Hujan mengguyur aspal kota dengan deru yang menyelimuti suara hiruk-pikuk malam.Di dalam Lumière Atelier de Mode – sebuah atelier pakaian buatan tangan dengan nuansa Prancis klasik, di mana kata "Lumière" bukan hanya nama tapi juga filosofinya: setiap desain harus seperti cahaya yang menyinari pemakainya – cahaya neon merah dari etalase menyala terang, menerangi wajah Emma yang sedang menyusun baju-baju baru di rak depan. Tangan kirinya yang mengenakan cincin permata kecil bergerak lincah – cincin itu hadiah dari Tommaso saat mereka resmi menjadi pasangan, setelah berteman sejak di bangku sekolah dasar.
“Kau benar-benar yakin mau tutup jam lima? Hujan masih deras kok,” ucap Paloma dari belakang kasir, suara dingin seperti es. Wanita berkulit sawo matang itu adalah sahabat lama Tommaso, tapi sejak Emma datang ke dalam kehidupan mereka, dia selalu menunjukkan sikap yang tidak ramah. Sekarang dia sedang memotong kertas dengan ekspresi tatap yang tegas ke arah jendela.
“Tommaso bilang akan menjemputku jam setengah lima,” jawab Emma dengan senyum lembut, tapi matanya tetap terpaku pada sosok yang berdiri di luar toko. Seorang wanita mengenakan gaun merah yang mencolok seperti darah, memegang payung hitam yang anehnya tak pernah basah meskipun hujan terus menerus menyiramnya. Sudah tiga kali dia muncul dalam seminggu terakhir – selalu saat hujan turun, selalu berdiri tepat di depan etalase, dan selalu menghadap ke arah baju-baju yang pernah disentuh Emma.
“Aku lihat dia lagi,” bisik Emma, membuat Tommaso yang baru keluar dari kamar gudang langsung mendekat ke jendela. Pria tinggi dengan rambut cokelat gelap itu menggenggam bahu Emma dengan lembut, tapi matanya menunjukkan kekhawatiran yang sama.
“Kemarin malam juga ada di depan kantorku,” ucap Tommaso pelan. “Aku pikir cuma khayalan, tapi sekarang…”
Paloma mendekat dan melihat keluar, lalu menghela nafas kasar. “Cuma seorang pelanggan yang terlalu suka gaya-gayaan aja. Atau mungkin pengemis yang mau meminta uang.” Tapi ketika dia melihat sosok wanita itu perlahan mengangkat dagunya, seolah merespons ucapan dia, warna wajahnya sedikit memucat.
Lampu di dalam toko tiba-tiba padam. Hanya ada cahaya neon merah dan sinar kuning dari logo toko sebelah yang mencerminkan di lantai marmer basah, membuat bayangan panjang melengkung seperti ular. Suara hujan seolah makin keras, tapi tak ada satu tetes pun yang masuk ke dalam ruangan yang tertutup rapat. Kemudian terdengar ketukan lembut di kaca jendela – tiga kali, dengan irama yang teratur.
Emma melangkah maju, diikuti oleh Tommaso. Paloma ditinggal di belakang, tangannya menggenggam gagang meja kasir dengan erat. Saat mereka sampai di jendela, sosok bergaun merah perlahan membuka payungnya sedikit – cukup untuk membuat Emma melihat wajahnya. Wanita itu memiliki bibir yang sama bentuknya dengan Emma, dan di tangannya kanan terpampang cincin yang identik dengan yang dikenakan Emma.
“Kau sudah tau yang aku cari kan?”
Suaranya terdengar seperti bisikan yang terbawa angin, tapi jelas terdengar di telinga mereka bertiga. Tommaso ingin membuka pintu, tapi Paloma menarik bajunya dan berteriak, “Jangan! Itu bukan manusia!” Saat itu, bayangan lain muncul di balik payung hitam – sosok pria dengan wajah yang persis seperti Tommaso, memegang payung yang sama.
Emma merasa dada nya tertekan. Dia melihat cincin di tangannya, lalu melihat ke arah cermin di dinding – bayangan dirinya di sana sedang memegang payung hitam yang sama, kanvasnya tetap kering walau dia jelas berdiri di dalam ruangan kering. Tommaso juga melihat cermin, wajahnya penuh kekagetan saat melihat bayangan dirinya membawa payung yang sama dengan sosok di luar.
Sosok bergaun merah mulai berbalik dan berjalan menjauh, langkahnya seolah tidak terkena hujan sama sekali. Paloma berlari ke pintu dan membukanya dengan cepat – tapi di luar hanya ada trotoar basah yang licin, tidak ada jejak tapak kaki, tidak ada genangan air yang terganggu. Hanya sehelai kain hitam yang sama dengan kanvas payung itu terpaku di kaca jendela, dengan kalimat yang ditulis menggunakan air hujan: “Dia akan mengambil apa yang miliknya. Kau hanya penjaga sementara.”
Paloma mengambil kain itu dengan tangan yang gemetar, lalu melihat ke arah Emma dan Tommaso dengan tatapan yang penuh kecurigaan. “Kalian pasti menyembunyikan sesuatu dari aku, kan?”
Emma tidak bisa menjawab. Dia masih menatap cincin di tangannya, yang tiba-tiba terasa sangat dingin. Di luar, hujan masih turun, dan di permukaan aspal basah muncul jejak tapak hak tinggi merah – sama persis dengan yang dikenakan wanita di gaun merah tadi, dan jejaknya mengarah tepat ke arah rumah Emma dan Tommaso.
Mereka semua tahu, sosok dengan payung hitam itu akan datang lagi. Dan kali ini, mungkin dia tidak akan hanya berdiri di luar toko.