Lorong itu selalu ada, meski tak pernah muncul di peta.
Terletak di antara dua bangunan tua yang dindingnya mengelupas, lorong itu sempit—cukup untuk satu orang berjalan tanpa menyentuh sisi kanan atau kiri. Lampu gantung di atasnya berpendar redup, seolah ragu apakah ia harus tetap menyala atau menyerah pada gelap. Tak ada toko, tak ada pintu, hanya dinding lembap yang menyimpan bau hujan lama dan waktu yang tak bergerak.
Setiap orang yang melewati lorong itu selalu sendiri.
Malam itu, Arga berdiri di mulut lorong, ragu. Jaketnya basah oleh gerimis yang turun tanpa niat berhenti. Ia menatap ke dalam lorong, mendengarkan kesunyian yang terlalu rapi—tidak ada suara tikus, tidak ada tetesan air, bahkan angin pun seperti lupa bernapas.
“Aneh,” gumamnya.
Ia tidak berniat masuk. Ia hanya ingin pulang, memotong jalan seperti biasa. Tapi lorong itu… berbeda malam ini. Lebih gelap. Lebih dekat.
Langkah pertamanya terdengar terlalu jelas saat kakinya menyentuh lantai lorong. Tap.
Arga berhenti. Tidak ada gema. Tidak ada pantulan suara. Seolah lorong itu menelan bunyi langkahnya dengan lapar.
Ia melanjutkan.
Semakin ke dalam, udara menjadi lebih dingin. Bau lembap berubah menjadi sesuatu yang lebih familiar—aroma kopi pahit, kertas tua, dan hujan sore. Bau yang membuat dadanya mengencang tanpa alasan yang jelas.
Lalu ia mendengarnya.
Tangisan.
Pelan. Tertahan. Seperti seseorang yang tak ingin diketahui sedang rapuh.
Arga menoleh ke kiri dan kanan. Tidak ada celah, tidak ada pintu. Tangisan itu tidak datang dari arah tertentu. Ia ada di mana-mana.
“Hallo?” panggil Arga, suaranya terdengar asing di telinganya sendiri.
Tangisan berhenti.
Beberapa langkah di depan, seseorang berdiri membelakangi Arga.
Seorang perempuan, mengenakan mantel abu-abu, rambutnya terikat rendah. Posturnya… terlalu dikenalnya. Cara ia berdiri, sedikit condong ke kiri, seperti menahan beban yang tak terlihat.
“Maaf,” kata Arga pelan. “Lorong ini… jalan buntu?”
Perempuan itu tidak menjawab.
Arga melangkah lebih dekat. Detak jantungnya mulai tidak sinkron dengan napasnya. Ada perasaan yang ia kenal baik—perasaan yang selama ini ia kubur rapi.
Saat perempuan itu berbalik, dunia seperti berhenti.
Wajah itu.
Bukan asing. Bukan juga sepenuhnya nyata.
Itu wajah yang pernah ia hafal luar kepala. Wajah yang dulu sering ia sentuh dengan ujung jari. Wajah yang terakhir ia lihat dengan mata basah dan kata-kata yang tidak pernah selesai.
“Rena…” suara Arga nyaris tak keluar.
Rena menatapnya tanpa senyum. Matanya tidak marah, tidak sedih. Hanya lelah. Sangat lelah.
“Kamu akhirnya lewat sini,” katanya.
Arga menelan ludah. “Ini… ini bukan nyata.”
“Tidak,” jawab Rena pelan. “Tapi juga bukan mimpi.”
Lorong di sekitar mereka terasa semakin sempit, seolah dindingnya mendekat perlahan.
“Aku cuma mau pulang,” Arga berkata, lebih pada dirinya sendiri.
Rena mengangguk. “Semua orang yang masuk lorong ini bilang begitu.”
Ia melangkah mendekat. Tidak ada suara langkahnya. “Kamu tahu kenapa lorong ini sunyi?”
Arga menggeleng.
“Karena isinya bukan suara,” kata Rena. “Tapi hal-hal yang tidak pernah diucapkan.”
Udara menjadi berat.
Arga teringat pesan yang tak pernah ia balas. Panggilan yang ia abaikan. Percakapan terakhir yang ia tutup dengan keheningan karena terlalu takut salah bicara.
“Aku minta maaf,” katanya akhirnya. Kata itu jatuh, rapuh.
Rena tersenyum tipis—senyum yang tidak menyembuhkan, hanya mengakui luka. “Aku tidak butuh maafmu lagi.”
Kalimat itu lebih menyakitkan dari teriakan.
“Lalu kenapa aku di sini?” tanya Arga.
“Karena kamu belum benar-benar pergi,” jawab Rena. “Dan aku belum sepenuhnya dilepaskan.”
Lampu di lorong berkedip. Sekali. Dua kali.
“Apa yang terjadi kalau aku sampai ujung?” tanya Arga.
Rena menatap ke belakang Arga, ke arah yang ia datang. “Tidak semua lorong punya ujung,” katanya pelan. “Beberapa hanya mengajarkan kapan harus berhenti.”
Arga merasakan sesuatu menghangat di dadanya—bukan lega, bukan juga sedih. Hanya penerimaan yang pahit.
“Aku capek,” katanya jujur.
Rena mengangguk. “Aku tahu.”
Ia melangkah mundur, tubuhnya mulai memudar seperti kabut pagi. “Kalau kamu keluar sekarang, lorong ini tidak akan memanggilmu lagi.”
“Dan kamu?”
Rena tersenyum untuk terakhir kalinya. “Aku akan tetap di tempat yang seharusnya.”
Lampu padam.
Arga terhuyung, dan tiba-tiba ia sudah berdiri di luar lorong. Hujan masih turun. Kota kembali berisik. Orang-orang berlalu-lalang tanpa tahu apa yang baru saja terjadi.
Ia menoleh ke tempat lorong itu berada.
Tidak ada apa-apa.
Hanya celah sempit di antara dua bangunan, gelap dan biasa saja.
Arga menarik napas panjang, lalu berjalan pulang—tanpa menoleh lagi.
Namun di suatu tempat yang tak terlihat, lorong itu tetap ada.
Menunggu orang-orang yang belum selesai dengan sunyinya sendiri.