“Ya Tuhan, mundurkanlah gigiku agar tidak tonggos lagi. Aku malu, sakit hati dan juga lelah dibully setiap hari oleh orang-orang di sekitarku,” bisikku khidmat dan penuh permohonan, setelah mengucapkan doa tidur.
Tak lama setelah memejamkan mata, aku lelap dan nyenyak hingga pagi. Sama seperti hari kemarin, dan hari-hari sebelum kemarin.
Agak ajaib memang, dalam situasi rumit pun, aku tetap bisa tidur nyenyak setiap malam. Oh ya, namaku Bella Aurora, dan biasa dipanggil Sumi alias susah mingkem. Nggak nyambung atau nyambung banget ya?
Siapa yang tidak kenal aku di kampus? Siapa yang tidak kenal aku di tempatku kerja part time setiap sore hingga malam?
Aku terkenal bukan karena aku cantik, tapi karena gigiku yang mancung ke depan.
Meski aku memiliki rambut panjang nan indah terawat, kulit putih mulus dan tinggi badan ideal … aku tetap jelek di mata orang lain.
Padahal, tubuhku juga terbilang seksi. Depan belakang sungguh padat berisi. Melekuk indah bak gitar Spanyol.
Tak sedikit orang yang tertipu saat melihatku dari belakang.
Mereka kagum, dan menyamakan bodiku dengan artis seksi ternama dunia seperti Angelina Jolie atau Megan Fox.
Akan tetapi, saat aku berbalik menghadap mereka yang memanggilku, mereka langsung melengos dan tertawa terbahak tanpa peduli bagaimana perasaanku.
“Busyet, itu muka kenapa jadi gigi semua?” celetuk salah seorang cowok yang awalnya antusias menggodaku pada suatu hari.
“Kena gigi uang kembali nggak tuh!” sahut yang lain sambil terkekeh-kekeh.
Salah satu suara menimpali dengan nada merendahkan, “Hem, sumpah ngilu banget bayangin tabrakan gigi ma dia!”
Mereka melecehkanku hingga sejauh itu hanya karena gigiku.
Sesuatu yang seharusnya jauh dari urusan selangkangan.
Akan tetapi, aku tak berniat membela diri lagi, marah atau tersinggung.
Aku menelan hinaan itu begitu saja karena sudah terbiasa dari kecil, hingga rasanya sudah tak seberapa sakit lagi saat orang berkata buruk seperti itu.
Aku pilih menebalkan muka dan telingaku.
Setiap malam, aku selalu berdoa ketika mau tidur, “Ya Tuhan, tolong mundurkanlah gigiku satu centi agar aku tampak sedikit cantik di mata pria. Aku ingin segera memiliki kekasih. Aku juga ingin bahagia, Tuhan!”
Ketika bangun keesokan paginya, aku langsung pergi bercermin. Sayang, tidak ada yang berubah pada gigiku, aku tetap tonggos dan jelek, terlebih karena baru saja bangun tidur. Hanya kulit wajahku yang halus tanpa make up semakin glowing karena aku cukup rajin pakai skin care.
Hebatnya lagi, ketika melihat cermin pagi ini, tidak ada rasa kecewa sama sekali melihat doaku tak terkabul.
Aku justru merasa lebih tenang, juga lebih percaya diri. Sialnya, aku merasa cantik versi diriku yang seperti ini.
Hm, bukankah cantik itu memang relatif?
“Relatif? Nggak bener itu! Cantik itu sesuatu yang mutlak, nggak mengikuti teori relativitas Albert Einstein hehehe,” ujarku pada diriku sendiri sambil menatap dan menunjuk wajahku di cermin.
“Bodo amatlah! Dari pada pusing mikirin gigi, mending menaikkan nilai diri dari hal-hal lain yang aku kuasai!”
Setelah memotivasi diri, aku pergi mandi, sarapan dan akhirnya duduk menghadap laptop.
