Lampu-lampu kota mulai menyala satu per satu di bawah sana, tampak seperti hamparan berlian yang tumpah di atas beludru hitam. Di balkon lantai sepuluh ini, angin malam berembus membawa aroma hujan yang belum sempat jatuh, menerbangkan beberapa helai rambut Aris yang berdiri terpaku menatap cakrawala.
Di belakangnya, suara denting sendok dan piring perlahan mereda. Elena muncul, membawa dua cangkir teh yang uapnya masih mengepul tipis. Ia tidak mengatakan apa-apa, hanya berdiri di samping Aris, ikut menyesap keheningan yang terasa lebih manis daripada gula mana pun.
"Kau tahu," suara Aris memecah kesunyian, rendah dan serak. "Aku pernah membaca bahwa orang-orang yang berjodoh akan selalu menemukan jalan pulang, sejauh apa pun mereka tersesat."
Elena tersenyum kecil, matanya memantulkan cahaya kota. "Dan menurutmu, apakah kita sedang berada di jalan pulang itu?"
Aris menoleh, menatap wajah Elena yang tampak tenang di bawah remang lampu balkon. Ia meletakkan cangkirnya di pembatas besi, lalu meraih jemari Elena. Kulit mereka bertemu, hangat di tengah udara yang kian mendingin. Aris tidak menjawab dengan kata-kata. Ia justru menarik Elena mendekat, membiarkan dahi mereka bersentuhan.
Di detik itu, hiruk pikuk kota di bawah sana seolah lenyap. Tidak ada lagi suara klakson, tidak ada lagi keraguan tentang hari esok, tidak ada lagi luka-luka lama yang pernah membuat mereka menjauh. Yang ada hanyalah detak jantung yang beradu dalam ritme yang sama.
Aris merogoh saku jaketnya, mengeluarkan sebuah kotak beludru kecil yang telah ia simpan selama berbulan-bulan. Tanpa berlutut, tanpa drama yang berlebihan, ia membukanya di depan mata Elena. Sebuah cincin perak sederhana berkilau malu-malu di dalamnya.
"Aku tidak ingin lagi mencari jalan pulang," bisik Aris tepat di depan bibir Elena. "Aku ingin menjadi rumahmu."
Air mata Elena jatuh, tapi bibirnya melengkung membentuk senyum paling tulus yang pernah Aris lihat. Ia tidak menjawab dengan suara, melainkan dengan sebuah anggukan kecil yang mantap, sebelum akhirnya ia membiarkan Aris menyematkan janji itu di jarinya.
Malam itu, di bawah langit yang mulai meneteskan gerimis tipis, mereka tidak lagi membutuhkan percakapan. Mereka hanya berdiri di sana, berpelukan erat, membiarkan dunia berlalu sementara mereka telah sampai di tujuan terakhirnya.