Udara malam di dalam kedai tua “The Last Page” terasa berat seperti kain sutra tua yang terlipat rapat. Lantai kayu bergelombang di bawah kaki Leonardo, setiap langkahnya mengeluarkan suara kresek yang seolah berbisik nama-nama lama. Di luar jendela kedai, bisa dilihat bentuk perpustakaan tua milik keluarga nenek moyangnya—bangunan batu yang berdiri kokoh sejak tiga generasi yang lalu, bertetangga erat dengan kedai yang kini dipimpin oleh seorang pria tua yang tidak pernah menyebutkan namanya.
Leonardo sering melihatnya dari sini: sebuah foto berbingkai kayu tua yang terpajang di dinding perpustakaan, tepat di depan rak buku sejarah keluarga. Foto itu menunjukkan seorang lelaki dengan topi dan kacamata bundar, memegang kotak kubus dengan tulisan besar—“The End”. Itu adalah kakeknya, Leonardo Senior, orang yang pertama kali menyebutkan bahwa kata itu bukanlah akhir, tapi sesuatu yang tidak boleh pernah diganggu. “Biarkan dia berdiri di sana,” kata ayahnya dulu, ketika Leonardo masih kecil dan ingin menyentuh foto itu. “Turun temurun kita menjaganya—karena setiap kali ada yang mencoba membuka apa yang disembunyikan di baliknya, segalanya akan berubah dengan cara yang tidak terduga.”
Dia menjangkau rak paling dalam kedai, di mana cahaya lampu gantung hanya bisa menjangkau sebagian permukaan buku-buku tua berwarna kecoklatan. Tangan lelaki itu berhenti di depan sebuah kotak kayu tanpa label—kotak yang dia temukan tepat satu dekade lalu, pada malam Oliver dan Olivia menghilang dari kota kecil mereka. Bentuknya persis seperti yang ada di foto kakeknya.
“Kamu masih mencari mereka?” Suara itu datang dari belakang, membuat Leonardo terkejut hingga ujung rambutnya berdiri tegak. Dia menoleh, melihat wajah tua pemilik kedai yang sudah mengenalnya sejak masa kanak-kanak. “Kotak itu tidak pernah terbuka, Leo. Seperti kalau ada sesuatu yang tidak mau ditemukan. Kamu tahu kan, foto kakekmu di perpustakaan itu? Sama saja bentuk kotaknya.”
Leonardo menggeleng perlahan. “Mereka tidak akan menghilang begitu saja. Oliver pernah bilang—setiap akhir adalah awal yang menyembunyikan wajahnya di balik tirai misteri.” Dia mengangkat kotak itu; beratnya lebih ringan dari yang dia bayangkan. Ketika dia meletakkannya di atas meja kayu yang berkarat, sebuah lembaran kertas putih terjatuh dari celah antara tutup dan badan kotak. Di atasnya tertulis dengan tangan yang rapi:
“The End bukanlah tempat untuk berhenti. Ia adalah pintu yang hanya bisa dibuka oleh mereka yang sudah siap melihat awalnya.”
— O&O
Sejak kecil, ketiganya selalu terikat oleh sesuatu yang lebih dari sekadar persahabatan. Leonardo, yang selalu mencatat setiap cerita di dalam buku hariannya dengan huruf-huruf yang rapi. Oliver, sang pelukis yang bisa mengubah setiap bayangan menjadi gambar yang hidup, dengan sentuhan kuas yang selalu menyimpan makna tersembunyi. Dan Olivia, penyair yang bisa membuat kata-kata seperti air yang mengalir—kadang lembut, kadang memecah batu. Mereka tumbuh besar bersama di antara rerumputan yang tumbuh liar di belakang rumah kosong tua, tempat mereka selalu berkumpul untuk membicarakan mimpi dan masa depan yang akan mereka jalani bersama. Kadang-kadang mereka akan berlari ke perpustakaan tua, hanya untuk menatap foto kakek Leonardo dan bertanya-tanya apa makna sebenarnya dari kotak yang dia pegang.
“Mengapa kakekmu menyembunyikan kotak itu?” tanya Olivia suatu hari, sambil mengacu pada foto itu. “Seperti kalau ada rahasia besar di dalamnya.”
“Keluarga kita bilang jangan pernah mengganggunya,” jawab Leonardo kala itu. “Katanya itu berkaitan dengan bagaimana kita melihat akhir dan awal dalam hidup.”
Oliver hanya tersenyum dan mulai menggambar kotak itu di atas tanah dengan batu kecil. “Mungkin suatu hari kita akan menemukan jawabannya.”
