Raka selalu datang ke "Sudut Temu" pada pukul empat sore. Bukan karena kopinya paling enak se-Jakarta, tapi karena barista di balik meja kasir selalu punya cara unik untuk merusak—sekaligus memperbaiki—harinya.
Arlan, barista itu, punya senyum yang terlalu cerah untuk seseorang yang bekerja di tengah kepulan uap mesin kopi yang panas.
"Americano satu, gulanya sedikit saja," ucap Raka sambil mengeluarkan laptopnya.
"Satu Americano pahit, seperti kenangan mantan, siap!" balas Arlan jenaka.
Raka hanya memutar bola mata. "Aku nggak punya mantan yang pahit, Lan."
"Berarti aku punya kesempatan jadi yang pertama?" Arlan mengerlingkan mata sebelum berbalik menyiapkan pesanan. Raka merasakan telinganya sedikit panas. Dasar tukang gombal, batinnya.
Pesan di Balik Gelas
Setengah jam kemudian, Arlan mengantarkan kopi Raka. Di atas meja, selain gelas kaca yang berembun, Arlan meletakkan sebuah sticky note berwarna kuning di sisi nampan.
Raka menunggu Arlan kembali ke balik meja sebelum membaca tulisannya:
> "Jangan terlalu serius dengerin lagu galau di headset-mu. Alis kamu jadi nekuk terus, nanti cepat tua. Senyum dikit, dong."
>
Raka tanpa sadar menyentuh alisnya. Benar, dia sedang mengerjakan revisi naskah yang membosankan. Ia menoleh ke arah bar, mendapati Arlan sedang sibuk menata gelas, tapi pria itu sempat-sempatnya memberikan jempol tanpa menoleh.
Perubahan Rutinitas
Dua minggu berlalu dengan pola yang sama: kopi, revisi, dan catatan kecil. Sampai suatu hari, Raka datang terlambat. Hujan deras mengguyur, dan ia masuk ke kafe dengan bahu yang basah kuyup.
Namun, sore itu Arlan tidak ada di kasir. Ada orang lain yang menggantikannya. Raka merasa ada sesuatu yang ganjil, seperti meminum kopi tanpa kafein—rasanya ada, tapi efek "tendangannya" hilang.
Ia duduk di sudut biasa, merasa lesu. Saat ia hendak membuka laptop, seorang pelayan lain mengantarkan cokelat panas, bukan Americano pesenannya.
"Maaf, saya pesan Americano," ujar Raka bingung.
"Ini dari Kak Arlan, Kak. Katanya kalau hujan-hujan jangan minum yang pahit, biar hatinya hangat," jelas pelayan itu sambil menyodorkan sticky note biru.
> "Maaf ya, hari ini aku shift pagi jadi kita nggak ketemu. Cokelatnya gratis, tapi bayarnya pakai nomor HP kamu yang ditulis di kertas ini ya? Jangan telat pulang, nanti sakit."
>
Akhir yang Manis
Raka tertegun sejenak, lalu tawa kecil lolos dari bibirnya. Ia mengambil pulpen, menarik napas panjang, dan menuliskan deretan angka di bawah pesan Arlan.
Di bawah nomor teleponnya, Raka menambahkan satu kalimat:
"Cokelatnya terlalu manis, tapi aku suka. Jemput aku jam tujuh?"
Raka melipat kertas itu, menyerahkannya kembali pada pelayan dengan senyum paling lebar yang ia miliki hari itu. Di luar hujan masih turun, tapi di dalam "Sudut Temu", musim semi rasanya baru saja dimulai.