Pria yang menjadi cinta pertama...!
Aku ucapkan syukur kepada yang maha cinta, telah menetapkan kamu menjadi figur Ayah dalam hidup ini.
Bakti ku tak sempurna, namun dalam kurang aku mencoba.
Ayah,
Panggilan akrab yang As lontarkan tiap bertanya sesuatu. Seperti bertanya, "Ayah mau teh...?"
"Boleh" jawab ayah biasanya, atau "Tanya Mama"tiba-tiba meminta pendapat mama.
Tapi kadang Ayah bisa memerintah juga dengan kode "Teng, teng,"jari telunjuk nya memutar seperti sendok.
As juga menawarkan makan dengan memangil ayah, "Makan sekarang, Yah" dan Ayah bisa juga jadi juru masak, dan semua anggota keluarga bakal setuju kalau masakan ter-enak dimenangkan tangan Ayah.
Biasanya kalau As masak, As kadang minta tolong biar Ayah yang cicipi. "Kurang apa, Yah?"
"Garam, micin, pas" hasilnya keluar, setelah Sesuap diteguk kerongkongan.
Kali ini makan nya adalah lauk keong yang disedot cara makannya, itu kesukaan Ayah sebelum sakit perut menyerang. Yang Dulu As minta Ayah buat mengeluarkan isinya, nyedot terus dikeluarkan, baru kasih ke piring As. Tapi sekarang As udah lebih jago. Keongnya aja yang kalah, Kalau Ayah dengar ucapan As yang ini, terdengar lucu tidak? Sama ketika Ayah menertawai As yang bilang,
"Tambah pakai air dingin aja bila air panasnya habis" ucap As saat malas membuat kopi buat saudara.
Dan Ayah menertawakan nya, sama seperti tingkah As yang mencoba bersikap sopan saat menyajikan minuman waktu itu. As tidak bisa mendeskripsikan senyuman Ayah, tapi itu indah sekali!
Kalau menurut As, terkadang Ayah menertawakan As karena As tampak aneh, banyak tidak bisanya jadi sering diejek. Tapi memang begitu adanya, dan As akan menerima itu dengan bahagia asalkan bisa buat Ayah ketawa.
"Kaya anak kecil kamu As,pakai baju ini" kata ayah, saat As pakai baju tunik yang bawah nya lebar. Sampai ke perkara penampilan.
Walaupun begitu, Ayah suka bela As dari kemarahan mama, suka muji kalau ada yang berhasil As lakukan.
"Pintar kamu As"puji Ayah. Ketika pulang kerja dan Ayah tahu, bila As cuci selimut Punya nya.
Yang Ayah tidak tahu proses nya sulit, karena harus cuci disungai sedangkan selimut Ayah itu berat dan tebal, terkadang juga harus minjam matahari sama tuhan buat keringin. Kena marah juga pernah, karena ucapan As kadang memang bikin meradang. Tidak dibentak, tapi kalimat nya dingin sampai As harus tahan tangis. Lalu setelah kemarahan ayah, As tidak berani ngajak ngomong kalau tidak Ayah duluan.
Tidak ingat apa aja yang Ayah ucapkan, tapi bayangan raut Ayah masih membekas. Otak As memang sekecil itu sepertinya, karena masa-masa kecil sama Ayah juga banyak terlupakan. Untungnya masih disisakan momen-momen lain, Ayah mengantar As ke sekolah, senter Ayah jatuh gara-gara As, cengiran Ayah saat pulang kerja, atau ketika As ngambek.
"As makan, jangan ngambek " suara Ayah menembus dinding kamar, As keluar walaupun malu karena lagi ngambek.
Lalu Perkara As sakit, Ayah jadi khawatir. "Ngga usah sekolah As hari ini"
"Minum obat As"
"Gimana As, sembuh" Ayah itu peka kalau ada yang salah sama As, jadi kadang nanya,"Kenapa As? Sakit?"Pertanyaan sederhana sebelum solosi minum obat dikeluarkan.
