidak ada kedekatan instan. Namun Ariella pulang dengan perasaan yang asing dan hangat: ia baru saja berbagi ruang dengan orang lain tanpa merasa terancam.
Malam itu, ia menulis lebih lama dari biasanya.
Bukan karena pikirannya penuh, melainkan karena ia ingin mengabadikan rasa yang jarang ia rasakan dulu—rasa cukup. Ia menulis tentang duduk diam di tengah orang lain. Tentang tidak harus menjadi menarik. Tentang tidak perlu menjelaskan dirinya terlalu panjang.
Ia menulis tentang hadir.
Hari-hari berikutnya berjalan dengan ritme yang semakin stabil. Ariella masih memiliki jadwal kosong yang terkadang membuatnya cemas, tapi ia mulai mengisinya dengan pilihan sadar, bukan pelarian. Ia membaca. Menulis. Berjalan. Mengunjungi tempat-tempat yang dulu ia hindari karena terlalu ramai atau terlalu sunyi.
Ia juga mulai memerhatikan tubuhnya dengan cara yang lebih lembut.
Ketika lelah, ia berhenti. Ketika emosinya naik tanpa sebab jelas, ia tidak langsung mencari kesalahan di masa lalu. Ia bertanya pada dirinya sendiri hal yang sederhana: apa yang kamu butuhkan sekarang?
Kadang jawabannya tidur.
Kadang makan.
Kadang diam.
Alexander memperhatikan perubahan itu tanpa perlu banyak komentar.
Dalam salah satu percakapan mereka, ia berkata, “Kamu kelihatan lebih… hadir.”
Ariella tersenyum kecil. “Aku juga merasa begitu.”
Tidak ada pernyataan besar setelahnya. Tidak ada momen dramatis. Hanya pengakuan singkat yang tidak menuntut apa-apa.
Suatu sore, Ariella kembali ke taman—bukan karena ia butuh menenangkan diri, melainkan karena ia menyukai tempat itu. Ia duduk, membuka buku, dan membaca tanpa merasa perlu mengawasi sekelilingnya. Anak-anak berlarian. Sepasang orang tua berbincang pelan. Dunia bergerak seperti biasa.
Dan untuk pertama kalinya, Ariella merasa tidak sedang menunggu apa pun.
Tidak menunggu luka sembuh total.
Tidak menunggu hidup terasa sempurna.
Tidak menunggu dirinya berubah menjadi seseorang yang lain.
Ia sudah ada di sini.
Saat matahari mulai turun, Ariella menutup bukunya dan berdiri. Ia menyadari bahwa hidupnya mungkin tidak akan pernah sepenuhnya bebas dari bekas. Akan selalu ada hari-hari yang berat, ingatan yang muncul tanpa diundang, dan rasa takut yang datang diam-diam.
Namun kini, ia tahu sesuatu yang dulu terasa mustahil:
ia bisa menjalani semua itu tanpa kehilangan dirinya sendiri.
Ia melangkah pergi dari taman dengan langkah yang tidak tergesa. Tidak penuh keyakinan mutlak. Tapi cukup stabil untuk tidak goyah oleh setiap suara di kepalanya.
Dan di tengah langkah itu, Ariella menyadari bahwa ruang tunggu yang dulu terasa seperti satu-satunya tempat aman kini hanya menjadi bagian kecil dari hidupnya—bukan pusat, bukan tujuan, hanya satu titik dalam perjalanan panjang yang masih ia jalani.
Ia tersenyum tipis.
Bukan karena segalanya sudah selesai.
Melainkan karena ia tahu, kali ini, ia akan tetap berjalan.
----
BAGIAN AKHIR — Ruang yang Tetap Ada
Beberapa hal tidak benar-benar pergi.
Ariella memahami itu sekarang, dengan ketenangan yang dulu tidak ia miliki. Ingatan tidak selalu datang sebagai luka terbuka. Kadang ia hadir seperti gema—pelan, samar, nyaris bisa diabaikan jika tidak diperhatikan terlalu lama.
Ia tidak lagi berusaha mengusirnya.
Suatu malam, setelah hari yang panjang namun biasa saja, Ariella duduk di depan jendela kamarnya. Lampu kota menyala satu per satu. Tidak indah dengan cara yang dramatis, tapi cukup untuk menandai bahwa dunia masih bekerja.
Ia memikirkan banyak hal tanpa tenggelam di dalamnya.
Tentang dirinya yang dulu datang terlalu pagi ke ruang tunggu. Tentang ketakutan yang membuatnya menggenggam tangan sendiri agar tidak runtuh. Tentang rasa malu yang pernah ia kira akan menempel seumur hidup.
Semua itu masih bagian darinya.
Namun tidak lagi mendefinisikannya sepenuhnya.
Ariella mengambil buku catatan yang kini hampir penuh. Ia membacanya kembali—bukan dari awal, melainkan membuka halaman acak. Ada tulisan yang terlalu emosional. Ada kalimat yang kaku. Ada pula bagian yang membuatnya berhenti sejenak, menyadari bahwa ia telah menempuh jarak yang jauh tanpa sadar.
