Topi itu tergeletak di bangku halte, miring seperti orang yang kelelahan menunggu. Warnanya cokelat pudar, dengan pita hitam yang sudah berbulu. Hujan baru saja berhenti; udara masih berbau tanah basah dan knalpot. Di kaca halte, bayangan orang-orang lalu-lalang terpecah, tapi topi itu tetap diam—seolah menolak ikut pulang bersama siapa pun.
Aku menemukannya sore itu, ketika kota sedang sibuk menutup hari. Jam tanganku mati sejak seminggu lalu, dan aku tak tahu kenapa belum kuganti. Mungkin karena aku sedang belajar hidup tanpa kepastian waktu. Aku berdiri cukup lama di depan bangku halte, menatap topi itu, menimbang apakah ia milik seseorang yang sebentar lagi akan kembali, atau milik kenangan yang sudah tak punya alamat.
“Topi siapa?” gumamku, pada diriku sendiri.
Tak ada jawaban. Hanya suara bus yang menggeram dan angin yang menggoyangkan kertas iklan. Aku duduk, menjaga jarak satu telapak tangan dari topi itu—jarak sopan untuk benda yang tak kukenal. Aku memerhatikan bekas lipatan di tepinya, noda kecil di bagian dalam, dan benang yang lepas di dekat pita. Topi itu tampak sering dipakai. Bukan topi pesta, bukan topi gaya. Topi kerja, pikirku. Topi yang menemani seseorang berjalan jauh, menahan panas, menepis hujan, menyembunyikan dahi yang berkeringat.
Bus datang dan pergi. Orang-orang naik, turun, menguap, mengeluh. Topi itu tetap. Aku mulai merasa ia menungguku.
Aku mengangkatnya perlahan. Beratnya pas—tidak terlalu ringan, tidak pula berat. Ketika kusentuhkan ke kepalaku, ada rasa hangat yang asing, seperti menyentuh tangan orang yang baru saja melepaskan genggaman. Aku bercermin di kaca halte. Bayanganku berubah sedikit: lebih tua, entah kenapa. Atau lebih bertanggung jawab. Aku tertawa kecil. Imajinasi memang suka berlebihan.
Seorang bapak berjas hujan berhenti di sampingku. “Mas, itu topi siapa?”
“Tidak tahu, Pak,” jawabku.
Ia mengangguk, menatap topi itu sebentar, lalu berlalu. Seolah ia paham: beberapa hal tak perlu pemilik untuk tetap bermakna.
Aku memutuskan membawanya pulang. Bukan untuk memilikinya, kataku pada diriku sendiri. Hanya untuk sementara. Jika ada yang mencarinya, aku bisa mengembalikan. Aku tidak tahu kepada siapa, tapi niat baik sering kali tak butuh alamat.
Di rumah, aku meletakkan topi itu di atas meja. Lampu kuning membuat warnanya tampak lebih hangat. Aku membersihkannya sedikit, menyisir pita yang kusut. Dari saku kecil di bagian dalam, jatuh secarik kertas. Aku membukanya hati-hati.
“Hari Rabu, pukul lima. Jangan terlambat.”
Tidak ada nama. Tidak ada tempat. Hanya kalimat itu, ditulis dengan tinta biru yang mulai pudar. Aku membayangkan seseorang yang menulisnya tergesa-gesa, mungkin sambil berdiri, mungkin di halte yang sama. Janji yang ringkas, seperti hidup yang sering kali tak memberi ruang untuk penjelasan.
Malam itu aku tidur dengan topi di samping bantal. Aneh, aku tahu. Tapi ada rasa tenang yang tak bisa kujelaskan. Seolah topi itu mengingatkan bahwa di luar sana, ada orang-orang yang pernah berharap, menunggu, dan—entah—mungkin kehilangan.
Keesokan harinya, aku memakai topi itu keluar rumah. Kota terasa berbeda. Orang-orang menatap sekilas, lalu mengalihkan pandang. Seorang anak kecil menunjuk dan berbisik pada ibunya. Aku merasa menjadi bagian dari cerita yang bukan punyaku, tapi kebetulan aku jalani.
Di warung kopi, barista memandang topi itu lama. “Topinya mirip punya pelanggan lama,” katanya.
“Siapa?” tanyaku.
Ia menggeleng. “Sudah lama nggak datang.”
Aku tidak bertanya lebih jauh. Cerita orang lain bukan untuk diseret paksa. Aku membayar, duduk di dekat jendela, dan memerhatikan hujan turun lagi. Di kaca, pantulan topi itu terlihat seperti penanda—sebuah tanda baca di tengah kalimat kota.
Hari Rabu datang lebih cepat dari dugaanku. Pukul lima, aku berada di halte yang sama. Aku tidak tahu kenapa. Mungkin karena secarik kertas itu. Mungkin karena aku ingin percaya bahwa janji—meski tanpa nama—masih layak ditunggu.
Aku duduk di bangku yang sama, topi itu di pangkuanku. Orang-orang lewat. Tidak ada yang berhenti. Jam kota berdentang dari kejauhan. Pukul lima lewat sepuluh. Lewat dua puluh.
Saat aku hendak berdiri, seorang perempuan datang tergesa. Rambutnya basah, napasnya terengah. Ia memandang bangku itu, lalu topi di tanganku. Matanya membesar sedikit—bukan kaget, lebih seperti menemukan kembali sesuatu yang lama terselip.
“Maaf,” katanya. “Topi itu…”
Aku menyerahkannya tanpa bertanya. Tangannya gemetar ketika menerima. Ia mengelus pita hitam itu, seperti menyapa teman lama.
“Terima kasih,” katanya. “Aku pikir sudah hilang.”
“Kepunyaan siapa?” tanyaku, pelan.
Ia tersenyum—senyum yang menyimpan banyak hal. “Ayah.”
Kami duduk berdampingan. Ia bercerita singkat: tentang seorang ayah yang selalu datang tepat waktu, tentang janji-janji kecil yang dipegang erat, tentang hari Rabu yang terakhir—hari hujan, hari menunggu, hari ketika topi tertinggal.
“Ayah meninggal seminggu setelah itu,” katanya. “Topi ini… entah kenapa selalu terasa seperti dia.”
Aku mengangguk. Tidak ada kalimat yang cukup. Beberapa perasaan hanya bisa ditemani.
Bus datang. Ia berdiri, mengenakan topi itu. Kali ini, topi itu tampak menemukan kepalanya. Pas, seperti seharusnya.
“Terima kasih sudah menunggu,” katanya.
Aku tersenyum. “Topi itu yang menunggu.”
Ia tertawa kecil, lalu naik bus. Aku tinggal di halte, bangku kosong di sampingku. Hujan reda. Kota melanjutkan kalimatnya.
Aku pulang tanpa topi. Tapi entah kenapa, kepalaku terasa lebih ringan. Seolah ada sesuatu yang selesai—bukan karena aku menemukan pemiliknya, tapi karena aku mengerti: beberapa benda memang tak bertuan untuk sementara, agar bisa mengantarkan kita pada pertemuan yang tepat.
Di halte itu, bangku kembali kosong. Tapi jika kau duduk cukup lama, mungkin kau akan merasakan sisa hangatnya—hangat dari topi tak bertuan yang pernah menunggu, dan pernah mengajarkan bahwa menunggu tidak selalu sia-sia.