💥SPESIAL MENJELANG RAMADHAN!💥
Gema yang Tak Sampai ke Meja Makan
Lampu jalanan di depan rumah tipe 36 itu berkedip-kedip, seolah enggan menyambut datangnya bulan suci. Di dalam, Aris menatap kalender digital di ponselnya. 1 Ramadhan. Sebuah tanggal yang biasanya disambut dengan riuh rendah suara Ibu yang sibuk di dapur dan Bapak yang bolak-balik memastikan tadarus di masjid lancar.
Namun tahun ini, rumah itu sunyi. Sesunyi hati Aris yang masih menyimpan kerikil tajam bernama penyesalan.
●● Bagian 1: Sahur Tanpa Suara ●●
"Ris, bangun. Sudah jam setengah empat," suara itu muncul di benak Aris. Tapi saat dia membuka mata, hanya ada kegelapan kamar.
Dia berjalan ke dapur. Di meja makan, tidak ada piring-piring berisi tumis kangkung atau telur dadar hangat. Hanya ada satu cup mi instan dan botol air mineral yang sudah berembun. Aris duduk di kursi kayu yang sandarannya sedikit goyang. Kursi itu milik Bapak.
"Gak usah sahur pakai mi terus, Ris. Perutmu itu sensitif," Aris membayangkan Bapak duduk di depannya, mengenakan sarung kotak-kotak dan kaos dalam putih.
Aris tersenyum getir. "Gak ada yang masakin, Pak," bisiknya pada angin.
Tiba-tiba, ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari Sarah, adiknya yang merantau di luar kota.
> Sarah: Mas, sudah sahur? Tadi aku nangis pas denger sirine imsak. Biasanya Ibu yang paling berisik nyuruh kita minum air putih banyak-banyak.>
Aris menarik napas panjang. Jarinya gemetar mengetik balasan.
> Aris: Sudah. Mas sahur banyak kok. Kamu jangan telat sahur, nanti maag-mu kambuh.>
Dusta. Aris bahkan tidak sanggup menghabiskan setengah dari mi instannya. Rasa bersalah adalah bumbu paling pahit yang pernah dia rasakan. Ramadan tahun lalu, dia bertengkar hebat dengan Bapak hanya karena Aris menolak pulang tepat waktu untuk buka puasa bersama di hari pertama. Dia lebih memilih nongkrong dengan teman kantornya.
"Hanya sehari, Pak! Masa Aris gak boleh punya kehidupan sendiri?" bentak Aris waktu itu.
Bapak hanya diam, matanya yang mulai katarak menatap piring yang sudah disiapkan Ibu dengan sia-sia. Dua minggu kemudian, Bapak pergi tanpa sempat mendengar permintaan maaf yang tulus dari mulut Aris.
●● Bagian 2: Siang yang Terbakar Sepi ●●
Bekerja di bulan Ramadan biasanya menjadi tantangan fisik, tapi bagi Aris, ini adalah tantangan mental. Setiap kali dia melihat rekan kerjanya menelepon orang tua mereka untuk bertanya, "Buka pakai apa nanti, Bu?", ulu hati Aris seperti ditonjok.
"Ris, kenapa melamun? Fokus, laporannya harus kelar sebelum jam empat," tegur Rian, teman sekantornya.
"Eh, iya Yan. Sorry."
"Nanti buka bareng yuk di tempat biasa? Anak-anak ngajakin."
Aris menggeleng pelan. "Enggak deh, Yan. Aku mau pulang cepat."
"Tumben? Biasanya kamu yang paling semangat kalau bukber."
Aris terdiam sejenak. "Aku baru sadar, Yan. Ternyata rumah itu kalau nggak ada nyawanya, cuma tumpukan semen. Aku mau... bersih-bersih kamar Bapak."
Rian menepuk bahu Aris pelan. Dia tahu apa yang terjadi beberapa bulan lalu. "Sabar, Ris. Doa anak sholeh itu hadiah paling mewah buat mereka di sana."
●● Bagian 3: Senja dan Kenangan yang Meledak ●●
Pukul lima sore. Langit berubah warna menjadi jingga yang menyakitkan. Aris sampai di rumah dan langsung menuju kamar orang tuanya. Ibu saat ini sedang tinggal di rumah Sarah untuk memulihkan diri dari duka, meninggalkan Aris menjaga kenangan di rumah ini sendirian.
