SMA Garuda pagi ini terasa seperti pasar kaget yang kehilangan komandannya. Sinar matahari pukul sepuluh menembus kaca-kaca kelas XI-IPA 2, menerangi debu-debu yang menari di atas meja, tapi suasana di dalam jauh dari kata puitis.
"GERY! KEMBALIIN GAK?!" lengkingan suara Vanya membelah kebisingan koridor.
Gery, dengan rambut berantakan yang menyerupai sarang burung pasca-badai, berlari zig-zag di antara barisan meja. Di tangannya, sebuah buku catatan bersampul merah muda berkibar-kibar. "Gak mau! Gue harus membuktikan pada dunia kalau Ratu Judes kita ini ternyata hobi nulis puisi cinta buat... aduh!"
Gery terjerembap karena tersandung kaki kursi yang sengaja dijulurkan oleh Raka. Raka tetap tenang, matanya tetap fokus pada buku sketsanya, seolah-olah kerusuhan di depannya hanyalah siaran ulang yang membosankan.
"Makasih, Ka. Lo emang penyelamat umat," gerutu Vanya sambil menyambar bukunya dari tangan Gery yang masih tersungkur. Ia memberikan tendangan pelan ke pantat Gery sebelum kembali ke bangkunya dengan wajah merah padam—bukan karena malu, tapi karena emosi tingkat dewa.
"Galak banget sih, Van! Gue kan cuma mau bantuin lo jujur sama perasaan," Gery bangkit sambil mengeluh, mengelus lututnya yang malang. "Raka, lo liat kan? Temen lo yang satu ini titisan singa betina."
Raka mendongak, memperbaiki letak kacamatanya. "Gery, kalau lo mati hari ini, gue males bantuin urus surat izinnya ke wali kelas."
"Dih, dingin banget kayak kulkas dua pintu," cibir Gery. Ia lalu beralih ke bangku depan, tempat Alana sedang asyik memakan bekalnya dengan tenang, seolah-olah ia berada di dimensi yang berbeda yang penuh bunga dan pelangi. "Lan, kasih tau Raka dong, jadi cowok tuh jangan kaku-kaku amat. Nanti kalau ada gempa, dia patah duluan."
Alana tertawa, suaranya seperti denting lonceng yang membuat Raka—tanpa sadar—menahan napas sejenak. "Raka nggak kaku, Ger. Dia cuma lagi fokus. Lagian, kamu juga yang mulai, kenapa gangguin Vanya terus?"
"Habisnya seru! Liat muka dia merah gitu kayak kepiting rebus, lucu tau," Gery nyengir lebar.
Vanya yang mendengar itu langsung melempar penghapus karet. Pletak! Tepat sasaran di dahi Gery.
"ADUH! VAN! Ini dahi aset masa depan gue!"
"Masa depan lo suram kalau nggak diem!" balas Vanya ketus, meski sudut bibirnya sedikit terangkat melihat tingkah konyol cowok itu.
Bel istirahat berbunyi, dan seperti kerumunan banteng yang dilepas, seluruh siswa menyerbu kantin. Di meja pojok favorit mereka, suasana makin semrawut. Bu Mar, penjaga kantin yang sudah hafal tabiat mereka, datang membawa nampan berisi bakso dan es jeruk.
"Ini pesanannya. Gery, jangan utang lagi ya, Ibu mau naik haji, bukan mau buka yayasan amal," sindir Bu Mar sambil menaruh mangkuk bakso.
"Tenang, Bu! Hari ini Raka yang bayar!" seru Gery tanpa dosa.
Raka tersedak es jeruknya. "Hah? Sejak kapan?"
"Sejak lo ketauan ngeliatin Alana pas pelajaran Sejarah tadi dua jam penuh tanpa kedip. Itu namanya pajak jatuh cinta," Gery mengedipkan sebelah matanya, membuat suasana meja mendadak hening.
Wajah Alana berubah merah muda, ia sibuk mengaduk baksonya yang sebenarnya sudah hancur. Sementara Raka, si cowok paling tenang se-SMA Garuda, tiba-tiba merasa suhu kantin naik sepuluh derajat celcius.
"Gery, kalau lo nggak bisa jaga mulut, sini gue jahit pakai mi ayam," ancam Vanya, mencoba menyelamatkan situasi, meski ia sendiri menahan tawa melihat telinga Raka yang memerah.
"Galak lagi, galak lagi. Heran gue, lo itu kalau lagi makan makin mirip sama mandor bangunan," Gery menyeruput kuah baksonya dengan bunyi yang sangat tidak sopan.
Tiba-tiba, seorang cowok dari kelas sebelah, kapten tim basket yang badannya seperti kulkas berjalan, lewat di dekat meja mereka dan menyapa Alana. "Lan, nanti pulang sekolah bareng ya? Ada hal yang mau gue omongin."
Suasana meja mendadak tegang. Gery berhenti mengunyah, Vanya menahan napas, dan Raka... Raka tanpa sadar meremas kotak tisu sampai penyok.
Alana tampak bimbang. "Eh, itu... aku..."
"Dia ada kerja kelompok sama gue," potong Raka cepat. Suaranya tidak keras, tapi tegas dan dingin.
Semua mata tertuju pada Raka. Gery hampir saja menyemburkan baksonya karena kaget. "Kerja kelompok apaan, Ka? Kita kan nggak ada tugas?"
Vanya dengan sigap menginjak kaki Gery di bawah meja. "Ada! Tugas... itu... Sosiologi tentang dampak kebacotan Gery terhadap kesehatan mental teman sekelas! Iya, itu!"
Si kapten basket menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Oh, oke deh. Lain kali ya, Lan."
Setelah cowok itu pergi, Gery langsung meledak dalam tawa. "WAKAKAK! Raka! Akhirnya jiwa macan lo keluar juga! Kerja kelompok sosiologi? Kreatif banget alibi lo!"
Raka hanya menunduk, kembali meminum es jeruknya yang sudah tinggal es batu. "Diem, Ger. Bakso lo dingin tuh."
Alana tersenyum kecil, mencuri pandang ke arah Raka yang pura-pura sibuk. Sementara itu, Vanya sibuk menjitak kepala Gery yang tidak berhenti meledek Raka. Kantin hari itu tetap bising, tetap panas, dan tetap penuh drama receh, tapi bagi mereka berempat, itulah SMA. Tempat di mana rasa kesal, tawa, dan rasa suka yang malu-malu bercampur menjadi satu seperti gado-gado Bu Mar—berantakan, tapi bikin nagih.
Apakah kamu ingin aku melanjutkan ke adegan "Kerja Kelompok Palsu" di rumah Raka untuk bab selanjutnya?