### 1
Kabut di Dago Pakar tidak pernah datang dengan sopan.
Ia merayap. Mengendap. Menyelimuti pepohonan pinus seperti kain kafan basah yang ditarik perlahan ke wajah Bandung.
Malam itu, kabut turun lebih tebal dari biasanya.
Arga menyetir dengan satu tangan, tangan lainnya sibuk mengatur kamera. Lampu mobil menembus kabut hanya sejauh dua meter, lalu lenyap seperti ditelan sesuatu.
“Konten ini bakal naik sih,” katanya ringan.
“Judulnya: "Tiga Pemuda Tantang Rumah Kentang.”
Di kursi depan, Rizal terkekeh. “Urban legend paling overrated di Bandung. Bau kentang doang, orang-orang lebay.”
Di kursi belakang, **Naufal** diam.
Sejak melewati tikungan terakhir, dadanya terasa sesak. Jantungnya berdetak tidak beraturan, seperti menolak keberadaannya di tempat itu.
“Fal, lu pucet,” Arga melirik lewat spion.
“Masuk angin,” jawab Naufal singkat.
Padahal bukan itu.
Sejak kecil, ia sering bermimpi tentang sebuah rumah.
Rumah tua.
Dapur lembap.
Bau kentang rebus yang terlalu kuat sampai menusuk hidung.
Dan mimpi itu… selalu berakhir dengan lapar.
---
### 2
Gerbang besi Rumah Kentang berdiri setengah terbuka.
Padahal menurut cerita warga, gerbang itu selalu terkunci.
Rizal turun lebih dulu. “Lah, gampang amat masuknya. Urban legend apaan ini.”
Begitu kaki mereka menginjak halaman, udara berubah.
Lebih berat.
Lebih dingin.
Seperti paru-paru mereka dipaksa menghirup kenangan orang lain.
Rumput liar tumbuh tak beraturan.
Jendela-jendela rumah menghitam, seperti mata yang lama tidak berkedip.
Dan di antara semua itu…
bau kentang.
Bukan bau busuk.
Bukan bau gosong.
Melainkan bau kentang "direbus terlalu lama" —hangat, lembap, mengenyangkan… dan menjijikkan.
“Anjir,” Arga menutup hidung. “Ini kok beneran?”
Naufal berhenti melangkah.
Bau itu bukan asing.
Ia pernah menciumnya… lama sekali.
“Fal, masuk,” kata Rizal.
Naufal ragu. Tapi kakinya bergerak sendiri.
Pintu utama berderit pelan, seolah "rumah itu menghela napas".
---
### 3
Di dalam, rumah terasa lebih besar dari luar.
Langit-langit tinggi.
Dinding kusam dengan bercak-bercak hitam seperti bekas tangan.
Jam dinding di ruang tamu berdetak pelan.
Tok.
Tik.
Tok.
Tik.
“Jamnya masih nyala,” ujar Arga, mendekat.
Jarum jam bergerak… mundur.
Tanggal di kalender tua yang tergantung miring menunjukkan satu angka:
1988.
Lampu tiba-tiba padam.
Gelap.
Dalam gelap itu, suara "pintu menutup" terdengar keras dari belakang mereka.
BRAK.
Rizal berlari ke pintu. Menarik gagangnya. Terkunci.
“Ini settingan siapa?” teriaknya.
Tak ada jawaban.
Yang ada hanya suara "air mendidih" dari arah dapur.
---
### 4
Mereka mengikuti suara itu.
Dapur rumah kentang adalah tempat paling dingin yang pernah Naufal rasakan.
Lantai tanah.
Kompor tua.
Dan di tengah ruangan: "panci besar", masih mengepul.
Bau kentang semakin kuat.
Di sudut dapur, "karung-karung goni" disusun rapi. Seperti persediaan makanan darurat.
Arga membuka salah satu karung.
Kentang.
Ukuran besar.
Kulitnya keriput.
Masih basah oleh tanah.
“See?” Rizal mendengus. “Kentang beneran.”
