Di desa Sariwangi yang terletak di kaki Pegunungan Semeru, langit selalu tampak lebih dekat dari biasanya. Ranting-ranting pohon beringin tua seolah ingin menjangkau titik-titik cahaya yang menyala di antara awan tipis setiap malam.
Pada malam kelahiran Laras, bintang terang bernama Sirius dan Canopus tampak lebih memancarkan cahaya daripada biasanya. Bahkan peramal desa menyatakan bahwa gadis itu akan terikat dengan sesuatu yang berada di luar batas dunia mereka.
Laras tumbuh menjadi wanita muda yang hatinya sehangat kembang sepatu yang mekar di halaman rumahnya, namun matanya menyimpan kedalaman seperti danau yang tak pernah mengeluarkan suara.
Pada usia dua puluh tahun, dia menghabiskan sebagian waktunya mengumpulkan bunga obat di lereng gunung dan membantu ibunya mengelola warung minuman tradisional yang terletak di tepi jalan raya desa.
Suatu malam ketika bulan purnama menjulang tinggi, Laras mendengar suara nyanyian yang lembut terdengar dari arah hutan yang gelap di belakang desa. Suaranya bukan dari manusia, lebih seperti irama angin yang menyanyi bersama getaran tanah.
Tanpa berpikir dua kali, dia mengikuti suara itu hingga sampai di sebuah pemukiman batu yang terlupakan, tempat di mana sebuah pilar batu besar berdiri tegak dengan ukiran bintang-bintang yang tak dikenal.
Ketika dia menyentuh permukaan batu yang dingin, cahaya keemasan tiba-tiba meledak dari dalam ukiran. Sesosok pria dengan rambut berwarna perak dan mata seperti lautan biru dalam muncul di hadapannya. Dia mengenakan baju besi bergambar bintang dengan kain pinggang yang dihiasi mutiara buatan awan.
"Sekian lama aku menunggu," ujar pria itu dengan suara yang seperti gemericik air sungai. "Namaku Nolan."
Laras tidak merasa takut, sebaliknya ada rasa kenal yang mendalam yang mengalir melalui dirinya, seolah mereka telah bertemu di waktu yang tak bisa diingat lagi.
"Aku tidak tahu siapa kamu," ucap Laras dengan lembut, namun matanya tidak bisa lepas dari pandangan Nolan.
"Kita akan mengingatnya bersama," jawabnya sambil mengangkat jempolnya untuk menyentuh dahi Laras. Pada saat itu, gambar-gambar yang tidak dikenal muncul di benaknya. Mereka sedang berdiri di atas puncak gunung, melihat matahari terbit bersama. Dia sedang mengikat bunga di rambutnya. Mereka sedang berjanji sesuatu di bawah langit yang penuh bintang.
Namun sebelum dia bisa memahami apa yang dilihatnya, Nolan menghilang dengan cepat seperti kabut pagi, hanya menyisakan sepucuk bunga bintang yang warnanya keemasan di atas tanah.
Keesokan harinya, Laras berlari ke rumah Pak Capt, seorang peramal dan penjaga warisan desa yang sudah berusia ratusan tahun atau setidaknya begitulah yang dikisahkan orang-orang. Dia menunjukkan bunga keemasan itu kepada lelaki tua yang sedang merawat tanaman obat di halamannya.
Pak Capt melihat bunga itu dengan mata yang memerah karena kagum. "Ini adalah Bunga Zaman, tumbuhan yang hanya bisa tumbuh di antara dunia kita dan Dunia Bintang," katanya dengan suara pelan.
"Kau telah bertemu dengan seseorang dari Kekaisaran Sirius dan Canopus, bukan?"
Laras mengangguk, menyampaikan semua yang terjadi malam sebelumnya beserta gambar-gambar yang muncul di benaknya. Pak Capt menarik napas dalam-dalam sebelum mulai bercerita.
"Ratusan tahun yang lalu, dunia manusia dan Dunia Bintang hidup berdampingan dalam kedamaian. Para pemimpin dari kedua dunia sering bertemu untuk memperkuat hubungan antara keduanya. Pada suatu waktu, putra mahkota Kekaisaran Sirius dan Canopus bernama Nolan bertemu dengan putri dari kerajaan manusia yang bernama Larasati. Mereka jatuh cinta dan berjanji untuk selalu bersama, tak peduli apa yang terjadi."
