[12/12 08:52] [MINCHAN]LETS PLAY❤️🔪😏: Namaku Bram, penampilan ku..... cukup simple, rambut hitam legam acak-acakan, tinggi sekitar 179 cm, cukup tinggi kan.... berat badan kalo ga salah 55 kg. Kulit putih walaupun sedikit terbakar matahari, wajah tampan di atas rata-rata tapi selalu datar, sekarang aku lagi pake seragam SMA xx.
Aku anak kelas 11 dari SMA xx. Aku dikenal sebagai anak yang acuh tapi ngeri, ga ada yang berani macem-macem sama aku. Bukan karena apa, karena aku meraih juara 1 lomba bela diri semua jenis di tingkat Nasional. Ini juga yang bikin popularitas sekolahku melejit jauh, apalagi bidang sastra dan melukis yang ga mau kalah sama bidang olahraga.
Beralih dari semua itu, aku cuma mahasiswa biasa yang ga terlalu bisa membaur dengan yang lain. Ayahku masuk jajaran tentara elit dan ibuku seorang PNS, jadi wajar kalo gue bisa berbagai macam bela diri.
Kakek ku punya tempat bela diri tradisional dan modern, sangat diminati sampai sekarang. Nenekku dulunya guru di SMAku sekarang, tapi sayang beliau sudah dipanggil oleh YANG MAHA KUASA.
Aku ga terlalu menonjol baik di lingkungan sekolah ataupun rumah yang jelas aku ga terkenal amat karena aku pengen idup tenang dan nikmatin kehidupan SMA aku, sayangnya aku tuh cuma punya sedikit temen dan itupun cuma temen dari SMP.
"Yo Bram, lo denger gak kalo kita bakal kedatangan murid baru dari negara D?."
"Kagak."
"Yaelah... elo tuh ya, kudet."
"Bomat."
"Ye...."
Remaja pria yang memiliki rambut berwarna hitam campuran pirang, tinggi kurang lebih 177 cm, kulit putih pucat dengan wajah tampan tapi masih tampan-an gue, yang beda cuman dia lebih sering senyum dan ramah. Namanya Friz, sahabatku dari dulu.
Dia cerewet kaya cewe, tak lama kemudian bel masuk berbunyi. Semua siswa mulai masuk ke dalam kelas, suasana cukup bising seperti biasa sampai wali kelas kami membawa seorang gadis muda yang kawaiii...
Imut banget, semua laki-laki di kelas termasuk aku melongo lihatnya. Bukan cuma imut tapi dia juga seksi dan cantik.
Gleg
Semua anak laki-laki menelan ludahnya paksa, yang benar saja! ini sih udah 1 paket!.
"Anak-anak ini murid pindahan yang ibu maksud, silahkan perkenalkan dirimu."
"Ohaiyo, namaku Mina. Senang bertemu dengan kalian," sapa Mina dengan imutnya.
"Senang bertemu denganmu juga, Mina," sapa balik para cewe membuyarkan lamunan para cowo yang bahkan sebagian sudah mimisan! kecuali aku tentunya.
Pandanganku seketika netral, dia kaya sepupuku yang cuma seksi doang sih.... ga jauh beda lah sama si Mina.
"Baiklah Mina, kau bisa duduk di kursi kosong, pilihlah."
Kursi kosong di kelas tinggal 2, yang satu di tengah deket anak cowo mesum, yang satu lagi di sebelahku. Atas rekomendasi para cewe, Mina memilih duduk di sebelah....... jeng jeng jeng di sebelah ku! hoho... apa-apaan...?
"Hai, namaku Mina."
"Sudah tau."
"Em... siapa namamu?," tanyanya perlahan, aku meliriknya sejenak.
"Bram."
"Baiklah Bram, salam kenal ya."
"Hm..."
Pelajaran dimulai....
#
Pulangnya aku sedikit telat karena piket, kebetulan aku melihat Mina masih menunggu di halte bus. Aku yang membawa motor pun mendekatinya.
"Mina?."
"Oh, Bram. Kau belum pulang....?."
"Kenapa kau disini?."
"...."
Hening, Mina menunduk. Segera aku meminta maaf.
"Maaf."
"Tidak apa-apa, aku hanya... kabur dari rumah," gumam Mina perlahan.
"Kenapa?."
"Karena... aku... melakukan kesalahan fatal, aku.. hampir membunuh adikku."
"....."
"Maaf, kau jadi tau masalahku ini😊."
"Rumahmu yang lain?."
"Em... tidak ada."
Aku mengambil helm dan memberikannya pada Mina, menyalakan mesin motor.
"Naik."
"Ha?."
Mina dengan ragu memakai helm dan naik ke motorku, hei... aku ini bukan penjahat paham?. Oh ngomong-ngomong tentang penampilan Mina, dia memiliki rambut panjang hitam legam sepinggang, wajah cantik dan imut, tinggi sekitar 148 cm, body mulus dengan oppai lumayan dan kulit putih bersih.
Aku melajukan motorku kembali ke rumah, kenapa? kurasa bunda ga bakal keberatan kalo Mina nginep semalem, nanti juga aku beliin atau sewain kontrakan.
Bruumm bruumm
Aduh, gaswat. Ayah pulang, dia pasti..... kalo aku bawa Mina pulang. Yaudahlah nasi dah jadi bubur.
"Assalamualaikum."
Aku membuka pintu dan masuk ke dalam, sesuai dugaanku. Ayah sedang duduk di ruang tamu bersama bunda.
"Waalaikumsalam, yo Bram!," sapa ayah, begitulah kami.
"Ayo masuk," ajakku.
Ayah terkejut saat melihatku membawa seorang gadis di belakang, dia bahkan berdiri dan menarik kerah bajuku.
"Siapa dia boy?."