Namun Naufal melihat sesuatu yang lain.
Salah satu karung… "bergerak".
Perlahan.
Seperti dada yang naik turun.
“Jangan dibuka,” katanya refleks.
Terlambat.
Karung itu robek.
Yang tumpah bukan kentang—
melainkan "kepala manusia", tanpa mata, mulutnya dijejali tanah dan kulit kentang busuk.
Naufal menjerit.
Rizal terjatuh ke belakang.
Arga muntah di lantai dapur.
Jam dinding di luar berdetak semakin cepat.
ToktikToktikToktik.
---
### 5
Langkah kaki terdengar dari lantai atas.
Pelan.
Berat.
Seperti orang yang "terlalu lama tidak makan".
“Keluar,” bisik Arga.
“Sekarang.”
Mereka berlari ke ruang tamu.
Namun lorong yang tadi mereka lewati… "berubah".
Dindingnya lebih sempit.
Foto-foto tua tergantung di kiri-kanan.
Foto sebuah keluarga.
Seorang pria kurus.
Seorang perempuan pucat.
Dan dua anak lelaki remaja.
Naufal berhenti.
“Itu… bokap gue.”
Arga menoleh cepat.
“Lu bercanda, kan?”
Naufal menggeleng.
Matanya berkaca-kaca.
Di bawah foto tertulis:
"Keluarga N. – 1997"
---
### 6
Mereka menemukan sebuah buku harian di meja makan.
Tulisan tangan tua, gemetar.
> "Hari ke-3."
> "Harga makanan naik. Jalan ditutup. Kami bertahan di rumah."
> "Hari ke-7."
> "Kentang jadi satu-satunya makanan."
> "Hari ke-12."
> "Anak-anak mulai mengeluh lapar. Bau kentang tidak pernah pergi."
> *Hari ke-15."
> "Aku bermimpi memakan tanah."
Halaman terakhir kosong.
Kecuali satu kalimat, ditulis berulang-ulang:
> "Rumah ini lapar."
> "Rumah ini penuh kenangan."
---
### 7
Dari dapur terdengar suara "mengunyah".
Basah.
Lambat.
Seorang perempuan turun dari tangga.
Wajahnya "tidak ada".
Hanya kulit pucat dengan lubang hitam.
“Anak-anak…”
“Kalian pulang.”
Naufal jatuh berlutut.
“Bu…”
Perempuan itu mengulurkan tangan.
Tangan yang dingin.
Tangan yang berbau tanah.
“Kita harus makan,” katanya lirih.
“Supaya tidak hilang.”
---
### 8
Arga berhasil membuka pintu depan.
Cahaya lampu jalan menyilaukan.
Bandung malam kembali normal.
Mobil lewat.
Orang tertawa.
Arga dan Rizal berlari keluar.
Mereka menoleh.
Rumah itu tampak kosong.
Sunyi.
Seperti tidak pernah dihuni siapa pun.
“Naufal!” teriak Arga.
Tidak ada jawaban.
---
### 9
Tiga hari kemudian.
Berita lokal menulis:
> “Pemuda Ditemukan Tewas di Rumah Kosong Dago Pakar.
> Penyebab: "Kelaparan ekstrem.”
Tubuhnya kurus.
Mulutnya penuh tanah.
Lambungnya kosong.
Namanya: "Naufal N—"
Arga tidak sanggup membaca lebih lanjut.
---
### 10
Beberapa minggu kemudian, Arga kembali ke lokasi itu.
Sendirian.
Rumah Kentang kini tampak "lebih utuh".
Catnya baru.
Jendelanya bersih.
Di ruang tamu, jam dinding berdetak normal.
Di dinding tergantung "foto keluarga baru".
Seorang perempuan tanpa wajah.
Dan "tiga pemuda".
Arga.
Rizal.
Naufal.
Di bawahnya tertulis:
> “Yang lapar akan kembali.”
Jam berdetak.
Tok.
Tik.
Tok.
Tik.
Dan dari dapur…
bau kentang kembali mengepul.
---