Sore menjelang malam, hujan deras dengan angin yang berhembus cukup kencang.
Meira berteduh di halte dekat toko pakaian. Hanya dia seorang yang berteduh di sana. Tubuhnya sedikit bergetar menahan dingin. Kedua tangannya saling digosokkan agar menciptakan rasa hangat.
Ia tidak mengira bahwa Minggu siang yang panas tadi bisa berubah menjadi hujan deras dan berangin pada sorenya.
Seharusnya ia mendengarkan perkataan ibunya untuk ke toko pagi tadi. Sekarang disinilah Meira, terjebak hujan, sendirian dan kedinginan di halte.
Meira menolah melihat kantong kresek berisi beberapa pulpen dan sebuah buku kumpulan rumus matematika yang dibelinya tadi. Padahal besok sudah hari pertamanya sebagai murid SMA, tapi ia tidak punya pulpen.
Sebenarnya Meira sempat punya, tapi hilang begitu saja. Ia pun tidak mengingat terakhir kali menaruhnya dimana. Jadilah ia harus membeli yang baru.
Meira juga menyesali dirinya yang tidak membawa ponsel. Karena pikirnya jarak rumah ke toko cukup dekat dan ia hanya keluar sebentar .Sudahlah, hari Minggu ini dirinya benar-benar terkena kesialan.
Hari sudah semakin sore dan hujan tidak berniat untuk berhenti sebentar. Kalau Meira memaksa menerobos hujan sekarang, kemungkinan dia terserang pilek jadi 90 persen.
Ia merapatkan kardigannya. Matanya kembali memandangi rinai hujan yang turun. Ia menghela napas kesal saat melihat hujan yang bukannya reda malah makin deras.
Matanya tanpa sengaja menangkap seorang laki-laki yang nekad berlari di bawah siraman air hujan menuju ke arahnya.
Meira merasa kasihan pada laki-laki itu. Begitu sudah berada disampingnya, Meira dapat melihat baju laki-laki itu yang sudah sangat basah.
Ia buru-buru mengalihkan pandangannya saat kedua mata laki-laki itu juga menatapnya.
"Situasi canggung macam apa ini?" Begitulah pikirnya.
Meira sangat berharap siapapun menjemputnya sekarang. Ia heran sudah setengah jam lebih dirinya terjebak hujan, tapi keluarganya tidak ada yang mencarinya.
"Apa bunda lupa ya sama anak gadisnya ini?" Pikir Meira
Meira semakin merapatkan kardigan-nya. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri. Hampir tidak ada kendaraan yang lewat. Ia melirik jam tangannya. Pukul 05.42 sore ternyata.
“Kamu nggak ada yang jemput ya?” tanya laki-laki itu.
“Kamu ngomong sama aku?” Meira menunjuk wajahnya sendiri.
“Memang siapa lagi yang ada disini selain aku sama kamu?” laki-laki itu tersenyum setelah mendengar pertanyaan konyol dari Meira.
Meira tersenyum canggung. “Iya juga ya,”
“Jadi kamu beneran nunggu jemputan?” laki-laki itu bertanya lagi.
Meira melihat hujan yang semakin deras dengan tatapan sendu. “Enggak tahu juga.” lirihnya
“Kok nggak tahu?” laki-laki itu mengerutkan keningnya dan menatap Meira heran.
“Soalnya udah setengah jam lebih disini, tapi nggak ada yang jemput.” Lirih Meira.
Laki-laki itu menatap Meira dengan raut kasihan. Bagaimana tidak, wajah Meira saat ini benar-benar mirip anak kucing yang ditinggal induknya. “Kamu nggak bawa hape?”
Meira menggelengkan kepalanya.
Laki-laki itu menghela napasnya. Pantas saja,
Kemudian ia mengeluarkan ponsel yang berada di saku celana belakangnya. Ia bersyukur bahwa ponselnya tidak mati karena kehujanan.
“Nih! Kamu telfon orang rumahmu, suruh jemput.” laki-laki itu menyodorkan ponselnya pada Meira.
Meira menatap ponsel yang di sodorkan laki-laki itu dengan mata berbinar. “Ini beneran?”
“Iya, cepetan kamu telfon.”
Meira menerimanya dengan semangat dan mulai mengetikkan nomor telfon rumahnya.
