Malam di Jakarta bulan Desember tahun 2025 tidak lagi bising oleh knalpot, melainkan dengung kendaraan listrik yang meluncur halus di atas aspal basah. Di sebuah sudut kafe bernuansa industrial di kawasan Jakarta Selatan, dua pria duduk berhadapan. Aroma kopi manual brew menggantikan bau pengap alkohol yang dulu menjadi oksigen mereka.
Sarmin mengenakan kemeja flanel rapi, meski bekas luka parut di pelipisnya—kenang-kenangan jatuh ke parit saat teler berat—masih membekas. Di depannya duduk Lucky, pria dengan jam tangan pintar terbaru dan potongan rambut comma hair yang mulai memutih di bagian samping.
Dua puluh tahun lalu, mereka adalah raja di kerajaan yang berbeda, namun menyembah tuhan yang sama: Eforia Palsu.
Bagi Lucky, mabuk adalah gaya hidup kurasi. Masa mudanya dihabiskan di lantai dansa rooftop SCBD. Ia adalah budak dari botol-botol berlabel emas, Single Malt yang harganya setara motor matic, dan lingkaran pertemanan yang hanya mengenal tawa jika ada denting es batu dalam gelas kristal. Lucky mabuk untuk melupakan ekspektasi ayahnya yang seorang pejabat dan putus asanya pada cinta. Ia membeli tawa dengan kartu kredit tanpa limit.
"Dulu, kalau belum habis sepuluh juta semalam, rasanya gue belum hidup, Min," bisik Lucky, menatap cangkir kopinya seolah melihat bayangan dirinya yang dulu—si anak emas yang hancur di balik jas desainer.
Di sisi lain, Sarmin adalah potret akar rumput yang getir. Proletar yang miris. Ia tidak punya akses ke kelab malam berpintu baja. Baginya, mabuk adalah cara bertahan hidup dari kemiskinan yang mencekik. Sarmin adalah legenda di pinggiran rel, ahli kimia jalanan yang mencampur alkohol medis dengan minuman energi, atau lebih ekstrem lagi: Kecubung. Ya, mabuk kecubung atau lem aibon, karena itulah yang membuatnya senang sementara.
"Gue nggak butuh kelab, Ky," sahut Sarmin dengan suara serak dan kekehan tawa. "Gue cuma butuh sudut gelap di bawah jembatan. Kalau lu mabuk buat gaya, gue mabuk buat hilang. Pas gue ngelem atau mabuk kecubung, gue ngerasa lagi bicara sama malaikat, padahal kata orang gue cuma lagi meluk tiang listrik sambil nangis." Sarmin dan Lucky terbahak.
Masa muda mereka adalah sebuah playlist lagu melankolis yang diputar dengan volume maksimal hingga speaker-nya pecah.
Lucky sering terbangun di apartemen mewah dengan muntah di atas karpet Persia, dikelilingi orang asing yang hanya peduli pada isi dompetnya. Ia merasa kesepian di tengah keramaian. Sementara Sarmin sering terbangun di puskesmas atau sel kantor polisi setelah ditemukan pingsan dengan mulut berbusa karena oplosan yang terlalu "berani". Ia hampir kehilangan nyawanya berkali-kali karena ginjal yang menjerit protes.
Mereka saling melengkapi karena perbedaan itu. Kadang, di masa lalu, Lucky akan menjemput Sarmin dengan mobil mewahnya hanya untuk mendengarkan filsafat jalanan Sarmin yang kacau. Dan Sarmin, dengan segala kesederhanaannya, adalah satu-satunya orang yang tidak meminta uang pada Lucky. Mereka hanya dua jiwa yang haus akan pelarian.
Titik Balik mereka adalah ketika botol itu pecah akibat tawuran dan kelahi hanya soal sepele : cekcok di klub dan esoknya saling serang antar geng.
"Bonyok lu saat itu, hahaha" Lucky terbahak membayangkan Si Sarmin babak belur. "Lu lebih parah! Di bogem mentah si Reno cs! " Keduanya tergelak.
Kini, di usia 40 tahun, mereka bertemu bukan sebagai pecundang, melainkan sebagai penyintas alias survivors.
"Ingat nggak pas gue hampir buta gara-gara oplosan?" tanya Sarmin. Mata itu kini jernih, tak lagi merah dan redup. "Gue ngeliat emak gue sujud di kaki gue, nangis minta gue jangan mati duluan. Di situ gue ngerasa, eforia yang gue cari itu harganya nyawa orang tua gue."
Lucky mengangguk pelan. "Gue juga, Min. Pas bokap gue masuk penjara gara-gara korupsi dan semua sirkel 'kaya' gue hilang dalam semalam. Gue sadar, botol-botol mahal itu nggak pernah nemenin gue pas gue jatuh. Gue sendirian di kamar rehab, gemeteran karena sakau kasih sayang, bukan cuma sakau alkohol."
Ya intinya, Jangan Pinjam Masa Depan!
Mereka melihat anak-anak muda di meja sebelah, asyik dengan gawai dan sesekali membicarakan pesta akhir pekan. Ada kekhawatiran yang tulus di mata kedua pria paruh baya ini.
"Masa muda itu bukan untuk dicicil dengan kerusakan."
Sarmin berpesan melalui ceritanya, bahwa mabuk—baik itu versi mewah maupun versi jelata—adalah bentuk meminjam kebahagiaan dari masa depan dengan bunga yang sangat tinggi. Ketika kamu meminjam "kesenangan" dari botol miras hari ini, kamu sebenarnya sedang mencuri kesehatan, waktu, dan kejernihan pikiranmu di masa tua.
Waspadalah, miras tidak pernah memberikan solusi, ia hanya menunda masalah sambil merusak mesin (tubuh) yang kamu butuhkan untuk menyelesaikannya. Jangan sampai kamu sampai di usia 40 tahun hanya untuk menyesali organ tubuh yang sudah "karatan" dan memori yang bolong-bolong.
Malam semakin larut. Lucky membayar tagihan kopi mereka—kali ini dengan uang hasil kerja kerasnya sebagai konsultan, bukan uang hasil "panas". Sarmin bangkit, menjabat tangan sahabat lamanya itu dengan erat.
"Kita beruntung masih dikasih umur sampai 40, Ky," kata Sarmin tulus.
"Lebih dari beruntung, Min. Kita dikasih kesempatan buat nebus kesalahan," jawab Lucky.
Keduanya melangkah keluar kafe, menghirup udara malam yang dingin namun bersih. Mereka tidak lagi butuh botol untuk merasa terbang. Karena kini, mereka telah mendarat di bumi dengan kaki yang kokoh dan hati yang tenang.
Dari kejauhan sepasang mata mengintai, "kalian berdua, awas ya! Aku akan balaskan dendamku yang dulu! " Sesosok bayangan itu pergi. Pria usia 40an yang berpipi codet.