Masa-masa itu terasa sebentar, sebab As cepat besar. yang sangat disayangkan kenangan nya rapuh, sulit digali, sisa sedikit, itupun kebanyakan saat As masuk remaja sedangkan masa kanak-kanak banyak yang hilang, lupa letak nya. Mana Ayah sudah sama tuhan, jadi kesempatan bikin momen indah lagi, momen lucu, itu sudah habis waktunya.
"Namanya juga titipan, bukan punya As" As biasanya bilang begitu ke diri sendiri, ke anggota keluarga saat membicarakan Ayah.
"Sungguh ayah, kami masih membicarakan Ayah walaupun ayah ngga ada"
"Jikalau merantau...Ayah kalian akan pulang sebelum 40 hari, tapi kali ini ngga bakal balik lagi" kata mama, diantara anak-anak yang mengelilinginya.
"Tapi mau gimana lagi?" lalu disambung sendiri olehnya lagi.
Ditelinga Asrar, Ucapan mama seakan memberitahu dirinya sendiri bahwa sang mama tidak boleh lagi berandai-andai, "Seandainya kita tahu ayah kalian sakit ginjal, kita berobat nya pas ayah kalian lagi kuat. Ini stadiun akhir... sudah lambat, ayah kalian keburu ngga kuat" biasanya begitu kata mama dan itu hanya sepenanggalan nya.
"Aku kalau kerja bareng ayah itu rasanya ngga takut apapun, entah kenapa?" Ujar anak laki-laki nya ayah dengan pandangan menerawang, bagaikan melihat kejadian ulang. Sebagai anak laki-laki yang cukup dewasa dia juga menangis tanpa peduli pada orang-orang sekitarnya, sampai jarang sekali mendekati ayah yang terbaring.
Anak laki-laki lain ayah juga ikut bicara, "yang aku sesalkan, aku ngga ada beli mesin perahu buat Ayah" ujarnya mengusap mesin perahu punya Ayah yang dikredit dan dibayar Ayah dengan kerja serabutan, untuk mencari uang sampai akhirnya lunas.
"Coba Ayah pas sakit ngga makan buah asem, biar asam lambung nya ngga naik"sesal saudari perempuan As
"Dari mata Ayah udah kelihatan bedanya" lalu adik As ikut menyahut. Dari pandangannya, dia tahu kalau Ayah tidak bakal lama lagi setelah beberapa hari sakit.
Pemikiran yang sama juga terbesit dihati As, dan berulang-ulang disangkal. Karena As percaya pada do'a yang As langitkan, yakin pada tuhan. Mana mungkin doa kembali ke bumi tanpa hasil, mustahil tuhan tidak mendengar.
Waktu itu As minta rejeki, minta kesehatan buat Ayah, berpikir selama Ayah memegang rejeki itu berarti umur Ayah masih panjang. Namun ada As lupakan, rejeki bukan sekedar uang, kesehatan, udara. Tapi meliputi lebih detail dari apa yang As pernah bayangkan, rejeki tetap mengalir meski napas tidak berhembus. Seakan tuhan tunjukkan, kasih sayangnya tidak pernah habis meski ke liang lahat.
Namun As tidak dapat memungkiri, bahwa bertanya tentang skenario tuhan selalu mengaung dalam hati. "Kemana doa As pergi?"
"Bukan kah takdir dan doa dapat bertarung, lalu apakah doa As kalah!"
"As tahu, tidak mungkin menyalahkan segala kehendak nya. Jadi As diam, namun dalam diam As mengkritik. Malas memenuhi undangan dalam sholat, malas mengangkat tangan, doa kesehatan yang dulu pernah dipanjatkan, terasa aneh diulang saat ayah telah tiada"
Butuh waktu bagi As bangkit, menerima sedikit lebih baik, memahami dan mencoba mengerti bahwa As tidak tahu apapun!
"As bilang, Jika bukan doa As yang dikabulkan, kenapa tidak doa saudara As. Kenapa Ayah harus pergi?"
Namun Ayah juga hamba tuhan yang melangitkan doa, yang berhak mendapatkan terbaik selain As, yang kebutuhan nya juga diutamakan tuhan.