Namun pada malam ulang tahun ke-25 mereka, segalanya berubah.
Leonardo masih ingat dengan jelas: malam itu hujan deras menyiram kota, menerpa atap rumah tua itu hingga membuat suara seperti derap kaki ribuan orang. Ketiganya sedang duduk di lantai yang basah, dengan segelas teh panas di tangan masing-masing. Oliver sedang menggambar sesuatu di atas kanvas kecilnya, wajahnya penuh ketenangan yang tidak biasa. Olivia menyanyikan lagu kuno yang dia ciptakan sendiri, suaranya pelan seperti bisikan angin.
“Kalian tahu tidak?” ujar Oliver dengan suara rendah, sambil menutup kanvasnya dengan hati-hati. “Saya sudah menemukan tempat di mana akhir dan awal bertemu. Tempat di mana setiap asmara yang usai akan menemukan maknanya di asmara yang akan datang. Saya melihatnya dari foto kakek Leonardo—ada petunjuk tersembunyi di balik kotak itu.”
Olivia menatapnya dengan mata yang penuh makna. “Kita semua akan pergi ke sana, bukan? Bersama seperti selalu.”
Leonardo mengangguk dengan yakin. “Tentu saja. Kita tidak akan pernah pisah.”
Namun keesokan harinya, ketika Leonardo datang ke rumah kosong itu, dia hanya menemukan kanvas kosong di atas lantai basah, sebuah buku puisi yang halamannya sebagian sudah sobek, dan sebuah kotak kayu yang sama dengan yang ada di foto kakeknya. Oliver dan Olivia hilang tanpa jejak—tidak ada surat, tidak ada pemberitahuan, bahkan tidak ada jejak di tanah yang basah karena hujan malam itu. Hanya satu kalimat yang tertulis di dinding rumah tua itu dengan cat hitam yang masih basah:
“The End – See You At The Start”
Sepuluh tahun telah berlalu. Leonardo telah menjalani hidupnya dengan asmara yang datang dan pergi—seorang penyanyi jalanan yang membuat hatinya berdebar selama dua tahun, seorang dokter muda yang membuatnya merasa seperti ada rumah baru di dalam hatinya. Tapi setiap akhir dari hubungan itu selalu membuatnya kembali ke pertanyaan yang sama: di mana Oliver dan Olivia? Dan apa makna sebenarnya dari kata “The End” yang mereka selalu sebut-sebut, serta mengapa kotak miliknya persis seperti yang ada di foto kakeknya? Dia sering mengunjungi perpustakaan tua, menatap foto kakeknya dengan mata penuh keraguan—apakah kakeknya juga pernah mengalami hal yang sama?
Dia akhirnya membuka kotak itu dengan hati-hati. Di dalamnya ada tiga benda: sebuah foto hitam putih yang menunjukkan ketiganya sedang bermain di rerumputan, sebuah kuas yang sudah aus, dan sebuah kertas dengan puisi yang belum pernah dia dengar sebelumnya:
“Kita masing-masing memilih jalan asmara kita sendiri,
Untuk menyusun peta yang akan kita tempuh bersama nanti.
Oliver menemukan cinta di antara warna-warna yang dia goreskan,
Di sebuah kota di mana matahari selalu bersinar di atas lautan pasir.
Olivia menemukan damai di antara kata-kata yang dia ucapkan,
Di sebuah desa di mana angin membawa aroma bunga pagi.
Kita tidak pernah pergi jauh,
Hanya bersembunyi di balik akhir yang kamu lihat.
Karena setiap kali kamu mengatakan selamat tinggal pada masa lalu,
Kita semakin dekat dengan pertemuan yang sudah ditentukan.
Datanglah ke tempat di mana buku lama ditutup dan buku baru dibuka.
Kita akan bertemu di sana—di saat The End menjadi The Beginning.
Cari kami di bawah pohon beringin yang sama,
Pada malam di mana bulan berbentuk huruf O.
Leonardo merasa dada nya terasa hangat dan sedikit menggigil. Dia melihat keluar dari jendela kedai—bulan itu memang berbentuk seperti huruf O, dan di kejauhan bisa dilihat puncak pohon beringin yang sama dengan yang ada di belakang rumah kosong tua mereka. Jauh di sana, juga terlihat bentuk perpustakaan tua dengan foto kakeknya yang masih terpajang di dinding, seolah menatapnya dengan mata yang penuh makna. Dia mengambil jasnya dan berlari keluar, kaki nya menginjak lantai kayu kedai dengan suara yang semakin keras seolah mengejar waktu.
