Aroma perpustakaan SMA Garuda selalu sama: perpaduan antara bau kertas tua yang sedikit lembap, pembersih lantai aroma pinus, dan kesunyian yang mencekam. Bagi kebanyakan siswa, ruangan ini tak ubahnya penjara bawah tanah yang harus dihindari. Namun bagi Jingga, tempat ini adalah suaka. Di sini, dia tidak perlu menjadi "Jingga yang pintar" atau "Jingga yang pendiam". Di sini, dia cukup menjadi sepasang mata yang menyerap ribuan kata.
Jingga berjalan menyusuri lorong-lorong rak kayu yang menjulang tinggi. Sepatunya yang beralas karet tidak menimbulkan suara di atas lantai porselen putih. Tujuannya selalu sama: Rak nomor 400. Bagian filsafat dan sastra itu adalah wilayah kekuasaannya, sebuah sudut paling belakang yang jarang tersentuh oleh tangan-tangan ceroboh siswa yang hanya mencari komik atau novel populer.
Ia menyukai bagaimana buku-buku di sana tampak lelah namun bijaksana. Ada semacam martabat dalam punggung buku yang sudah retak dan kertas yang mulai menguning. Hari ini, suasana hatinya sedang tidak menentu. Ujian matematika tadi siang menyisakan rasa penat di kepalanya, dan satu-satunya obat yang manjur adalah barisan puisi Sapardi Djoko Damono.
Jingga menarik buku tipis berjudul Hujan Bulan Juni. Namun, saat ia membukanya tepat di halaman tengah, sesuatu yang asing jatuh ke lantai. Sebuah sobekan kertas buku tulis, terlipat dua dengan rapi.
Jingga membungkuk, mengambil kertas itu. Dengan ragu, ia membukanya.
"Kenapa kamu selalu memilih buku yang sedih? Padahal hari ini matahari sedang bagus-bagusnya di luar sana."
Jingga terpaku. Tulisan tangan itu tidak rapi—sedikit miring ke kanan dan ditekan kuat-kuat seolah si penulis sedang terburu-buru. Ia menoleh ke sekeliling dengan waspada. Perpustakaan sepi. Hanya ada Bu Retno yang tampak sibuk dengan katalog di balik meja sirkulasi yang jauh di depan. Di sudut lain, ada seorang adik kelas yang sedang tertidur dengan wajah tertutup buku sejarah. Tak ada orang lain.
Siapa yang meninggalkan pesan ini? Dan lebih penting lagi, bagaimana orang itu tahu bahwa ia "selalu" memilih buku yang sedih? Apakah selama ini ada yang memerhatikannya?
Rasa penasaran yang selama ini tertidur di dalam diri Jingga mendadak terjaga. Ia meraih pulpen dari saku sweternya. Di balik kertas yang sama, di bawah tulisan misterius itu, ia menggoreskan jawabannya.
"Karena matahari yang bagus sering kali menipu. Sedih itu jujur. Dan buku ini tidak pernah menuntutku untuk tersenyum saat aku tidak ingin."
Dengan jantung yang berdebar aneh, ia menyelipkan kembali kertas itu ke tempat semula. Ia tidak meminjam buku itu. Ia justru meninggalkannya di rak, berharap pesan itu akan sampai ke tangan yang tepat.
Keesokan harinya, Jingga kembali. Ia meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia hanya ingin membaca, bukan karena mengharapkan balasan. Namun, langkah kakinya yang cepat mengkhianati pikirannya sendiri. Ia langsung menuju rak 400, meraih buku yang sama, dan membukanya.
Ada kertas baru. Kali ini kertasnya lebih bersih, selembar memo kuning terang.
"Jujur itu memang perlu, tapi tidak semua kejujuran harus terasa pahit. Kamu tahu? Kadang matahari hanya ingin menyapa, tanpa maksud menipu. Cobalah liat ke jendela jam lima sore nanti. Ada warna yang mirip dengan namamu di sana."
Jingga tertegun. Orang ini tahu namanya. Siapa di sekolah ini yang cukup peduli untuk memperhatikan seorang gadis yang menghabiskan waktu istirahatnya di pojok perpustakaan?
Ia segera berjalan menuju jendela besar yang menghadap ke arah lapangan basket. Jam digital di dinding menunjukkan pukul 16.55. Di bawah sana, tim basket sekolah sedang berlatih. Teriakan sang pelatih dan bunyi decit sepatu beradu dengan lantai semen terdengar samar sampai ke atas sini.
Tepat saat jarum jam menunjuk angka dua belas di pukul lima sore, langit mulai berubah. Warna biru yang jernih perlahan memudar, digantikan oleh semburat jingga yang membara di cakrawala. Warna itu begitu kuat, menyapu awan-awan tipis menjadi keemasan.
Di tengah kekagumannya pada langit, mata Jingga menangkap sosok di lapangan bawah. Seorang pemain dengan nomor punggung 10 baru saja mencetak three-point. Alih-alih merayakannya dengan rekan setimnya, pemain itu justru berdiri diam sejenak, lalu mendongak ke arah jendela perpustakaan lantai dua.
Jingga tersentak dan segera menarik diri dari balik tirai. Jantungnya berpacu dua kali lebih cepat. Pemain itu adalah Biru. Sang kapten basket yang namanya selalu diteriakkan oleh para siswi di tribun. Tidak mungkin. Biru si atlet populer tidak mungkin menjadi sosok puitis di balik rak 400.
Namun, bayangan mata Biru yang mendongak tadi terus menghantui pikirannya. Ada sesuatu yang berbeda di sana. Bukan tatapan penuh kemenangan, melainkan sebuah pencarian.
Jingga kembali ke mejanya, mengambil napas dalam-dalam, dan menulis di memo kuning itu:
"Aku sudah melihatnya. Warnanya memang indah. Tapi langit tetap akan menjadi hitam setelah itu, kan? Itulah yang aku maksud dengan menipu."
Ia mengembalikan memo itu ke dalam rak buku filsafat, jauh di belakang buku Plato, agar tidak sembarang orang menemukannya. Ia merasa seperti sedang memainkan permainan berbahaya, namun untuk pertama kalinya sejak ia masuk SMA, Jingga merasa... hidup.