"Namun musibah datang ketika sebuah kekuatan gelap bernama De Darkness mencoba untuk menghancurkan kedua dunia. Untuk menghentikannya, para penyihir dari kedua dunia harus membuat sebuah kontrak, Mereka harus memisahkan kedua dunia dan menyembunyikan ingatan cinta Nolan dan Larasati agar kekuatan cinta mereka yang kuat tidak digunakan oleh De Darkness untuk merusak keduanya. Kontrak itu akan bertahan hingga saatnya tiba ketika bunga Zaman tumbuh kembali di dunia manusia."
"Artinya..." lirih Laras.
"Kau adalah kelanjutan jiwa dari putri Larasati yang dulu, dan Nolan adalah putra mahkota yang sama yang telah menunggu selama berabad-abad untuk memenuhi janjinya," jelas Pak Capt.
"Namun ada bahaya yang mengiringi. Jika De Darkness mengetahui bahwa cinta kalian telah kembali hidup, ia akan mencoba untuk mengambil kekuatan itu untuk dirinya sendiri."
Pada malam yang sama, Nolan muncul lagi di tempat batu pilar itu. Kali ini dia membawa sebuah cincin perak dengan ukiran bintang kecil di tengahnya.
"Ini adalah cincin janji kita yang dulu," katanya sambil memberikan cincin itu kepada Laras. "Aku tidak bisa tinggal lama di dunia ini. Setiap saat yang aku habiskan di sini membuatku lemah, namun aku tidak bisa lagi tinggal jauh darimu. Kita harus menemukan cara untuk membuka kontrak itu tanpa menarik perhatian De Darkness."
Laras mengenakan cincin itu, dan saat ia menyentuh tangan Nolan, rasa hangat yang luar biasa mengalir melalui tubuhnya. Mereka berjanji untuk bekerja sama menemukan cara untuk menyatukan kedua dunia dan hidup bersama seperti yang mereka janjikan ratusan tahun yang lalu.
Untuk menemukan cara membuka kontrak, Laras dan Nolan harus mencari tiga benda sakti yang tersebar di seluruh Pegunungan Semeru : Permata Hati Bumi, Kupu-Kupu Api Abadi, dan Nada Suara Langit. Setiap benda sakti menyimpan bagian dari kekuatan yang dibutuhkan untuk membatalkan kontrak yang lama.
Mereka memulai perjalanan mereka dari mencari Permata Hati Bumi yang berada di dalam gua yang terletak di dasar danau yang dalam. Perjalanan pertama mereka penuh dengan tantangan. Gua itu dijaga oleh makhluk-makhluk yang diciptakan oleh De Darkness untuk melindungi benda sakti.
Namun cinta dan kerja sama mereka membantu mereka mengatasi setiap rintangan. Saat mereka bergerak lebih dalam ke gua, ingatan mereka yang hilang mulai perlahan kembali: momen-momen kebahagiaan, tawa mereka bersama, dan janji cinta yang pernah mereka ucapkan.
Ketika mereka menemukan Permata Hati Bumi yang berwarna hijau menyala di tengah gua, sebuah bayangan De Darkness muncul. "Kamu tidak akan berhasil," ucap bayangan itu dengan suara yang menusuk telinga. "Cinta sepanjang hidup hanya ada dalam khayalan. Dunia ini hanya tentang kekuasaan dan kelangsungan hidup."
Namun Laras dan Nolan berdiri bersama, tangan saling menggenggam erat. Cahaya dari cincin janji mereka bersinar terang dan mengusir bayangan itu pergi. Mereka mengambil permata dan pergi keluar Gua.
Selanjutnya mereka mencari Kupu-Kupu Api Abadi yang tinggal di puncak gunung tertinggi di Pegunungan Semeru. Jalannya penuh dengan salju dan angin kencang, namun Nolan menggunakan kekuatannya dari Dunia Bintang untuk melindungi Laras.
Di puncak gunung, mereka menemukan kupu-kupu besar dengan sayap yang menyala seperti api namun tidak membakar apa pun. Kupu-kupu itu mendekati mereka dan hinggap di bahu Laras sebelum berubah menjadi sepotong kain sutra dengan pola api yang indah.