"Ayah tidak pernah menjadi milik As, hak kepemilikan nya tidak pernah berpindah dari tuhan yang mengadakan nya"
"Ayah cuma di titipkan, As tidak dapat meminjam nya, yang sewaktu-waktu bisa As kembalikan"
Diwaktu-waktu sebelum Ayah pergi, As tiba-tiba merindukan tawa Ayah, senyuman Ayah. Dan ternyata, rindu nya bakal berkepanjangan. Menemani Ayah diwaktu terdekat nya, adalah hari terpanjang yang pernah As rasakan.
"Tangis As pecah juga Ayah, saat napas ayah semakin berat. Seakan ada sesuatu yang membuka pandangan As, bahwa As tidak dapat menyangkal lagi tentang kepergian Ayah. Tidak dapat melangitkan doa yang berulang, terpaksa memutar doa."
"Doa dan keyakinan saat itulah yang membuat As kuat-kuat menahan tangis, menyeka air mata dengan kasar, bicara dengan tawa kecil hanya untuk menguat"
"Respon As telat, Ayah. Tapi setelah nya kepala As kosong"
Ketika Ayah sakit, As mencoba makan karena perut perih, tapi makanan cuma mengembung dipipi sulit ditelan. Suara Ayah menahan sakit, terdengar menggema ditelinga. Saat menunggu Ayah tidur sebelum diantar, rasanya ingin ikut berbaring dan memeluk tubuh Ayah yang kaku.
"Ayah, awal-awal tanpa kehadiran ayah itu berat. Tapi nyatanya setahun setelahnya pun tidak menjadi mudah."
Masih suka menangis disela sibuk dunia, menyepi hanya meluangkan waktu merindu. Ditengah keramaian, ada kehampaan, ada ruang kosong yang membuat segalanya tidak berarti. Ayah,ada kala nya melihat orang masih memiliki Ayah, iri dan cemburu itu terbesit. Bibir As akan terkatup rapat, mata bisa berkaca-kaca, dihati teras mengganjal. Bahkan As lebih mudah menangis dibandingkan biasanya.
"Ayah, As lihat dunia itu lebih sepi dari biasanya, membosankan dibandingkan sebelumnya, tanpa Ayah penghuni nya"
As mengedarkan pandangan ke rumah buatan Ayah, perahu, tepat Ayah hadir disudut rumah, pakaian Ayah, bahkan sendal jepit yang hampir putus di dinding rumah, sikat gigi yang tidak pernah berubah tempatnya. Rasanya pilu Ayah, rindu itu menjadi.
Banyak hal terbengakalai setelah kepala keluarganya tidak ada, teras belakang hampir roboh, perahu bocor. Satu per satu kenangan yang dibuat tangan Ayah hampir hilang, Suara Ayah hampir terlupakan, wajah Ayah hanya dapat dilihat jelas dalam ponsel, album.
Terkadang As mencari sosok Ayah dalam balutan saudara Ayah, mirip tapi tidak persis, tidak bisa sama. "Ayah, As cepat-cepat mandi dan mencuci baju sampai lupa membilas, karena pengen lihat saudara Ayah" aneh! Karena dulu tidak seperti itu, bahkan ke Ayah jika hendak berangkat kerja, As kadang masih dikamar.
Ayah...Hanya singgah lalu pergi,meninggalkan jejak pada setiap mata memandang. Bukan itu saja,karena dihati serta pikiran juga ada. perjalanan nya singkat namun membekas tak terlupakan. Jejak nya menetap memenuhi kerinduan, yang lantas bertemu pada do'a. Menjadi penghubung yang lekat antara hamba dan pemilik.
"Ayah, dulu tiap dipanggil suaramu terdengar. Tapi waktu membuatnya berubah, bahkan salam yang As lontarkan saat berkunjung ke rumah baru ayah, tidak terdengar jawaban balik. Betapa waktu mudah memutar keadaan, dari bahagia yang terasa penuh, jadi rindu yang sepi. Ayah, pakaian ayah dipakai, tapi bukan ayah lagi yang mengenakan nya. Ayah, hari-hari yang terasa berat, lebih berat saat mengingat Ayah tidak hadir."
"Ayah kamu adalah bentuk kebaikan tuhan"