Dia membuka lemari kayu tua. Aroma minyak kayu putih dan parfum melati kesukaan Ibu menyeruak. Di sudut bawah, dia menemukan sebuah kotak biskuit kaleng yang ternyata berisi tumpukan kertas.
Aris membukanya. Itu adalah catatan-catatan kecil Bapak. Ada daftar belanjaan, jadwal ronda, dan sebuah kertas yang dilipat rapi dengan tulisan: "Keinginan Ramadan Tahun Depan."
Aris membacanya dengan tangan gemetar:
* Beli mukena baru buat Ibu.
* Perbaiki genteng dapur biar Ibu nggak kehujanan pas masak sahur.
* Ajak Aris duduk lama-lama setelah tarawih. Mau tanya soal pekerjaannya, dia kelihatannya capek terus.
Air mata Aris jatuh tepat di atas tulisan nomor tiga. "Aku di sini, Pak. Aku gak capek lagi sekarang. Aku mau cerita..." isaknya pecah di tengah kamar yang temaram.
Dia teringat betapa seringnya dia mengabaikan ajakan bicara Bapak. Baginya dulu, obrolan Bapak hanya pengulangan nasihat yang membosankan. Kini, dia rela memberikan apa saja hanya untuk mendengar satu kalimat tanya, "Gimana kantormu hari ini?"
●● Bagian 4: Buka Puasa yang Sebenarnya ●●
Suara bedug maghrib menggema dari masjid di ujung gang. Aris tidak pergi ke meja makan. Dia mengambil segelas air putih dan sebutir kurma, lalu duduk di sajadah.
Setelah membatalkan puasa, dia tidak langsung makan besar. Dia mengangkat tangan, berdoa dengan cara yang belum pernah dia lakukan sebelumnya. Bukan doa yang sekadar hafalan, tapi dialog dari jiwa.
"Ya Allah... sampaikan salamku pada Bapak. Katakan padanya, anaknya yang sombong ini sudah pulang. Maafkan aku yang baru mengerti arti kehadirannya saat kursinya sudah kosong."
Tiba-tiba, pintu depan diketuk. Aris menghapus air matanya dan membukanya. Di sana berdiri Ibu, dengan tas kecil dan senyum yang lelah namun tulus. Di belakangnya ada Sarah yang menggendong anaknya.
"Ibu? Sarah? Kok gak bilang mau pulang?" Aris kaget.
"Ibu gak tenang di sana, Ris. Ibu tahu kamu pasti sendirian di sini. Ibu mau masakin kamu opor ayam kesukaan Bapak, meskipun Bapak gak ada," suara Ibu bergetar.
Malam itu, meja makan yang sunyi kembali bernyawa. Meski ada satu kursi yang kosong, namun doa-doa yang mengalir di atas piring-piring itu terasa sampai ke langit.
"Mas," Sarah memecah kesunyian sambil menyodorkan potongan ayam. "Bapak pernah bilang sama aku sebelum meninggal. Dia bilang, dia bangga sama kamu. Dia cuma gak tahu cara ngomongnya supaya kamu gak ngerasa digurui."
Aris menunduk dalam. Butiran nasi di piringnya terasa kabur karena air mata yang kembali menggenang. Ramadan bukan hanya soal menahan lapar, tapi soal menghargai detak jantung orang-orang yang kita cintai sebelum detak itu berhenti.
●● Penutup: Cahaya di Ujung Tarawih ●●
Malam itu, Aris berjalan menuju masjid bersama Ibu. Suara tadarus terdengar menenangkan. Di bawah naungan bulan sabit, Aris merasa bebannya sedikit terangkat.
Dia sadar, kehilangan tidak pernah benar-benar sembuh. Kita hanya belajar hidup di sekitarnya. Dan Ramadan adalah waktu terbaik untuk merawat luka itu dengan doa.
.....
hai semua yang baca jika kalian suka silahkan tinggalkan jejak ^^
Maaf bila ada salah kata pada penulisan saya. Saya minta maaf. Karena saya hanya manusia biasa yang tak luput dari masalah.
Terimakasih semua. Lopeyou ^*^
Oke lagi! Silahkan follow jika kalian ingin membaca karya saya!
Bye bye
Sehat selalu semua!!
Arigatou!!
.....