"Ini adalah kain yang dulu kita gunakan untuk membuat pakaian pernikahan kita," kata Nolan dengan suara gemetar saat ingatan mereka semakin jelas. "Kita berjanji bahwa cinta kita akan menyala seperti api abadi, tidak pernah padam meskipun waktu berlalu."
Yang terakhir adalah Nada Suara Langit yang harus ditemukan di dalam sebuah taman bunga yang hanya muncul saat bulan purnama berada di puncak langit. Di taman itu, mereka menemukan sebuah alat musik kecil yang terbuat dari kayu bintang. Saat Nolan memainkannya, suara yang indah dan menenangkan mengisi udara. Suara yang sama dengan yang Laras dengar pada malam pertama mereka bertemu.
Dengan tiga benda sakti di genggaman mereka, mereka kembali ke desa Sariwangi untuk bertemu dengan Pak Capt dan para penyihir desa lainnya.
Pada malam bulan purnama berikutnya, ketika semua benda sakti telah dikumpulkan, para penyihir berkumpul di sekitar batu pilar yang terlupakan untuk melakukan ritual pembukaan kontrak. Laras dan Nolan berdiri di tengah lingkaran yang dibuat dari bunga-bunga obat dan pasir perak.
Saat ritual dimulai, cahaya dari tiga benda sakti menyatu dan membentuk sebuah kolom cahaya keemasan yang menjulang tinggi ke langit. Langit mulai terbuka, memperlihatkan dunia yang indah di atas awan, Dunia Bintang yang penuh dengan kota-kota yang terbuat dari cahaya dan sungai yang mengalir seperti air kristal.
Namun kebahagiaan mereka tidak berlangsung lama. De Darkness yang sebenarnya muncul dari kedalaman tanah, menjadi wujud makhluk besar dengan mata yang seperti lubang hitam.
"Aku telah menunggu lama untuk ini," ucapnya dengan suara yang menggema seperti guntur. "Dengan mengambil kekuatan cinta kalian yang tak terbatas, aku akan menguasai kedua dunia!"
Makhluk itu menyerang dengan cepat, mencoba untuk menangkap Laras dan Nolan. Para penyihir berusaha melindungi mereka dengan sihir mereka, namun kekuatan De Darkness terlalu besar. Saat makhluk itu akan menyentuh Laras, Nolan melompat ke depannya dan menerima serangan itu sendiri. Tubuhnya yang terbuat dari cahaya mulai memudar, dan dia jatuh ke lantai.
"Laras..." ucapnya dengan suara lemah. "Cinta kita tidak pernah tentang kekuatan atau kekuasaan. Itu tentang memilih satu sama lain, kebahagiaan dan kebersamaan, tanpa akhir."
Pada saat itu, Laras mengingat semua janji yang pernah mereka buat di bawah langit penuh bintang, di puncak gunung, di tengah taman bunga. Dia meraih tangan Nolan dan mulai bernyanyi lagu yang dia ingat dari masa lalu, lagu yang dulu mereka nyanyikan bersama.
🎶Ku meramu beraniku🎶
🎶Datang ketuk pintu🎶
🎶Tuk bertamu ke hatimu🎶
🎶Merayu rindu untuk menunggu🎶
🎶Mengertilah bila ini hanya🎶
🎶Sementara bukan selamanya🎶
🎶Bersabarlah sebentar saja🎶
🎶Sementara biar rindu jatuh🎶
🎶Cinta selamanya🎶
Cahaya dari cincin janji mereka mulai menyebar ke seluruh desa, dan perlahan-lahan, orang-orang di desa juga mulai bernyanyi bersama, suara mereka menyatu menjadi satu paduan suara yang kuat. Bahkan dari Dunia Bintang di atas, suara para penghuninya juga terdengar bergema. Kekuatan cinta dari kedua dunia menyatu dan membentuk sebuah perisai cahaya yang mengelilingi De Darkness.
Tanpa kekuatan yang bisa digunakan untuk merusak, makhluk itu mulai menyusut dan akhirnya menghilang seperti kabut yang terpanggang matahari, hanya menyisakan kedamaian dan cahaya di udara.