"Teman."
Lalu merangkulku sambil berbisik lagi.
"Bukan pacarmu kan."
"Bukan."
Ayah bertanya dengan senyum kejam, aku sudah biasa dengan itu langsung menjawab jujur dan seadanya.
"Hei, cukup. Nak, siapa namamu?," tanya bunda, bunda yang terbaik!.
"Namaku Mina tante," jawab Mina.
"Oh.. nak Mina, mari makan siang dulu. Bram, ganti baju trus sholat!," ajak bunda sekaligus memerintahku.
"Iya bund."
Aku langsung berganti baju, sholat lalu pergi ke ruang makan. Di ruang makan ada Mina yang membantu bunda menata makanan sedangkan ayah.... biar kutebak, dia lagi di ruang senjata ngurusin si Dega, pistol dessert eagle yang ayah dapet katanya sih ilegal tapi nyatanya ayah punya sertifikat kepemilikan pistol tuh.
"Bund, Dora mana?," tanyaku.
Dora itu adik sepupuku, cewe sih poninya dah kaya dora.
"Dora udah pulang ke negara F."
"Yah.... padahal mau ngeledekin."
Iya, aku sering banget berantem sama Dora yah... aku yang ngeledekin sih hihihi...
#
Setelah dibujuk bunda dan ayah memperbolehkan Mina tinggal di sini, aku merasa aneh dengan bunda dan ayah. Sepertinya ada yang mereka sembunyikan, pada tengah malam aku terbangun karena haus.
Saat aku melewati kamar ayah dan bunda, aku melihat Mina menguping disana. Eh...
"Hei, ngapain?," bisikku membuat Mina terkejut.
"Denger itu baik-baik."
Telingaku dan Mina menempel di dinding dekat pintu kamar bunda dan ayah, percakapan masih terdengar samar-samar tapi cukup jelas.
"Ayah, bukankah tanda lahir itu sangat mirip dengan anak kita, kembarannya Bram?."
"Ayah tau bund, tapi bisa aja tanda lahirnya beda dan dia bukan anak kita yang hilang."
Aku dan Mina terkejut, anak? kembaran? apa Mina kembaranku? hah... dilihat lihat wajah kami agak mirip sih, tapi... masa sihhh!.
"Tapi ayah, Mina bilang dia tinggal di panti asuhan, bisa jadi kan?."
"Hah.. sudahlah bund, besok kita tes DNA aja biar jelas."
"Ya udah yah."
"Selamat malam."
Kami menyudahi sesi nguping ini, dan duduk di teras depan. Aku bingung, Mina juga bingung.
"Apa kita perlu tes DNA?," tanyaku.
"Kurasa iya, kalau kita memang bersaudara gimana?," tanya Mina dengan wajah tertunduk.
Aku meletakkan tanganku di kepalanya. Mengusapnya pelan, yah... malah keinget masa lalu, waktu dulu aku dan adikku, bisa dibilang kembaranku sering malem-malem keluar cari angin.
"Jalan-jalan yuk," ajakku.
Entah apa yang kupikirkan, tapi aku ingin mengajaknya jalan-jalan, naik motor.
"Tapi ayah sama bunda...."
"Shh... jangan sampai ketauan lah😉."
"😊Yuk."
Aku mengeluarkan motorku dari garasi, pelan-pelan... jangan berisik, Mina mengambil jaket untukku dan dia. Lalu mengunci rumah, pelan pelan sampai di depan rumah tetangga nyalain motor.
Bruuumm
[12/12 08:54] [MINCHAN]LETS PLAY❤️🔪😏: "Hahaha... pulang-pulang dimarahin bunda nih," ujar Mina sambil tertawa.
Kami berada di cafe biasa tempat aku dan sahabatku nongkrong, tapi keknya mereka dah pada pulang. Eh.. engga rupanya, itu Friz!
"Friz! woy! UBI MANIS!!."
"Anjirr! Bram!?."
Friz mendekati kami, rumahnya memang deket sama cafe ini, dia paling suka sama ubi manis atau ubi, yah.. intinya yang ada ubinya dia suka.
"Yo, bro!," sapa Friz sambil tos khas kami.
Dia pun duduk, walaupun sempat kaget liat Mina.
"Bro, lu.... kagak macarin anak baru kan?," tanyanya berbisik.
"Kagak lah."
"Trus..."
"Jadi gini...."
Aku menceritakan apa ku tahu pada Friz, aku mempercayai Friz karena dia sahabatku yang terbaek. Setelah berbincang dan meminta saran, aku dan Mina kembali ke rumah.
Pelan-pelan, matiin mesin motor, dorong motor ke dalam garasi. Masukin kunci rumah pelan-pelan jan sampe ketauan. Baru sampe ruang tamu eh...
Ctak
Ayah sama bunda bangun, waduh mampos😲. Seketika kami diceramahi hampir 1 jam lamanya. Berakhir dengan Mina yang tertidur sambil duduk, kami pun tidur di kamar masing-masing, sebelum tidur pikiranku masih traveling.
"Masa sih Mina adikku? yah... ga ada ruginya juga kalo Mina beneran adikku..... Hah! capek, tidor aja deh," gumam ku ga jelas.
#
Hari hari berlalu, diam-diam ayah dan bunda melakukan tes DNA. Dan kurasa hari ini hasil tes nya keluar, bunda sama ayah minta kami berdua berkumpul di ruamg tengah.
"Nih, baca," ujar bunda dengan senyum sambil menyodorkan amplop putih.
Aku membuka dan membacanya seketika aku terkejut setengah mati, lalu Mina merebut kertas itu, dia sama terkejutnya denganku.
"Kami....."
"KAKAK BERADIK!!?."
Secara bersamaan aku dan Mina berseru.
END