Tidak ada waktu untuk malas atau meratapi gigi tonggos walaupun ini adalah hari libur. Aku harus bekerja.
Design yang aku ajukan untuk perusahaan interior harusnya sudah ada keputusan hari ini.
“Yuhuuuiii…,” pekikku heboh.
Benar saja, designku diterima, dan mendapatkan apresiasi dari perusahaan tersebut.
Aku diminta untuk membuat beberapa design lagi dengan penawaran bayaran yang fantastis, sekaligus ditawari untuk bergabung dengan perusahaan yang bermarkas di Denmark tersebut.
Aku meringis dan termenung cukup lama karena saking bahagianya. Hingga tak merasa gigiku sedang kering. Entahlah, aku merasa Tuhan sedang menjawab doa-doaku dalam bentuk lain.
Faktanya gigiku tetap tonggos dan buruk pagi ini, tapi aku bisa memundurkannya lewat jalur operasi sebentar lagi.
Ah ya aku juga bisa memotong rahangku seperti yang dilakukan Angel Karamoy nantinya, karena posisi designer yang ditawarkan perusahaan asing ini pastinya bakal menghasilkan banyak uang untukku.
Bukannya aku tak bersyukur dengan karunia Tuhan.
Aku ingin memperbaiki gigi dan rahangku bukan karena alasan estetika semata, tapi karena kesehatan. Aku pernah jatuh dari motor, gigi depanku patah dan rahangku geser sehingga dipakai untuk makan sangat tidak nyaman.
“Tuhan, terima kasih banyak! Kau memang tidak bisa memundurkan gigiku dalam semalam, tapi apa yang aku dapatkan hari ini jauh lebih berarti daripada sekedar urusan gigi. Aku janji tidak akan meminta hal konyol lagi, maafkan aku, Tuhan!”
Sebenarnya kepercayaan diriku baru saja tumbuh.
Aku juga sudah merasa cantik dengan kondisiku, sudah bisa ikhlas menerima keadaan sejak bangun tidur tadi.
Intinya aku sudah berdamai dengan gigiku. Capek juga kan kalau harus mengeluhkan gigi setiap hari? Lagian punya gigi tonggos itu bukan dosa!
Namun … tak masalah kan jika aku tetap merencanakan untuk pergi memperbaiki gigi dan rahangku suatu hari nanti?
Ah … Tuhan benar-benar baik, ternyata rencananya begitu indah untukku.
Sungguh aku merasa malu karena sudah berprasangka buruk dengan mengatakan Tuhan tidak pernah mendengar doaku, Tuhan tidak adil padaku dan banyak lagi kalimat yang tak seharusnya aku ungkapkan pada penciptaku.
Aku mengucap syukur berkali-kali, dan merayakan kebahagiaanku dengan pergi ke mall sendirian. Jalan-jalan, makan, belanja.
“Cewek … eh busyet giginya maju banget!”
“Cuma enak dilihat dari belakang nih cewek!”
“Sebenarnya dia itu cantik, tapi … duh nggak tega mo ngomong tonggos banget!”
Aku mendengarkan mereka yang bakat banget dalam menilai fisik orang lain dengan lapang dada.
Tak ada sakit hati lagi seperti sebelumnya.
“Dengan kulit putih mulus, rambut bagus ala model sampo dan body idaman semua orang, sebenarnya kalian itu nggak bisa ngatain aku jelek, kan? Makanya yang dibahas gigi terus! Capeeek deeeh….” gumamku sambil cekikikan sendiri.
Inilah aku dengan kekurangan dan kelebihanku.
Aku mencintai diriku. Kalian tidak akan bisa lagi menjatuhkan mentalku hanya dengan berkata buruk tentangku!
Semangat, Bel!
T A M A T
( Semangat buat para Sumi diluar sana, jangan fokus dengan satu kekurangan yang ada, tapi fokuslah pada kelebihan kita. Naikkan nilai kita, dan bersyukur dengan apa yang sudah Tuhan berikan. Cintai diri sendiri!).