Setelah De Darkness hilang, langit tetap terbuka, menghubungkan dunia manusia dan Dunia Bintang seperti dulu. Namun kali ini, hubungan mereka dibangun di atas rasa hormat dan cinta yang tulus, bukan kontrak atau kewajiban.
Nolan, yang sekarang telah pulih berkat kekuatan cinta yang ada di sekitarnya, mengajak Laras untuk tinggal bersamanya di Dunia Bintang. Namun Laras juga tidak bisa meninggalkan desa dan keluarganya di dunia manusia.
"Kita tidak perlu memilih salah satu dunia," kata Pak Capt dengan senyum hangat. "Dengan kekuatan cinta kalian yang telah menyatukan kedua dunia, kalian bisa tinggal di kedua dunia bergantian. Setiap hari, kalian bisa menghabiskan waktu dengan orang-orang yang kalian cintai di kedua tempat."
Laras dan Nolan saling melihat dengan mata penuh cinta. Mereka tahu bahwa perjalanan mereka tidak akan selalu mudah, ada tantangan yang akan datang dan pekerjaan yang harus dilakukan untuk menjaga kedamaian antara kedua dunia. Namun mereka juga tahu bahwa dengan cinta mereka yang telah bertahan selama berabad-abad, mereka bisa mengatasi segala sesuatu.
Pada malam pernikahan mereka yang diadakan di antara dua dunia, mereka mengucapkan janji yang sama seperti yang mereka ucapkan ratusan tahun yang lalu.
"Aku memilihmu hari ini, besok, dan selama-lamanya. Tak peduli apa yang terjadi, tak peduli seberapa jauh jaraknya, cinta kita akan tetap ada dan menyatukan kita kembali."
Bintang Sirius dan Canopus bersinar lebih terang dari biasanya pada malam itu, dan orang-orang di desa Sariwangi mengatakan bahwa hingga sekarang, jika kamu melihat ke langit pada malam bulan purnama, kamu bisa melihat dua sosok yang berdiri bersama di atas awan, tangan saling menggenggam, melihat ke masa depan yang penuh dengan harapan dan cinta sepanjang hidup.
。・:*:・゚★,。・:*:・゚☆
2025, di masa depan.
Di sebuah taman, seorang gadis duduk di bangku taman. Ia menunduk mengusap sebuah cincin di jari manisnya dengan ibu jarinya. Ia menghela napas, lalu mendongak ke atas. Di langit malam yang bersih, ada dua bintang yang bersinar terang bersama dan saling berdampingan.
"Bahkan bintang tidak sendirian," gumam gadis itu.
"Kedua bintang itu namanya Sirius dan Canopus," suara yang berat terdengar dibelakangnya. Ia menoleh kebelakang, melihat seorang pria yang telah lama ia rindukan kini tengah tersenyum ke arahnya.
Gadis itu bangkit dari duduknya, menghampiri pria itu dan memeluknya dengan erat. "Aku merindukanmu."
Pria itu membalas pelukan gadis itu, tak kalah erat. "Aku juga."
"Tadi kamu bilang apa tentang bintang itu?" tanya gadis itu, menatap wajah kekasihnya. Pria itu tersenyum lalu pandangan mereka bersamaan melihat langit, tepat di kedua bintang yang berdampingan itu.
"Kedua bintang itu adalah Sirius Dan Canopus. Dalam beberapa legenda, kedua bintang terang di konstelasi Canis Major dianggap sebagai pasangan yang cintanya tak terpisahkan walau terpisah oleh kekuatan tak terlihat, mereka melambangkan cinta yang abadi meski ada rintangan." jelas pria itu.
"Seperti kita? Cinta kita abadi, kan?" tanya gadis itu, matanya berbinar dengan lucu, meminta jawaban yang harus sesuai dengan keinginan hatinya.
Pria itu mengangguk, lalu mengecup kening gadis itu. "Iya, seperti kita... Laras."
Tamat
。・:*:・゚★,。・:*:・゚☆
Event Cerpen "RUMAH MENULIS"
Genre : Fantasi romansa
Tema : Cinta Sepanjang Hidup
Untuk potongan lagunya, aku ambil dari lagu "Sementara,bukan selamanya" dari Nabila Taqqiyah.