Setelah beberapa saat panggilan tersebut akhirnya tersambung.
“Kak! Jemput Mei di halte dekat toko buku!”
📞“Siapa nih?!”
“Ini Mei, Kak! Kakak jemput Mei di halte dekat toko buku!”
📞“Iya, bentar. Kakak pikir kamu lagi main ke rumah temen. Tunggu bentar.”
“Iya, cepetan!”
Sambungan terputus. Meira mengembalikan ponsel tersebut. “Terima kasih ya.”
“Iya. Udah mau di jemput kan?” tanya laki-laki itu seakan memastikan.
“Udah kok. Makasih banget ya,”
Laki-laki itu tersenyum. “Iya,”
“Kamu sendiri dari mana kok sampai kehujanan?” tanya Meira, setidaknya biar tidak canggung-canggung banget.
“Oh itu, dari rumah temen.” Jawabnya.
Meira langsung berdiri saat melihat mobil dengan plat milik ayahnya berhenti di depan mereka. Seorang laki-laki yang berusia 18 tahun keluar dari mobil dengan payung ditangannya dan menghampiri mereka.
“Kamu tuh bikin khawatir orang rumah aja! Bunda ngiranya kamu lagi main ke rumah teman. Tahu-tahu telfon dan bilang kalo kamu kejebak hujan.” Omelnya.
“Ngomelnya nanti aja, Kak. Oh ya, tadi aku pinjam hape kakak ini buat telfon kakak.” Kakak Meira menoleh melihat seorang laki-laki yang berdiri di dekat Meira.
“Terimakasih ya, Kamu nunggu jemputan juga?” tanya kakak Meira.
“Enggak. Saya nunggu hujan agak reda.” Jawab laki-laki itu.
“Bareng kita aja gimana?” tawar Meira.
“Enggak usah.” Laki-laki itu menolaknya dengan sopan.
“Rumah kamu dekat?” tanya kakak Meira.
“Iya, Kak.”
“Ya udah. Kamu pakai aja payungnya.” Kakak Meira memberikan payungnya pada laki-laki itu.
“Tapi...”
“Balikinnya kalau kita ketemu lagi atau nggak pas ketemu Mei,”
“Terimakasih, Kak.”
“Saya yang terimakasih karena kamu udah meminjamkan adik saya hape buat telfon.” Ucap kakak Meira dengan tulus.
“Iya, saya juga berterimakasih.”
“Kamu beneran nggak mau bareng aja?” tanya kakak Meira lagi.
“Nggak perlu, Kak!”
“Ya udah kalau gitu. Kita duluan ya?” kakak Meira masuk ke dalam mobil lebih dulu dengan sedikit berlari agar bajunya tidak basah.
“Duluan ya! Sekali lagi makasih!”
Laki-laki itu hanya tersenyum menanggapi ucapan terimakasih dari Meira.
Meira pun segera berlari menyusul kakaknya masuk ke dalam mobil.
Setelahnya mobil itu melaju meninggalkan area halte.
“Namanya siapa, Dek?” tanya kakaknya.
“Nggak tahu, Kak. Mei lupa nanyain.”
Kakak Meira mengerutkan keningnya. “Gimana sih? Udah di bantuin juga,”
“Namanya juga orang lupa, Kak!”
“Lain kali kalo kemana-mana hapenya dibawa. Kalo kejadian kayak gini terulang lagi gimana?”
“Iya-iya,” Meira mengalihkan pandangannya ke jendela disampingnya. Menatap hujan yang masih deras diluar.
“Kenapa aku tadi nggak nanyain namanya ya?”
Dalam hatinya ia sedikit menyesali dirinya yang dengan bodohnya tidak menanyakan siapa nama laki-laki itu?dimana dia tinggal? sekolah dimana? Siapa tau jodoh,soalnya kalau di ingat-ingat lumayan ganteng juga sih.
Eh eh eh, kok malah ngelantur pikirannya.
Tapi Meira gak bisa bohong juga sih kalau sebenarnya ia diam-diam berdoa semoga dipertemukan kembali dengan laki-laki itu.
Ikut doakan ya teman-teman,supaya Meira ketemu laki-laki itu lagi. Siapa tahu jodohnya Meira hehe...