Macet di Gentong malam itu seperti kutukan. Truk-truk berhenti tak bergerak, klakson bersahutan, dan udara panas bercampur emosi. Lima pemuda—Raka, Dimas, Yudi, Arman, dan Fikri—akhirnya sepakat memutar lewat jalur Cisinga, jalur lama yang memeluk sisi gelap Gunung Galunggung.
“Ini jalur pamali, tahu,” kata Yudi, orang Tasik asli, setengah bercanda tapi matanya serius.
“Pamali kalau malam, apalagi rame-rame.”
Raka tertawa kecil. “Pamali mah cuma buat nakut-nakutin.”
Begitu mobil masuk Cisinga, tawa mereka menguap. Jalan menyempit. Aspal retak. Hutan rapat seperti menunduk, menutup langit. Jam dashboard menunjukkan 23.58—lalu tiba-tiba kembali ke 23.30.
“Eh… jamnya ngaco,” gumam Arman.
Kabut turun perlahan. Bukan kabut biasa—dinginnya seperti merayap di kulit. Yudi mematikan radio.
“Kalau lewat sini,” katanya pelan, “jangan sembarang ngomong. Gunung tiasa ngadangu.”
Belum selesai kalimatnya, mesin mobil
mati mendadak.
Sunyi jatuh seperti batu.
Tak ada angin. Tak ada serangga.
Hanya bau tanah basah dan daun terbakar.
Mereka turun. Dari kejauhan terdengar gamelan Sunda —kendang dan bonang—lirih tapi teratur. Lalu muncul cahaya obor di antara pepohonan.
Sekelompok warga berpakaian adat Sunda keluar dari hutan. Kebaya lusuh, iket kepala, wajah mereka pucat namun tersenyum. Di tengah mereka ada tumpeng kecil, ayam bakar, dan nasi kuning.
“Sedang apa, Pak?” tanya Raka, suara tercekat.
Seorang lelaki tua melangkah maju. Kumisnya panjang, matanya hitam pekat.
“**Hajat bumi**,” katanya. “Syukuran kanggo nu kagungan leuweung.”
“Untuk siapa?” tanya Fikri.
Lelaki itu menatap Gunung Galunggung.
“Untuk yang pernah lapar. Yang tidak sempat pulang.”
Dimas tersadar. “Ini bukan kampung. Di peta nggak ada pemukiman.”
Tiba-tiba gamelan berhenti.
Semua kepala menoleh serentak ke arah mobil.
“Ulah lila-lila,” bisik si lelaki tua.
“Mun geus dipapag, kudu pamit. Galunggung teu resep ditantang.”
Angin dingin menyapu. Obor padam bersamaan.
Dalam sekejap, warga itu **lenyap**, seolah tak pernah ada.
Mesin mobil menyala sendiri.
Tanpa aba-aba, Raka langsung tancap gas. Jalan terasa lebih panjang dari sebelumnya. Tikungan yang sama berulang-ulang. Pohon yang sama. Batu yang sama.
“Ini muter-muter,” panik Arman.
“Urang geus asup lingkaran,” Yudi berbisik. “Ucapkan pamit.”
Mereka serempak menunduk. Yudi membaca doa, lalu berkata lirih,
“Punten… numpang liwat.”
Seketika jalan terbuka. Kabut menipis. Lampu kota Bandung terlihat jauh di depan.
Tak ada yang bicara sampai mereka benar-benar keluar dari jalur itu.
Keesokan harinya, Yudi bercerita pelan:
“Dulu, waktu letusan Galunggung, banyak pengungsi kelaparan di hutan Cisinga. Katanya, arwah-arwah itu masih ‘ngahajat’ sampai sekarang.”
Fikri membuka sepatunya. Dari dalamnya jatuh "beras kuning dan abu hitam".
Dan malam itu, saat mereka menoleh ke belakang, Gunung Galunggung berdiri tenang—
bukan seperti gunung.
Melainkan "penjaga lama" yang baru saja melepas tamu
karena masih tahu caranya "pamit".
---