Ketika dia tiba di tempat itu, pohon beringin berdiri tegak di tengah rerumputan yang sudah tumbuh lebih tinggi dari dulu. Di bawahnya ada dua orang yang sedang duduk berhadapan—salah satunya sedang menggambar di kanvas, yang lain sedang menulis di sebuah buku. Mereka menoleh ke arah Leonardo dengan senyum yang sama seperti dulu.
“Kamu terlambat,” ujar Oliver dengan suara yang akrab, tanpa menghentikan gerakan kuasnya. Di kanvasnya tergambar sebuah pemandangan: ketiganya sedang duduk di bawah pohon beringin, dengan tulisan besar di belakang mereka—“THE END” yang bagian belakangnya terbuka menjadi “THE START”. Di sudut kanvas, juga tergambar bentuk perpustakaan tua dan foto kakek Leonardo yang sedang memegang kotak serupa.
“Kakekmu tahu semua ini akan terjadi,” ujar Olivia, mengangkat buku puisi nya. “Kita semua harus menjalani akhir kita sendiri dulu, Leonardo. Hanya itu yang bisa membawa kita ke awal yang sebenarnya.” Dia menunjukkan halaman terakhir bukunya—di sana tertulis nama seorang wanita yang Leonardo kenal: dokter muda yang pernah membuatnya merasa seperti ada rumah di hatinya. “Dia akan datang besok. Dia adalah bagian dari awal yang kita tunggu-tunggu. Bagian dari warisan yang kakekmu jaga selama ini.”
Leonardo duduk di antara mereka, melihat ke atas ke bulan yang berbentuk O. Dia tidak tahu bagaimana mereka bisa menemukan jalan masing-masing dan tetap bertemu di sini. Tidak tahu mengapa setiap akhir dari asmara nya ternyata adalah langkah menuju tempat ini. Dan dia tidak tahu apa yang akan terjadi setelah ini. Tapi dia tahu bahwa foto kakeknya di perpustakaan tua bukan hanya sekadar kenang-kenangan—ia adalah jembatan antara masa lalu yang harus ditinggalkan dan masa depan yang sedang menunggu.
Yang dia tahu hanyalah ini: The End bukanlah akhir yang sebenarnya. Ia hanyalah sebuah misteri yang harus dipecahkan—untuk menemukan awal yang selalu ada di baliknya.
Ketika matahari mulai muncul di ufuk timur, Oliver menutup kanvasnya, Olivia menutup bukunya, dan Leonardo membuka buku harian baru yang sudah dia bawa. Di halaman pertama, dia menulis dengan huruf yang rapi:
“Akhirnya aku menemukan mereka. Akhirnya aku menemukan awalnya. Dan sekarang aku tahu—kakekku tidak pernah ingin kita menjauhi misteri itu. Dia hanya ingin kita siap ketika waktunya tiba.”
Namun di balik kanvas Oliver, ada sebuah gambar tersembunyi yang belum selesai digambar—gambar dari empat orang yang sedang duduk di bawah pohon beringin, dengan bulan yang berbentuk seperti hati di atas kepala mereka. Di belakang mereka, terlihat perpustakaan tua dengan foto baru yang akan terpajang di dinding: foto ketiganya bersama wanita itu, memegang kotak dengan tulisan “THE START”. Dan di lembar terakhir buku puisi Olivia, ada sebuah baris yang belum pernah dibaca oleh siapapun:
“Dan cerita baru ini juga akan memiliki akhir nya sendiri—karena itu adalah cara dunia bekerja. Semua yang berakhir akan membawa kita ke tempat yang lebih jauh dari yang kita bayangkan. Begitu pula turun temurun kita nanti.”
Malam itu, ketika Leonardo kembali ke kedai “The Last Page”, kotak kayu itu sudah tidak ada di atas meja. Pemilik kedai hanya tersenyum dan berkata: “Beberapa hal hanya bisa dilihat oleh mereka yang sudah siap menerima misterinya. Seperti foto kakekmu di perpustakaan—kini kamu sudah mengerti apa yang dia ingin katakan.”
Di rak paling dalam, sebuah buku baru tanpa judul muncul dengan sendirinya. Halaman pertamanya terbuka, dengan tulisan putih yang bersinar di tengah halaman hitam:
“THE END – OR IS IT?”
Di halaman selanjutnya, ada foto kecil yang menempel—foto kakek Leonardo yang sedang tersenyum, dengan tulisan kecil di bawahnya: “Sudah tiba waktunya kamu meneruskan warisannya.”