Ia tidak mengedit apa pun malam itu.
Ia hanya menutup buku dan meletakkannya di samping tempat tidur.
Besok, ia akan menjalani hari seperti biasa. Bangun dengan sisa lelah. Menghadapi dunia dengan kehati-hatian yang sehat. Menulis jika mampu. Berhenti jika perlu. Tidak ada janji bahwa semuanya akan mudah.
Namun juga tidak ada lagi keyakinan bahwa semuanya akan menghancurkannya.
Alexander mungkin akan tetap ada dalam hidupnya.
Atau mungkin tidak selalu sedekat itu.
Ariella tidak lagi menggantungkan makna hidupnya pada satu hubungan, satu tempat, atau satu versi dirinya. Ia tahu sekarang: hidup tidak menunggu seseorang selesai sembuh untuk bergerak maju.
Dan ia memilih ikut bergerak—meski pelan.
Sebelum mematikan lampu, Ariella berdiri sejenak di depan cermin. Ia tidak mencari perubahan besar. Tidak mencari bukti bahwa dirinya sudah “lebih baik”.
Ia hanya memastikan satu hal sederhana:
ia masih di sini.
Ruang tunggu itu tidak menyembuhkan segalanya.
Ia tidak pernah melakukannya.
Namun di sanalah Ariella belajar duduk bersama lukanya—dan kemudian, berdiri untuk melangkah pergi.
Malam menutup hari dengan tenang.
Dan Ariella, untuk pertama kalinya, tidak merasa harus menyiapkan diri menghadapi esok dengan rasa takut berlebihan. Ia tahu akan ada hari berat. Ia tahu akan ada keraguan.
Namun kini, ia juga tahu ini:
Ia tidak lagi hidup di ruang tunggu.
Ia sedang berjalan—dan akan terus berjalan.
Ada hari-hari ketika Ariella bangun dengan dada terasa berat tanpa alasan yang jelas. Tidak selalu ada pemicu. Tidak selalu ada ingatan yang bisa ditunjuk. Dulu, hal itu membuatnya panik—meyakinkannya bahwa ia mundur, bahwa semua usahanya sia-sia.
Sekarang, ia hanya duduk sejenak di tepi ranjang dan membiarkan perasaan itu ada.
Ia belajar bahwa tidak semua ketidaknyamanan adalah pertanda kegagalan.
Pagi itu, ia membuat kopi dengan takaran yang salah. Terlalu pahit. Ia hampir membuangnya, lalu menghela napas dan meminumnya juga. Rasanya tidak enak, tapi tidak menyakitkan. Hidup, pikirnya, sering kali seperti itu.
Tidak sempurna. Tidak selalu ramah. Namun tetap bisa dijalani.
Ariella berjalan keluar rumah, menyusuri trotoar yang mulai ramai. Ia memperhatikan orang-orang dengan cara baru—bukan sebagai ancaman, bukan sebagai penilai, melainkan sebagai sesama manusia yang juga membawa cerita masing-masing.
Ia tidak tahu apa yang mereka sembunyikan di balik wajah biasa itu.
Dan untuk pertama kalinya, ia tidak merasa perlu tahu.
Di halte bus, ia berdiri di antara suara mesin dan langkah kaki. Dulu, tempat seperti ini membuatnya cemas. Terlalu banyak kemungkinan. Terlalu banyak hal di luar kendali. Sekarang, ia hanya mengamati.
Langit tidak sepenuhnya cerah. Awan bergerak perlahan.
Ariella menyadari bahwa kesembuhan tidak datang sebagai garis lurus. Ada hari di mana ia merasa kuat. Ada hari di mana ia ingin kembali ke ruang tunggu itu—bukan untuk disembuhkan, melainkan untuk diyakinkan bahwa ia tidak sendirian.
Namun ia juga tahu: ia tidak harus kembali ke sana untuk membuktikan apa pun.
Ia sudah membawa cukup bekal.
Di dalam tasnya, selain buku catatan, ada secarik kertas kecil berisi kalimat yang pernah ia tulis sendiri: pelan tidak apa-apa, berhenti pun boleh, asal tidak menyerah pada kebisuan.
Ia tersenyum tipis saat membacanya kembali.
Bus datang. Ariella naik dan duduk di dekat jendela. Kota bergerak di luar sana—tidak menunggu siapa pun. Dan kali ini, ia tidak tertinggal.
Ia masih memiliki luka.
Ia masih memiliki takut.
Namun ia juga memiliki pilihan.
Dan hari itu, seperti hari-hari lainnya, Ariella memilih untuk tetap hidup—bukan dengan heroisme, bukan dengan janji besar, melainkan dengan keberanian kecil yang ia ulangi setiap hari.
Bus melaju.
Cerita tidak berhenti di sini.
Ia hanya berganti halaman.
Tamat ...